Nama panjangnya adalah
Rinduwati Suliandara. Mba Rien, begitu ia biasa dipanggil, adalah seorang guru tari di Sanggar Tari Pelangi. Kino tak pernah tahu usia wanita itu yang sesungguhnya, tetapi pokoknya ia tak tampak terlalu tua, walau jelas bukan pula remaja. Wajahnya -jika memakai ukuran normal- tidaklah terlalu cantik. Tidak pula terlalu jelek. Biasa-biasa saja Tetapi Mba Rien memiliki mata yang sangat indah, bening dihiasi bulu mata lentik. Juga memiliki bibir yang -menurut Kino- sangat menarik, karena selalu kelihatan basah.Waktu itu Kino duduk di bangku SMA, kelas dua A. Untuk usianya, waktu itu Kino tergolong "terlambat" dalam soal pacaran. Ia tidak punya teman wanita istimewa, karena baginya semua teman wanitanya sama saja. Konon ada yang naksir, namanya Alma, gadis dari kelas dua B. Tetapi Kino tidak tertarik, walau kata teman-temannya gadis itu tergolong ratu. Bagi Kino, ia memang ratu, tetapi entah kenapa ia tidak tertarik. Berenang di sungai lebih menarik bagi Kino, katimbang jalan-jalan dengan Alma.Tetapi Mba Rien menarik hatinya sejak awal mereka berjumpa. Waktu itu, Kino mengantar adik perempuannya, Susi, ke sanggar untuk latihan menari. Kino sangat sayang kepada adik satu-satunya yang baru berusia 7 tahun itu (jarak dua kakak-beradik ini memang terlalu jauh). Dengan sepeda, diboncengnya Susi ke sanggar, dan diantarnya sampai ke ruang latihan di tengah kompleks sanggar. Saat itulah ia melihat Mba Rien, sedang mengikatkan setagen ke sekeliling pinggangnya."Selamat sore Susi...," ucap Mba Rien menyapa Susi, lalu sekejap melirik Kino. Suara wanita itu lembut tetapi bernada wibawa, pikir Kino sambil melepas gandengan tangan adiknya."Mba Rien, ini kakak saya...," Susi menunjuk ke Kino yang masih berdiri di pintu ruang latihan. Mba Rien mengangkat muka, dan tersenyum kepada Kino. Agak canggung, Kino membalas tersenyum dan berucap serak, "Selamat sore, mbak...".Mba Rien hanya mengangguk tanpa berhenti tersenyum, lalu menerima salam Susi, dan berbalik menuju tempat segerombolan anak-anak yang sedang bersiap belajar menari. Kino masih berdiri, memandang tubuh Mba Rien dari belakang, dan entah kenapa ia merasa jantungnya berdegup lebih keras. Tubuh Mba Rien menyita perhatiannya, terbungkus kain dan baju ketat, menampakkan lika-liku yang menawan. Astaga, pikir Kino, wanita ternyata bisa menarik juga!Untuk beberapa jenak, Kino masih berdiri di depan pintu, menelan ludah berkali-kali dan merasa wajahnya merah karena malu. Kepada siapa? Entahlah. Tetapi perjumpaan pertama dengan Mba Rien berbekas keras di kalbunya. Sambil mengayuh sepedanya pulang, Kino tiba-tiba memiliki pikiran-pikiran seronok. Gila kamu! tukasnya dalam hati, menyalahkan diri sendiri. Mana mungkin kamu bisa meremas-remas tubuh itu! ucap suara lain di kepalanya. Meremas....? Dari mana datangnya ide gila itu? pikir Kino gelisah. Berkali-kali Kino merasa sadel sepedanya terasa lebih kecil dari biasanya, dan selakangannya sering terasa geli. Sial! sergahnya dalam hati.Ketika ayah memintanya menjemput Susi, dengan bersemangat Kino mengatakan ya. Lalu, ia pun tiba di sanggar 15 menit sebelum waktu latihan selesai. Ia duduk di bawah pohon kamboja, tidak jauh dari ruang latihan. Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat Mba Rien melenggak-lenggok mengajarkan gerakan yang diikuti oleh belasan anak-anak kecil. Pandangan Kino tak lekang dari gerakan-gerakan Mba Rien, dan entah kenapa ia kini mengerti apa artinya sebuah tari yang indah! Selama ini, bagi Kino menari adalah kegiatan perempuan yang tak menarik. Menjemukan, bahkan. Tetapi ketika melihat Mba Rien mengangkat tangan, melenggok ke kiri, menggerakkan pinggulnya ...., Kino menelan ludah lagi. Bajingan kamu! ucap sebuah suara di dalam kepalanya. Kino membuang muka, mengalihkan pandangannya ke hamparan rumput. Tetapi, seperti ditarik magnit, muka Kino sesekali kembali lagi memandang ke ruang latihan.Dari ruang tari, Rien juga bisa melihat keluar, walau perbedaan terang menyebabkan matanya agak silau jika harus memandang ke arah tempat Kino duduk. Sambil terus menggerakkan tubuhnya, Rien melirik dan mengernyit heran melihat remaja itu betah duduk sendirian. Biasanya, para penjemput murid-muridnya datang terlambat, dan tidak pernah berlama-lama di sanggar tari. Apalagi yang laki-laki, entah itu kakak atau ayah atau paman. Pada umumnya, di kota kecil ini, menari bukanlah sesuatu yang menarik untuk pria. Makanya, tingkah Kino bagi Rien agak tidak biasa.Ketika akhirnya latihan selesai, Kino bangkit dan mendekat ke arah ruang latihan, tetapi tetap dalam keteduhan pohon kamboja. Entah kenapa, ia tak berani lebih dekat. Sebetulnya ia ingin mendekat, tetapi dadanya berdegup kencang setiap kali ia melangkah. Semakin dekat ke ruang latihan, semakin kencang degupnya. Sebab itu, ia berhenti setelah dua langkah saja. Ia akan menunggu saja sampai Susi keluar dan menghampirinya.Rien, dengan sedikit peluh di lehernya, mengucap salam perpisahan kepada murid-muridnya. Lalu, sambil melepas stagen, ia berjalan ke pintu. Dilihatnya Susi berlari ke arah penjemputnya, remaja yang betah berlama-lama di bawah pohon kamboja menonton latihannya itu. Sambil melepas ikat rambutnya, sehingga rambutnya yang sebahu kini tergerai, Rien berdiri di pintu dan berucap lembut, tetapi juga cukup keras untuk didengar Kino."Kenapa tadi tidak tunggu di dalam saja, Dik...," ujarnya. Kino cuma bisa menyeringai seperti kera sedang makan kacang.Rien tersenyum melihat seringai remaja yang tampak kikuk itu. Kino menelan ludah melihat senyum itu. Entah kenapa, senyum itu tampak menarik sekali. Rasanya, Kino seperti disiram air sejuk. Gila kamu! ucap suara di dalam kepalanya lagi. Dan Kino pun cepat-cepat membungkuk berpamitan, lalu menggandeng tangan Susi menuju sepeda. Rien kembali tersenyum memandang kedua kakak-beradik yang akur itu meninggalkan sanggarnya.*****Sejak pertemuan itu, Kino sering melamunkan Mba Rien. Lebih gila lagi, saat mandi dan menyabuni tubuhnya, Kino merasakan darahnya berdesir membayangkan Mba Rien. Percuma ia mengguyurkan bergayung-gayung air dingin ke tubuhnya, tetap saja kelaki-lakiannya perlahan menegang. Aduh celaka! jeritnya dalam hati, ketika melihat ke bawah. Cepat-cepat ia menyabuni dirinya, lalu membilasnya, membungkus tubuhnya dengan handuk dan lari ke luar kamar mandi menuju kamarnya. Mudah-mudahan tidak ada yang melihat tonjolan di bawah pinggangnya yang terbungkus handuk itu!Malam hari, ketika ia gelisah bergulang-guling di ranjangnya, Kino kembali membayangkan Mba Rien. Lagi-lagi terbayang pinggulnya yang padat berisi, pinggangnya yang ramping, dan dadanya yang membusung walau tidak terlalu besar. Kino juga terkenang lehernya yang agak basah oleh keringat. Juga bibirnya. Ya, bibirnya itu yang paling menawan. Selalu basah, dan tampaknya lembut sekali. Apalagi kalau ia tersenyum, menampakkan sedikit gigi-giginya yang putih. Bagaimana rasanya menggigit bibir itu?Kino makin gelisah, sebab kini kelaki-lakiannya menengang lagi seperti ketika ia sedang mandi. Malam sudah agak larut, dan rumah sudah sepi. Tak ada suara-suara, selain jangkerik. Kino menelungkupkan tubuhnya. Celaka, justru gerakan itu menyebabkan kelaki-lakiannya terjepit di antara tubuhnya dan kasur yang empuk. Tanpa sadar, Kino menggerak-gerakkan badannya, menggesekkan kelaki-lakiannya ke kasur. Matanya terpejam, dan terbayang ia berada di atas tubuh Mba Rien. Terbayang ia mengulum bibir Mba Rien yang basah. Terbayang dadanya yang ceking menempel di dada Mba Rien yang kenyal. Gila! Kino terlonjak ketika merasakan cairan hangat mengalir cepat membasahi celana dalamnya. Untung ia sigap, sehingga seprai tidak ikut basah.Hanya saja, di pagi hari ia harus mencari alasan untuk bisa mencuci sendiri celana dalamnya, tanpa harus mencuci pakaian anggota keluarga yang lain!*****Beberapa hari setelah perjumpaan pertamanya dengan Kino, kembali Rien terheran melihat remaja itu sudah ada setengah jam sebelum latihan usai. Setengah jam! Betapa lamanya ia akan menanti di situ sendirian, ucap Rien dalam hati sambil terus menggerakkan badannya di depan para penari cilik. Berkali-kali Rien melirik ke arah pohon kamboja, dan bertanya-tanya dalam hati, mengapa gerangan remaja itu begitu betah menunggu adiknya. Terlebih-lebih lagi, remaja itu selalu memandang ke dalam dengan seksama. Sialan, mungkin ia tertarik melihat tubuhku, umpat Rien dalam hati. Tetapi, mungkin juga ia tertarik pada tarianku. Siapa tahu? Atau mungkin tertarik pada dua-duanya, ucap Rien dalam hati. Ia tersenyum sendiri ketika mengambil kesimpulan terakhir ini."Satu ... dua...tiga .... empat, putar......," Rien memutar tubuh memberi contoh, diikuti oleh bidadari-bidadari kecil yang tertatih-tatih mencoba meniru sesempurna mungkin."Satu .. dua ... tiga ... empat, putar....," suaranya lembut, tetapi tegas dan cukup nyaring.Kino menyenderkan tubuhnya di batang pohon kamboja. Sayup-sayup suara Mba Rien sampai di telinganya. Terdengar merdu. Gila! semua yang berhubungan dengan wanita itu selalu bagus. Apa-apaan ini? sebuah suara menghardik di kepala Kino, membuatnya tertunduk sendiri. Dicabutnya sebatang rumput, dimain-mainkannya di antara jari-jarinya. Kino merenung, bertanya-tanya, apa gerangan yang terjadi dalam dirinya. Mengapa Mba Rien jadi begitu menarik, padahal ia jauh lebih tua dariku? Mengapa Alma yang seusia dengannya itu tidak semenarik Mba Rien, padahal Alma juga cantik. Kino menarik nafas dalam-dalam, lalu kepalanya terangkat lagi, memandang lagi ke dalam ruang latihan.Cuma kali ini ia tidak melihat Mba Rien di sana. Dipanjang-panjangkannya lehernya, mencari-cari, kemana gerangan wanita itu. Kino bahkan memiringkan tubuhnya, sampai hampir rebah ke kiri, untuk melihat sudut terjauh yang masih terjangkau pandangan. Mba Rien tidak ada, sementara murid-muridnya masih bergerak sesuai irama musik dari tape-recorder. Kemana dia?Hampir copot rasanya jantung Kino, ketika tiba-tiba Mba Rien muncul dari balik tembok rumah di sebelah ruang latihan. Rupanya, ada gang yang menghubungkan rumah itu dengan ruang latihan, yang tidak terlihat dari tempat Kino duduk. Rupanya Mba Rien meninggalkan murid-muridnya untuk masuk ke rumah itu. Dan kini ia berjalan kembali ke ruang latihan, tetapi tidak melalui gang, melainkan lewat pintu depan. Lewat di depan Kino, melenggang santai dengan kainnya yang ketat membungkus tubuhnya yang indah."Hayo.., tunggu di dalam, Dik!" ucap Mba Rien menghentikan langkah sebelum masuk. Senyum yang memikat Kino terhias di bibirnya. Kino menelan ludah, tak bisa menyahut, dan cuma bisa meringis lagi. Betul-betul seperti kera yang sedang kepedasan."Hayo ...," ajak Mba Rien lagi, lembut tetapi tegas.Kino bangkit, dan dengan ragu-ragu melangkah mendekat. Mba Rien tertawa kecil, lalu melanjutkan langkah mendahului masuk. Pelan-pelan Kino menyusulnya. Ketika ia tiba di ruang latihan, Mba Rien sudah berputar-putar lagi memberi contoh gerakan tarinya. Kino mencari-cari bangku untuk duduk, tetapi tak ada satu pun di sana. Ia lalu berdiri saja, menyender di sebuah tiang yang cukup besar.Rien melirik, melihat remaja itu berdiri kikuk. Kasihan, pikirnya. Tetapi biarlah begitu, kalau ia memang tertarik pada tarianku -atau tubuhku!- biar saja ia berdiri sampai pegal. Tersenyum Rien mendengar kata hatinya yang terakhir ini. Ya, biar dia berdiri sampai pegal!Selama 20 menit, Kino berdiri saja melihat adiknya latihan menari. Susi terlihat senang melihat kakaknya sudah hadir. Berkali-kali Susi kelihatan ketinggalan langkah, karena ia tersenyum-senyum kepada kakaknya. Kino mengernyitkan dahinya, meletakkan telunjuk di bibirnya, memperingatkan Susi agar tetap serius. Rien tersenyum melihat tingkah keduanya.Ketika akhirnya latihan selesai, Kino bernafas lega. Bukan saja karena ia sudah pegal berdiri, tetapi juga karena sebenarnya ia agak tersiksa. Betapa tidak? Sejak tadi ia terpesona oleh gerak Mba Rien, tetapi ia harus menyembunyikan perasaan itu. Betapa sulit!Rien berjalan mendekati Kino sambil melepas stagen. Kino berdiri kikuk ketika akhirnya Rien berdiri di hadapannya, cukup dekat untuk mencium bau keringatnya yang ternyata tidak mengganggu Kino."Suka menari?" tanya Rien. Matanya memandang lekat remaja di hadapannya. Senyumnya mengembang halus. Kino menelan ludah lagi.Kino menggeleng kuat. Rien tertawa kecil, "Saya pikir kamu suka. Sebab, kamu betah menunggu adikmu latihan.""Saya ...., sebetulnya saya suka ..," ucap Kino tergagap."Oh, ya???" Rien membelalakan matanya yang indah, senyumnya mengembang lagi. Kino menelan ludah lagi. "Seberapa suka, sebetulnya ...," tanya Rien lagi, ringan."Mmmm ... saya suka menonton saja." jawab Kino sekenanya."Menonton anak-anak kecil menari?" tanya Rien. Wah! Kino tertunduk, mukanya tiba-tiba terasa panas. Sial!Rien tergelak melihat Kino tertunduk malu. Kini ia tahu apa yang sesungguhnya ditonton laki-laki belia ini! Ia ke sini untuk menontonku, melihat tubuhku! Dan kesimpulan ini membuat dirinya senang. Bagi Rien, menyenangkan penonton adalah tujuan utamanya menari, bukan?"Siapa nama kamu?" tanya Rien lembut sambil melepas ikat rambutnya. Kino mengangkat muka, melihat kedua tangan Rien terangkat, dan samar-sama kedua ketiaknya yang mulus terlihat dari lengan bajunya yang agak tersingsing."Kino..," terdengar jawaban pelan. Rien tersenyum lagi, sengaja berlama-lama membuka ikat rambutnya, membiarkan remaja itu melihat apa yang ingin dilihatnya. Nakal sekali kamu, Rien! sebuah suara terdengar di kalbunya. Siksaan bagi Kino baru berhenti ketika Susi menarik tangannya pulang. Sambil menggumamkan selamat sore, ia berbalik dan menggandeng adiknya ke tempat sepeda."Datang lagi, yaaa!" seru Rien ketika Kino sedang bersiap mengayuh. Duh! Kino jadi serba salah. Apakah ia harus menjawab seruan itu? Ah, sudahlah! sergahnya dalam hati dan cepat-cepat mendayung. Dari kejauhan Rien memandang kakak-beradik itu menghilang di balik tikungan. Senyum manis masih di bibirnya.*****Demikianlah seterusnya, Kino semakin terpikat oleh wanita yang pandai menari dan pandai menggoda itu. Sekali waktu ia mencoba menghindar, meminta kepada ayah untuk tidak usah menjemput Susi dengan alasan harus latihan bola kaki. Selama empat kali latihan, ia tidak mampir ke sanggar, dan tidak berjumpa Mba Rien. Dan itu artinya, sudah sebulan ia tidak melihat tubuh molek itu melenggak-lenggok. Lama juga, ya?Sampai suatu hari, ada pertunjukkan dari di balai kota, diselingi permainan band sebuah kelompok amatir yang cukup populer di kota kecil ini. Kino datang bersama teman-temannya, tentu hanya untuk menonton band. Acara tari-tarian di sore hari dilewatkan saja. Rombongan Kino baru tiba di atas pukul 8, saat band mulai naik panggung.Di situlah Kino berjumpa lagi dengan Mba Rien. Saat band memainkan lagu ketiga, Kino pergi ke belakang panggung untuk buang air kecil, karena di sana lah terdapat toilet untuk umum. Saat kembali ke tempat duduknya, sewaktu meliwati pintu yang menuju tempat pemain berganti pakaian, Kino melihat Mba Rien duduk di sebuah bangku. Langkahnya terhenti, lalu ia menyelinap ke balik tembok yang agak gelap. Dari situ, ia bisa melihat Mba Rien, tetapi wanita itu tidak bisa melihatnya.Rien memakai jeans ketat dan sebuah kaos agak longgar berwarna putih.
Rambutnya digelung ke atas, memperlihatkan lehernya yang jenjang dan agak basah oleh keringat. Ia tampak letih, dan sedang menikmati sebotol minuman dingin. Bibirnya menjepit sebuah sedotan, dan matanya tampak melamun. Bagi Kino, Mba Rien tampak menawan malam itu. Ia kemudian melihat wanita itu bangkit menuju ke sebuah kamar di belakang panggung. Kino mengikuti gerak-geriknya dengan seksama, aman dalam lindungan bayang-bayang yang gelap. Tak lama kemudian, tampak Mba Rien membuka sebuah pintu, dan di dalam terlihat terang berderang tetapi sepi. Berjingkat, Kino berpindah tempat sehingga bisa memandang lebih bebas ke dalam ruangan itu.Rien menutup pintu ruang, tetapi rupanya kurang begitu kuat mendorong, sehingga masih tersisa celah untuk melihat ke dalam. Dengan jantung berdegup kencang, Kino melihat ke kiri dan kanan. Tidak ada siapa-siapa. Semua orang berada di depan panggung asyik menonton band. Pelan-pelan ia melangkah mendekati ruang yang ternyata adalah ruang ganti pakaian bagi para artis. Ia tiba di depan pintu ruang itu, dan dari celah yang tersisa, ia bisa melihat ke dalam. Kino menelan ludah, dan menahan kagetnya. Di dalam, Mba Rien tampak sedang membuka kaosnya, membelakangi Kino. Tubuhnya yang putih dan padat terlihat jelas, apalagi kemudian ia berputar menghadap sebuah cermin yang pantulannya terlihat dari tempat Kino berdiri. Ia bisa melihat dua payudara yang indah, terbungkus beha yang tampak terlalu kecil. Lutut Kino terasa bergetar.Kemudian tampak Mba Rien melepas celana jeansnya. Kino merasa kakinya terpaku di tanah. Dengan kuatir ia melihat ke sekeliling, takut kepergok. Tetapi suasana di sekitar ruang ganti itu tetap sepi. Maka ia tetap mengintip ke dalam. Jeans sudah dibuka dan tergeletak di lantai. Mba Rien hanya bercelana dalam dan berbeha, dan tubuhnya indah bukan main. Putih mulus, padat berisi. Kino berkali-kali menelan ludah. Pemandangan indah itu berlangsung tak lebih dari 10 menit, karena kini Mba Rien sudah berganti rok panjang dan baju hem coklat. Tetapi bagi Kino, rasanya lama sekali. Cepat-cepat ia berbalik dan tergopoh kembali ke depan panggung.Rien mendengar suara langkah orang. Terkejut, ia segera lari ke pintu dan melihat pintu belum tertutup sepenuhnya. Celaka, pikirnya, seseorang tadi mengintipku berganti pakaian. Cepat-cepat dikuaknya pintu, dilongokkannya kepala, bersiap berteriak jika memergoki si pengintip. Tetapi di luar sepi, tidak ada siapa-siapa. Ah, mungkin cuma perasaanku saja, pikir Rien.Sementara itu, di depan panggung Kino gelisah mengenang pengalamannya. Lagu-lagu yang dibawakan band di depannya terasa hambar. Teman-temannya terlihat girang, tetapi ia sendiri kurang bergairah. Dengan alasan mengantuk, ia pulang lebih dulu dari teman-temannya yang keheranan. "Ada apa denganmu, Kino?" tanya sobatnya, Dodi. Ia tidak menjawab, dan hanya menggumam sambil melangkah meninggalkan arena pertunjukkan. "Dasar kutu buku ...," gerutu Iwan, temannya yang lain. Kino tak peduli, dan terus melangkah menembus malam.Dan malam itu, Kino menikmati hayalnya di atas ranjang, meremas-remas kelaki-lakiannya yang menegang sambil membayangkan tubuh mulus Mba Rien. Tak berapa lama, ia mengerang tertahan, merasakan cairan hangat memenuhi telapak tangannya. Dengan tissue yang sudah disiapkannya, ia melap tangannnya, lalu tidur nyenyak sambil berharap bertemu Mba Rien di alam mimpi. Namun mimpinya ternyata kosong belaka, tentu karena ia sebetulnya sudah sangat mengantuk malam itu.Continue..
Mbak Rien - Ketika Bara Memercik Seminggu setelah peristiwa di belakang panggung itu, Kino mengantar Susi ke sanggar Mba Rien. Sebelum berangkat, ia sudah bersumpah untuk tidak berlama-lama. Begitu sampai, ia akan segera melepas Susi dan kembali kerumah secepatnya. Kepada Susi ia telah pual berpesan agar tidak perlu diantar sampai pintu ruang latihan. Susi mencibir manja, tetapi tidak membantah ucapan kakaknya.Namun semua rencana buyar ketika ternyata Kino berjumpa Mba Rien di gerbang halaman sanggar. Turun dari sepedanya, Kino tergagap menyampaikan salam kepada wanita yang tubuhnya memenuhi hayal Kino seminggu ini."Hai, Kino ... lama sekali kamu tidak kelihatan. Kemana saja?" sambut Mba Rien riang."Sibuk, mbak..," jawab Kino menunduk. Adiknya sudah turun dan berlari masuk."Wah... begitu sibuknya, sampai tidak sempat menonton Mba Rien lagi, ya!?" sergah Mba Rien sambil tersenyum manis. Kino menyahut dengan gumam tak jelas, dan
menunduk seperti seorang pesakitan di hadapan polisi."Eh .. tidakkah kamu ingin melihat adikmu menari lengkap?" ucap Mba Rien lagi, dan tiba-tiba tangannya telah menyentuh tangan Kino. Tergagap, Kino menjawab sekenanya, tetapi entah apa isi jawaban itu, ia sendiri tak ingat!"Hayo masuk, sekali ini kamu bisa melihat anak-anak menari sampai selesai!" kata Mba Rien yang kini sudah memegang erat satu tangan Kino dan menariknya masuk ke halaman sanggar. Kino tak kuasa menolak, dan dengan kikuk ia mengikuti langkah Mba Rien sambil menyeret sepedanya.Mba Rien tidak memakai kain sore ini. Tubuhnya dibungkus rok span hitam dan hem kuning muda dengan leher V yang agak rendah. Ia juga tidak berdiri memberi contoh di depan anak-anak, melainkan duduk bersimpuh di lantai, di sebelah Kino yang bersila. Dari tempat mereka duduk, Kino bisa melihat anak-anak menari lengkap tanpa instruksi Mba Rien. Bagi Kino, anak-anak itu kelihatan seperti daun-daun kering yang berterbangan di tiup angin. Jauh sekali bedanya dibandingkan dengan jika yang menari adalah Mba Rien.Kino melirik ke sebelah kanannya, tempat Mba Rien bersimpuh. Darahnya berdesir cepat melihat rok span wanita itu terangkat sampai setengah pahanya. Aduhai, pahanya mulus sekali, dihiasi bulu-bulu halus yang hampir tak tampak. Betisnya juga indah sekali, tidak terlalu besar, tetapi juga tampak kokoh karena sering berdiri lama ketika menari. Mba Rien sendiri sedang serius memperhatikan anak-anak menari, sehingga tidak menyadari bahwa remaja di sampingnya sedang sibuk menelan ludah!Ketika suatu saat Mba Rien harus berganti posisi bersimpuhnya, Kino mencuri pandang lagi. Sekejap, ia bisa melihat seluruh pangkal paha Mba Rien. Celana dalam berwarna putih, tipis menerawangkan warna kehitaman di selangkangan, membuat Kino terkesiap. Cepat-cepat dialihkannya pandangan kembali ke tempat anak-anak menari.Rien menoleh untuk menanyakan sesuatu, tetapi seketika ia melihat wajah Kino seperti kepiting rebus. Ah, ia tiba-tiba sadar akan posisi duduknya. Remaja yang sekarang sedang pura-pura memperhatikan tarian itu pasti tadi melihat rok ku tersingkap, pikir Rien menahan tawa. Minta ampun, remaja sekarang begitu cepat matang! Rien membatalkan keinginannya untuk menanyakan komentar Kino. Sebaliknya, ia malah bangkit membuat Kino memalingkan muka dengan wajah bersalah. Pikir Kino, jangan-jangan ia tahu aku tadi melihat pahanya."Kamu mau minum, Kino?" tanya Mba Rien setelah berdiri, dan tanpa menunggu jawab ia berkata lagi, "Yuk, ikut saya ambil minum di ruang sebelah."Kino bangkit dan mengikuti wanita pujaannya seperti kerbau dicucuk hidungnya. Entah kenapa, wanita ini tidak bisa kubantah! ucapnya dalam hati.Ruangan itu terletak di sebelah ruangan latihan, berupa sebuah dapur lengkap dengan meja makannya. Ada sebuah lemari es besar, dan Mba Rien tampak sedang membukanya dan mengambil beberapa minuman botol. Kino berdiri tidak jauh di belakangnya, melihat dengan takjub tubuh yang agak membungkuk di depannya. Kepala Mba Rien tersembunyi di balik pintu lemari es, tetapi bagian belakang tubuhnya yang seksi terlihat nyata di mata Kino. Gila! Segalanya terlihat indah! umpat Kino dalam hati.Kemudian mereka minum sambil duduk di kursi makan. Mba Rien menawarkan kue, tetapi Kino menolak halus. Mereka berbincang-bincang, atau lebih tepatnya Mba Rien bercerita tentang segala macam. Kino lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Entah kenapa, Rien sendiri merasa semakin dekat dengan remaja di hadapannya. Rien merasa bahwa Kino adalah adik lelaki yang tak pernah dimilikinya. Saudara kandungnya semua perempuan, dan tinggal di lain kota. Di sini ia hidup sendirian, di sebuah kamar indekos tak jauh dari sanggar.Untuk Rien, Kino adalah remaja yang menyenangkan. Tidak berulah seperti kebanyakan remaja seusianya. Kino juga sopan, walaupun matanya sering nakal. Ah, seusia itu pastilah sedang mengalami kebangkitan gairah seksual. Ia ingat, pada usia seusia Kino dulu, ia juga mengalami "revolusi" yang sama. Saat itu, pikirannya tak lekang dari gairah seks dan lawan jenis. Kino pastilah tak berbeda, cuma ia sangat sopan dan pemalu.Sore itu mereka berpisah karena latihan menari telah usai. Kino mengucapkan terimakasih atas suguhan Mba Rien, dan Rien melambai di gerbang sambil mengucap, "Jangan bosan kemari, ya, Kino!"Ah, bagaimana aku bisa bosan? ujar Kino dalam hati.*****Hubungan Rien dan Kino berkembang cepat bagai api membakar ilalang kering. Susi sudah tidak lagi latihan menari, karena kini ayah dan ibu menyuruh Susi lebih berkonsentrasi ke pelajaran sekolah. Ujian akan berlangsung tiga bulan lagi. Kino tidak lagi mengantar Susi, tetapi justru kunjungannya ke sanggar semakin sering!Ada satu hal yang membuat mereka semakin dekat. Keduanya suka berenang, dan Rien dengan senang hati mengajak Kino ke pantai jika waktu senggang. Seperti kali ini, Kino pulang lebih cepat karena guru-gurunya harus berseminar di luar kota. Dari sekolah, Kino menuju sanggar untuk melihat kalau-kalau Mba Rien ingin berenang. Dan ternyata Rien memang sedang tidak berkegiatan, sedang sendirian membaca-baca majalah di sanggar."Berenang, yuk, Mba Rien..," ajak Kino. Kini ia sudah berani mengajak duluan, setelah berkali-kali mereka berenang bersama di sungai, di kolam renang, maupun di pantai. Selama itu, mereka berenang bersama-sama dengan beberapa orang lainnya. Kadang-kadang bersama Dodi dan Iwan, sahabat Kino. Kadang-kadang bersama Niken, salah seorang penari di sanggar. Teman-teman Kino pun kini tahu, bahwa di antara Mba Rien dan Kino "ada apa-apa". Tetapi mereka cuma bungkam, karena Kino pasti akan berang setiap kali topik itu diangkat dalam pembicaraan.Siang itu mereka berenang berdua saja. Teman-teman Kino memilih memancing di danau di luar kota. Niken tidak ada di sanggar karena harus belanja ke pasar. Rien dengan senang hati menerima ajakan Kino, dan segera mengambil pakaian renang dan sepedanya.Di pantai tidak banyak orang, karena ini memang bukan hari libur. Rien mengajak Kino ke sebuah bukit pasir yang dipenuhi semak, karena tempat itu jauh lebih sejuk di bandingkan tempat di mana orang-orang biasa berenang atau bermain pasir. Kino menurut saja. Mereka pun lalu berenang, bermain-main air dan saling berlomba mencapai batu karang di tengah laut. Mba Rien bukanlah perenang yang dapat diremehkan, begitu selalu kata Kino kepada teman-temannya. Tubuhnya gesit seperti ikan, dan tahan berenang berjam-jam.Setelah puas berenang, mereka kembali berteduh di bawah semak-semak. Kino menggelar dua handuk lebar yang selalu dibawanya jika berenang ke pantai. Rien merebahkan tubuhnya yang penat di sebelah Kino yang juga sudah tergeletak kecapaian. Mereka terdiam mendengarkan debur ombak memecah pantai. Kino memejamkan mata dan merasakan otot-otot tubuhnya pegal dan sedikit linu."Kino..," tiba-tiba Rien berucap, hampir tak terdengar."Hah?..." Kino kaget dan setengah bangkit. Mba Rien masih tergeletak dengan mata tertutup, tetapi bibirnya tersenyum."Ada apa, Mba?" tanya Kino."Aku mau tanya, tetapi kamu musti jawab yang jujur ya!" kata Mba Rien, masih memejamkan mata dan tersenyum. Kino cuma diam."Kino .., kamu senang melihat saya, bukan?" tanya Mba Rien pelan. Kino cuma diam, tak tahu harus menjawab apa. Di hadapannya tergeletak seorang wanita dewasa, dengan tubuh sempurna, basah oleh air laut, dan bertanya seperti itu! Apa jawabannya?"Lho, kenapa diam?" sergah Mba Rien, kini membuka matanya, memandang Kino dengan sinar mata yang menembus kalbu. Kino menelan ludah, lalu menunduk.Rien lalu bangkit, duduk bersila menghadap Kino yang kini juga sudah duduk dengan kepala agak menunduk. Lalu Rien melakukan sesuatu yang selama ini tak pernah terduga oleh Kino. Ia membuka pakaian renangnya, menanggalkan bagian atasnya, memperlihatkan buah dadanya yang ranum, putih mulus dan basah berkilauan! Aduhai indahnya dua bukit kenyal yang turun naik seirama nafas pemiliknya, dengan puncak yang dihiasi dua puting coklat kehitaman, berdiri tegak bagai menantang!Kino mengangkat muka, pandangannya terpaku di kedua payudara indah di hadapannya. Mulutnya terkunci rapat. Rien tersenyum melihatnya, lalu dengan lembut digenggamnya kedua tangan Kino. "Jangan malu, Kino. Katakan kamu memang suka melihat tubuh saya, bukan?" ucapnya setengah berbisik. Kino menangguk pelan."Ingin menyentuhnya?" bisik Mba Rien lagi. Kino tergagap, mengangkat mukanya dan memandang wajah wanita di depannya tak percaya. Tetapi di wajah itu ada sepasang mata yang sangat sejuk, bagai danau di kaki bukit tempat teman-temannya biasa memancing. Sebuah hamparan air yang tampak tenang meneduhkan hatinya yang bergejolak."Apa maksud, Mba Rien?" ucap Kino tersekat."Tidak inginkah kamu menyentuh dadaku?" jawab Mba Rien, genggaman tangannya semakin kuat, dan kini perlahan-lahan mengangkat tangan Kino. Tersenyum lagi, Rien merasa betapa kedua tangan itu bergetar. Cepat-cepat kemudian ia meletakkan kedua tangan Kino di dadanya, di puncak-puncak payudaranya yang membusung. Kino segera menarik kembali tangannya, bagai menyentuh benda bertegangan listrik. Rien tertawa kecil."Hayo, pegang lagi...," ucapnya ringan. Diraihnya lagi kedua tangan Kino dan diletakkannya kembali di atas payudaranya. Kali ini Kino tak menarik tangannya, dan membiarkan kedua telapak tangannya menerima sebuah kelembutan, kehangatan, kekenyalan, dan entah apa lagi .... semuanya serba menakjubkan. Pelan-pelan, Kino mulai memegang lebih erat, menempelkan seluruh telapaknya di puncak-puncak payudara Mba Rien. Baru kali ini, setelah lepas dari susu ibunya 13 tahun yang lalu, Kino memegang kembali payudara seorang wanita!"Senang?" tanya Mba Rien, masih dengan suaranya yang setengah berbisik, setengah menuntut. Kino hanya bisa mengangguk dan menatap lekat mata Mba Rien, seakan-akan hanya dari kedua mata itulah ia bisa memiliki kekuatan untuk hidup saat ini.Lalu Mba Rien menurunkan tangan Kino, mengenakan kembali pakaian renangnya, dan mengusap lembut wajah Kino. "Kamu sekarang sudah dewasa, Kino!" ucapnya riang, sambil bangkit dan menarik tangan Kino untuk ikut berdiri. Lalu ia berlari, menyeret Kino kembali ke laut, terjun sambil berteriak riang, dan melesat meninggalkan Kino menuju batu karang di tengah.Kino merasa tubuhnya yang panas bagai bara dicelupkan ke dalam air dingin, segera memadamkan api yang tadinya sudah hampir membesar. Kino menyelam sedalam-dalamnya, seakan-akan hendak bersembunyi dari rasa malu yang tiba-tiba mengukungnya. Tapi kemudian ia segera timbul kembali, segera bersemangat lagi mengejar wanita yang baru saja memberinya pelajaran sangat berharga dalam hidup ini. Aku telah dewasa! jeritnya dalam hati.*****Pengalaman di pantai segera disusul pengalaman-pengalaman berikutnya. Kino kini sangat dekat dengan Mba Rien-nya, tetapi hubungan mereka menampakkan dimensi yang aneh. Jika ada orang bertemu mereka berdua, niscaya orang-orang itu akan berkata, 'Akur sekali kakak-beradik itu!'. Bahkan kedua orang tua Kino memandang seperti itu, dan karenanya tidak pernah tahu apa yang terjadi antara Rien dan anak mereka.Sebaliknya, bagi Rien dan Kino, hubungan mereka telah memasuki babak yang sangat menentukan. Bagi Rien, kini Kino adalah seorang lelaki sempurna, lengkap dengan segala atributnya, termasuk birahinya terhadap wanita. Kino adalah sebuah kepompong yang sedang berubah menjadi kupu-kupu. Dan Rien adalah seorang peri yang membantu kupu-kupu itu terbang.Minggu sore itu, Rien mengajak Kino mencari kenari di hutan kecil dekat danau. Mereka berangkat setelah pukul 3, saat matahari memulai perjalanan turunnya. Tadinya Niken hendak ikut, demikian pula Dodi teman Kino. Tetapi lalu Niken sakit perut karena datang bulan, dan Dodi harus mengantar ibunya ke dokter gigi. Jadilah akhirnya mereka hanya berdua ke hutan.Rien hanya bercelana pendek, dan memakai t-shirt yang ditutupi jaket parasut. Kino bercelana khaki militer, lengkap dengan sepatu bot, dan t-shirt hijau tua. Berdua mereka menyusuri jalan setapak, masuk semakin jauh ke dalam hutan yang konon dulu menjadi salah satu tempat pertahanan bala tentara Nippon. Di hutan ini banyak pohon kenari, dan dalam waktu kurang dari setengah jam, keranjang mereka berdua sudah dipenuhi kenari. Dengan gesit, Rien berlarian menemukan kenari-kenari yang masih utuh di tanah. Kino selalu kalah gesit, terutama karena ia selalu lebih banyak memandang Mba Rien yang tampak seksi sore itu.Lalu, tiba-tiba saja hujan turun. Pertama cuma rintik-rintik, tetapi lalu berubah sangat lebat. Mereka pun berlarian mencari tempat berteduh, dan beruntung karena tidak jauh dari situ ada sebuah gua kecil bekas persembunyian tentara Jepang. Kino menyeret Mba Rien berlari ke gua itu, dan tiba di sana sedetik sebelum hujan yang sangat deras jatuh ke bumi."Wah, untung ada gua ini!" tukas Mba Rien sambil gemetar menahan dingin yang tiba-tiba menyerbu. Gua kecil ini tidaklah terlalu dalam, tetapi sangat lembab, sehingga dindingnya dipenuhi lumut dan udaranya lebih dingin dari di luar. Apalagi sekarang turun hujan. Kino pun ikut gemetar kedinginan.Mereka berdiri berdekatan, dan entah bagaimana, Rien akhirnya memeluk tubuh Kino dari belakang. Kino tak menolak, dan bahkan merentangkan tangannya ke belakang, balas memeluk kedua lengan Mba Rien. Perlahan-lahan, gemetaran tubuh mereka mereda, sejalan dengan tersebarnya kehangatan dari dua tubuh yang menempel itu. Kino perlahan-lahan mulai merasakan kekenyalan di punggungnya, tempat kedua payudara Mba Rien menempel erat. Rien merebahkan kepalanya di punggung pemuda belia yang harum sabun mandi ini. Sebentuk perasaan sayang tiba-tiba saja menghambur keluar dari dadanya, menyebabkan Rien memejamkan mata.Setelah lebih dari sepuluh menit, hujan tampaknya makin membesar saja. Sementara langit mulai gelap menjelang sore. Rien sedang berpikir-pikir bagaimana caranya pulang, ketika ia mendengar Kino memanggil namanya."Kenapa, Kino?" tanyanya sambil tetap memejamkan mata dan merebahkan kepala di punggung remaja itu."Aku juga ingin memeluk, Mba Rien..." ucap Kino pelan. Rien tersenyum dan berkata pelan, "Seperti aku memeluk kamu?"Kino tidak menyahut. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Seperti apa ia ingin memeluk Mba Rien, ia belum tahu caranya!Rien tersenyum lagi, lalu melepaskan pelukannya. Ia berkata lembut, "Sini..., putar tubuhmu menghadap aku.."Kino memutar tubuhnya, lalu tiba-tiba saja ia sudah memeluk Mba Rien yang tubuhnya agak lebih pendek sedikit darinya. Dagu Kino menyentuh dahi Mba Rien, dan kedua tangan Mba Rien merengkuh erat, bagai hendak meluluhkan tubuh Kino. Oh, begini rupanya rasanya dipeluk seorang wanita dewasa! pikir Kino dalam hati, dan ia merasakan sebuah kehangatan menjalar dari antara kedua kakinya."Begini?" tanya Mba Rien dengan sedikit nada menggoda. Kino cuma mengangguk. Rien tertawa kecil, nafasnya yang hangat menyerbu leher Kino dan menelusup ke dalam t-shirtnya. Kino pun bergidik, membuat Rien tambah tertawa. Lalu tiba-tiba Rien menggigit leher Kino. Tersentak, Kino lalu ikut tertawa kegelian.Rien tidak berhenti menggigit, dan bahkan lalu berubah menciumi leher perjaka ini. Hmm, harum sabun wangi, desahnya dalam hati. Persis seperti wangi bayi kakaknya yang dulu ia sering bantu memandikannya. Dengan gemas, ia menciumi terus leher Kino, membuat remaja ini menggelinjang kegelian. Saat itulah Kino merasakan sebuah desakan kuat untuk membalas tindakan Mba Rien. Tanpa disadari, Kino menunduk dan menempelkan wajahnya ke wajah Rien yang sedang tengadah. Tanpa sengaja pula, kedua bibir mereka telah berpadu. Sejenak Rien tersentak kaget, tapi ia lalu memejamkan mata dan segera melumat bibir Kino. Berdesir cepat darah Kino merasakan bibir basah yang hangat mengulum bibirnya, dan desahan nafas harum menyerbu penciumannya. Astaga, inilah rupanya ciuman pertama itu!Tentu saja Kino tak tahu cara berciuman. Ia diam saja membiarkan Mba Rien mengerjakan segalanya, termasuk memaksanya membuka mulut agar lidahnya bisa masuk ke dalam mulutnya. Dengan nafas tersengal, Kino mencoba melakukan sesuatu dengan lidahnya sendiri, tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa. Maka ia diam saja, membiarkan Mba Rien mengulum-ulum bibirnya, menelusuri rongga mulut dengan lidahnya, dan menghisap-hisap bibir bawahnya dengan rakus.Rien sendiri merasa kaget atas apa yang ia kerjakan. Rupanya, birahi yang selama ini tak pernah ia tampilkan, kini menyeruak keluar dengan kekuatan sendiri tanpa dapat dicegah. Telah lama sekali Rien tidak berciuman, sejak ia memutus hubungan dengan Rian yang sekarang entah di mana. Telah lama tubuhnya tidak merasa gejolak seperti ini, dan kalaupun ia membiarkan Kino memegang payudaranya di pantai, itu hanyalah untuk menghapus penasaran remaja yang menarik simpatinya. Kejadian di pantai dulu, bagi Rien, bukanlah birahi. Tetapi kini, di gua yang gelap dan dingin ini, Rien kaget ketika sadar bahwa ia begitu bersemangat menciumi Kino!Untunglah kesadaran itu cepat datang. Buru-buru ia menghentikan ciumannya, dan dengan satu tangan ia menghapus bekas-bekas ludah di bibir Kino. Sambil tersenyum, ia minta maaf dengan suara lembut, " ... Mba Rien keterlaluan, nih!"Kino mengernyitkan dahi tak mengerti. "Kenapa berhenti, Mba?" tanyanya penuh heran."Tidak. Kamu tidak boleh saya ciumi seperti itu. Kamu bukan pacar saya...," kata Mba Rien, masih dengan suara lembut, meneduhkan hati Kino yang sudah bergejolak."Tapi saya suka, Mba Rien..." Kino bersikeras. Rien tersenyum melihat tuntutan remaja ini."Suka apa?" tanyanya menggoda. "Suka dicium seperti itu," jawab Kino cepat. Ia kini semakin berani berdebat.Sejenak Rien bimbang. Simpatinya kembali datang. Kasihan ia melihat remaja ini terputus di tengah jalan yang sedang dinikmatinya. Tetapi ia tahu, kalau ciuman itu diteruskan, dirinya sendiri akan ikut hanyut. Satu-satunya jalan untuk menghindari kekecewaan Kino adalah dengan menciumnya lagi, tetapi tidak dengan birahi.Maka Rien berkata, "Baiklah ..." lalu ia menarik leher Kino, mendekatkan bibirnya ke bibir Kino dan menciumi remaja ini dengan lembut. Kino memejamkan mata, menikmati ciuman Mba Rien yang terasa sekali dipenuhi kasih sayang. Tubuhnya bagai disiram kehangatan kasih yang tak tergambarkan oleh kata-kata. Tubuhnya bagai melayang tak menginjak bumi. Tubuhnya bagai awan di langit yang biru sejuk.Rien menahan senyum melihat tingkah Kino yang memejamkan mata dan memeluk tubuhnya seperti tak hendak dilepaskan. Tetapi ada satu hal yang tidak diperhitungkannya! Perlahan tapi pasti, ia merasakan sesuatu membesar menempel sedikit di atas perutnya. Karena Kino lebih tinggi, maka bagian depan kelaki-lakiannya menempel di perut Rien, dan Rien segera menyadari apa yang terjadi.Dengan tangan kirinya, Rien meraba bagian itu. Ah, tegang sekali kelaki-lakian Kino, dan panas pula rasanya, seperti dialiri air mendidih. Sejenak Rien bimbang lagi, sementara bibirnya masih sibuk mengulum-ngulum bibir Kino. Apa yang harus ku lakukan? Rien berpikir keras, tetapi tangannya sudah pula mulai meremas. Seakan-akan tangan itu punya pikiran sendiri di luar kepalanya!Akhirnya kepala Rien mengalah kepada tangannya. Ia melanjutkan remasan, dan mulai menyukai pilihannya. Nafas Kino terdengar terengah-engah, dan Rien semakin merasa tak enak jika harus berhenti sekarang. Ia sudah membangkitkan api di tubuh remaja ini, ia pula yang harus memadamkannya. Dengan pikiran begitu, Rien membuka resleting celana Kino yang masih terpejam seakan-akan tak sadar. Pelan-pelan tangan Rien merayap ke dalam celana dalam Kino dan menemukan kelaki-lakiannya sudah tegang dan agak basah di ujungnya. Ah, halus dan kenyal sekali kelaki-lakiannya, desah Rien dalam hati, diam-diam menikmati apa yang dikerjakannya.Kino merasakan tangan Mba Rien merayapi kelaki-lakiannya, membuat dirinya semakin terlena. Ia merasakan desakan aneh yang nikmat, sama dengan desakan-desakan yang selama ini ia rasakan kalau berhayal sendirian di kamarnya. Kini desakan itu semakin kuat, dan apa yang dikerjakan Mba Rien di bawah sana sangat berbeda dengan apa yang biasa ia kerjakan. Kali ini jauh lebih nikmat, jauh lebih menggairahkan.Tangan Rien meremas lebih kuat, lalu menggosok ke atas ke bawah. Ia tahu persis apa yang harus dilakukan. Rian, pacarnya dulu, pernah mengajarkan bagaimana cara terbaik untuk memuaskan laki-laki dengan tangan. Maka dilakukannya apa yang telah lama tidak dilakukannya. Rien kini ikut memejamkan mata, berkonsentrasi pada bagian bawah tubuh Kino tanpa melepaskan ciumannya. Ia merasakan betapa kelaki-lakian itu kini menegang dengan cepat, dan mulai berdenyut-denyut. Rien tahu, sebentar lagi Kino akan mencapai orgasme pertama di tangannya. Sejenak ia menurunkan telapak tangannya sampai ke pangkal kelaki-lakian Kino, lalu dengan gaya mengurut ia membawa naik telapak tangannya, dan sesampai di atas ia meremas-remas dengan kuat.Kino tak tahan lagi. Tangan Mba Rien yang halus dirasakannya bagai sedang menarik lepas sebuah sumbat di bawah sana. Dan dengan lepasnya sumbat itu, sebuah air bah yang dahsyat menyerbu keluar. Kino mengerang pelan, melepaskan bibirnya dari bibir Mba Rien, mendongak seakan berusaha menghisap lebih banyak udara, lalu menjerit tertahan.Rien merasakan betapa kelaki-lakian Kino tiba-tiba membesar dengan cepat, lalu bergetar dan berdenyut-denyut kuat. Telapak tangan Rien meremas untuk terakhir kalinya, lalu mulai menerima semprotan-semprotan cairan kental panas. Ia mengepalkan tangannya, menampung semua itu agar tidak bermuncratan ke mana-mana. Tidak kurang dari tujuh kali rasanya semprotan cairan itu memenuhi kepalannya. Lalu, Kino terkulai lemas, dan memeluk tubuh Mba Rien. Pelan-pelan Rien mengeluarkan tangannya, dan diam-diam mengambil sapu tangan untuk membersihkan tangan itu."Enak?" tanya Mba Rien lembut, seperti seorang ibu menanyakan bagaimana rasanya makan malam yang dihidangkannya. Kino tertawa tertahan, malu bercampur senang. Hujan masih turun, walau tak lagi lebat. Kino tak peduli. Walau harus bertarung melawan macan di hutan ini pun, ia tak peduli. Selama Mba Rien ada di sisinya, ia tak peduli!Continue..
Menguak Rahasia Berdua"Peristiwa Kenari", demikian Rien menamakannya, adalah sebuah langkah tak terencana yang sempat membuat wanita lajang ini panik. Ketika mereka berdua akhirnya tiba kembali di kota, menembus rintik hujan dan gelap senja, Rien sempat ingin berbincang dahulu. Ia ingin menjelaskan sesuatu, agar Kino tak salah tangkap. Tetapi mulutnya terkunci, dan otaknya buntu. Lagipula, apa yang bisa ia jelaskan? Misteri apa yang bisa ia ungkap dalam sebuah peristiwa pendek yang begitu bergelora tadi? Dan kenapa ia harus kuatir akan Kino; kesalah-tangkapan apa yang mungkin terbesit di benak pria muda itu?Akhirnya mereka berpisah dengan kikuk. Di perempatan dekat kantor camat, Rien berbelok ke kiri, ke tempat kostnya. Sambil berusaha tersenyum menenangkan diri, ia melambaikan tangan dari atas sepedanya. Kino tampak ragu-ragu, apakah hendak ikut belok kiri atau terus, langsung ke rumahnya. Tetapi dilihatnya Mba Rien hanya melambai, tidak menawarkan mampir. Maka ia pun hanya membalas lambaian dan melanjutkan perjalanan ke rumah.Di tempat kost, Rien memutuskan untuk segera mandi, terburu-buru melepas jaket parasut dan celana pendeknya. Dengan bersaput handuk, ia berlari kecil ke kamar mandi di sebelah kamar tidurnya. Teman satu kostnya, seorang guru SMP bernama Laras yang sebaya dengannya, tak tampak. Mungkin sedang bermain ke tetangga sebelah. Cepat-cepat Rien mengunci pintu kamar mandi dan membuka pakaian-pakaian dalamnya. Lalu ia membasuk kaki-kakinya yang terpercik lumpur, dan mencuci tangan.Sewaktu mencuci tangan itulah, terbayang kembali "peristiwa kenari" yang barusan dialaminya. Sambil tersenyum, dalam hati ia memarahi dirinya sendiri. Rien, kamu telah membuka gerbang ke arah dunia yang tak terduga! Kini, apa yang akan terjadi berikutnya, kamu harus simak dengan seksama. Dan dengan hati-hati. Siapa yang tahu, apa yang kini bergejolak di hati Kino, dan apakah keremajaannya mampu menampung gejolak itu. Rien mengambil sabun dan membasuh kedua tangannya dengan seksama. Tangan itu yang tadi meremas-membelai, menguak sebuah tabir dari babak cerita di panggung kehidupan!Lalu Rien menumpahkan bergayung-gayung air dingin ke tubuhnya. Segera kesegaran menyerbu badannya, membuatnya ingin bernyanyi. Maka tak lama kemudian ia menggumamkan lagu -entah apa- sambil mulai menyabuni tubuhnya. Lehernya yang jenjang ia sabuni. Sepasang bukit indah di dadanya, ia sabuni, sampai dipenuhi busa-busa harum. Pada saat menyabuni bagian bawah tubuhnya, ia terkejut sendiri. Hampir saja sabun lepas dari genggaman. Ternyata kewanitaannya basah oleh cairan bening yang telah lama tak pernah ada di sana. Kekagetannya juga berlanjut, ketika Rien sadar bahwa di bagian itu ada rasa hangat yang berlebihan. Ada sensitifitas yang lebih dari biasanya. Tanpa sabun, tangannya bergerak lebih ke bawah, mengusap-usap seperti sedang menduga apa gerangan yang terjadi. Sebenarnya, Rien tak perlu menduga, karena setiap usapan mendatangkan rasa yang telah lama tak dirasakannya: sebentuk geli yang bercampur nikmat, yang dengan mudah membuat jantungnya berdegup sekian kali lebih kencang. Tanpa bisa dicegah, Rien tiba-tiba mendesah, dan kedua kakinya bagai sedang berseteru, saling memisahkan diri satu sama lainnya.Suara kucuran air cukup keras menyembunyikan desah Rien yang kini memperkuat usapan tangannya. Bahkan itu bukan lagi mengusap namanya. Itu meremas namanya. Menekan-nekan dengan telapak, dan menggaruk-mengurat dengan jari tengah. Lalu pangkal ibu jarinya bertumbu pada bagian atas, bergerak-gerak seperti sedang menarik picu senjata. Rien menggelinjang, dan hampir saja terpeleset di lantai kamar mandi yang licin. Tangan kirinya yang bebas buru-buru berpegangan ke tembok, sementara tangan lainnya tak hendak berhenti. Malah bergerak makin cepat seperti ada sesuatu yang mendesak yang harus dilakukan di bawah sana. Mata Rien sedikit terpejam, dan mulutnya yang berpagar bibir basah itu sedikit terbuka. Nafasnya sedikit memburu. Serbuan-serbuan kenikmatan datang entah dari mana, dan Rien agak terhuyung, sehingga ia akhirnya bersandar di tembok marmer yang dingin dan basah. Suara orang membuka pintu ruang depan membuat Rien tersentak sadar. Buru-buru ia kembali ke dekat bak mandi. Terdengar suara Lara nyaring, "Rieeeen ........ kau kah itu di kamar mandi?"Rien membersihkan tenggorokannya yang tiba-tiba tersekat, sebelum menjawab keras-keras, "Ya, ini aku La ... sedang mandi...", entah apa pula perlunya menambahkan kata "sedang mandi" di ujung kalimat!"Dari mana saja, anak manis?" teriak Lara lagi, terdengar melangkah menuju kamarnya di seberang kamar Rien."Dari hutan mencari kenari .... ", jawab Rien sambil mulai mengguyur. Duh, segera saja api yang berkobar di tubuhnya padam. Dalam hati Rien bersyukur, Lara datang sebelum dirinya betul-betul terlena oleh tangannya sendiri! Tetapi sesungguhnya ia juga kesal, kenapa Lara datang pada saat seperti itu. Sambil tertawa kecil, Rien menghentikan perdebatan di kalbunya. "Peristiwa Kenari" ternyata tidak hanya mengubah hidup Kino!!******Sementara Kino telah pula sampai di rumahnya. Ia telah pula di kamar mandi, dan telah pula menyabuni tubuhnya. Sama dengan Mba Rien, ia telah pula kembali membayangkan apa yang terjadi di hutan tadi. Bedanya, Kino tak berhenti karena terganggu oleh teriakan ayah, atau panggilan ibu, atau ajakan Susi untuk bermain petak umpet. Kino melanjutkan gerakan-gerakan tangannya, mengerang pelan ketika akhirnya ledakan-ledakan orgasme tercapai.******Seminggu setelah "peristiwa kenari", Kino disibukkan oleh ulangan-ulangan di sekolahnya. Dalam kesibukannya itu, Kino tak bertemu Mba Rien. Ia tak mungkin bisa menemui Mba Rien, karena diam-diam Mba Rien pergi ke rumah salah seorang kakaknya di kota B, 6 kilometer di sebelah selatan. Sebuah pesan pendek disampaikan Niken kepada Kino, ketika pria remaja ini lewat di depan sanggar (tentu saja, ia sengaja lewat!). Kata Niken, Mba Rien menyuruh Kino rajin belajar supaya semua ulangannya bernilai bagus. Kata Niken lagi, Mba Rien baru akan pulang bulan depan, karena sanggar akan tutup sementara murid-murid menjalani ulangan.Untuk beberapa saat, Kino merasa ada sesuatu yang tak beres. Kenapa dia tiba-tiba menghindar? sergahnya dalam hati, disertai gundah karena kepergian Mba Rien hanya berjarak seminggu dari peristiwa di gua itu. Apakah ia marah? Tetapi apa yang membuatnya marah? Mba Rien tak tampak marah ketika ia melakukan itu di gua; ia bahkan tampak ceria, dan matanya penuh senyum menggoda. Apakah ia malu menemuiku lagi? Tapi, bukankah aku yang seharusnya malu menemuinya?Pikiran-pikiran itu berkecamuk sepanjang hari, berlanjut sepanjang malam, sehingga Kino baru tertidur pukul 2 pagi. Untung keesokan harinya ulangan belum lagi dimulai karena masih dalam rentang "minggu tenang". Tentu saja Kino tak punya seorang pun yang bisa diajak mendiskusikan pikiran-pikirannya. Tidak Dodi dan Iwan yang baginya cuma akan menambah persoalan. Tidak juga ibu, dan apalagi tentu bukan ayah. Keduanya pasti cuma akan marah dan menuduh yang bukan-bukan.Maka Kino terpaksa mengambil kesimpulan sendiri. Ia pergi ke pantai sendiri, berenang sampai letih, lalu tidur-tiduran di bawah semak-semak tempat ia dulu pertama kali menyentuh dada Mba Rien. Sambil tertidur itu lah ia memutuskan, bahwa tak mungkin Mba Rien bermaksud buruk. Tak mungkin tiba-tiba Mba Rien meninggalkan dirinya penuh dengan tanya yang belum terjawab. Ia adalah seorang wanita bijaksana, pikir Kino dalam hati, dan ia pergi karena aku harus ulangan umum. Karena aku harus berkonsentrasi dengan buku-bukuku. Karena dengan Mba Rien di dekatnya, buku-buku akan dia lempar jauh-jauh!Pikiran itu meneduhkan gejolak hati Kino, walau tak pernah menjadi jawaban sempurna bagi pertanyaan-pertanyaan yang terus berdatangan di kepalanya. Pikiran itu pula yang membantu Kino berkonsentrasi ke pelajaran sekolahnya, sehingga ulangan umum tak terasa begitu menyiksa. Dua minggu ia hanya belajar dan belajar, sehingga ketika ulangan tiba, kepalanya seperti penuh dengan huruf dan angka. Satu demi satu ia menyelesaikan mata ulangan dengan sedikit kesulitan saja. Di akhir masa ulangan, kepalanya terasa kosong sekali. Ringan dan sejuk."Kamu kelihatan riang dan optimis...," tiba-tiba Alma sudah berdiri di dekatnya, memeluk tas dan menuaskan senyum di mukanya yang tampak letih setelah seharian berkutat dengan kertas ulangan.Kino membalas senyum Alma, dan tiba-tiba sadar bahwa cuma gadis ini yang tampaknya peduli akan perasaannya. Kino teringat, Alma pula yang dua minggu lalu -sebelum ulangan dimulai- bertanya kenapa wajahnya keruh. Alma pula yang pernah menawarkan sebotol minuman dingin ketika ia sedang duduk sendirian di pinggir lapangan basket menunggu bel masuk setelah istirahat. Alma yang penuh perhatian!"Lega rasanya setelah semua ulangan selesai," ucap Kino sambil memandang Alma, dan menyadari betapa indah kedua bola mata gadis yang oleh Dodi dan Iwan selalu dipuji-puji setinggi langit. Alma tersenyum lagi, menembakkan seberkas perasaan yang belum jelas tertangkap oleh Kino."Pulang sama-sama?" kata Alma lembut, seperti mengajak, seperti menebak. Ah, Kino tak tega mengatakan "tidak", maka ia cuma mengangguk dan mereka berjalan beriringan pulang. Kino menuntut sepedanya, Alma berjalan sambil tetap mendekap tas sekolahnya. Sayup-sayup Kinomendengar Dodi berteriak "cihuiii.." dan Iwan memperdengarkan suitan nakalnya. Kino mengutuk dalam hati, dua monyet itu sungguh tak punya sopan. Tetapi ia tersenyum juga.Mereka berjalan pelan-pelan, menyusuri jalan yang dipagari pohon-pohon asam rindang, berbincang-bincang ringan tentang sekolah. Alma bertanya tentang rencana liburan, Kino mengatakan ia belum punya rencana. Alma berbicara tentang rencana berkemah anak-anak kelas dua dan kelas tiga, Kino mengatakan dukungannya kepada rencana itu. Alma bertanya apakah Kino akan ikut berkemah, dan Kino menjawab "mungkin". Alma lalu terdiam. Kino juga diam. Pohon-pohon asam juga diam. Angin juga diam.Dalam diam Kino membandingkan Alma dengan Mba Rien. Betapa berbedanya! Alma tampak lembut, mungil, terkadang seperti sedang bersedih. Mba Rien selalu menggairahkan, tegas, dan penuh ide kegiatan. Tetapi Alma sangat cantik, terutama jika mereka sedang berdua, dan jika ia sedang bertanya, "Ada apa?" dengan suaranya yang pelan dan matanya yang menatap bening. Di depan Mba Rien, Kino seperti murid di hadapan maha-guru dunia persilatan, mengikuti segala gerak-geriknya dengan seksama, mematuhi anjuran dan permintaannya. Di depan Alma, sebaliknya, ia merasa perlu melingkarkan tangan di bahu yang tampak ringkih itu. Merasa perlu selalu jalan di sebelah kanan kalau beriringan. Merasa perlu menawarkan membawa alat-alat laboratorium setiap kali mereka selesai praktikum. Mereka tiba di depan bioskop satu-satunya di kota itu. Mereka harus berpisah di sini, kecuali jika Kino ingin mengantar Alma sampai ke rumahnya. Alma memecah kesunyian di antara mereka, "Sampai jumpa lagi sehabis liburan," katanya pelan, lalu mulai berbelok."Alma..," tiba-tiba saja Kino sudah berucap, tapi ia sendiri lupa hendak bicara apa. Alma menghentikan langkah, berputar menghadap Kino yang juga sedang berdiri terpaku. Alma menunggu, wajahnya penuh harap. Ah, mengertikah Kino apa artinya "harap"?"Aku ingin ikut berkemah..., tapi...," Kino berucap penuh keraguan. Cepat sekali wajah Alma berubah mendengar ucapan Kino, dan bibirnya yang mungil susah-payah menyembunyikan senyum yang tiba-tiba menyeruak. Segumpal harapan tersekat di kerongkongnya."..... tapi aku tidak tahu harus mendaftar kepada siapa." lanjut Kino setelah menelan ludah yang terasa pahit."Aku bendahara panitia," sergah Alma cepat sekali, seperti memang sudah dipersiapkan sejak tadi tetapi ditahan-tahan, "Kamu bisa mendaftar kepadaku. Hari ini juga namamu sudah bisa kutulis sebagai peserta. Aku bisa menalangi uang pendaftarannya. Aku....," Alma menghentikan ucapannya, sadar melihat Kino berdiri melongo memandang gadis di depannya bicara penuh semangat, seperti berbicara di depan pertemuan partai politik!Alma merasa mukanya tersiram air hangat, dan ia segera menunduk menyembunyikan rasa malu yang menyerbu. Kino tiba-tiba ingin tertawa keras, tetapi ia bertahan sekuat tenaga, sehingga yang keluar cuma senyuman yang lebar."Kalau begitu," ucap Kino sambil tetap menahan senyum, "Sampai jumpa di alun-alun sekolah Sabtu depan!"Alma mengangkat muka, memperlihatkan wajahnya yang memerah tetapi juga bersinar riang sempurna. Matanya berbinar seperti bintang timur di pagi hari. Mulutnya mengguratkan senyum amat manis, bahkan bagi Kino, bahkan di terik siang yang kering itu. "Sampai jumpa," bisiknya, tetapi tentu Kino tak mendengar karena ia telah mulai melangkah lagi sambil melambaikan tangan. Alma mengangkat tangan kananya, melambai pelan, dan akhirnya berbalik untuk berjalan ke arah rumahnya. Bumi terasa empuk, seperti kasur terbuat dari busa. Alma senang sekali hari itu. Senang-senang-senang sekali!******Bumi perkemahan adalah arena penuh suka-duka remaja. Pak Guru dan Bu Guru adalah sipir-sipir penjara, dan anak-anak kelas dua dan kelas tiga adalah para pesakitan. Tetapi siapa yang peduli! Setelah letih didera ulangan dan ujian, bumi perkemahan adalah penjara yang dirindukan. Di sini mereka bisa berteriak mengalahkan guntur di langit, bernyanyi tanpa not balok dan tanpa dirijen (yaitu Pak Sulih, guru seni yang terlalu tua itu!), serta tidur melewati batas waktu yang selalu ditetapkan secara sepihak oleh orangtua. Di sini pula menyebar cinta remaja, cinta monyet, puppy love, atau apa lah namanya!Di perkemahan itu pula, Kino "menemukan" Alma, setelah sekian lama mereka berteman. Kino kini menyadari, Alma bukan gadis biasa, bukan semata-mata teman sekelas yang duduk di bangku kayu berwarna coklat tua itu. Bukan seperti Tres, atau Sriani, atau Gina, atau Lisa. Karena Alma punya kelebihan dari semua mereka itu: Alma peduli padanya, peduli pada apa yang dirasakannya, dan peduli dengan ketulusan. Karena Alma tidak meminta, tetapi memberi. Alma tidak mengajak, tetapi mendampingi.Pagi itu, dengan alasan menemani Alma mengambil air di sungai, Kino menarik gadis itu ke balik sebuah batu besar. Di situ, di antara gemersik air dingin dan kicauan burung yang terlambat bangun, Kino menciumnya. Lembut dan penuh perasaan, ia mengulum bibir gadis yang kini memeluknya erat sekali. Alma memejamkan mata, merasakan angin seperti sutra menyelimuti tubuh mereka berdua, mendengar nyanyian merdu dari daun-daun yang berjatuhan. Kino merengkuh tubuh yang terasa jauh lebih mungil itu (Alma cuma setinggi hidungnya), melumat bibirnya yang basah dan terasa manis. Ember terguling berkelontangan.Sejak itu, Dodi dan Iwan mengubah sebuah lagu pop dengan teks gubahan mereka sendiri yang sangat gombal. Kino pusing sekali mendengar gubahan yang tidak karuan itu. Bahasanya buruk, tidak puitis, dan jelas-jelas memproklamirkan percintaan Alma dengannya. Pusing sekali Kino dibuatnya, tetapi apa lah dayanya, cuma Dodi dan Iwan yang bisa menghiburnya dengan ketololan-ketololan seperti itu!******Enam hari menjelang masa sekolah, Alma menemani kedua orangtuanya ke ibukota, katanya hendak menjenguk kakek-neneknya. Inilah pertama kalinya Alma merasa perlu melaporkan kepergiaannya kepada Kino, karena sejak perkemahan dan ciuman pertama itu, Kino resmi menjadi kekasihnya. Seorang kekasih harus tahu kemana pasangannya pergi, bukan? Maka Alma menulis surat pendek, di atas kertas merah jambu, dan dikirim lewat kurir istimewa bernama Dodi dengan pesan wanti-wanti, "Jangan dibuka sebelum tiba di tangan Kino!"Kino tersenyum membaca surat itu, sementara Dodi memanjang-manjangkan leher ingin mengintip isinya. Dengan seksama, dilipatnya kertas merah muda itu, dan disimpannya di dompet. Kepada Dodi, ia bilang bahwa Alma pergi ke ibukota untuk menikah dengan pria pilihan orangtua mereka. Dodi mencibir tak percaya, tapi Kino tak peduli apakah temannya percaya atau tidak. Mereka lalu bersiap-siap berenang ke sungai, dan mengajak Iwan ikut serta. Sepanjang sore, mereka berlomba-lomba menyebrangi sungai, dan Kino selalu menang. Kedua temannya terlalu ceking dan terlalu banyak bergadang.Sepulangnya dari berenang, ketika Dodi dan Iwan telah terpisah darinya, Kino bertemu Niken."Hai..., apa kabar!" sergah wanita teman Mba Rien itu."Kabar baik," ucap Kino pendek. Sebetulnya ia ingin melanjutkan dengan pertanyaan tentang Mba Rien, tetapi Kino ragu apakah hal itu patut ditanyakan kepada Mba Niken."Tidak pernah ke sanggar lagi?" tanya Niken, entah kenapa Kino merasa wanita ini sedang menggodanya."Mmmm .... bukankah latihan tari belum dimulai lagi, dan Susi belum perlu datang lagi?" jawab Kino.Niken tertawa kecil, "Maksudku, .... koq tidak pernah ngobrol dengan Mba Rien lagi, dia kan sudah datang!"Kino menelan ludah. Oh, Mba Rien telah pulang. Cepat sekali rasanya waktu berlalu, pikirnya dalam hati. Lalu, entah kenapa ia akhirnya berjalan beriringan dengan Niken ke arah sanggar. Niken berceloteh entah tentang apa, Kino tak begitu memperhatikan, karena kepalanya sibuk menjawab berbagai persoalan yang tiba-tiba muncul.Sesampai di sanggar, Niken berkata bahwa ia hendak ke belakang dulu, dan bahwa Mba Rien ada di ruang latihan. Kino menggumamkan terimakasih, menjawab sekenannya, lalu berjalan ke arah ruang latihan. Langkahnya terasa berat, tetapi kaki-kakinya seperti digerakkan oleh mesin yang tak bisa dikendalikannya sendiri."Hei!!! Kino!...apa kabar?" suara Mba Rien yang lepas-nyaring terdengar begitu Kino muncul di pintu ruang latihan. Kino terpaku sejenak, matanya menyesuaikan diri dengan keremangan ruang latihan. Akhirnya ia melihat Mba Rien, sedang menggelar tikar-tikar bersama seorang wanita lain yang tak dikenal Kino.Rien mendekat dengan cepat. Duh, kenapa ia jadi rindu kepada remaja ini? sergahnya dalam hati, tetapi ia tak mempedulikan perasaannya. Dipeluknya Kino sebelum pemuda ini sepenuhnya sadar apa yang terjadi, lalu dikecupnya cepat pipinya. Kemudian dilepasnya pelukan secepat ia mencium pipinya, dan diberondongnya Kino dengan serentetan pertanyaan.Kino tergagap-gagap menjawab pertanyaan tentang ulangan, tentang liburan, tentang orangtuanya, tentang Susi, tentang .... entah tentang apa lagi. Banyak sekali yang tak bisa dijawabnya. Mba Rien tampak bersemangat sekali, dan Kino baru belakangan menyadari bahwa rambut wanita ini telah berubah pendek. Tetapi perubahan itu justru menambahkan kecantikan baru, karena lehernya yang jenjang dan mulus itu semakin terpampang indah, dan matanya yang bersinar itu semakin tampil. Kino tiba-tiba merasa ingin melingkarkan tangannya di leher yang menggairahkan itu!Setelah mencencar dengan pertanyaan dan menyeret Kino untuk membantunya menggelar tikar-tikar, akhirnya Mba Rien mengajak Kino ke tempat kostnya. Kino hendak membantah, karena hari sudah mulai gelap. Tetapi, sebagaimana biasanya, ia tak pernah bisa menolak inisiatif Mba Rien. Lagipula ini malam Minggu dan sekolah belum lagi mulai. Kino tadi sore telah mengatakan akan bermalam minggu bersama teman-teman, dan ayah-ibu telah mengijinkannya pulang paling lambat pukul 11. Maka akhirnya Kino bertandang ke tempat kost Mba Rien.Di tempat kost Mba Rien, tampak Mbar Laras sedang berbincang dengan seorang pria berwajah tampan dan berpakaian rapi, mungkin pacarnya. Kino mengangguk sopan, dan Mba Laras mencubit pahanya sambil mengomel, mengatakan bahwa Kino tidak adil karena hanya datang kalau ada Mba Rien. Pria yang sedang bersama Mba Laras bertanya, siapa si Kino itu (usil juga dia!) dan segera dijawab bahwa Kino adalah adik bungsu Rien. Pria itu menggumamkan, "Oooo.." yang entah mengandung curiga atau percaya. Kino tiba-tiba sebal kepada pria yang -harus diakuinya- berwajah tampan dan berbaju cukup bagus untuk ukuran kota kecil.Mba Rien mengajak Kino masuk ke kamarnya, dan Kino tentu menurut saja karena Mba Laras juga mengusirnya dari ruang tamu ("mengganggu pembicaraaan," katanya). Di kamar, Mba Rien mengeluarkan sebungkus kue bolu oleh-oleh dari kakaknya, dan Kino bersuka-cita melahap pengganan lezat kegemarannya itu. Mba Rien terus bercerita tentang kakaknya, tentang anak kakaknya, tentang kota yang terkenal dengan bolunya, dan sebagainya, dan seterusnya. Kino, seperti biasa, cuma mendengar dengan seksama. Tetapi mata Kino tak lekang dari Mba Rien yang bergerak lincah mengimbangi keramaian ceritanya. Ia seperti burung gelatik di pagi hari, pikir Kino. Menggairahkan pula, dengan dada yang terlonjak-lonjak seperti itu, dengan mulut yang basah seperti itu, dengan pinggul yang bergoyang seperti itu.Lalu terdengar Laras berteriak dari kamar tamu, mengatakan bahwa ia dan teman prianya akan keluar untuk menonton. Mba Rien keluar sebentar dan berbicara dengan pria teman Laras itu, lalu terdengar pintu depan ditutup, dan Mba Rien kembali ke kamar. Kino sedang berdiri membuka-buka album foto di meja kerja Mba Rien yang dipenuhi majalah-majalah dan buku tentang tari-menari. Cantik sekali Mba Rien dalam foto-foto penampilannya. Ia memang penari yang kata orang penuh bakat, dan sudah pernah diajak tur keliling Indonesia oleh seorang sutradara tari dari ibukota. Kino juga pernah mendengar bahwa Mba Rien diajak tur ke luar negeri, tetapi entah kapan realisasinya.Kino tersentak ketika merasakan nafas Mba Rien di tengkuknya. Tanpa terdengar, Mba Rien telah berdiri di belakang Kino, dekat sekali. Dengan ringan ia menjelaskan foto-foto di album itu, tetapi Kino tak bisa sepenuhnya mengerti. Betapa tidak! Tubuh Mba Rien menempel di tubuhnya. Nafasnya harum memenuhi udara. Dadanya yang kenyal menekan punggung Kino, membuat pemuda ini tiba-tiba bersyukur bahwa Mba Laras dan teman prianya pergi ke luar rumah!Lalu, entah kekuatan apa yang datang ke Kino, tiba-tiba ia sudah berbalik dan memeluk Mba Rien. Bukan itu saja, Kino bahkan tiba-tiba sudah mengulum bibir basah yang bernafas harum menggairahkan itu. Rien tergagap, kedua tangannya siap mendorong dada Kino. Tetapi dengan tiba-tiba pula tangan itu kehilangan daya, dan berhenti di dada Kino, bukan mendorong melainkan menempel saja. Lalu, ketika Kino terus melumat bibirnya, Rien tak kuasa mencegah kedua tangannya merengkuh tubuh pemuda itu. Kedua payudaranya terhenyak di dada Kino, membuat Kino semakin bergairah menciumi wanita yang selalu menggairahkan birahinya ini.Rien mengerang mendapat perlakuan Kino yang penuh nafsu itu. Matanya terpejam penuh penyerahan, juga ketika pelan-pelan mereka bergeser ke arah dipan. Tangan Rien meremas punggung Kino, dan bahkan lalu menekan tengkuk pemuda itu, mendorong Kino untuk berbuat lebih bergairah lagi. Dan Kino pun menyambut ajakan seperti itu dengan sepenuh hati. Entah bagaimana awalnya, kedua tangannya kini meremas-remas payudara Rien, menyebabkan wanita itu terengah-engah. Puting-puting susunya terasa menegang mendapat perlakuan Kino yang sebetulnya agak kasar itu. Terasa gatal pula, karena Rien tergesek-gesek beha nilonnya. Kehangatan tiba-tiba menjalari tubuhnya, ke arah bawah, ke antara dua pahanya yang kini menempel erat di paha Kino.Keduanya lalu terjerembab di dipan yang berderit menahan beban yang lebih berat dari biasanya. Kino menindih Rien dan masih menghujaninya dengan ciuman. Rok Rien yang pendek telah tersingkap, memperlihatkan seluruh pahanya, dan celana dalam krem tipis yang berenda-renda. Sejenak Kino melihat pemandangan itu, menyebabkan ia semakin bergairah menciumi Mba Rien-nya. Tetapi cuma itulah yang bisa dikerjakan Kino selama ini, meremas payudara (sebagaimana Mba Rien mengajarinya di pantai) dan menciumi bibirnya (seperti "peristiwa kenari" sore itu). Tidak lebih dari itu yang bisa dikerjakan pemuda tak berpengalaman ini!Adalah Rien yang kemudian tak merasa cukup diciumi dan diremas-remas seperti itu. Tubuhnya minta lebih dari itu, dan Rien ingin mendapatkannya dari Kino, pemuda yang semakin lama semakin disukainya ini. Ia tahu, ini adalah sebuah permintaan yang berbahaya dan harus diperlakukan hati-hati. Tetapi pancaran birahi dari pemuda yang sekarang mendekapnya ini begitu kuat, mengundang Rien untuk hanyut lebih jauh lagi, berenang lebih dalam lagi. Sanggupkah ia menolaknya?Dengan tangan kanannya yang bebas, Rien tiba-tiba sudah menuntun tangan kanan Kino, membawanya ke bawah. Tangan pemuda itu tampak lemas tak berdaya, mengikuti saja. Sambil mengerangkan sesuatu yang tak jelas, Rien menelusupkan tangan Kino dan tangannya ke balik celana dalamnya. Kino merasakan telapak tangannya mengusap rambut-rambut halus dan bukit kecil yang hangat di balik nilon tipis itu. Ah, apa yang harus kulakukan? pikirnya risau. Tetapi Kino diam saja, karena tangan Mba Rien kini mengajak tangannya berputar-putar mengusap. Hangat sekali di bawah sana, jauh lebih hangat daripada kedua payudaranya, ucap Kino dalam hati. Apalagi kemudian tangannya didorong lebih ke bawah. Tidak hanya ada hangat di sana, tetapi juga agak basah. Gerakannya masih mengusap-usap, menuruti saja gerakan tangan Mba Rien yang kini tampak semakin terengah-engah.Tiba-tiba Mba Rien melepaskan bibirnya dari pagutan Kino, membuat pemuda ini agak terperanjat. Apalagi kemudian Mba Rien bangkit, membuat Kino khawatir telah melakukan suatu kesalahan fatal. Tetapi ternyata tidak. Ternyata Mba Rien bangkit untuk melepas celana dalamnya, dengan sebuah gerakan cepat yang menakjubkan. Kino terkesima melihat Mba Rien kini menggeletak di sampingnya, dengan rok tersingkap sepenuhnya, dan dengan kewanitaan yang terpampang jelas, menampakkan segitiga hitam rambut-rambut halus yang sedikit membukit, dan sepasang bibir yang membasah. Kino menelan ludah berkali-kali. Pemandangan itu sungguh berada di luar batas khayalnya selama ini. Jauh di luar batas!Wajah Mba Rien tampak serius dengan sinar yang menggairahkan, pikir Kino sambil mencari jawab di mata wanita itu. Ia sungguh bingung, tak tahu harus berbuat apa. Mba Rien tersenyum, lalu berbisik, "Kino.. Mba ingin kamu melakukan sesuatu malam ini. Mau?"Kino mengangguk bisu. Apa lagi yang bisa dilakukannya selain itu? Ia melihat Mba Rien tersenyum seperti biasanya, penuh dengan bujukan agar ia percaya saja kepadanya. Ia diam saja, ketika tangan Mba Rien menuntun tangannya kembali ke bawah, ke segitiga yang tampak menggoda dan mengundang itu. Ia diam saja ketika dengan sabar Mba Rien memintanya menjulurkan jari tengahnya. Ia diam saja ketika Mba Rien, dengan tangan kirinya, menguak bibir-bibir di bawah sana, memperlihatkan dinding halus yang tampak licin-basah dan agak berdenyut berwarna merah muda itu."Oh, Kino... tolong gosok-gosokkan jari tengahmu di sana....," tiba-tiba Mba Rien mendesah penuh dengan permohonan. Kino terenyuh mendengar baru kali ini Mba Rien memohon. Cepat-cepat ia memenuhi permintaannya, dan dengan rasa kagum mulai menelusuri celah bibir dan dinding halus yang basah itu dengan jari tengahnya. Perlahan ia menelusur ke bawah, ujung jarinya terasa menyentuh sebuah liang liat yang agak sempit. Perlahan ia naik kembali, terus ke atas karena tangan Mba Rien menariknya sampai hampir keluar dari lepitan bibir-bibir yang tampaknya menebal itu. Ujung jari Kino kini merasakan sebuah tonjolan kecil di balik selaput kulit yang agak tebal. Mba Rien tampak memejamkan mata erat-erat ketika Kino mengurut-urut tonjolan itu seperti yang diminta Mba Rien."Terus, Kino... teruskan, ohhhhhh..," Mba Rien seperti merengek-rengek dengan wajah yang semakin memerah dan mulut membuka menghembuskan nafas memburu. Kino memenuhi permintaannya, menggosok dan mengurut dengan jari tengahnya lebih cepat lagi. Mudah sekali melakukannya, karena jarinya licin dipenuhi cairan kental bening yang ia tak tahu apa namanya. Mudah sekali jari tangannya melesak ke liang kenyal kecil di bawah sana, karena liang itu seperti membuka dengan sendirinya, dan seperti hendak menyedot masuk jarinya. Gerakan-gerakan tangan Kino semakin teratur; naik..., turun.... berputar,... naik ... turun .... melesak sedikit. Demikan seterusnya, sementara Mba Rien kini menggelinjang, mengerang-erang seperti orang mengejan, dan melentingkan badannya seakan punggungnya tertusuk duri."Oooooh, Kino... lebih cepat lagi .... Kino, ahhhh...," Mba Rien kini seperti orang mau menangis dan memohon-dengan-sangat kepada Kino. Sungguh membuat iba Kino, tetapi sungguh menggairahkan pula permintaan itu. Maka Kino bergerak secepat mungkin, sekeras mungkin, sekuat mungkin. Tangannya terasa pegal, tetapi ia tak peduli, ia harus lebih cepat lagi dan lebih kuat lagi menggosok. Harus lebih kuat lagi memutar sambil menekan kalau perlu, karena setiap putaran dan tekanan tampaknya membuat Mba Rien semakin keenakan. Rasanya seperti sedang menimba sumur dengan satu tangan, peluh telah membasahi dahi Kino, tetapi untuk wanita ini rasanya masuk sumur pun rela!Tiba-tiba Mba Rien mengejang, dan untuk beberapa detik Kino menyangka perempuan ini sedang menghadapi maut. Kaget, ia tarik tangannya, tetapi Mba Rien memprotes..."Ah, jangan Kino....jangan berhenti!" sambil menarik tangan Kino untuk kembali ke bawah sana. Cepat-cepat Kino memenuhi permintaan itu, dan menggosok-mengurut kembali sekuat tenaga. Satu kali, dua kali, tiga kali .... lima kali... akhirnya Mba Rien seperti berteriak tertahan. Tubuhnya menggeliat lalu melenting seperti busur panah, lalu terjerembab kembali ke kasur dan berguncang-guncang seperti sedang diserang batuk hebat. Tetapi bukan batuk yang keluar dari mulutnya, melainkan erangan-erangan dan rintihan-rintihan. Kino takut sekali melihatnya!"Ohhhhhh..., Kino!" ucap Mba Rien seperti orang menahan tangis, memeluk leher pemuda itu, meraihnya ke pelukan tubuhnya yang masih turun-naik dengan nafas memburu. Kino terdiam menempelkan kepalanya di dada Mba Rien, mendengar jantungnya bagai berdentum-dentum, keras sekali."Kino .... maafkan Mba Rien !" tiba-tiba terdengar wanita itu berucap. Kino hendak mengangkat kepalanya, tetapi tertahan oleh tangan yang memeluk erat lehernya.Lalu ia merasakan air hangat mengalir di dahinya. Mba Rien menangis! Ada apa gerangan? Apa yang salah? Cepat-cepat Kino melepaskan diri dari pelukan, dan memandang heran. Mba Rien memang menangis, matanya penuh air mata, tetapi mulutnya tersenyum manis. "Kenapa?" tanya Kino dengan sejuta keheranan.Mba Rien menggelengkan kepalanya pelan-pelan, tangannya lembut mengusap wajah Kino, lalu juga mengusap rambutnya yang agak menutupi dahi. Dia berbisik, "Aku telah menguak sebuah rahasia penting untukmu .... ."Kino diam dan masih mengernyitkan dahi. Mba Rien berkata lagi, masih dengan berbisik, "Itu tadi orgasme pertamaku di tangan kamu, Kino..."Orgasme. Rahasia penting. Kino menghela nafas panjang. Ia menguakkan kepadaku rahasia terpenting seorang wanita. Mba Rien membawakan kepadaku dunia yang kini justru penuh misteri untuk dikuakkan, pikir Kino dengan dada dipenuhi aneka perasaan: bangga bahwa ia dipilih oleh wanita menggairahkan ini, takjub karena ternyata orgasme itu begitu indah sekaligus menakutkan, terharu karena melihat wanita ini harus berjuang melawan dirinya sendiri sampai menangis!Dengan cepat dipeluknya Mba Rien, diciuminya leher wanita yang harum itu. Oh, terimakasih untuk kunci rahasia itu Mba Rien. Terimakasih banyak!!continue...
Menutup LayarKino terus menciumi leher jenjang yang harum dan kini agak basah oleh keringat. Ia mengecup-mengembus, menggigit kecil, menghela nafas menghirup semerbak tubuh wanita yang menggairahkan ini. Rasa terimakasih memicu semangat dan birahinya, ingin rasanya ia mendekap dan melumat tubuh hangat yang ditindihnya ini. Mba Rien tertawa kecil menerima perlakuan Kino, "Stop ....," ucapnya, tetapi kata itu seperti kehilangan makna. Dan Kino tak mau berhenti, malah semakin bersemangat menelusuri urat samar kebiruan di leher yang bak pualam itu. Kino naik menciumi dagu Mba Rien, menyusur bawah rahangnya, lalu turun lagi sampai ke pangkal leher. Tangannya dengan cepat menyibak kaos wanita itu, sekaligus membuka beha coklat di bawahnya, menampakkan dada ranum yang bergerak naik-turun dengan cepatnya."Ah, Kino .... Ohhh," akhirnya Mba Rien hanya bisa mendesah, dan perlahan tangannya yang tenggelam di rambut Kino kini justru menekan kepala pemuda itu. Justru mendorongnya agak lebih ke bawah, sehingga bibir Kino kini menelusuri lembah indah di antara kedua payudara yang membusung-mengembung-menggairahkan. Harum sekali lembah itu, lembut dan bergetar menyembunyikan jantung yang berdebar kencang. Kino semakin berani, mengangkat mukanya menggigit daging yang membola halus-licin itu sehingga Mba Rien menggelinjang dan menjerit kecil, "Oh, .... jangan Kino..." tapi tangannya tak juga sanggup mendorong kepala Kino lepas dari dadanya. Mba Rien hanya bisa berkata tak bisa berbuat. Sebuah penolakan yang tak punya daya, sebuah penyerahan yang tak terelakkan. Apalagi ketika mulut pemuda yang menghembus-hembuskan nafas panas itu kini tiba di satu puncak payudaranya. "Oh ... jangan itu,... Kino, jangan itu... ", erang Mba Rien, tetapi terlambat sudah! Dengan cepat Kino menyedot puting kenyal yang berdiri menantang itu. Mba Rien menggeliat, melepaskan tangannya dari kepala Kino, meremas-remas seprai seperti hendak mencari kekuatan dari situ. Dunia nyata seperti menghilang dari pandangan Rien yang kini terpejam menahan nikmat tak terperi yang menyerbu tubuhnya. Satu tangannya bergerak ke atas, menggenggam tiang ranjang seakan kini seluruh hidupnya bergantung di sana. Tak ada lagi pikiran bimbang, atau takut, atau kuatir di kepalanya. Semuanya hilang berganti kenikmatan belaka, menjalar-jalar seperti api keluar dari mulut Kino yang kini mengemut-emut puting susunya. Kino pun semakin bersemangat, menyedot kuat-kuat dan mengulum-ulum daging kecil kenyal yang terasa aneh di mulutnya itu. Beginikah seorang bayi merasakan susu ibunya? pikir Kino sambil membayangkan betapa rakusnya dulu ketika ia masih bayi!Rien merasakan kewanitaannya berdenyut lagi, bagai bangkit dari istirahat, setelah tak lebih dari 10 menit lalu bergeletar terlanda orgasme. Kini kedua kakinya membuka lebih lebar lagi, dan tak sadar ia menarik satu tangan Kino untuk kembali ke bawah sana. Kino pun tak perlu mendapat tuntunan lagi sekarang. Tiba-tiba saja ia sudah menjadi piawai. Tangannya dengan cepat melakukan lagi apa yang baru saja ia pelajari dalam permainan serba menggairahkan ini. Tangan itu tahu harus berbuat apa di ladang subur yang selalu menjanjikan kehangatan itu. Penuh kepastian, tangan pemuda itu kini mengusap-usap, menerobos-menelusup, meraih-raih. Rien membuka pahanya semakin lebar, semakin menguak, menyediakan keleluasaan kepada Kino."Ohhh, Kino.... Ohhh, aku mau .... Aaah, aku ingin ....," Mba Rien seperti kehabisan kata-kata, "Kino,... aku,... ahhh.." Apa yang hendak disampaikannya? tanya Kino dalam hati, tetapi ia tidak berani bertanya. Mulutnya tak hendak lepas dari mainan baru di puncak payudara yang menggelorakan itu!Dengan satu jari tengahnya, Kino membuka-menguak sepasang bibir di bawah sana. Telah menebal, bibir-bibir itu. Basah dan licin pula. Hangat dan berdenyut juga. Jari Kino seperti menari-nari, melenggak-lenggok di taman sutera yang halus menggelincirkan. Terkadang, jari itu menelusup jauh ke bawah dan sampai di sebuah liang sempit yang berdenyut-denyut. Rien tersentak ketika disentuh ujung jari Kino di bagian yang sangat peka itu. Tubuh bagian bawahnya tiba-tiba terangkat meninggalkan kasur, dan akibat gerakan itu jari Kino akhirnya melesak masuk, tergelincir cepat sampai tenggelam sepanjang satu buku jari. Ada sedikit lengket dan panas dan basah terasa oleh Kino di ujung jari yang dilingkari sebentuk otot liat-kenyal yang bergerak-gerak seperti mulut kecil. Dan Rien pun merintih pelan, ".... teruskan ... masukkan .... Oh, Kino... teruskan...". Dan Kino mendorong lebih dalam, merasakan jarinya kini menelusuri dinding licin bak sutra yang basah. Dan Rien semakin keras mengerang lalu memutar pinggulnya dalam gerakan asal-asalan. Kino menarik sedikit jarinya, tapi tangan Mba Rien mendorongnya kembali. Kino menarik lagi, tetapi didorong lagi. Ditarik-didorong. Ditarik-didorong. Berkali-kali, semakin lama semakin cepat, seperti kereta api sedang mengambil ancang untuk melaju. Rien menutup mulut dengan punggung tangannya, menahan sebuah teriakan-teriakan kecil yang terputus-putus... ah ... ah ... ah. Lalu ia menggelepar kuat sekali, dan tangan Kino lepas dari selangkangannya, seperti dilemparkan oleh kekuatan gaib. Kino sendiri terkejut sekali dibuatnya. Dan Mba Rien tidak bisa diajak bicara, karena wanita itu menggeliat, mengguling ke samping, lalu tertelungkup dengan tubuh berguncang-guncang. Ranjang berderit-derit. Kino terpana. Astaga, apa yang telah kulakukan?Kino hendak bangkit meninggalkan tempat tidur, tetapi tiba-tiba Mba Rien telah berbalik. Wajahnya agak memerah dan bibirnya yang menggairahkan itu seperti tomat matang. Matanya setengah tertutup, memandang sayu, tetapi penuh dengan sinar yang tak bisa digambarkan oleh kata-kata. Kino setengah terduduk di pinggir ranjang, tak pasti apa yang harus dilakukannya. Lagipula, kini ia kuatir ada orang yang mendengar kegaduhan di kamar ini, walaupun ia juga tahu paviliun tempat Mba Rien indekos terpisah oleh halaman cukup luas dari rumah utama.Mba Rien tiba-tiba tertawa kecil, "Aduh, Kino... lihat apa yang telah kamu lakukan," ucapnya masih agak terengah. Pakaiannya semrawut, behanya sudah terlepas sama sekali, dan roknya tersingkap lebar."Maaf, Mba ...," ucap Kino pelan. Ia sungguh-sungguh bermaksud minta maaf. "Hei... kenapa harus minta maaf?", ucap Mba Rien ringan, lalu ia bangkit dan merapikan pakaiannya, tetapi tidak memakai kembali beha maupun celana dalamnya yang kini entah di mana. "Kamu memberikan lebih dari yang aku minta, dan tak perlu minta maaf untuk itu ..." lanjut Mba Rien lagi dengan suara lembut, hampir berbisik.Mereka duduk berdua di pinggir ranjang. Mba Rien memeluk bahu Kino, lalu mencium leher Kino sedikit di bawah kuping. Kino menggeliat kegelian, lalu balas memeluk pinggang Mba Rien. Kemudian ia mendengar wanita itu berbisik dengan nafasnya yang hangat menyentuh tengkuk Kino, "..sekarang giliran kamu, yaa..."Tangan Mba Rien cepat sekali telah membuka resleting celana Kino yang diam saja tak tahu harus berbuat apa. Lalu dengan lembut tetapi agak memaksa, Mba Rien mendorong tubuh pemuda itu sehingga telentang di kasur, sementara ia sendiri tetap duduk dan terus membuka resleting sampai lepas sama sekali. Lalu jari-jarinya yang letik mulai mengelus-elus di atas celana dalam Kino yang telah menggembung dan agak basah di sana-sini. Ah, Kino pun hanya bisa memejamkan mata, membiarkan apa pun yang akan terjadi berikutnya. Ia pasrah saja.Dengan tangan yang lain Mba Rien membuka kancing baju Kino, satu-persatu dengan ketrampilan dan ketenangannya. Tak lama kemudian, dada Kino yang bidang telah terbuka sama sekali. Lalu Mba Rien membungkukan badannya sedikit, dan .... Kino menggeliat kegelian ketika bibir basah wanita itu tiba di putingnya yang kecil. Rasanya seperti disengat kenikmatan dan Kino mengerang pelan. Mba Rien bahkan lalu mengulum dan menyedot, sehingga Kino tak lagi hanya mengerang tetapi juga merintih. Enak sekali, ternyata jika seseorang bermain-main dengan puting susumu! pikirnya dalam hati.Sementara itu jemari-jemari Mba Rien yang lain telah masuk menyelinap ke balik celana dalam Kino, dan menemukan kejantanan pemuda itu tegak-keras-panas. Jemari itu lalu meremas pelan, mengelus dan menelusur ke atas ke bawah. Kino memejamkan matanya erat-erat, seakan memastikan bahwa ini adalah sebuah mimpi yang nyata, sebuah kenyataan yang dimimpikannya. Tubuhnya meregang merasakan jemari itu melakukan sesuatu yang menakjubkan, membuat seluruh daerah di bawah perutnya terasa tiga kali lebih besar dari biasanya.Mulut Rien terus mengulum puting Kino yang kecil, tangannya terus menggosok-meremas. Dua sumber kenikmatan saling bertumbukan di tubuh Kino, menyebabkan pemuda ini bergetar hebat. Sebuah desakan gairah mulai terkumpul di tubuh bagian bawahnya, membuat kedua pahanya terasa berat. Seluruh otot tubuhnya seperti sedang bersiap-siap meledak, seperti seorang lifter bersiap-siap mengangkat barbel, seperti kuda yang berancang-ancang melompat, seperti burung garuda yang bersiap mengudara.Gerakan Rien makin cepat, dan sedotan mulutnya makin kuat memilin-milin puting Kino yang tentu saja tak pernah lebih besar dari semula. Tidak seperti puting payudaranya Mba Rien. Tangan Mba Rien naik-turun dengan bergairah, begitu cepat sehingga hanya tampak dalam bayang-bayang. Kino mengerang panjang ketika akhirnya ia tak bisa lagi menahan serbuan puncak birahi menerjang mencari jalan keluar. Apalagi kemudian satu tangan Mba Rien yang masih bebas, ikut bermain di bawah sana, memegangi kantong di bawah kelaki-lakian Kino yang seperti mengeras-membatu. Tangan Mba Rien meremas pelan kantong kenyal itu. Pelan saja, tetapi sudah cukup membuat Kino menggeramkan penyerahannya, mengerangkan kepasrahannya, ketika dengan deras cairan hangat kental lepas dari tempat persembunyiannya, menghambur keluar.Langit-langit kamar Mba Rien memudar di mata Kino. Ranjang Mba Rien terasa seperti awan yang membumbung membawa tubuhnya melayang. Jemari dan tangan Mba Rien masih meremas menggosok. Mulutnya yang basah masih mengulum-menyedot. Dunia nyata seakan berkeping-keping. Meledak mengamburkan pijar-pijar pelangi di kepala Kino. Sungguh menakjubkan!Lalu sepi bagai turun dari langit. Kino tergeletak lemas. Mba Rien tertelungkup di sebelahnya, dengan kepala tersandar ke dadanya. Nafas mereka berdua masih memburu. Samar-samar terdengar detik jam dinding. Malam minggu sedang menuju titik kulminasi.Setelah segalanya tenang, Kino bangkit dan merapikan pakaiannya. Mba Rien keluar menuju kamar mandi. Segalanya seperti sediakala, kecuali ranjang yang berantakan tak keruan. Dengan cekatan Kino membereskan seprai dan mengembalikan bantal ke tempatnya. Ia menemukan beha dan celana dalam Mba Rien, yang segera dilipatnya baik-baik dan diletakkan di kursi meja rias. Setelah menghela nafas dalam-dalam, ia melangkah keluar, ke ruang tamu. Kosong tak ada siapa-siapa. Lalu Mba Rien muncul dari kamar mandi. Wajahnya penuh senyum seperti biasanya. Lalu mereka duduk berhadap-hadapan. Lama tidak berkata-kata, cuma saling menukar senyum. Ketika akhirnya Mba Rien membuka percakapan, bahan pembicaraan terasa hambar, dan wanita yang wajahnya bersinar tetapi kelihatan letih itu pun berkali-kali menguap tak mampu mengusir kantuk.Pukul 10 lewat seperempat, Kino akhirnya berpamit. Mba Rien berdiri di pintu depan memandangnya pergi. Kino tak bisa melihat wajahnya, karena terlindung bayangan pintu, tetapi ia tahu Mba Rien tersenyum. Maka ia pun tersenyum sekali lagi, lalu berbalik menuntun sepedanya ke jalan raya. Gelap malam segera menyambutnya, merangkulnya dengan embun basah yang segar. Entah kenapa, Kino merasa seperti seorang ksatria pulang dari medan pertempuran!*******Itulah malam paling bergelora yang pernah dijalani Kino bersama Mba Rien. Seminggu setelah itu, sekolah dimulai dan pertemuan keduanya tak pernah lagi terjadi malam hari. Kino juga tak lagi bisa sering mengantar-jemput Susi ke tempat latihan menari, karena kini ia punya aktifitas baru: mengantar Alma pulang. Mengerjakan PR bersama. Latihan vocal group untuk acara-acara sekolah. Kegiatan ekstrakulikuler selepas sekolah. Dan sebagainya.Mba Rien masih sering mengajak berenang bersama (tetapi Alma tidak pernah ikut karena ia tidak bisa berenang), mereka masih dengan riang saling berlomba mencapai batu karang, mengalahkan Dodi dan Iwan dan Niken yang selalu terlalu banyak tertawa. Mereka juga masih mencari kenari ke hutan, tetapi anehnya tak lagi ada hujan yang menyebabkan mereka terpaksa berteduh di gua. Tak sekali pun mereka pernah membicarakan adegan-adegan bergelora yang sering diputar-ulang oleh Kino di atas ranjangnya sendirian. Mba Rien seperti lupa tentang apa pun yang terjadi malam itu, seperti halnya ketika ia melupakan kejadian di pantai dan di gua. Segalanya normal-normal saja. Dan hari-hari pun berlalu dengan cepat, musim berganti dari hujan ke panas, dari basah ke kering. Ada suatu masa kemarau yang agak panjang, membuat daun-daun menguning dan suasana gerah di mana-mana. Pada masa seperti itu, kota kecil tempat mereka tinggal pun seperti kehilangan energi. Orang-orang jarang mau ke luar rumah, lebih sering duduk-duduk di beranda, atau berteduh di bawah pohon di halaman sendiri. Toko-toko yang jumlahnya memang tidak banyak, juga sepi pengunjung. Babah Ong, pemilik toko kelontong di ujung jalan semakin sering mengomel-mengeluh.******Kemarau kali ini membawa cerita lain bagi Kino. Ia semakin dekat berhubungan dengan Alma dan semakin jarang bertemu dengan Mba Rien. Bukan apa-apa, tetapi memang suasana panas menghalangi keinginan pergi ke pantai, sementara sungai juga menipis airnya, dan kenari tidak berbuah. Lagipula, setiap kali mengantar Alma pulang, Kino dipaksa mampir. Ibunda Alma, Nyonya Tuti, seorang bidan satu-satunya di kota itu, menyukai pemuda ini. Ia selalu mempunyai alasan tepat untuk menyuruh Kino berlama-lama menemani Alma. Misalnya, hari itu ibu yang bertubuh gemuk bulat itu sudah menyediakan es cendol segar. Siapa bisa menolak itu di siang yang begini terik? Tetapi Kino bersopan-santun, mencoba menolak tawaran menggiurkan itu."Ayooo...," sergah Alma manja, menarik kelingking Kino, menyeretnya masuk ke beranda seperti menyeret anak kambing, "Kamu tadi bilang haus...""Sudah siang, Alma," kata Kino mencoba berdalih.Ibu Tuti tertawa mendengar alasan Kino, "Setiap hari kalian pulang pukul 1, apa bedanya hari ini?""Ayooo...," Alma menarik-narik lagi, kali ini pergelangan Kino yang dicekalnya erat-erat. Terpaksa Kino melangkah masuk, menunduk menghindari tatapan Ibu Tuti yang seperti mau menggodanya sambil berkata, "Kino malu sama Ibu, ya? Baiklah kalau begitu Ibu masuk, kalian berdua saja minum cendol itu."Begitulah, akhirnya Kino minum cendol yang memang segar. Berdua saja di beranda yang sepi. Ibunda sudah pergi ke paviluan sebelah, tempatnya membuka praktek KB. Rumah besar yang menghadap jalan kecil menuju pasar ini tampak lengang. Berhadapan, diam-diam, Alma dan Kino menghabiskan minuman mereka. Sejuk sekali rasanya leher menelan cendol-cendol yang dingin itu.Kino menyukai suasana seperti ini, di mana ia bisa berlama-lama berhadapan dengan Alma tanpa siapa-siapa di sekeliling mereka. Wajah Alma yang selalu tampak segar itu (Kino kadang-kadang membandingkannya dengan buah jeruk manis yang baru dikelupas) selalu sedap dipandang. Apalagi kalau kedua matanya yang bening menatap kepadanya, dengan bulu mata lentik yang jarang berkerejap. Di suasana panas seperti ini, Kino senang sekali berteduh di sinar mata yang lembut itu. Senang sekali mereguk nada rindu yang mengalun pula dari sana."Apa, sih, yang kamu lihat?" sergah Alma sambil menggigit-gigit sendok plastiknya."Kamu." jawab Kino pendek, bertopang dagu dengan satu tangan."Setiap hari kamu lihat saya. Tidak bosan?"Kino menggeleng. Pertanyaan kuno, ucapnya dalam hati sambil menahan tawa. Itu pertanyaan yang mengundang tanggapan lebih lanjut, mengundang kata-kata seperti, "tak kan pernah bosan" atau "mana mungkin aku bosan memandangmu" dan yang semacam itu. Kino mengunci mulutnya, tetapi tidak menyembunyikan senyum di matanya."Tidak bosan?" tanya Alma lagi, sudah berhenti menggigit-gigit sendoknya. Bibirnya yang semakin basah oleh minuman terlihat indah agak berkilauan.Kino menggeleng lagi. Ia tahu Alma ingin mendengar serentetan kata-kata berbunga tentang ketidak-bosanan, tentang kerinduan yang menerus, tentang keinginan untuk selalu berdua. Tetapi Kino menguatkan hati. Kadang-kadang ia ingin menyampaikan segala sesuatu yang indah dalam diam. Tanpa kata-kata."Betul?" kali ini Alma terdengar penasaran, gemas diperlakukan seperti ini oleh pemuda yang tak pernah berhenti membuatnya terpesona."Kenapa tidak bosan?" tanya Alma.Kino menahan senyum. Mengangkat bahu dan tetap mengunci mulutnya. Alma semakin gemas, dan karena tidak tahan lagi, ia bangkit berpindah tempat ke sebelah Kino. Jemarinya yang halus tiba-tiba saja sudah hinggap di pangkal lengan Kino, mengancamkan sebuah cubitan."Ayo jawab. Atau Alma cubit!" ucapnya sengit. Kino pura-pura tidak mendengar, memandang ke luar beranda dan melihat sekeliling. Sepi sekali siang ini.Alma mencubit pelan. Mana tega ia mencubit keras. Kino meringis pura-pura kesakitan, lalu menoleh memandangi wajah Alma yang kini dekat sekali di sisinya. Aku ingin mencium bibir ranum yang basah itu, ucap Kino dalam hati. Pasti manis seperti es cendol yang diminumnya."Jawab...atau...," bisik Alma lirih, tak meneruskan kalimatnya melihat kedua mata Kino memandangnya dengan penuh rindu. Dekat sekali.Kino semakin mendekatkan wajahnya sampai bibirnya hampir bersentuhan dengan bibir Alma. Gadis itu terdiam, jemarinya berhenti mencubit, berubah menjadi cengkraman lemah. Kino menghela nafas menikmati harum nafas Alma yang hangat menghambur dari mulutnya yang setengah terbuka. Perlahan-lahan wajah mereka semakin mendekat. Kino mencium gadis itu, merasakan manis gula jawa yang tersisa di bibirnya yang basah, mengulum lembut seperti khawatir tindakannya akan menimbulkan gempa bumi.Alma menyambut ciuman Kino dengan mata terpejam dan dengan kehangatan yang justru mengusir terik kemarau hari itu.*******Suatu Sabtu di penghujung musim panas, Kino menerima sepucuk surat dari Mba Rien yang disampaikan lewat Susi. Ketika itu Kino baru saja tiba dari bermain voli di lapangan di depan kantor Pak Camat. Dengan tangan masih berpeluh, buru-buru disobeknya sampul putih yang cuma bertuliskan "untuk Kino di rumah" itu. Di dalamnya, ada sehelai kertas surat biru muda tipis, dan potongan sebuah brosur. Apa ini? tanya Kino dalam hati, lalu ia mulai membaca:Adikku Kino yang cakep... (Kino tersenyum membaca sapaan ini. Ada rasa rindu menjalar tiba-tiba. Telah lama ia tak berjumpa Mba Rien).Hari Minggu besok, Mba Rien akan pergi ke ibukota. Ada seorang sutradara tari menawarkan peran untuk sebuah pertunjukan besar. Mba Rien tidak tahu berapa lama akan berada di ibukota. Kalau peran itu jadi diberikan kepada Mba Rien, mungkin Mba Rien akan berada di sana lebih dari setahun .. (Kino menelan ludah, merasakan mulutnya kering. Lama sekali, setahun itu!)Mba Rien ingin mengucapkan selamat tinggal. Rajin-rajinlah belajar agar nanti bisa bersekolah ke institut teknologi yang dulu pernah kamu ceritakan itu ... (Jantung Kino berdegup kencang. Mengapa tiba-tiba ia merasa dirinya akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga?).Mba Rien tidak akan pernah melupakan kamu. Mba Rien juga tahu kamu akan tetap mengingat Mba Rien. Tetapi jangan lupa mengingat hal-hal lain yang penting dalam hidupmu. Terutama, jangan pernah melupakan cita-citamu, keinginan mu yang tertinggi... (Sampai di sini, Kino menghela nafas panjang, merasakan segumpal kesedihan menyumbat kerongkongannya. Apakah ini ucapan perpisahan?).Mudah-mudahan kita akan berjumpa lagi. Sampaikan salam Mba Rien kepada orang tuamu. Jaga Susi baik-baik, ia seorang yang berbakat tari.Peluk-cium, Mba RienNB : Mba Rien lampirkan potongan brosur pertunjukan tari di ibukota dan alamat sanggarnya. Kalau kamu berkesempatan, tengoklah Mba Rien di sana.Kino melihat jam di dinding. Jarum menunjukkan pukul tiga sore. Masih ada waktu sebelum bertandang ke rumah Alma. Cepat-cepat Kino berlari ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya yang berkeringat dan berdebu. Seperempat jam kemudian ia sudah mengayuh sepedanya dengan kecepatan maksimum menuju rumah kost Mba Rien. Ia ingin menemui wanita istimewa itu untuk mengucapkan selamat jalan.********"Baru saja Mbak Rien pergi, dijemput oleh kakaknya naik mobil." kata Mbak Laras di depan pintu. Kino lemas mendengar penjelasan itu."Tapi, bukankah ia baru akan berangkat ke ibukota hari Minggu besok?" tanya Kino, seperti hendak mempersoalkan benar-tidaknya Mbak Rien telah pergi."Betul," jawab Mbak Laras, "Tetapi kakaknya ingin Mbak Rien menginap di rumahnya, sebelum berangkat ke ibukota. Di rumah kakaknya itu telah berkumpul kedua orang tua mereka dan anggota keluarga yang lain. Semacam pesta perpisahan.""Rumah kakaknya tidak jauh, bukan?" tanya Kino, teringat tentang kepergian Mbak Rien sewaktu masa ujian dulu. Kalau tidak salah, jaraknya hanya 6 kilometer."Bukan kakaknya yang di dekat sini," kata Mbak Laras, "Yang menjemputnya tadi adalah kakak yang satu lagi, yang tinggal di kota L."Kino merasakan bumi tempatnya berpijak bergoyang-goyang. Kota itu jauhnya 100 km dari sini. Ia menunduk lesu, bersandar ke pintu rumah kost, membuat Laras iba. Kasihan pemuda ini, pikir Laras dalam hati, ia pasti sangat kecewa tidak berjumpa "kakak kesayangan"-nya. Laras bisa membaca hubungan istimewa yang terjalin antara teman kostnya dengan pemuda ini, walau tak pernah tahu seberapa jauh mereka berhubungan. Ia hanya tahu, Rien sangat menyayangi pemuda ini, dan memberlakukannya seperti adik sendiri. Tapi ia tidak pernah tahu bahwa keduanya pernah bergumul di kamar ketika ia pergi menonton beberapa waktu yang silam.Setelah mengucapkan permisi, Kino meninggalkan rumah kost itu dengan tubuh tanpa daya. Ia tidak menaiki sepedanya, melainkan berjalan saja perlahan-lahan. Hari telah menjelang senja, matahari dipenuhi semburat merah-jingga. Angin semilir seperti mencoba memberikan sedikit saja kesejukan di hari yang panas ini. Baju Kino basah oleh keringat, karena tadi ia mengeluarkan semua tenaganya untuk cepat-cepat sampai ke rumah kost. Kini ia mengutuk-utuk ajakan Dodi dan Iwan untuk main voli, dan menyesali diri karena menampik permintaan Susi untuk menjemputnya di sanggar. Seandainya tadi aku menjemput Susi, pastilah aku masih sempat bertemu Mbak Rien! umpatnya dalam hati. Sebuah batu agak besar di pinggir jalan ditendangnya. Tentu saja, jempolnya sakit bukan main, sedangkan batu itu tak bergeming.******Malamnya, malam minggu yang seharusnya indah, terasa kelabu bagi Kino. Ia berusaha menyembunyikan galau di hatinya sekuat tenaga. Tetapi percuma saja menyembunyikan perasaan di depan Alma. Gadis itu punya indra kesepuluh, khusus untuk menembus dinding kalbu Kino! Akhirnya Kino mengaku dan menceritakan kepergian Mbak Rien. Tidak itu saja, Kino juga menceritakan hubungannya dengan Mbak Rien, setelah memberlakukan sensor ketat di sana-sini. Alma terdiam mendengarkan cerita itu. Gadis ini memang telah lama menduga bahwa antara Kino dan wanita itu terjadi sesuatu yang lebih dari sekedar persahabatan. Tetapi ia tidak pernah punya bukti, dan kalau ia bertemu Mbak Rien (dan ini sering terjadi), ia selalu menaruh hormat kepada wanita yang tampak selalu ceria tetapi juga penuh wibawa itu. Kini, melihat dan mendengar Kino bercerita tentangnya, Alma merasa dadanya bergemuruh. Cemburu. Iri. Curiga."Kenapa kamu baru cerita sekarang?" tanyanya ketus."Karena kamu tidak pernah bertanya," jawab Kino, berusaha menyembunyikan kagetnya mendengar Alma berucap dengan nada ketus. Baru kali ini ia mendengar nada itu di suara Alma."Kenapa tidak kamu susul ke kota L," ujar Alma, kini dengan nada sinis.Kino mengangkat mukanya, memandang Alma lekat-lekat. Benarkah ia berucap seperti itu, sinis begitu? Kino menemukan sebuah wajah dingin, dengan bibir terkatup rapat membentuk garis tipis yang tegas. Jelas sekali, Alma yang manis dan lembut itu kini sedang meradang. Marah.Pukul 8 malam, hanya setengah jam dari waktu kedatangannya, Kino berpamitan. Alma tidak mengantar ke gerbang seperti biasa. Tidak membiarkan bibirnya dikecup. Tidak melambai. Kino berjalan gontai pulang ke rumah. Ia merasa, sebuah babak dalam kehidupannya usai sudah. Panggung sudah kembali diterangi lampu-lampu. Penonton sudah bertepuk tangan. Pemain telah berganti pakaian dan pulang ke rumah masing-masing.Di langit banyak sekali ada bintang. Kino menengadah. Ia menyerah pada Sang Sutradara di atas sana. Babak pertama telah selesai. Mari menutup layar.to be continue...
Musim Berderap Berlalu (1) Kemarau akhirnya berlalu. Rintik hujan pertama jatuh di senja hari Rabu itu, saat orang-orang pada umumnya berada di rumah. Awan yang menjanjikan hujan sebenarnya telah sering bergantung-gantung di langit selama seminggu terakhir ini. Tetapi baru sekarang hujan benar-benar turun. Mulanya hanya menetes-netes seperti tidak sungguh-sungguh hendak turun ke bumi, tetapi lalu dengan cepat membesar. Tanah yang telah lama kering, segera menghisap air dengan cepat, dan bau bumi yang basah segera memenuhi udara. Pohon-pohon seperti jejingkrakan, selayaknya anak-anak yang ramai mandi hujan di halaman rumah masing-masing.Kino berada di beranda rumah Alma ketika hujan turun. Patut kiranya diketahui, hubungan mereka telah membaik kembali, setelah sempat "perang dingin" selama seminggu. Kepergian Mba Rien dan rasa sedih yang menelungkupi Kino telah menjadi picu dari ketegangan itu. Tetapi kemudian segalanya kembali seperti semula, dan Kino kembali mengantar Alma pulang setiap hari, atau membuat PR bersama seperti hari ini."Akhirnya hujan turun juga....," Kino menggumam, berdiri di beranda memandang halaman rumah Alma dengan cepat tergenang air. Alma berdiri di sampingnya, menggigit-gigit pensil, merengkuh tangan kekasihnya."Seperti dicurahkan dari langit," ucap Alma perlahan, mendongak memandang garis-garis air turun seperti jarum-jarum raksasa dari langit yang gelap kehitaman."Aku suka air hujan," kata Kino, "Aku tidak suka terik berkepanjangan. Rasanya badanku mengering di saat kemarau, dan segala sesuatu bisa berubah menjadi bencana,""Mmm...," Alma cuma bergumam. Ia juga tidak suka kemarau, terutama kemarau yang baru saja lalu. Ia tidak suka pertengkaran terjadi antara mereka berdua, dan sekarang bersyukur karena hujan telah datang. Mungkin benar kata Kino, kemarau lah yang menyebabkan mereka berdua bertengkar.Kino memeluk bahu Alma, dan gadis itu menyandarkan kepalanya manja ke dada kekasihnya. Berdua mereka memandangi hujan, hampir lupa mengerjakan PR matematika yang tertinggal di atas meja. Kalau tidak terdengar Ibunda mendehem dari ruang tamu di dalam, pastilah PR itu tak kan pernah selesai.*****Musim hujan juga mengiringi hari-hari akhir dari sekolah Kino dan Alma. Mereka kini telah duduk di kelas tiga, dan telah memasuki masa akhir. Ujian akan segera tiba, lalu mereka harus menempuh perguruan tinggi. Segalanya berjalan dengan cepat, seakan-akan air hujan ikut memperlancar roda kehidupan di kota kecil itu. Tanpa terasa, Kino dan Alma kini tenggelam lagi dalam kesibukan mempersiapkan diri menghadapi kertas-kertas ujian.Mereka belajar dengan intensif, dalam kelompok yang semakin besar, karena melibatkan pula Dodi dan Iwan dan dua teman putri yang konon adalah pasangan mereka: Sita (pacar Dodi) dan Wiwik (pacar Iwan). Enam orang ini sering berkumpul, terutama di rumah Alma yang adalah rumah terbesar di antara rumah-rumah mereka, dan karena hanya Alma yang rumahnya tidak ramai oleh anak-anak kecil. (Alma adalah putri bungsu. Kedua kakaknya sudah tinggal di luar rumah).Sesekali, mereka juga belajar di rumah Iwan yang punya kebun jambu di halaman belakangnya. Tetapi belajar di rumah Iwan adalah kesia-siaan belaka. Mereka lebih sering berada di atas pohon jambu, masing-masing berbekal sekantong garam-cabai-terasi. Sedap sekali makan rujak di atas pohon!Belajar bersama dalam kelompok besar juga sering menimbulkan pertengkaran. Maklumlah, ada enam kepala remaja yang keras, masing-masing tidak mau mengalah kecuali kepada pasangannya. Dan kalau ada tiga pasang remaja bertengkar, pastilah tidak ada penyelesaian. Alma paling sering mengeluhkan hal ini kepada Kino, dan mengusulkan agar mereka kembali belajar berdua saja. Apaboleh buat, Kino pun setuju, dan Dodi maupun Iwan cuma menggerendeng tak berani menyatakan penolakan.Tetapi belajar berdua --sebagai sepasang kekasih-- juga ada kelemahannya bukan?*****Siang itu, ketika Kino dan Alma tiba dari sekolah, ibu Alma terlihat sedang berkemas-kemas dibantu asistennya. Sebuah tas hitam besar berisi alat-alat kebidanan tampak telah siap. Sebuah mobil milik BKKBN menunggu di jalan."Ibu harus ke kota R, Alma," ucap Ibunda, tampak terengah-engah karena harus berjalan bulak-balik. Ibu ini terlalu gemuk, pikir Kino dalam hati. Cepat-cepat ia menolongnya membawa tas ke mobil."Kino,.. tolong temani Alma hari ini. Ayahnya juga sedang rapat sampai malam di kantor Bupati," kata Ibunda sambil menutup pintu mobil. Lalu, sebelum mobil berjalan, ia melongokkan kepala dari jendela dan berucap, "Kamu makan siang di sini saja, Kino. Lalu belajarlah,.... jangan nakal!" Kata-kata yang terakhir itu diucapkan sambil melirik ke Alma, yang masih menggendong tas sekolah dan berdiri mematung di sebelah Kino."Baik, tante.." kata Kino."Ya, bu..." kata Alma.Mobil pun lalu pergi diiringi lambaian tangan kedua remaja itu. Setelah mobil hilang dari pandangan, barulah keduanya berjalan masuk ke dalam rumah yang sepi. Alma berjalan di depan sambil mengayun-ayunkan tasnya. Kino mengikuti dengan langkah ringan."Makan dulu, yuk..." ajak Alma yang tentu segera di-iya-kan oleh Kino. Perutnya selalu lapar di hari-hari yang penuh hujan seperti ini. Apalagi jam memang telah menunjukkan waktu untuk makan siang, dan Ibunda Alma telah menyiapkan satu ayam panggang utuh.Lahap sekali mereka berdua makan hari itu. Walau pada awalnya kikuk juga, makan berduaan di rumah yang sepi. Alma dengan canggung menyiapkan piring dan menyendoki nasi untuk Kino. Ia tiba-tiba merasa gugup, karena rasanya mereka berdua sudah suami-istri, makan siang bersama seperti ini. Kino juga canggung, karena ia sebenarnya tidak biasa dilayani. Di rumah, ia mengambil nasi sendiri, sesuka hati.Alma tertawa kecil pada suapan pertamanya. Kino mengernyitkan dahi, "Kenapa?""Ah, tidak... aku cuma merasa lucu saja," jawab Alma."Apanya yang lucu?""Kita. Makan berduaan, seperti..." Alma tidak meneruskan kata-katanya."Seperti apa?" desak Kino.Alma terus mengunyah, lalu menjawab, "Sudahlah. Tidak boleh terlalu banyak bicara jika sedang makan!"Kino tersenyum mendengar "perintah" itu. Mereka pun makan diam-diam, dan memang makanannya juga sedap untuk dinikmati tanpa banyak bicara. Tak berapa lama, ayam hanya tersisa sepertiganya. Kino merasa sangat kenyang, dan Alma pun takjub sendiri. Belum pernah ia makan begitu banyak, padahal ayam panggang sudah sering jadi menu di rumah ini.Lalu Kino membantu Alma mencuci piring di dapur, berdiri bersisian di bak cuci piring sambil mengobrol. Sesekali tangan mereka yang dipenuhi sabun bersentuhan, dan Alma dengan manja minta Kino membersihkan sabun yang menciprat ke ujung hidungnya."Tanganku juga penuh sabun, bagaimana bisa membersihkan hidungmu," protes Kino."Gunakan pipimu!" sergah Alma sambil tersenyum manis.Nakal juga pacarku ini, pikir Kino sambil mulai menyeka sabun dari hidung Alma dengan pipinya. Tetapi tentu saja Kino tidak cuma menyekakan pipinya ke hidung yang agak berkeringat itu. Dengan cepat ia mengecup hidung itu setelah tak bersabun. Dengan cepat pula ia turun agak ke bawah, mengecup bibir yang masih tersenyum itu. Alma menarik kepalanya, tapi kurang ke belakang, tak mampu menghindar sepenuhnya.Lalu tiba-tiba saja mereka lupa piring-piring yang belum dibilas. Lupa tangan mereka yang berleleran sabun. Bibir mereka tiba-tiba saja sudah saling melumat dan tangan Alma sudah memeluk leher Kino. Kedua kaki Alma berjinjit, agar ia bisa leluasa mengulum bibir kekasihnya, dan agar Kino leluasa pula melumat bibirnya. Tangan Kino pun kini merangkul pinggang Alma, menekan tubuhnya agar lebih rapat lagi. Sedap sekali mencium bibir gadis yang kau sayangi, yang wajahnya selalu kau rindukan. Alma pun terpejam membiarkan tubuhnya terhenyak ke depan. Lembut sekali rasanya dicium pria pujaan mu, pria yang tahu bagaimana memanjakanmu.Hujan tiba-tiba turun, keras menerpa jendela dapur, menimbulkan suara berisik bertalu-talu. Tetapi Kino dan Alma tidak mendengar apa-apa. Di telinga mereka cuma ada debur jantung yang semakin mengencang, dan nafas yang mendesah-desah. Cuma ada musik romantis yang mengiringi tarian kerinduan di atas awan-awan cinta. Perlahan-lahan tubuh Kino dan Alma semakin merapat, dan kedua mulut mereka semakin sibuk mengulum, menghisap dan terkadang menggigit. Alma mengerang pelan ketika kekasihnya mengulum perlahan bibir bawahnya, membuatnya membuka mulut agak lebih lebar. Lalu terasa lidah Kino menyerbu masuk, menyentuh-nyentuh lidahnya sendiri. Rasanya hangat dan geli, tetapi juga mesra dan memanjakan.Perasaan nikmat yang lain juga kini muncul di dada Alma, yang terhenyak rapat di dada Kino. Dengan tangan semakin erat merangkul leher pemuda pujaannya, gadis belia ini merasakan kegelian memenuhi puncak-puncak payudaranya yang ranum. Apalagi gerakan tubuhnya menyebabkan gesekan-gesekan kecil. Ia menggelinjang dan semakin merapatkan dadanya. Oh, jangan biarkan semua ini berlalu! jeritnya dalam hati. Matanya terpejam rapat, dan nafasnya yang hangat semakin menderu. Alma terhanyut dalam gelora baru yang telah lama terpendam sejak ia memacari Kino. Ia menggeliat merasakan tubuhnya bagai dipenuhi rasa geli yang aneh, yang menyebar perlahan ke segala penjuru, dan yang menyebabkan jantungnya berpacu. Terengah-engah, Alma mencoba memahami semua ini, tetapi kepalanya terasa kosong tak bisa berpikir. Segalanya terasa tak masuk akal, karena cuma ada rasa dan emosi. Cuma ada gairah dan birahi.Kino pun terpejam merasakan hangat menerpa dari tubuh gadis yang dipeluknya. Selama ini, tubuh itu lah yang ia peluk dengan sayang, yang ia terima ketika bersandar. Kini tubuh itu begitu dekat, begitu hangat, dan begitu ranum seperti baru pertama kali disentuhnya. Sambil mengulum bibir Alma yang semakin terasa panas dan basah, Kino mengusap-usap punggung gadis itu. Ia tak peduli, sabun menodai seragam putihnya. Ia tak bisa berpikir lain, selain ingin mengusap-usap tubuh gadis yang dirindukannya ini. Tangannya lembut menjalar ke sana ke mari. Juga ke bawah pinggang Alma, ke bagian belakang yang kenyal dan menonjol seksi itu. Kino meremas gemas bagian itu.Alma menjerit tertahan, menggeliat kaget merasakan remasan tangan Kino. Sebuah aliran panas yang menggelisahkan menyerbu dari bagian yang diremas itu, menerobos ke mana-mana, mendatangkan sebuah demam tanpa sakit. Ini bukan flu, pikir Alma, ini bukan demam biasa. Ini demam cinta. Alma mengerang, melepaskan ciumannya, dan menyembunyikan wajahnya di leher Kino. Tangannya lebih erat merangkul, dan kini tubuh bagian bawahnya ia tempelkan lebih keras lagi ke tubuh Kino. Remasan tangan pemuda itu di bagian belakang telah memicu sebuah gemuruh di dalam tubuh Alma."Jangan di sini, Kino...," desah Alma, repot sekali berucap di tengah nafas yang memburu. Ia melepaskan diri dari pelukan kekasihnya, lalu mengajak Kino ke ruang tengah. Kino membiarkan tangannya dituntun. Mereka berdua sudah lupa sama sekali, ada beberapa piring dan sendok masih menggeletak di bak cucian. Tangan mereka masih agak basah, walau busa sabun telah lama hilang.Di ruang tengah, Alma menarik Kino untuk duduk bersama di sebuah sofa empuk. Dengan segera mereka melanjutkan apa yang tadi terputus di dapur. Kino menindih tubuh kekasihnya, menciumi lehernya yang lembab oleh keringat walaupun udara sebenarnya agak sejuk. Alma menggeliat kegelian dan merebahkan tubuhnya pasrah. Ia ingin Kino melakukan sesuatu hari ini, tapi ia tak pasti apakah "sesuatu" itu. Ia ingin membiarkannya saja sebagai misteri yang menegangkan. Dan ketegangan adalah bumbu dari percumbuan, bukan?Dengan satu tangannya, Kino membuka kancing-kancing baju Alma. Oh, ia dengan mudah bisa melakukannya, teringat pengalamannya dengan Mba Rien yang kini sedang ia coba lupakan sekuat hati. Satu demi satu kancing itu lolos dari lubangnya, sehingga akhirnya baju Alma di bagian depan terkuak sudah. Sebuah beha putih membungkus sepasang bukit ranum, jauh lebih kecil daripada payudara Mba Rien yang padat membusung itu. Tetapi tak kalah menggemaskan pula, dada Alma yang terlihat turun naik dengan cepat itu. Jemari Kino tak tertahankan, menelusup masuk ke bawah beha, merayapi salah satu bukit ranum itu. Alma menggeliat-geliat kegelian, merasakan kenikmatan baru yang belum pernah diterimanya dari siapa pun. Ia memang senang menempelkan dadanya di pangkal lengan Kino jika bergandengan, tetapi sungguh-sungguh disentuh langsung seperti ini..... wow, berbeda sekali rasanya!Kino merasakan puting Alma langsung mengeras ketika tersentuh ujung jarinya. Ia putar-putarkan ujung jari itu dengan ringan di sana. Ah, puting itu terasa panas seperti menyimpan air mendidih. Kenyal pula, seperti terbuat dari karet berkualitas tinggi. Bukit kecil di bawahnya terasa padat dan halus-licin. Berkali-kali telapak tangan Kino seperti tergelincir di sana, seperti seorang pemain ski yang meluncur gembira di bukit bersalju.Alma kini mengerang di sela desahan-desahan nafasnya. Sebuah aliran kehangatan, kecil saja bagai sebuah parit, terasa mulai terbentuk di pangkal pahanya. Dengan gelisah, Alma merapatkan kedua pahanya, kuatir aliran itu menerobos keluar membasahi celananya, atau bahkan membasahi sofa. Tetapi berbarengan dengan itu, juga ada rasa nikmat yang makin lama makin kuat terasa. Semakin ia merapatkan pahanya, justru semakin nikmat rasanya. Membingungkan sekali, segalanya terasa penuh paradoks. Segalanya terasa janggal sekaligus memikat. Alma akhirnya menyerah saja, membiarkan apa pun yang terjadi. Ia cuma bisa mengerang ketika sebuah tangan Kino mengelus-elus pahanya, perlahan-lahan mengangkat rok seragamnya semakin tinggi.Kino mengelus perlahan, menikmati paha yang lembut-hangat-mulus itu. Telapak tangannya seperti sedang menjalani pualam yang hangat, membuat ujung-ujung saraf di sana bergairah. Sesekali ia tak tahan meremas, merasakan tubuh Alma bereaksi cepat terhadap setiap ramasan itu. Kino merasa seperti seorang konduktor orkestra, yang dengan gerakan tangannya mampu mengatur musik, kapan mengalun perlahan dan kapan menggelora penuh semangat. Dengan mata terpejam, Alma mencari-cari mulut Kino. Ketika ditemukannya, ia mengulum bibir pemuda itu, sambil mendesah. Kino pun menyambut pagutan bergairah itu, sementara tangannya kini telah sampai di pinggir celana dalam Alma, di bagian berkaret yang ketat memagari apa pun yang ada di baliknya. Mulanya, Kino ingin menerobos barikade itu, tetapi sebuah suara kecil di hatinya segera melarang. Jemarinya pun menghindari pinggiran itu, melainkan naik mengusap ke arah atas. Kain nilon terasa halus di telapak tangannya, juga terasa hangat karena tak mampu mencegah panas yang muncul dari tubuh yang diselaputinya. Dengan lembut dan mesra, Kino mengelus-elus kewanitaan Alma yang masih diselimuti celana dalamnya.Alma meregang, diusap-dielus di bagian itu, ia merasa seakan-akan sebuah ledakan sedang bersiap-siap meletus di dalam tubuhnya. Geli sekali rasanya. Nikmat sekali rasanya. Tangan Kino bagai sedang mengirimkan berjuta-juta rasa, dan semua rasa itu berpangkal pada kenikmatan belaka. Alma tanpa sadar merenggangkan kedua pahanya, membiarkan tangan Kino menjelajah lebih ke bawah lagi, ke bagian yang kini lembab oleh cairan hangat itu. Alma kini tak lagi kuatir, apakah lembab itu akan berubah menjadi basah, menjadi banjir, menjadi apa pun. Ia sungguh tak peduli.Dengan jari tengahnya, Kino mulai menelusuri celah yang terbentuk di antara dua punuk kecil di bawah sana yang masih terlindung nilon tipis. Perlahan-lahan jarinnya menelusur ke bawah, lancar karena nilon memang adalah kain yang licin. Terutama juga karena kain itu telah basah. Ujung jari Kino melesak sedikit, menyentuh bagian terbawah yang terhenyak di sofa. Alma mengerang merasakan kegelian-kenikmatan menyerbu tubuh bagian bawahnya. Ia mengangkat sedikit tubuhnya, sehingga tangan Kino bisa menelusup lebih ke bawah. Lalu, jari itu naik lagi perlahan, menelusuri jalur yang sama yang ditempunya ketika turun. Tubuh Alma pun terhenyak kembali, dan bergeletar pelan ketika ujung jari itu menyentuh sebuah tonjolan kecil di bagian atas. Apalagi kemudian Kino berlama-lama di sana, memutar dan menekan tonjolan itu.Tanpa dapat ditahan oleh Alma, tubuhnya meregang. Sebuah gemuruh bagai banjir bandang memenuhi tubuhnya. Banjir itu menerjang segala yang menghalanginya, menyerbu seperti hendak membuat tubuh Alma meledak. Kino mempercepat usapan dan gosokan jari tangannya; ia tahu sebentar lagi kekasihnya akan tiba di puncak kenikmatan yang telah didakinya dengan sabar ini. Kino tahu, dari pengalamannya dengan Mba Rien, sebentar lagi tubuh mungil ini akan menggelepar dilanda orgasme. Maka ia mempercepat gerakan tangannya, dan menekan tubuh kekasihnya lebih dalam ke sofa.Walaupun sudah mengantisipasinya, Kino tak urung terkejut juga ketika akhirnya Alma mencapai klimaks. Terkejut karena gadis yang lembut dan manja itu berteriak cukup keras, seperti seorang yang disengat listrik. Cepat-cepat Kino membungkamnya dengan mencium mulut Alma. Agak sulit melakukan hal ini, karena Alma seperti menghindar, menggelepar dan menggelengkan kepalanya dengan mulut terpejam. Ketika akhirnya Kino berhasil mengulum bibirnya, Alma pun masih mengerang keras, walau kali ini ia hanya mengeluarkan suara "Ngggg....".Tak kurang dari 3 menit lamanya diperlukan oleh Alma untuk melepaskan semua desakan birahi yang menggumuruh di tubuhnya. Setelah itu, ia merasa lunglai dan tak bertulang. Ia merengkuh leher Kino, mencoba mencari kekuatan dari kekasihnya. Matanya seakan tak bisa membuka, karena kepalanya masih berenang-renang di danau kenikmatan. Untuk sejenak, Alma khawatir ia sudah tidak ada di dunia ini lagi. Ia sudah berada di dunia lain, ia sudah tewas! Hanya kemudian sebuah gigitan kecil dari Kino di cuping telinganya yang membuat ia sadar, bahwa tadi itu bukanlah kematian. Tadi itu adalah orgasme pertamanya bersama pemuda yang dicintainya.Kino menciumi leher Alma dengan mesra. Ia seakan sedang mensyukuri kejadian barusan. Ia pun merasa bangga telah berhasil membawa Alma ke puncak birahi. Terlebih-lebih lagi, ia merasakan perbedaan yang besar dengan percumbuan sebelumnya bersama Mba Rien. Dengan wanita itu, Kino hanya dipenuhi birahi, dan ia hanyalah sebuah perahu yang dinakodai Mba Rien. Dengan Alma, Kino dipenuhi rasa sayang, dan ia adalah nakodanya.Siang itu, Kino berhasil pula memendam keinginannya untuk melanjutkan percumbuan. Alma sebetulnya menawarkan kelanjutan, dengan caranya yang lugu (dia bilang, "Lagi?" dengan ragu-ragu). Tetapi Kino tersenyum saja, perlahan-lahan melepaskan pelukannya, mencium pipi gadis yang tampak makin cantik dengan muka bersinar. Ia berbisik, "Jangan, Alma .. kita cuma berdua di sini. Nanti kita terlena terlalu jauh.."Alma terharu mendengar ucapan pemuda ini. Dipeluknya leher Kino erat-erat. My hero, you are my hero! jeritnya dalam hati, penuh suka cita.*****Masa ujian pun tiba, membuat semua murid di kota kecil itu menghilang dari pantai atau sungai atau danau tempat mereka biasanya bermain. Semua anak-anak usia sekolah tampak berwajah serius, bahkan tak sedikit yang terlalu serius sehingga kehilangan warna kanak-kanaknya. Kino dan Alma tampak penuh percaya diri, begitu pula Dodi, Iwan dan kedua pacar-pacar mereka. Dengan tenang -walaupun kadang-kadang agak gentar- mereka menghadapi setiap kertas ujian, dan selalu menyelesaikan soal-soal sebelum bel akhir berdentang.Hari-hari yang sibuk selalu terasa lebih pendek dari hari biasa. Secepat datangnya, secepat itu pula masa ujian berlalu. Anak-anak sekolah berhamburan ke luar dari kelas pada hari terakhir, berteriak-teriak seakan perjuangan mereka telah usai dengan kemenangan. Padahal, tentu saja perjuangan itu justru baru dimulai. Jalan masih panjang, walau sekarang mereka tak punya pikiran lain selain liburan sebulan penuh. Anak-anak SMA sudah pula mempersiapkan acara perkemahan, sebelum mereka bersiap-siap ikut testing masuk perguruan tinggi.Alma terpilih sebagai ketua regu kelas 3, sementara Kino bertanggungjawab pada keamanan bumi perkemahan bersama beberapa "jagoan" yang selama ini menguasai dunia anak-anak SMA. Kino sendiri bukan termasuk jagoan, ia belum pernah berkelahi sepanjang sekolah menengah atas. Terakhir berkelahi, ia masih kelas dua SMP, dan lawan berkelahinya kini adalah salah satu jagoan itu. Tetapi, walau tak suka berkelahi, Kino dikenal tegas dan dihormati, terutama karena dua sahabatnya, Dodi dan Iwan, sering bercerita membual tentang kehebatan Kino bermain pencak-silat. Nah,.. itulah gunanya memiliki dua sahabat tukang bual!Perkemahan dilaksanakan di kaki sebuah bukit, kira-kira 10 kilometer dari kota. Mereka naik truk pinjaman dari kesatuan zeni Angkatan Darat, yang juga meminjamkan dua tenda raksasa untuk ruang P3K dan dapur umum. Selebihnya, masing-masing regu membawa sendiri atau meminjam tenda-tenda parasut. Ramai sekali bumi perkemahan yang bersebelahan dengan hutan karet itu dihuni anak-anak SMA. Berbagai acara berlangsung semarak, termasuk beramai-ramai mendaki bukit dan berenang-renang di bawah air terjun.Kino sibuk mengatur keamanan, termasuk membantu beberapa anak-anak kelas dua yang jatuh sakit akibat terlalu bersemangat. Ruang P3K ramai oleh suara batuk dan orang muntah. Para "perawat" amatir tampak sigap melayani si sakit, dan Ibu Murni, ibu guru olahraga dan kesehatan, tampak letih memimpin mereka. Untunglah, beberapa di antara perawat amatir itu sudah terlatih sebagai anggota regu palang merah remaja.Di tengah kesibukan dan keceriaan bumi perkemahan, tentu saja cinta remaja berkembang tak kalah meriah. Kino dan Alma mendapat begitu banyak kesempatan untuk berduaan, terutama ketika acara api unggun, di mana semua anak duduk melingkar menyaksikan berbagai pertujukan oleh masing-masing wakil regu. Pada umumnya adalah menyanyi dengan iringan gitar yang tentu saja lebih banyak false-nya.Percumbuan antar remaja juga tak terelakkan, walaupun para guru sudah memperingatkan anak-anak gadis agar berhati-hati dengan "milik" mereka. Kino adalah anggota keamanan yang juga ditugasi mengawasi kemah-kemah peserta, agar setiap malam tidak ada "pelarian" atau "penyebrangan" dari wilayah anak laki ke wilayah perempuan (atau sebaliknya!). Tetapi, siapa yang mengawasi Kino? ... Ha! .. tidak ada. Bahkan "jagoan-jagoan" pun pura-pura tidak tahu, ketika suatu malam Alma minta Kino menemaninya ke sungai untuk "sebuah urusan"."Kamu membuat saya serba-salah...," bisik Kino sambil mengiringi langkah Alma menuju sungai. Beberapa anggota keamanan tersenyum saja ketika Kino melambai minta ijin.Alma menahan tawa, lalu balas berbisik, "Tetapi saya memang perlu ke sungai!""Untuk apa?""Pipis!"Kino menggeleng-gelengkan kepalanya. Apakah ia nanti minta diceboki pula? gerutunya dalam hati. Walaupun tentunya menarik, kalau Alma nanti sungguh-sungguh minta itu!"Saya juga ingin berdua dengan kamu..." bisik Alma lagi ketika mereka sudah melewati pintu gerbang bumi perkemahan yang dijaga dua "jagoan" berjaket parasut hijau. Kepada kedua penjaga itu, Kino cuma tersenyum, dan keduanya cuma mengangkat muka sebentar lalu kembali menekuni sebuah majalah. Kino tahu, itu majalah untuk orang dewasa yang diam-diam diselundupkan oleh salah seorang peserta untuk menyogok para penjaga!Akhirnya mereka tiba di sungai, dan Alma memang benar ingin buang air. Kino menunggu di pinggir, membelakangi sungai dan Alma yang sedang berjongkok. Sepi sekali malam itu, hanya terdengar gemercik air dan desiran angin.Selesai buang air kecil dan membersihkan diri, Alma merengkuh tangan Kino untuk mengajaknya pulang. Berdua mereka menyusuri sungai kembali ke bumi perkemahan. Tetapi, pada sebuah pohon besar di tikungan pertama, Kino menghentikan langkah mereka. Ditariknya Alma minggir, ke bawah bayang-bayang gelap pohon, lalu dilumatnya bibir gadis itu dengan gemas. Alma segera membalas, dan nafasnya segera mendesah-desah cepat, karena ia memang sudah menunggu-nunggu inisiatif kekasihnya ini sejak tadi!Cepat sekali ciuman mereka berubah menjadi pagutan-kecupan yang menggelora. Alma merengkuh leher Kino dan menyambut setiap serbuan penuh gairah dari pemuda itu. Gadis ini telah pula membuka resleting depan jaketnya, mengundang Kino untuk melakukan remasan-remasan yang sangat disukainya itu. Kino pun tak hendak mengecewakan Alma. Cepat-cepat ia menelusupkan tangannya ke balik jaket, lalu ke bawah kaos. Ah, Alma tidak mengenakan beha! Kino menemukan dua bukit kenyal di dada gadis itu telah siap diremas-remas gemas. Hangat sekali rasanya kedua gumpalan yang hanya sedikit lebih besar dari telapak tangan Kino itu. Kenyal dan lentur dan halus. Kedua tangan Kino meremas-menekan, menyebabkan Alma mengerang, semakin mempererat rengkuhannya di leher pemuda itu dan semakin bernafsu menciumi bibirnya. Untunglah suara air sungai masih cukup keras, dan gesekan daun-daun yang ditiup angin menyembunyikan desah nafas mereka.Sejak percumbuan pertama mereka di ruang tengah di rumah Alma, gadis ini sudah dua kali mencapai orgasme di tangan Kino. Sekali, sewaktu pulang dari rumah Dodi dan hari telah malam, Kino mengajak Alma masuk ke sebuah gang kosong dan gelap di dekat bioskop. Di sana, sambil berdiri seperti malam ini, Kino meremas-mengurut kekasihnya sampai mencapai klimaks. Kedua, di belakang rumah Alma, ketika untuk kesekian-kalinya ibunda harus keluar kota untuk membantu orang melahirkan, gadis ini juga mengalami orgasme yang melenakan. Bahkan di belakang rumah itu pula Alma pertama kali membantu Kino mencapai klimaks dengan tangannya.Kini, di bawah pohon yang gelap, di malam yang dingin, Alma dengan cepat terbakar birahi. Tubuhnya sangat sensitif terhadap setiap sentuhan Kino. Sepertinya, apa pun yang dilakukan Kino dengan tangannya, pasti menyebabkan getaran-getaran nikmat yang menjalar ke seluruh tubuh. Tak bedanya kali ini, walau sambil berdiri di bawah pohon yang sebenarnya berkesan angker, Alma dengan mudah merasakan orgasmenya terpicu oleh usapan dan remasan jari Kino di payudaranya. Apalagi Kino melepaskan ciumannya, kemudian agak menurunkan tubuhnya, menunduk dan membenamkan kepalanya di balik jaket Alma. Oh, nafas Kino yang hangat segera mengalahkan dingin malam, menyerbu dada Alma yang kini terbuka karena kaosnya telah terangkat setengahnya. Kedua payudaranya yang putih mulus tampak tegak-terpampang-menantang, dengan dua puting hitam yang terasa berdenyut bergairah. Alma menjerit tertahan ketika salah satu putingnya tertangkap mulut Kino. Tak kuasa ia mencegah suara erangan parau keluar dari kerongkongannya ketika Kino mulai menghisap sambil menjilati putingnya dengan ujung lidah. Sementara telapak tangan Kino telah pula menutupi dan meremas payudara yang satu lagi, membuat Alma menggelinjang kekiri-kekanan dengan gelisah.Inilah kali pertama Alma merasakan perlakuan seperti itu dari seorang pemuda terhadap dadanya yang ranum dan yang rasanya semakin membesar saja. Kenikmatan tiada tara segera memenuhi dadanya, dan sebentuk orgasme segera meletup menggetarkan badannya. Alma mengerang-erang merasakan kewanitaannya tiba-tiba sangat basah dan berdenyut liar disertai geli dan nikmat yang berkepanjangan. Ia melingkarkan satu kakinya ke kaki Kino, menambah rapat menempelkan bagian bawah tubuhnya ke tubuh pemuda itu. Ia juga tak sadar menggerak-gerakan pinggulnya, menggesek-gesekkan selangkangannya yang terlindung jeans ke paha Kino. Bahkan gesekan itu semakin lama semakin cepat dan liar, sejalan dengan semakin gemas dan bernafsunya Kino mengulum puting payudara Alma. Di tengah angin yang mendesir dan suara air sungai yang begemercik keras, gadis ini menikmati kilmaksnya yang sangat kuat mendera tubuh. Kino terpaksa melepaskan pagutannya pada dada Alma, kembali menegakkan tubuh dan merengkuh gadis itu erat dalam dekapan, karena tubuh gadis itu berguncang hebat sambil merapat sangat erat di pahanya. Kino juga harus membungkam mulut Alma yang mengerang semakin kencang, karena ia khawatir ada orang yang mendengarnya.Insting Kino ternyata juga benar. Ketika Alma tengah menikmati klimaksnya, terdengar suara langkah-langkah orang di kejauhan, dari arah bumi perkemahan. Cepat-cepat Kino mendorong Alma yang masih menggeliatt-geliat itu, menyenderkan tubuhnya ke pohon, sehingga mereka berdua semakin terlindung gelap malam. "Sst.. ada orang..." bisik Kino ke telinga gadis itu, lalu ia melumat bibirnya yang hangat dan basah, membungkam erangannya. Alma berdiri tegang, menahan geli-nikmat yang memenuhi pangkal pahanya, memeluk leher Kino erat-erat. Berdua mereka berdiri saling merapat, menunggu siapa yang akan lewat.Suara orang berbincang sambil berjalan terdengar semakin mendekat. Lalu lampu senter tampak diarahkan ke tanah, dan sebentar kemudian tampak dua orang "jagoan" berjalan ke arah Kino dan Alma bersembunyi. Tetapi, karena mereka mengarahkan senter ke bawah, kedua pasangan itu tak terlihat. Ah, ternyata mereka adalah "patroli" malam yang tampaknya sedang mengecek wilayah sungai, atau mungkin juga sambil mengambil air, karena salah seorang dari mereka tampak menenteng jeriken (tempat air).Setelah patroli berlalu, sambil menahan tawa, Alma dan Kino keluar dari persembunyian dan setengah berlari kembali ke bumi perkemahan. Tak lupa Alma mengancingkan kembali jaketnya dan merapikan rambutnya yang berantakan. Ia sebenarnya menyesal harus berhenti "di tengah jalan" seperti ini, tetapi ia tahu Kino tak akan mengambil risiko lebih jauh. Berdua mereka masuk ke bumi perkemahan dengan wajah tak bersalah. Kino melambai ke para penjaga gerbang, yang masih asik dengan majalah mereka. Alma kembali ke kemahnya, sementara Kino menuju posko keamanan.Continue...
Musim Berderap Berlalu (2) Pengumuman kelulusan 100% membuat anak-anak SMA di kota kelahiran Kino bersuka-cita. Walaupun sebenarnya SMA ini sudah sejak tiga tahun silam selalu meluluskan semua siswanya, tetap saja berita tersebut ditanggapi agak berlebihan. Anak-anak kelas tiga saling menandatangani baju mereka, melakukan arak-arakan di sekitar sekolah, atau menceburkan diri ke sungai kecil di belakang lapangan voli. Suasana serba ceria ini menular ke adik-adik mereka di SMP dan SD, lalu juga merembet ke seluruh penduduk kota yang jumlahnya memang tidak banyak.Pak Camat bahkan membuat hajatan khusus, mengundang sebuah band dari sebuah kota besar untuk manggung di depan kantornya. Pasar malam segera digelar di sekitar panggung, dan para pedagang berlomba-lomba memberikan potongan harga. Semarak sekali suasana kota, nyaris menyerupai suasana hari raya.Malam itu, Kino duduk bersebelahan dengan Alma menonton berbagai acara di atas panggung. Dodi dan Iwan entah kemana, masing-masing dengan pacar mereka. Kino mengajak pula Susi, adiknya. Tetapi, gadis kecil ini kemudian lebih suka ikut Ayah dan Ibu yang berkeliling pasar malam."Mau sekolah ke mana?" tiba-tiba Alma bertanya di tengah acara tarian daerah."Aku ingin jadi arsitek,.... mungkin di institut teknologi di kota B atau kota S," jawab Kino, tersadar bahwa keceriaan lulus sekolah ternyata akan segera disusul dengan ketegangan baru: masuk perguruan tinggi."Aku ingin jadi dokter,.. mungkin ke ibukota," ucap Alma sambil memainkan dompet di pangkuannya.Kino terdiam. Kalau mereka diterima di masing-masing perguruan tinggi yang mereka lamar, berarti keduanya akan berpisah. Cukup jauh jarak antara kota-kota tujuan Kino dengan ibukota."Kenapa kamu tidak ke ibukota juga?" tanya Alma dengan suara pelan, nyaris tenggelam oleh suara gamelan di panggung."Ayah dan Ibu mengatakan, biaya hidup di ibukota terlalu mahal," jawab Kino.Alma menghela nafas panjang dan menghembuskannya dalam desah, "Yaaah..., aku beruntung punya paman yang tinggal di ibukota dan bersedia menampungku. Setidaknya, Ayah dan Ibu tidak perlu membiayai indekos."Kino juga punya seseorang di ibukota. Seorang penari yang sedang meniti karir. Tetapi saat ini, menyebut namanya pun ia tak berani. Ia takut menyinggung perasaan Alma."Bagaimana kabarnya Mba Rien?" Kino tersentak. Justru Alma yang memulai menyebut nama itu. "Tidak tahu," jawab Kino cepat. Ia memang tidak pernah mendengar kabar dari wanita itu.Keduanya terdiam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Acara silih berganti dengan cepat dan lancar. Lalu, band pop dari kota M naik ke panggung disambut tepuk tangan riuh dari anak-anak muda yang sudah tak sabar menunggu. Kino dan Alma pun tenggelam kembali dalam keceriaan, mengikuti lagu demi lagu dengan bersemangat. Sejenak, mereka lupa akan perguruan tinggi dan perpisahan.*******Seusai pertunjukan band, masih ada satu pertunjukan lagi, yaitu wayang kulit sampai pagi. Tetapi kebanyakan anak-anak muda tidak lagi menyukai medium tradisional ini. Apalagi timing-nya juga kurang tepat. Sehabis jejingkrakan menikmati musik rock, mana mungkin mereka mau duduk-diam mendengar tutur-cerita dalang dalam bahasa daerah!Kino mengajak Alma pulang, terpisah dari teman-teman yang lain dan dari kedua orangtua mereka yang masih ingin menonton wayang. Berdua, pasangan ini berjalan pelan-pelan sambil mengobrol kiri-kanan. Perbincangan menyerempet pula masalah masa depan dan kemungkinan perpisahan. Mereka sama-sama mulai menyadari bahwa hidup ternyata masih sangat panjang di depan sana, masih berliku dan mendaki. Alma banyak menunduk mencoba memikirkan skenario apa yang akan mereka berdua mainkan di masa mendatang. Apakah mereka akan tetap bisa berhubungan walau terpisah ribuan kilometer?Kino mengusulkan mengambil jalan pintas, menyusuri pematang sawah. Bulan hampir purnama, awam hujan tidak tampak, sehingga malam tak terlalu gelap. Pematang bahkan jelas terlihat, seperti lintasan-lintasan bersinar membentuk aneka kotak hitam yang adalah sawah-sawah tanpa padi. Ini baru musim tanam, padi belum lagi muncul dari air yang tergenang. Bayangan bulan dan bintang-bintang tampak di permukaan sawah, bagai lampu-lampu penunjuk jalan.Berdua mereka berjalan beriringan, lalu masuk ke perkebunan kopi yang memisahkan persawahan dan areal perumahan kota. Pohon-pohon kopi tidaklah terlalu lebat berdaun, sehingga sinar benda-benda langit malam tetap bisa menerobos menerangi tanah. Bagai lampu-lampu sorot, membentuk beraneka tuas sinar, seperti pilar-pilar putih yang menjulur ke bawah dari langit. Indah sekali malam ini.Kini Alma bisa berjalan sambil memeluk lengan kekasihnya, terbebas dari kekhawatiran dilihat orang banyak. Berjalan di tengah kota, tak mungkin bisa bergandengan mesra begini. Biar bagaimana pun, kota kecil belumlah siap menerima sepasang kekasih yang saling memperlihatkan perasaan di tengah orang ramai.Tampaknya tidak ada orang lain melintas di kebun kopi. Mereka pun bisa berciuman sambil berjalan pelan, terutama jika jalan sedang lurus. Alma tinggal memalingkan dan mengangkat muka, membiarkan Kino mengecup ringan bibirnya. Nafas mereka yang hangat berpadu-satu, terkadang menimbulkan uap tipis yang segera bergabung dengan embun malam. Semakin jauh mereka masuk ke dalam kebun kopi, semakin romantis suasananya. Lalu mereka tiba di sebuah pondok yang agak terpencil, dan bagai sudah bersepakat, mereka berhenti di halamannya. Di sini keadaan jauh lebih gelap, karena ada pohon-pohon lain yang berdaun lebat. Kino mendorong Alma ke arah beranda pondok yang tak berpenghuni, yang kalau pagi hari digunakan untuk istirahat para petani. Di beranda itu Kino melumat bibir kekasihnya lebih bergairah lagi. Alma menerima pagutan kekasihnya dengan tak kalah bergairah. Ia senang sekali dicium Kino yang bisa menggabungkan gairah dan kemesraan dalam takaran yang tepat. Ciuman pria ini tidak terburu-buru, tetapi tidak pula terlalu perlahan. Tidak memaksa-maksa, tetapi justru mengundang. Alma terutama senang sekali merasakan bibir bawahnya dihisap-dikulum perlahan, ditelusuri oleh lidah Kino yang hangat. Sebentar saja, nafas gadis ini sudah terengah-engah.Sejak mengenal percumbuan yang menggairahkan ini, Alma berani pergi dengan Kino tanpa beha. Ia cuma mengenakan kaos, dan untuk menyembunyikan puting-putingnya, ia selalu memakai jaket. Dengan begitu, Alma memberikan keleluasaan kepada kekasihnya untuk bermain-main dengan payudaranya yang ranum. Kino tak perlu repot membuka beha, yang kadang-kadang seperti tidak mau dibuka itu!Malam ini pun Kino segera menelusupkan kedua tangannya ke bawah kaos Alma, meremas-remas kedua bukit menggairahkan itu, perlahan membangkitkan bara birahi di antara mereka berdua. Dengan kedua ibu jarinya, Kino mengusap-usap kedua puting Alma yang menegang-mengenyal. Halus-lembut rasanya kedua puncak payudara itu di jari-jari Kino. Nafas Alma semakin menderu, menyebabkan dadanya turun-naik semakin cepat, dan puting-putingnya bagai meronta-ronta di bawah telapak tangan Kino.Di beranda pondok ada sebuah bangku panjang dari kayu. Ke sana lah Alma perlahan-lahan mendorong kekasihnya agar duduk. Kino pun menurut, membiarkan dirinya terduduk. Alma cepat-cepat mengangkat tubuhnya, duduk di pangkuan pemuda itu dengan kedua kaki direntangkan. Oh, ini lah posisi yang sejak dulu diimpikan Alma! Ia senang sekali dipangku seperti ini, dengan rok tersingkap sampai ke pangkal pahanya, dan dengan selangkangan yang terhenyak lekat di pangkuan Kino. Ia merasa terkuak-terbuka bebas, siap menerima sentuhan-sentuhan kenikmatan dari setiap gerakan Kino. Ia mengerang perlahan, merasakan serbuan gairah tiba-tiba muncul dengan cepat dari dalam tubuhnya yang semakin hangat.Kino melepaskan ciumannya, menelusuri leher Alma yang harum sabun wangi (dia belum mengenal parfum, tentu saja!). Kedua tangannya tetap meremas-remas payudara gadis itu, yang kini terasa semakin kenyal dan keras saja. Puting-putingnya semakin tegak dan panas pula, seperti menyimpan arang-bara yang masih menyala. Alma mengangkat kedua tangannya agak ke atas, memeluk kepala kekasihnya. Jaketnya terpampang-terbuka, dan kaosnya sudah terangkat setengahnya, menampakkan dua bukit putih-mulus menggairahkan. Dalam suasana remang-remang, tubuh Alma tampak indah sekali, bagai lukisan seorang maestro.Bibir Kino kini menelusuri pangkal leher Alma, dan gadis itu mengerang pelan merasakan geli yang menimbulkan nikmat menjalar-jalar sepanjang perjalanan bibir pemuda itu. Dengan tak sabar, ditunggunya bibir Kino menuju ke bawah, semakin mendekati dadanya yang dipenuhi debur jantungnya yang bergelora. Oh,.. cepatlah sedikit sayangku! jeritnya dalam hati, menanti akhir perjalanan bibir yang terasa terlalu pelan itu. Alma merasa jaketnya telalu menganggu, maka ia melepaskannya, sehingga kini ia tinggal berkaos, itu pun sudah setengah terbuka. Lalu, ia lebih berani lagi, meloloskan kaosnya dari atas kepalanya, sehingga kini gadis itu bertelanjang dada, di keremangan malam yang mempesona.Kino sebenarnya agak kuatir mereka berdua dipergoki dalam keadaan seperti ini. Tetapi jangkerik ramai berbunyi di sekitar mereka, menandakan bahwa serangga-serangga itu tidak terganggu. Jika mereka tidak terganggu, berarti tidak ada mahluk lain di sekitar mereka. Itu lah antara lain pelajaran dasar seorang pencinta alam!Bbir Kino kini telah tiba di celah di antara dua bukit yang membusung mempesona itu. Oh,.. harum sekali dada Alma yang mulus dan lembut. Kino berkali-kali menghela nafas, memasukkan keharuman tubuh gadis itu ke dalam tubuhnya, menjadikan keharuman itu sebagai pembangkit gairah yang memang sudah sejak tadi bergelora. Kedua tangannya semakin gemas-meremas, membuat Alma merintih pelan. Lalu, Kino pun melakukan sesuatu yang sudah ditunggu-tunggu gadis itu sejak tadi: ia menghisap salah satu puting Alma, perlahan-lahan saja. Alma seperti tersedak, tubuhnya terangkat sedikit dari pangkuan Kino, menggeliat-geliat seperti di ulat ditusuk duri. Sebuah kenikmatan tak terkira memenuhi tubuh gadis belia ini, bagai sebuah siraman air surgawi, membuatnya berenang-renang melayang-layang mengapung-apung.Satu tangan Kino meninggalkan payudara yang kini dihisap-hisap oleh mulutnya. Tangan itu meluncur cepat ke bawah, menelusup ke balik rok, mengusap-usap bagian belakang tubuh Alma yang agak terangkat dari pangkuannya. Telapak tangan Kino terasa nyaman mengusap-usap bagian itu, yang saat ini masih terbungkus celana dalam nilon tipis dan halus. Kino senang sekali mengusap-usapnya, terasa penuh dan padat, dan hangat pula. Sesekali ia gemas meremas, membuat Alma tersentak lagi, menghenyakkan tubuhnya ke pangkuan Kino. Akibatnya, bagian depan kewanitaannya membentur keras bagian depan kejantanan Kino yang tentu saja masih tersembunyi di balik celananya. Itu pun sudah lah mampu membuat keduanya merasakan serbuan kenikmatan.Alma kini bahkan tanpa sadar menggesek-gesekkan selangkangannya ke pangkuan Kino yang menonjol keras menyembunyikan kejantanannya yang telah tegak-tegang. Oh,.. nikmat sekali rasanya gesekan-gesekan itu, walaupun masih diperantarai kain nilon dan jeans. Alma merintih-rintih pelan merasakan kewanitaannya terkuak dan terhenyak di sebuah tonjolan keras yang panas membara itu. Tonjolan itu tepat terhimpit di antara dua bibir menebal di bawah sana, menimbulkan rasa geli-gatal yang nikmat. Kino pun mendorong tubuh bagian bawahnya lebih ke depan, mempererat penyatuan mereka, sementara tangannya menekan bokong Alma ke bawah."Aaah,... Kino, geli sekali rasanya....," Alma mendesah, seakan-akan ingin minta penegasan, apakah yang dirasakannya itu sudah betul, sudah nyata? Gadis ini sungguh tak punya pengetahuan, dan tak bisa menamakan, apa yang sedang dialaminya bersama pemuda ini? Gerangan misteri kehidupan apa yang kini sedang dijalaninya?Kino berhenti mengulum puting kekasihnya, lalu berbisik dengan nafas memburu, "Pindah ke dalam, yuk?"Alma tak bisa lain selain mengangguk cepat. Ia pasrah saja ketika Kino dengan perkasa mengangkat tubuhnya, seperti seorang kakak menggendong adiknya. Alma memeluk leher kekasihnya erat-erat, melingkarkan kedua kakinya di pinggangnya, memejamkan mata merasakan tubuhnya seperti dibawa terbang. Mungkin begitulah rasanya dibawa terbang burung garuda raksasa!Sambil tak lupa meraih jaket Alma yang tertinggal di bangku, Kino membopong tubuh kekasihnya masuk ke dalam pondok. Di dalam ada dipan kayu, agak ke belakang dari ruangan yang gelap pekat. Dengan cekatan Kino meletakkan jaket Alma di dipan, lalu perlahan-lahan menurunkan tubuh gadis itu di atasnya. Alma kini terlentang dengan kaki tetap melingkari pinggang kekasihnya. Kino menindih tubuhnya, kembali menciumi leher dan lalu segera mengulum puting payudaranya. Alma mengerang-menggeliat, kini menyerahkan tubuhnya diperlakukan apa-saja. Ia merasakan celana dalamnya perlahan ditarik, merasakan salah satu kakinya diangkat sehingga celana dalam itu kini lolos terbuka, merasakan kewanitaannya terpampang-telanjang, dibelai angin malam yang menerobos masuk dinding pondok. Darahnya mendesir cepat, menunggu dengan tegang, apa yang akan dilakukan Kino?Sambil tetap mengulum puting Alma dan menindih tubuhnya, Kino mengusap-usap kewanitaan Alma yang telah terbuka bebas. Ah,.. hangat dan sedikit basah bagian itu. Jari tengah Kino dengan leluasa bisa meluncur licin di antara kedua bibirnya. Alma menggelinjang merasakan jari itu menelusup menimbulkan rasa nikmat di seluruh selangkangannya. Tanpa sadar, ia membuka kedua pahanya semakin lebar, dengan kedua kaki kini bertelektekan di atas dipan. Lalu tangan Kino sejenak meninggalkan kewanitaannya, Alma agak kecewa: kenapa berhenti?Sebelum bisa memprotes, Alma tiba-tiba tersentak, merasakan sebentuk otot-kenyal menyentuh permukaan kewanitaannya. Bukan,... itu bukan jari tengah Kino,.. terlalu besar untuk sebuah jari. Terlalu kenyal dan padat dan panas pula. Oh,... Alma tiba-tiba sadar bahwa yang dirasakannya di bawah sana adalah kejantanan Kino. Ia belum pernah melihat kejantanan seorang pria, tetapi ia bisa membayangkannya setelah merasakan benda itu menyentuh kewanitaannya. Ia mengerang merasakan betapa sentuhan kejantanan itu jauh lebih nikmat dibandingkan sentuhan jari. Lebih penuh-padat-kenyal, terjepit di antara bibir-bibir kewanitaannya, membentur-bentur bagian atasnya. Alma menggeliat kegelian ketika ujung kejantanan yang basah-hangat itu membentur sesuatu yang terletak di celah atas kewanitaannya. Oh,... bagian itu terasa sangat geli, dibentur-bentur benda halus-kenyal-tumpul. Oh,... rasanya seperti gatal yang minta digaruk-garuk. Terus..., terus..., terus...., Alma menjerit dalam hati, merasakan tubuhnya seperti dipenuhi geli-gatal yang bersumber-utama di selangkangannya.Kino mengerang pula, merasakan kenikmatan dari kejantanannya yang menelusur celah basah-panas di bawah sana. Setiap kali ujung kejantanannya membentur tonjolan kecil di antara lepitan bibir kewanitaan Alma, serbuan kenikmatan memenuhi tubuhnya. Gerakan menggesek-menekan menyebabkan kejantanannya seperti diurut-urut, enak dan nikmat sekali. Apalagi kemudian Alma mengangkat kakinya, kembali memeluk pinggang Kino, menyebabkan kewanitaaanya semakin terkuak. Kejantanan Kino kini sempurna terjepit melintang di atas kewanitaan yang semakin lama semakin dipenuhi cairan licin. Kino pun menggerak-gerakkan pinggulnya, maju-mundur sambil tetap menekan. Alma mengerang-merintih dengan kedua tangan semakin erat memeluk leher kekasihnya, nyaris membuat Kino tak bisa bernafas.Dari bagian bawah perutnya, Alma merasakan seperti ada gumpalan yang semakin lama semakin membesar, hendak meledak. Gumpalan itu seperti dipenuhi kenikmatan, siap menyebarkan isinya ke seluruh tubuhnya. Alma semakin mengangkangkan kakinya, meletakkan keduanya semakin tinggi di punggung Kino. Bagian belakang tubuhnya bahkan kini sudah terangkat dari dipan. Oh,.... tiba-tiba ia merasakan gemuruh birahi memenuhi tubuhnya, bergulung-gulung seperti ombak besar menuju pantai. Dengan punggung tangannya, Alma menutup mulut, mencegah teriakan yang kini memenuhi kerongkongannya. Kino semakin cepat memaju-mundurkan pinggulnya, menyebabkan kejantanannya semakin cepat menggeleser-geleser membentur-bentur. Alma menjerit tertahan ..... tubuhnya terasa meledak berkeping-keping, kepalanya dipenuhi sensasi kenikmatan, pandangannya hilang melayang walau matanya masih terbuka.Kino mendorong keras untuk terakhir kalinya. Kejantanannya tergelincir lepas dari jepitan bibir kewanitaan Alma, terus ke atas, ke bagian yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Di sana, di atas rambut-rambut itu, kejantanan Kino seperti bergelegak sebelum akhirnya meregang dan menumpahkan cairan-cairan kental putih. Alma tersentak, merasakan perut bagian bawahnya dipenuhi rasa panas dan lengket. Oh,... apa yang terjadi?Kino pun terkaget ketika merasakan cairan-cairan panas keluar dari tubuhnya tanpa bisa dicegah. Alma mengangkat tubuhnya, bertelektekan di kedua sikunya. Nafasnya masih memburu."Kino! ... apa yang terjadi?" sergahnya dengan suara mengandung nada kuatir."Aku ... aku...," Kino tergagap, cepat-cepat menegakkan tubuhnya sambil menjauhkan kejantanannya dari tubuh Alma.Tangan Alma mengusap bagian yang dipenuhi cairan lengket itu. Oh,... tiba-tiba ia teringat pelajaran informal dari Ibunda. Bukankah ini air mani seorang pria? Bukankah ini yang dapat membuat seorang wanita hamil? Astaga!"Kino! ... tadi kamu tidak memasukkannya, bukan?" bisik Alma yang kini sudah sepenuhnya terduduk di dipan. Kekhawatiran telah memusnahkan rasa nikmat yang barusan diterimanya."Memasukkan?..... Memasukkan apa?" Kino masih tergagap, sambil memakai kembali celana dalam yang tadi tersangkut melingkar di pahanya."Oooh, Kino!... kita tadi melakukan hubungan suami-istri!" nada suara Alma kini seperti hendak menangis.Kino tersadar, berpikir cepat. Tidak. Tadi ia tidak memasukkan kejantanannya ke dalam kewanitaan Alma. "Tetapi, aku tidak memasukkannya, Alma. Hanya menggesek-gesekkannya di bagian luar!" ucapnya, berusaha tenang, walau tak sepenuhnya berhasil. Sebuah perasaan bersalah memenuhi dadanya.Alma mengambil saputangan dari kantong jaketnya, menghapus sisa-sisa cairan cinta di bawah perutnya. Cepat-cepat ia merapikan pakaiannya. Kino duduk di sampingnya, nafasnya masih agak memburu. Alma tak tega melihat kekasihnya tertegun dengan perasaan bersalah. Setelah selesai merapikan diri, ia memeluk Kino erat-erat, menyembunyikan wajahnya di pundak kekasihnya, sambil berbisik, "Ooh.., aku yang bersalah, kenapa membiarkan kamu melakukannya!"Kino mengusap rambut Alma penuh kelembutan, "Kita berdua yang bersalah.." bisiknya."Ya..., tempat ini berbahaya," ucap Alma, nada khawatir telah hilang, berganti nada waspada."Sebaiknya kita segera pergi," balas Kino sambil bangkit dan menarik kekasihnya keluar.Dingin malam menyambut keduanya di luar. Orkes malam dari para jangkerik masih menguasai suasana. Dengan langkah cepat, sepasang kekasih itu meninggalkan pondok, kembali menembus kebun kopi, menuju areal perumahan. Mereka bahkan lalu berlari sambil tertawa kecil, lega karena merasa telah terhindar dari peristiwa yang masih penuh misteri bagi mereka berdua. Alma sendiri kini merasa mendapatkan pengalaman sangat berharga tentang cinta dan birahi. Entah bagaimana ia bisa menggambarkannya, karena semuanya masih samar-samar. Semuanya masih penuh misteri, menegangkan sekaligus mengasyikkan.Bagi Kino, ini pengalaman baru pula. Tetapi ia masih kuatir, terutama karena kini ia berhubungan dengan wanita yang sama-sama belia. Kembali pikirannya menerawang ke Mba Rien. Dengan wanita itu, Kino merasa segalanya terkendali. Segalanya serba pasti. Sementara dengan Alma, setiap percumbuan adalah petualangan baru, sebuah perjalanan menembus wilayah asing yang penuh misteri tak terungkapkan.Mereka tiba di rumah Alma tepat pukul 12.00. Kedua orang tua Alma rupanya masih menonton wayang. Kino mengecup pipi kekasihnya, menyuruh gadis itu cepat-cepat masuk rumah lewat pintu samping. Lalu ia sendiri juga cepat-cepat kembali pulang. Ia ingin segera berbasuh dan berganti pakaian dalam!*******Pada suatu hari, Ayah memanggil Kino dan mengajaknya berbincang serius."Bagaimana persiapan mu masuk perguruan tinggi?" ucap Ayah membuka percakapan. Kino menguraikan secara singkat rencananya masuk jurusan arsitektur. Ia menjelaskan kepada Ayah bahwa perhatiannya kini difokuskan pada matematika dan pengetahuan alam."Bagaimana dengan bahasa Inggris?"Kino tersenyum kecut dan menunduk. Ia memang lemah di mata ajaran yang satu ini."Ayah dengar, mata ajaran itu diperhatikan pula dalam seleksi. Kalau kamu cuma pintar di matematika dan ilmu alam, tetapi gagal di bahasa, ya.... kesempatan kamu berkurang."Kino diam saja. Sebetulnya, ia ingin mengatakan bahwa kelemahannya disebabkan oleh guru yang kurang pandai mengajar. Juga oleh kurangnya fasilitas di kota kecil ini. Di mana bisa membeli buku untuk latihan bahasa Inggris di sini? pikirnya."Bagaimana kalau kamu kursus di luar kota?" usul Ayah."Di mana?" Kino balik bertanya, "Lagipula bagaimana dengan biayanya?Ayah tersenyum. "Jangan kuatir soal biaya. Ayah dan Ibu ada sedikit tabungan yang memang kami siapkan untuk membantu kamu mempersiapkan diri.""Tetapi di mana Kino bisa kursus? Apakah harus pulang-pergi?""Ayah punya teman di kota M, kamu bisa tinggal di sana sambil mempersiapkan diri."Kino memandang lantai rumah. Kota M adalah kota yang cukup besar dan sering diperbincangkan oleh anak-anak sekolah. Pada umumnya, kota itu memang menjadi tujuan bagi mereka yang ingin melangkah lebih jauh. Katakanlah, kota itu semacam tempat mengasah kemampuan, sebelum bersaing di kota-kota besar. Di situ ada berbagai fasilitas pendidikan yang jauh lebih baik daripada di kota kelahiran Kino, termasuk kursus-kursus yang diselenggarakan sarjana-sarjana baru."Minggu depan, teman Ayah itu akan kemari. Nanti, kamu bisa ikut dia kembali ke M dan tinggal di sana 2 atau 3 bulan. Lalu, baru ikut ujian saringan perguruan tinggi. Setuju?" ucap Ayah.Kino mengangkat muka, tersenyum lebar. Tentu saja ia setuju. Ia ingin sekali masuk ke perguruan tinggi, dan segala dukungan orangtua kepadanya sungguh membesarkan hati. Dengan cepat dan kuat, Kino menganggukkan kepala. Ayah tertawa sambil mengusap-usap kepala Kino.******"Kapan kamu berangkat?" tanya Alma mendengar kabar dari Kino. Pemuda itu sengaja datang ke rumah pacarnya untuk memberi kabar tentang rencananya. Alma ikut senang, tetapi ia juga tiba-tiba menyadari bahwa akan ada perpisahan."Minggu depan. Ah,.. aku tak sabar menunggu hari itu!" jawab Kino riang, tak memperhatikan wajah Alma yang agak tersaput kekhawatiran."Lama sekali di sana...," potong Alma. Tiga bulan bukan waktu yang sedikit. Sekarang, setelah menjadi pacar Kino, gadis ini merasa satu hari tak bertemu saja sudah menggelisahkan. Bagaimana harus menghadapi 90 hari tanpa Kino? Dengan siapa aku belajar?"Aku memerlukan persiapan sungguh-sungguh Alma. Aku ingin sekali masuk perguruan tinggi, menjadi arsitek," celoteh Kino bersemangat. Ia sungguh tak melihat reaksi Alma. Ia lalu menceritakan impiannya, ingin merancang bangunan-bangunan yang indah sekaligus kokoh. Bangunan modern tetapi bernafaskan tradisi. Gedung tinggi, tetapi tidak kaku. Banyak sekali yang diinginkannya!Alma terdiam mendengar celoteh pacarnya. Kini semakin jelas baginya, perpisahan dengan Kino tak akan bisa dihindari. Pemuda itu penuh ambisi. Kalau ia belajar dengan tekun di M, Alma pun yakin pemuda itu akan berhasil masuk jurusan yang diimpikannya. Ia tahu, Kino bukan anak yang menganggap enteng masa depan. Pastilah pemuda ini akan mencurahkan seluruh perhatiannya. Lalu, apakah ia akan melupakanku?Continue...
Musim Berderap Berlalu (2) Pengumuman kelulusan 100% membuat anak-anak SMA di kota kelahiran Kino bersuka-cita. Walaupun sebenarnya SMA ini sudah sejak tiga tahun silam selalu meluluskan semua siswanya, tetap saja berita tersebut ditanggapi agak berlebihan. Anak-anak kelas tiga saling menandatangani baju mereka, melakukan arak-arakan di sekitar sekolah, atau menceburkan diri ke sungai kecil di belakang lapangan voli. Suasana serba ceria ini menular ke adik-adik mereka di SMP dan SD, lalu juga merembet ke seluruh penduduk kota yang jumlahnya memang tidak banyak.Pak Camat bahkan membuat hajatan khusus, mengundang sebuah band dari sebuah kota besar untuk manggung di depan kantornya. Pasar malam segera digelar di sekitar panggung, dan para pedagang berlomba-lomba memberikan potongan harga. Semarak sekali suasana kota, nyaris menyerupai suasana hari raya.Malam itu, Kino duduk bersebelahan dengan Alma menonton berbagai acara di atas panggung. Dodi dan Iwan entah kemana, masing-masing dengan pacar mereka. Kino mengajak pula Susi, adiknya. Tetapi, gadis kecil ini kemudian lebih suka ikut Ayah dan Ibu yang berkeliling pasar malam."Mau sekolah ke mana?" tiba-tiba Alma bertanya di tengah acara tarian daerah."Aku ingin jadi arsitek,.... mungkin di institut teknologi di kota B atau kota S," jawab Kino, tersadar bahwa keceriaan lulus sekolah ternyata akan segera disusul dengan ketegangan baru: masuk perguruan tinggi."Aku ingin jadi dokter,.. mungkin ke ibukota," ucap Alma sambil memainkan dompet di pangkuannya.Kino terdiam. Kalau mereka diterima di masing-masing perguruan tinggi yang mereka lamar, berarti keduanya akan berpisah. Cukup jauh jarak antara kota-kota tujuan Kino dengan ibukota."Kenapa kamu tidak ke ibukota juga?" tanya Alma dengan suara pelan, nyaris tenggelam oleh suara gamelan di panggung."Ayah dan Ibu mengatakan, biaya hidup di ibukota terlalu mahal," jawab Kino.Alma menghela nafas panjang dan menghembuskannya dalam desah, "Yaaah..., aku beruntung punya paman yang tinggal di ibukota dan bersedia menampungku. Setidaknya, Ayah dan Ibu tidak perlu membiayai indekos."Kino juga punya seseorang di ibukota. Seorang penari yang sedang meniti karir. Tetapi saat ini, menyebut namanya pun ia tak berani. Ia takut menyinggung perasaan Alma."Bagaimana kabarnya Mba Rien?" Kino tersentak. Justru Alma yang memulai menyebut nama itu. "Tidak tahu," jawab Kino cepat. Ia memang tidak pernah mendengar kabar dari wanita itu.Keduanya terdiam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Acara silih berganti dengan cepat dan lancar. Lalu, band pop dari kota M naik ke panggung disambut tepuk tangan riuh dari anak-anak muda yang sudah tak sabar menunggu. Kino dan Alma pun tenggelam kembali dalam keceriaan, mengikuti lagu demi lagu dengan bersemangat. Sejenak, mereka lupa akan perguruan tinggi dan perpisahan.*******Seusai pertunjukan band, masih ada satu pertunjukan lagi, yaitu wayang kulit sampai pagi. Tetapi kebanyakan anak-anak muda tidak lagi menyukai medium tradisional ini. Apalagi timing-nya juga kurang tepat. Sehabis jejingkrakan menikmati musik rock, mana mungkin mereka mau duduk-diam mendengar tutur-cerita dalang dalam bahasa daerah!Kino mengajak Alma pulang, terpisah dari teman-teman yang lain dan dari kedua orangtua mereka yang masih ingin menonton wayang. Berdua, pasangan ini berjalan pelan-pelan sambil mengobrol kiri-kanan. Perbincangan menyerempet pula masalah masa depan dan kemungkinan perpisahan. Mereka sama-sama mulai menyadari bahwa hidup ternyata masih sangat panjang di depan sana, masih berliku dan mendaki. Alma banyak menunduk mencoba memikirkan skenario apa yang akan mereka berdua mainkan di masa mendatang. Apakah mereka akan tetap bisa berhubungan walau terpisah ribuan kilometer?Kino mengusulkan mengambil jalan pintas, menyusuri pematang sawah. Bulan hampir purnama, awam hujan tidak tampak, sehingga malam tak terlalu gelap. Pematang bahkan jelas terlihat, seperti lintasan-lintasan bersinar membentuk aneka kotak hitam yang adalah sawah-sawah tanpa padi. Ini baru musim tanam, padi belum lagi muncul dari air yang tergenang. Bayangan bulan dan bintang-bintang tampak di permukaan sawah, bagai lampu-lampu penunjuk jalan.Berdua mereka berjalan beriringan, lalu masuk ke perkebunan kopi yang memisahkan persawahan dan areal perumahan kota. Pohon-pohon kopi tidaklah terlalu lebat berdaun, sehingga sinar benda-benda langit malam tetap bisa menerobos menerangi tanah. Bagai lampu-lampu sorot, membentuk beraneka tuas sinar, seperti pilar-pilar putih yang menjulur ke bawah dari langit. Indah sekali malam ini.Kini Alma bisa berjalan sambil memeluk lengan kekasihnya, terbebas dari kekhawatiran dilihat orang banyak. Berjalan di tengah kota, tak mungkin bisa bergandengan mesra begini. Biar bagaimana pun, kota kecil belumlah siap menerima sepasang kekasih yang saling memperlihatkan perasaan di tengah orang ramai.Tampaknya tidak ada orang lain melintas di kebun kopi. Mereka pun bisa berciuman sambil berjalan pelan, terutama jika jalan sedang lurus. Alma tinggal memalingkan dan mengangkat muka, membiarkan Kino mengecup ringan bibirnya. Nafas mereka yang hangat berpadu-satu, terkadang menimbulkan uap tipis yang segera bergabung dengan embun malam. Semakin jauh mereka masuk ke dalam kebun kopi, semakin romantis suasananya. Lalu mereka tiba di sebuah pondok yang agak terpencil, dan bagai sudah bersepakat, mereka berhenti di halamannya. Di sini keadaan jauh lebih gelap, karena ada pohon-pohon lain yang berdaun lebat. Kino mendorong Alma ke arah beranda pondok yang tak berpenghuni, yang kalau pagi hari digunakan untuk istirahat para petani. Di beranda itu Kino melumat bibir kekasihnya lebih bergairah lagi. Alma menerima pagutan kekasihnya dengan tak kalah bergairah. Ia senang sekali dicium Kino yang bisa menggabungkan gairah dan kemesraan dalam takaran yang tepat. Ciuman pria ini tidak terburu-buru, tetapi tidak pula terlalu perlahan. Tidak memaksa-maksa, tetapi justru mengundang. Alma terutama senang sekali merasakan bibir bawahnya dihisap-dikulum perlahan, ditelusuri oleh lidah Kino yang hangat. Sebentar saja, nafas gadis ini sudah terengah-engah.Sejak mengenal percumbuan yang menggairahkan ini, Alma berani pergi dengan Kino tanpa beha. Ia cuma mengenakan kaos, dan untuk menyembunyikan puting-putingnya, ia selalu memakai jaket. Dengan begitu, Alma memberikan keleluasaan kepada kekasihnya untuk bermain-main dengan payudaranya yang ranum. Kino tak perlu repot membuka beha, yang kadang-kadang seperti tidak mau dibuka itu!Malam ini pun Kino segera menelusupkan kedua tangannya ke bawah kaos Alma, meremas-remas kedua bukit menggairahkan itu, perlahan membangkitkan bara birahi di antara mereka berdua. Dengan kedua ibu jarinya, Kino mengusap-usap kedua puting Alma yang menegang-mengenyal. Halus-lembut rasanya kedua puncak payudara itu di jari-jari Kino. Nafas Alma semakin menderu, menyebabkan dadanya turun-naik semakin cepat, dan puting-putingnya bagai meronta-ronta di bawah telapak tangan Kino.Di beranda pondok ada sebuah bangku panjang dari kayu. Ke sana lah Alma perlahan-lahan mendorong kekasihnya agar duduk. Kino pun menurut, membiarkan dirinya terduduk. Alma cepat-cepat mengangkat tubuhnya, duduk di pangkuan pemuda itu dengan kedua kaki direntangkan. Oh, ini lah posisi yang sejak dulu diimpikan Alma! Ia senang sekali dipangku seperti ini, dengan rok tersingkap sampai ke pangkal pahanya, dan dengan selangkangan yang terhenyak lekat di pangkuan Kino. Ia merasa terkuak-terbuka bebas, siap menerima sentuhan-sentuhan kenikmatan dari setiap gerakan Kino. Ia mengerang perlahan, merasakan serbuan gairah tiba-tiba muncul dengan cepat dari dalam tubuhnya yang semakin hangat.Kino melepaskan ciumannya, menelusuri leher Alma yang harum sabun wangi (dia belum mengenal parfum, tentu saja!). Kedua tangannya tetap meremas-remas payudara gadis itu, yang kini terasa semakin kenyal dan keras saja. Puting-putingnya semakin tegak dan panas pula, seperti menyimpan arang-bara yang masih menyala. Alma mengangkat kedua tangannya agak ke atas, memeluk kepala kekasihnya. Jaketnya terpampang-terbuka, dan kaosnya sudah terangkat setengahnya, menampakkan dua bukit putih-mulus menggairahkan. Dalam suasana remang-remang, tubuh Alma tampak indah sekali, bagai lukisan seorang maestro.Bibir Kino kini menelusuri pangkal leher Alma, dan gadis itu mengerang pelan merasakan geli yang menimbulkan nikmat menjalar-jalar sepanjang perjalanan bibir pemuda itu. Dengan tak sabar, ditunggunya bibir Kino menuju ke bawah, semakin mendekati dadanya yang dipenuhi debur jantungnya yang bergelora. Oh,.. cepatlah sedikit sayangku! jeritnya dalam hati, menanti akhir perjalanan bibir yang terasa terlalu pelan itu. Alma merasa jaketnya telalu menganggu, maka ia melepaskannya, sehingga kini ia tinggal berkaos, itu pun sudah setengah terbuka. Lalu, ia lebih berani lagi, meloloskan kaosnya dari atas kepalanya, sehingga kini gadis itu bertelanjang dada, di keremangan malam yang mempesona.Kino sebenarnya agak kuatir mereka berdua dipergoki dalam keadaan seperti ini. Tetapi jangkerik ramai berbunyi di sekitar mereka, menandakan bahwa serangga-serangga itu tidak terganggu. Jika mereka tidak terganggu, berarti tidak ada mahluk lain di sekitar mereka. Itu lah antara lain pelajaran dasar seorang pencinta alam!Bbir Kino kini telah tiba di celah di antara dua bukit yang membusung mempesona itu. Oh,.. harum sekali dada Alma yang mulus dan lembut. Kino berkali-kali menghela nafas, memasukkan keharuman tubuh gadis itu ke dalam tubuhnya, menjadikan keharuman itu sebagai pembangkit gairah yang memang sudah sejak tadi bergelora. Kedua tangannya semakin gemas-meremas, membuat Alma merintih pelan. Lalu, Kino pun melakukan sesuatu yang sudah ditunggu-tunggu gadis itu sejak tadi: ia menghisap salah satu puting Alma, perlahan-lahan saja. Alma seperti tersedak, tubuhnya terangkat sedikit dari pangkuan Kino, menggeliat-geliat seperti di ulat ditusuk duri. Sebuah kenikmatan tak terkira memenuhi tubuh gadis belia ini, bagai sebuah siraman air surgawi, membuatnya berenang-renang melayang-layang mengapung-apung.Satu tangan Kino meninggalkan payudara yang kini dihisap-hisap oleh mulutnya. Tangan itu meluncur cepat ke bawah, menelusup ke balik rok, mengusap-usap bagian belakang tubuh Alma yang agak terangkat dari pangkuannya. Telapak tangan Kino terasa nyaman mengusap-usap bagian itu, yang saat ini masih terbungkus celana dalam nilon tipis dan halus. Kino senang sekali mengusap-usapnya, terasa penuh dan padat, dan hangat pula. Sesekali ia gemas meremas, membuat Alma tersentak lagi, menghenyakkan tubuhnya ke pangkuan Kino. Akibatnya, bagian depan kewanitaannya membentur keras bagian depan kejantanan Kino yang tentu saja masih tersembunyi di balik celananya. Itu pun sudah lah mampu membuat keduanya merasakan serbuan kenikmatan.Alma kini bahkan tanpa sadar menggesek-gesekkan selangkangannya ke pangkuan Kino yang menonjol keras menyembunyikan kejantanannya yang telah tegak-tegang. Oh,.. nikmat sekali rasanya gesekan-gesekan itu, walaupun masih diperantarai kain nilon dan jeans. Alma merintih-rintih pelan merasakan kewanitaannya terkuak dan terhenyak di sebuah tonjolan keras yang panas membara itu. Tonjolan itu tepat terhimpit di antara dua bibir menebal di bawah sana, menimbulkan rasa geli-gatal yang nikmat. Kino pun mendorong tubuh bagian bawahnya lebih ke depan, mempererat penyatuan mereka, sementara tangannya menekan bokong Alma ke bawah."Aaah,... Kino, geli sekali rasanya....," Alma mendesah, seakan-akan ingin minta penegasan, apakah yang dirasakannya itu sudah betul, sudah nyata? Gadis ini sungguh tak punya pengetahuan, dan tak bisa menamakan, apa yang sedang dialaminya bersama pemuda ini? Gerangan misteri kehidupan apa yang kini sedang dijalaninya?Kino berhenti mengulum puting kekasihnya, lalu berbisik dengan nafas memburu, "Pindah ke dalam, yuk?"Alma tak bisa lain selain mengangguk cepat. Ia pasrah saja ketika Kino dengan perkasa mengangkat tubuhnya, seperti seorang kakak menggendong adiknya. Alma memeluk leher kekasihnya erat-erat, melingkarkan kedua kakinya di pinggangnya, memejamkan mata merasakan tubuhnya seperti dibawa terbang. Mungkin begitulah rasanya dibawa terbang burung garuda raksasa!Sambil tak lupa meraih jaket Alma yang tertinggal di bangku, Kino membopong tubuh kekasihnya masuk ke dalam pondok. Di dalam ada dipan kayu, agak ke belakang dari ruangan yang gelap pekat. Dengan cekatan Kino meletakkan jaket Alma di dipan, lalu perlahan-lahan menurunkan tubuh gadis itu di atasnya. Alma kini terlentang dengan kaki tetap melingkari pinggang kekasihnya. Kino menindih tubuhnya, kembali menciumi leher dan lalu segera mengulum puting payudaranya. Alma mengerang-menggeliat, kini menyerahkan tubuhnya diperlakukan apa-saja. Ia merasakan celana dalamnya perlahan ditarik, merasakan salah satu kakinya diangkat sehingga celana dalam itu kini lolos terbuka, merasakan kewanitaannya terpampang-telanjang, dibelai angin malam yang menerobos masuk dinding pondok. Darahnya mendesir cepat, menunggu dengan tegang, apa yang akan dilakukan Kino?Sambil tetap mengulum puting Alma dan menindih tubuhnya, Kino mengusap-usap kewanitaan Alma yang telah terbuka bebas. Ah,.. hangat dan sedikit basah bagian itu. Jari tengah Kino dengan leluasa bisa meluncur licin di antara kedua bibirnya. Alma menggelinjang merasakan jari itu menelusup menimbulkan rasa nikmat di seluruh selangkangannya. Tanpa sadar, ia membuka kedua pahanya semakin lebar, dengan kedua kaki kini bertelektekan di atas dipan. Lalu tangan Kino sejenak meninggalkan kewanitaannya, Alma agak kecewa: kenapa berhenti?Sebelum bisa memprotes, Alma tiba-tiba tersentak, merasakan sebentuk otot-kenyal menyentuh permukaan kewanitaannya. Bukan,... itu bukan jari tengah Kino,.. terlalu besar untuk sebuah jari. Terlalu kenyal dan padat dan panas pula. Oh,... Alma tiba-tiba sadar bahwa yang dirasakannya di bawah sana adalah kejantanan Kino. Ia belum pernah melihat kejantanan seorang pria, tetapi ia bisa membayangkannya setelah merasakan benda itu menyentuh kewanitaannya. Ia mengerang merasakan betapa sentuhan kejantanan itu jauh lebih nikmat dibandingkan sentuhan jari. Lebih penuh-padat-kenyal, terjepit di antara bibir-bibir kewanitaannya, membentur-bentur bagian atasnya. Alma menggeliat kegelian ketika ujung kejantanan yang basah-hangat itu membentur sesuatu yang terletak di celah atas kewanitaannya. Oh,... bagian itu terasa sangat geli, dibentur-bentur benda halus-kenyal-tumpul. Oh,... rasanya seperti gatal yang minta digaruk-garuk. Terus..., terus..., terus...., Alma menjerit dalam hati, merasakan tubuhnya seperti dipenuhi geli-gatal yang bersumber-utama di selangkangannya.Kino mengerang pula, merasakan kenikmatan dari kejantanannya yang menelusur celah basah-panas di bawah sana. Setiap kali ujung kejantanannya membentur tonjolan kecil di antara lepitan bibir kewanitaan Alma, serbuan kenikmatan memenuhi tubuhnya. Gerakan menggesek-menekan menyebabkan kejantanannya seperti diurut-urut, enak dan nikmat sekali. Apalagi kemudian Alma mengangkat kakinya, kembali memeluk pinggang Kino, menyebabkan kewanitaaanya semakin terkuak. Kejantanan Kino kini sempurna terjepit melintang di atas kewanitaan yang semakin lama semakin dipenuhi cairan licin. Kino pun menggerak-gerakkan pinggulnya, maju-mundur sambil tetap menekan. Alma mengerang-merintih dengan kedua tangan semakin erat memeluk leher kekasihnya, nyaris membuat Kino tak bisa bernafas.Dari bagian bawah perutnya, Alma merasakan seperti ada gumpalan yang semakin lama semakin membesar, hendak meledak. Gumpalan itu seperti dipenuhi kenikmatan, siap menyebarkan isinya ke seluruh tubuhnya. Alma semakin mengangkangkan kakinya, meletakkan keduanya semakin tinggi di punggung Kino. Bagian belakang tubuhnya bahkan kini sudah terangkat dari dipan. Oh,.... tiba-tiba ia merasakan gemuruh birahi memenuhi tubuhnya, bergulung-gulung seperti ombak besar menuju pantai. Dengan punggung tangannya, Alma menutup mulut, mencegah teriakan yang kini memenuhi kerongkongannya. Kino semakin cepat memaju-mundurkan pinggulnya, menyebabkan kejantanannya semakin cepat menggeleser-geleser membentur-bentur. Alma menjerit tertahan ..... tubuhnya terasa meledak berkeping-keping, kepalanya dipenuhi sensasi kenikmatan, pandangannya hilang melayang walau matanya masih terbuka.Kino mendorong keras untuk terakhir kalinya. Kejantanannya tergelincir lepas dari jepitan bibir kewanitaan Alma, terus ke atas, ke bagian yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Di sana, di atas rambut-rambut itu, kejantanan Kino seperti bergelegak sebelum akhirnya meregang dan menumpahkan cairan-cairan kental putih. Alma tersentak, merasakan perut bagian bawahnya dipenuhi rasa panas dan lengket. Oh,... apa yang terjadi?Kino pun terkaget ketika merasakan cairan-cairan panas keluar dari tubuhnya tanpa bisa dicegah. Alma mengangkat tubuhnya, bertelektekan di kedua sikunya. Nafasnya masih memburu."Kino! ... apa yang terjadi?" sergahnya dengan suara mengandung nada kuatir."Aku ... aku...," Kino tergagap, cepat-cepat menegakkan tubuhnya sambil menjauhkan kejantanannya dari tubuh Alma.Tangan Alma mengusap bagian yang dipenuhi cairan lengket itu. Oh,... tiba-tiba ia teringat pelajaran informal dari Ibunda. Bukankah ini air mani seorang pria? Bukankah ini yang dapat membuat seorang wanita hamil? Astaga!"Kino! ... tadi kamu tidak memasukkannya, bukan?" bisik Alma yang kini sudah sepenuhnya terduduk di dipan. Kekhawatiran telah memusnahkan rasa nikmat yang barusan diterimanya."Memasukkan?..... Memasukkan apa?" Kino masih tergagap, sambil memakai kembali celana dalam yang tadi tersangkut melingkar di pahanya."Oooh, Kino!... kita tadi melakukan hubungan suami-istri!" nada suara Alma kini seperti hendak menangis.Kino tersadar, berpikir cepat. Tidak. Tadi ia tidak memasukkan kejantanannya ke dalam kewanitaan Alma. "Tetapi, aku tidak memasukkannya, Alma. Hanya menggesek-gesekkannya di bagian luar!" ucapnya, berusaha tenang, walau tak sepenuhnya berhasil. Sebuah perasaan bersalah memenuhi dadanya.Alma mengambil saputangan dari kantong jaketnya, menghapus sisa-sisa cairan cinta di bawah perutnya. Cepat-cepat ia merapikan pakaiannya. Kino duduk di sampingnya, nafasnya masih agak memburu. Alma tak tega melihat kekasihnya tertegun dengan perasaan bersalah. Setelah selesai merapikan diri, ia memeluk Kino erat-erat, menyembunyikan wajahnya di pundak kekasihnya, sambil berbisik, "Ooh.., aku yang bersalah, kenapa membiarkan kamu melakukannya!"Kino mengusap rambut Alma penuh kelembutan, "Kita berdua yang bersalah.." bisiknya."Ya..., tempat ini berbahaya," ucap Alma, nada khawatir telah hilang, berganti nada waspada."Sebaiknya kita segera pergi," balas Kino sambil bangkit dan menarik kekasihnya keluar.Dingin malam menyambut keduanya di luar. Orkes malam dari para jangkerik masih menguasai suasana. Dengan langkah cepat, sepasang kekasih itu meninggalkan pondok, kembali menembus kebun kopi, menuju areal perumahan. Mereka bahkan lalu berlari sambil tertawa kecil, lega karena merasa telah terhindar dari peristiwa yang masih penuh misteri bagi mereka berdua. Alma sendiri kini merasa mendapatkan pengalaman sangat berharga tentang cinta dan birahi. Entah bagaimana ia bisa menggambarkannya, karena semuanya masih samar-samar. Semuanya masih penuh misteri, menegangkan sekaligus mengasyikkan.Bagi Kino, ini pengalaman baru pula. Tetapi ia masih kuatir, terutama karena kini ia berhubungan dengan wanita yang sama-sama belia. Kembali pikirannya menerawang ke Mba Rien. Dengan wanita itu, Kino merasa segalanya terkendali. Segalanya serba pasti. Sementara dengan Alma, setiap percumbuan adalah petualangan baru, sebuah perjalanan menembus wilayah asing yang penuh misteri tak terungkapkan.Mereka tiba di rumah Alma tepat pukul 12.00. Kedua orang tua Alma rupanya masih menonton wayang. Kino mengecup pipi kekasihnya, menyuruh gadis itu cepat-cepat masuk rumah lewat pintu samping. Lalu ia sendiri juga cepat-cepat kembali pulang. Ia ingin segera berbasuh dan berganti pakaian dalam!*******Pada suatu hari, Ayah memanggil Kino dan mengajaknya berbincang serius."Bagaimana persiapan mu masuk perguruan tinggi?" ucap Ayah membuka percakapan. Kino menguraikan secara singkat rencananya masuk jurusan arsitektur. Ia menjelaskan kepada Ayah bahwa perhatiannya kini difokuskan pada matematika dan pengetahuan alam."Bagaimana dengan bahasa Inggris?"Kino tersenyum kecut dan menunduk. Ia memang lemah di mata ajaran yang satu ini."Ayah dengar, mata ajaran itu diperhatikan pula dalam seleksi. Kalau kamu cuma pintar di matematika dan ilmu alam, tetapi gagal di bahasa, ya.... kesempatan kamu berkurang."Kino diam saja. Sebetulnya, ia ingin mengatakan bahwa kelemahannya disebabkan oleh guru yang kurang pandai mengajar. Juga oleh kurangnya fasilitas di kota kecil ini. Di mana bisa membeli buku untuk latihan bahasa Inggris di sini? pikirnya."Bagaimana kalau kamu kursus di luar kota?" usul Ayah."Di mana?" Kino balik bertanya, "Lagipula bagaimana dengan biayanya?Ayah tersenyum. "Jangan kuatir soal biaya. Ayah dan Ibu ada sedikit tabungan yang memang kami siapkan untuk membantu kamu mempersiapkan diri.""Tetapi di mana Kino bisa kursus? Apakah harus pulang-pergi?""Ayah punya teman di kota M, kamu bisa tinggal di sana sambil mempersiapkan diri."Kino memandang lantai rumah. Kota M adalah kota yang cukup besar dan sering diperbincangkan oleh anak-anak sekolah. Pada umumnya, kota itu memang menjadi tujuan bagi mereka yang ingin melangkah lebih jauh. Katakanlah, kota itu semacam tempat mengasah kemampuan, sebelum bersaing di kota-kota besar. Di situ ada berbagai fasilitas pendidikan yang jauh lebih baik daripada di kota kelahiran Kino, termasuk kursus-kursus yang diselenggarakan sarjana-sarjana baru."Minggu depan, teman Ayah itu akan kemari. Nanti, kamu bisa ikut dia kembali ke M dan tinggal di sana 2 atau 3 bulan. Lalu, baru ikut ujian saringan perguruan tinggi. Setuju?" ucap Ayah.Kino mengangkat muka, tersenyum lebar. Tentu saja ia setuju. Ia ingin sekali masuk ke perguruan tinggi, dan segala dukungan orangtua kepadanya sungguh membesarkan hati. Dengan cepat dan kuat, Kino menganggukkan kepala. Ayah tertawa sambil mengusap-usap kepala Kino.******"Kapan kamu berangkat?" tanya Alma mendengar kabar dari Kino. Pemuda itu sengaja datang ke rumah pacarnya untuk memberi kabar tentang rencananya. Alma ikut senang, tetapi ia juga tiba-tiba menyadari bahwa akan ada perpisahan."Minggu depan. Ah,.. aku tak sabar menunggu hari itu!" jawab Kino riang, tak memperhatikan wajah Alma yang agak tersaput kekhawatiran."Lama sekali di sana...," potong Alma. Tiga bulan bukan waktu yang sedikit. Sekarang, setelah menjadi pacar Kino, gadis ini merasa satu hari tak bertemu saja sudah menggelisahkan. Bagaimana harus menghadapi 90 hari tanpa Kino? Dengan siapa aku belajar?"Aku memerlukan persiapan sungguh-sungguh Alma. Aku ingin sekali masuk perguruan tinggi, menjadi arsitek," celoteh Kino bersemangat. Ia sungguh tak melihat reaksi Alma. Ia lalu menceritakan impiannya, ingin merancang bangunan-bangunan yang indah sekaligus kokoh. Bangunan modern tetapi bernafaskan tradisi. Gedung tinggi, tetapi tidak kaku. Banyak sekali yang diinginkannya!Alma terdiam mendengar celoteh pacarnya. Kini semakin jelas baginya, perpisahan dengan Kino tak akan bisa dihindari. Pemuda itu penuh ambisi. Kalau ia belajar dengan tekun di M, Alma pun yakin pemuda itu akan berhasil masuk jurusan yang diimpikannya. Ia tahu, Kino bukan anak yang menganggap enteng masa depan. Pastilah pemuda ini akan mencurahkan seluruh perhatiannya. Lalu, apakah ia akan melupakanku?Continue...
Saatnya Untuk Berpisah Kota M terletak sekitar 100-an kilometer dari kota kelahiran Kino. Ke sanalah kini pemuda itu menuju, naik kendaraan umum bersama teman ayahnya, Paman Tingga namanya, yang bersedia menampung Kino selama ia mempersiapkan diri untuk seleksi perguruan tinggi. Pagi masih basah dan agak berembun ketika keduanya berangkat ke terminal berjalan kaki.Sambil melangkah, Kino mengenang perpisahannya tadi malam dengan Alma. Ada kesenduan di raut muka gadis manis itu, walaupun Kino berusaha menghiburnya dengan bercanda. Lagipula, apa yang dirisaukannya? Toh, mereka hanya akan berpisah dua bulan. Bagi Kino, tak apa lah berpisah dari Alma, karena ia merasa memerlukan konsentrasi penuh untuk persiapan masa depannya. Tetapi bagi Alma rupanya agak lain. Gadis itu merasa inilah awal dari sebuah perpisahan panjang yang tak terelakkan.Malam itu mereka meminta ijin untuk menonton. Kedua orangtua Alma mengijinkan, dengan perjanjian agar mereka pulang sebelum pukul 11. Tetapi, mereka membatalkan acara menonton, karena ternyata film yang tadinya mereka akan tonton telah diganti dengan sebuah film silat. Akhirnya mereka duduk saja di pinggir alun-alun dekat pantai. Ada sebuah tembok pendek pembatas alun-alun dengan jalan. Di sana lah keduanya duduk berayun-ayun kaki, menghadap ke selatan ke arah laut yang menghitam nun di sana. Awan hujan tak tampak di langit, tetapi angin terasa mulai dingin. Kino memeluk pundak kekasihnya."Apa rencana kamu setelah kursus?" tanya Alma sambi memainkan kancing bawah jaketnya."Mmmm ..., belum tahu. Mungkin langsung ikut test seleksi," jawab Kino. Ia memang membicarakan kemungkinan ini dengan ayahnya beberapa waktu yang lalu. Ayah dan ibu juga setuju jika Kino ingin ikut test langsung di lokasi perguruan tinggi yang ditujunya, di kota B. Tetapi, menurut kedua orangtuanya, keputusan ada di tangan Kino setelah ikut kursus."Berarti kamu langsung ke B...," ucap Alma sambil mengibaskan rambut yang menutupi mukanya."Ya,.. senang sekali kalau bisa ikut test di sana. Aku ingin sekali melihat kampusnya. Kata orang, kampus itu besar sekali, berkali-kali lebih besar dari alun-alun ini!" jawab Kino bersemangat. Ia merasa, ikut ujian seleksi di kampus itu akan menambah motivasi dan kemungkinan lulus."Tetapi, itu berarti kita tak akan bertemu lagi," bisik Alma.Kino menoleh. Memandang kekasihnya yang kini menunduk. Rambutnya yang legam tergerai menutup wajahnya. Dengan lembut, Kino mencoba menyibak rambut itu. Alma mengelak. Kino mencoba lagi, Alma tetap mengelak, bahkan melepaskan diri dari pelukan kekasihnya."Apa maksudmu?" tanya Kino.Alma menggeser duduknya menjauh, lalu menghadapkan tubuhnya ke Kino. Wajahnya serius, "Maksudku,... kita akan berpisah semakin lama. Lalu, kalau diterima di perguruan tinggi,... kamu dan aku akan sama-sama sibuk kuliah. Kemungkinan, kita tak akan bertemu lagi dalam waktu satu atau dua tahun. Atau mungkin lebih.""Ya,... agaknya begitu," ucap Kino pelan. Ia memang juga punya dugaan yang sama, tetapi apa yang bisa dilakukannya? Bukankah sekolah tinggi-tinggi adalah keinginan mereka berdua? Kalau mereka terpaksa berpisah karena keinginan itu, apa yang bisa mereka lakukan?"Lalu kita akan saling melupakan...," bisik Alma, matanya berkaca-kaca."Kenapa saling melupakan?" sergah Kino."Karena kita akan sama-sama sibuk kuliah...""Tetapi kita bisa saling menyurati. Kita bisa ... ""Tetap saja....," Alma memotong dengan cepat, "Kita tetap akan saling menjauh tanpa kita sengaja.""Kita masih bisa bertemu lagi, Alma. Aku pasti itu!" ucap Kino mencoba tegas, walau ia sendiri tak tahu apakah suaranya betul-betul kedengaran tegas. Ia sendiri ragu, apakah memang ada kepastian di masa depan? Bukankah masa depan selalu samar-samar?Alma menghela nafas panjang, lalu menghempaskannya dalam desah yang keras. "Yah .. pasti kita bertemu lagi, tetapi mungkin sebagai dua orang yang berbeda..." ucapnya pelan.Kino terdiam. Tiba-tiba ia sadar, betapa ia tak kuasa mengatur aliran kehidupan. Betapa kecilnya ia menghadapi dunia yang begitu luas, yang berada di luar batas kendalinya. Ia ingin sekolah dan menjadi arsitek ulung, tetapi untuk itu ia harus meninggalkan banyak sekali kenangan manis. Tidak hanya Alma, tetapi juga Susi adik satu-satunya, ayah dan ibunya, teman-temannya, sungai tempatnya berenang, pantai yang menyimpan jutaan memori, hutan kenari, kota kecil yang damai ..... banyak sekali!"Melamun apa?" teguran Paman Tingga di sampingnya membuat Kino tersentak. Tak terasa, mereka sudah sampai di terminal. Kino tersipu sambil berbohong, mengatakan bahwa ia sedang membayangkan kota M.Paman Tingga tersenyum, lalu menepuk pundaknya. "Jangan bohong. Kamu pasti sedang melamunkan pacarmu," ucapnya sambil tertawa pelan."Yah,.. yang itu juga kulamunkan, sambil membayangkan kota M," jawab Kino tak mau kalah. Paman Tingga tertawa lebih keras.Mereka naik ke kendaraan umum yang sudah menunggu. Kino duduk dekat jendela, sementara teman ayahnya turun lagi untuk membeli makanan kecil dan minuman. Kino tinggal di atas mobil, melanjutkan lamunannya.*****Setelah bosan duduk di alun-alun, Alma dan Kino berjalan-jalan menyusur pantai. Pada malam hari, terutama di saat libur sekolah seperti ini, dan jika hujan tidak turun, pantai selalu ramai oleh warung-warung dan orang yang berjalan-jalan. Anak-anak tampak berlarian main kejar-kejaran. Sekelompok orang tampak duduk mengelilingi sepasang lelaki bermain catur diterangi lampu petromaks. Di tempat lain, sekelompok remaja bernyanyi-nyanyi diiringi gitar. Berpasang-pasang kekasih tampak juga berjalan-jalan seperti halnya Kino dan Alma. Sekali-kali mereka berpapasan dengan orang yang dikenal, saling bertegur sapa, atau sejenak berhenti untuk bercakap berbasa-basi.Alma dan Kino lebih banyak diam sambil berjalan. Masing-masing tenggelam dalam lamunan, terutama tentang telah tibanya saat perpisahan. Masing-masing mencoba mencari apa saja kah makna perpisahan itu? Tetapi mereka berdua hanya menemukan satu: perpisahan itu menyakitkan. Memedihkan. Membuatmu tak berdaya.Alma menggamit tekan kekasihnya, meremas pelan, lalu bertanya memecah keheningan, "Apakah kamu mencintai ku?""Ya," jawab Kino pendek. Sial! Mengapa pendek sekali jawaban itu? umpat Kino dalam hati. Tetapi, lalu seberapa panjang kah seharusnya? Satu kalimat? Dua kalimat? Satu halaman surat? Seberapa kah?"Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya?" tanya Alma lagi."Kenapa?" malah Kino balik bertanya."Aku yang bertanya duluan. Kamu, koq, malah bertanya kembali," sergah Alma."Ya. Aku juga bertanya sendiri, kenapa aku tak pernah mengatakannya,""Lalu, apa jawabnya?" desak Alma."Aku tak tahu. Tetapi kenapa itu jadi persoalan, Alma? Aku memang tak pernah mengucapkannya. Aku tak bisa. Tak pandai," jawab Kino agak kesal.Alma menghentikan langkah. Kino terpaksa juga ikut berhenti. Mereka telah berada agak jauh dari keramaian. Suara ombak berdebur keras. Semakin terdengar keras di tengah keheningan.Alma memegang kedua tangan Kino, menghadapnya dengan muka tengadah, memandang dengan mata beningnya. Sebagian rambut menutupi mukanya, melintang di hidungnya yang bangir, di bibirnya yang ranum, di pipi berlesung-pipitnya. Ah, Kino melihat kecantikan semata di tengah samar-samar malam. Melihat sinar kerinduan di mata itu, bagai bintang-bintang berpijar lembut. Melihat seraut wajah tempat ia melabuhkan impian-impiannya. Mengapa semuanya tampak begitu mengesankan saat engkau harus berpisah?Alma terpejam merasakan nafas kekasihnya dekat sekali menerpa wajahnya. Bibir Kino perlahan menyentuh bibirnya. Kedua tangan mereka saling meremas. Angin keras mengibarkan jaket-jaket mereka. Ciuman kali ini terasa sangat lembut, selembut awan putih di langit biru. Sangat hangat, sehangat mentari di pagi yang cerah. Mesra dan manja mengalunkan kerinduan. Alma membuka mulutnya, mengundang kekasihnya datang merasuki seluruh jiwa-raganya. Datang lah kekasih, reguk habis rinduku, bawa daku terbang setinggi mungkin.Keduanya berdiri rapat. Kino mengulum mesra bibir kekasihnya, menghirup harum-sedap nafasnya, menggigit manja lidahnya yang nakal. Alma membuka sedikit matanya, memandang wajah Kino yang dekat sekali di depannya. Sebentar lagi ia akan pergi jauh, gumam Alma dalam hati. Sebentar lagi wajah itu hanya akan ada di dompet ku, menjadi sebuah potret kekasih yang mungkin juga akan segera lusuh karena terlalu sering disentuh. Sambil membalas ciuman kekasihnya, diam-diam Alma merekam wajah itu sedetil mungkin. Mematrinya di benak. Ah, Kino ..... dahinya yang selalu serius. Matanya yang tajam-tegas. Tulang pipinya yang mengguratkan ketakmenyerahan. Hidungnya yang menggemaskan (aku senang sekali mencubit hidung itu!). Bibirnya yang selalu bergairah. Selalu!Kino melepaskan ciumannya, membuka mata dan menemukan sepasang mata kekasihnya memandang mesra. Ia berbisik, "Alma, aku ingin bercumbu malam ini. Mari kita pergi dari sini..."Alma tertawa pelan, "Kemana kamu hendak membawa ku?" tanyanya sambil memeluk leher Kino.Kino melihat sekeliling. Pantai tampak sepi, tetapi juga terlalu menakutkan di tengah malam seperti ini. Tidak di sini. Kino memutuskan untuk mengajak Alma ke sebuah tempat yang selama ini menjadi "persembunyian" mereka: sebuah pondok di tengah kebun kopi. Tetapi lokasinya ada di sisi lain dari kota, sehingga untuk ke sana mereka perlu berjalan cepat."Ke sana?" Alma bertanya ketika melihat Kino diam saja. Ah, gadis ini memang bisa membaca pikiran ku, ucap Kino dalam hati."Ayo, kita ke sana...," kata Kino bergairah, menggulung kaki celananya dan menarik tangan Alma untuk meninggalkan pantai. Alma tertawa kecil, mengikuti tarikan tangan ke kasihnya. Sebentar kemudian mereka telah berlari-lari menyebrang jalan, menelusuri alun-alun menuju tengah kota. Lalu, di depan kantor camat mereka berbelok, melintasi persawahan, berjalan beriringan sambil sekali-sekali bercanda. Malam semakin larut.... "Waahhh... melamun lagi!" Paman Tingga telah naik kembali ke mobil. Kino terperanjat dan tersipu lagi. Sialan! Lamunannya terpotong di tengah jalan."Nih,... makan kacang goreng supaya tidak terlalu banyak melamun," ujar Paman Tingga sambil menyodorkan sebungkus kacang. Kino mengucapkan terimakasih dan mulai memasukkan beberapa butir ke mulutnya.Paman Tingga lalu mengajak mengobrol, bertanya-tanya tentang sekolah Kino. Terpaksa lah Kino menimpalinya, menjawab semua pertanyaannya dengan lengkap. Paman Tingga lalu juga bercerita tentang dirinya dan anak-anaknya yang masih kecil. Tentang kota M yang katanya tumbuh pesat karena menjadi pusat perdagangan bagi kota-kota kecil sekitarnya. Paman Tingga ini seorang pedagang yang konon sedang naik daun. Ia sering mundar-mandir ke ibukota mengurus bisnisnya. Kino senang juga mendengar ulasannya tentang lika-liku bisnis, walaupun dunia itu sangat asing baginya.Tetapi ketika mobil mulai bergerak, Paman Tingga berhenti bercerita. Bahkan tak lama kemudian ia terlihat terkantuk-kantuk. Baru 10 menit mobil melaju, Paman Tingga telah menyandarkan kepalanya di jok dan tertidur nyenyak. Kino masih mengunyah kacang, memandang ke luar jendela, melihat betapa kotanya dengan cepat tertinggal di belakang.Tanpa sadar, ia melamunkan lagi peristiwa semalam .....****** Pondok itu tetap sepi dan tetap bagai magnit, menarik kedua remaja itu untuk datang berkunjung, walau setiap kali pula mereka ingin menghindar. Mungkin juga bagai lampu yang menarik laron-laron terbang mendekat. Kalau terlalu dekat, pastilah mereka akan hangus terbakar, bukan? Tetapi bagaimana jika laron-laron itu sudah terbakar api asmara sebelum menghampiri sang lampu?Alma dan Kino mengendap-endap mendekat, sambil melihat sekeliling, kalau-kalau ada orang melintas. Tampaknya tidak ada seorang pun di sekitar. Kino menggenggam erat tangan kekasihnya, perlahan-lahan mendekati pondok. Serangga malam menghentikan musik mereka setiap kali sepasang remaja ini melangkah. Tetapi setelah mereka berlalu, serangga itu kembali ramai memperdengarkan musik mereka.Kino langsung mengajak Alma masuk. Pondok itu tentu saja gelap gulita. Setelah beberapa saat, barulah mata mereka bisa menyesuaikan diri, bisa melihat ruang kosong dengan dipan kayu itu. Kino segera duduk, dan Alma segera naik ke pangkuannya. Mereka langsung berciuman, tanpa bertukar kata lagi. Nafas Alma sudah memburu sejak tadi, bukan hanya karena harus berjalan cepat dan setengah berlari, tetapi juga karena ia memang selalu bergairah jika berduaan dengan Kino.Ciuman mereka tak lagi lembut-mesra seperti ketika di pantai tadi, melainkan bergelora, saling pagut dan saling mengulum. Nafas mereka berdua berdesahan, saling menyerobot seperti hendak saling mengalahkan. Kedua pasang bibir mereka saling menekan memilin, bergantian menghisap-hisap. Kedua lidah mereka bergelut bergelung seperti dua naga kecil yang bermain-main di taman basah dan hangat yang adalah mulut mereka. Berkali-kali Alma seperti tersedak, tak tahan diperlakukan begitu bergairah oleh kekasihnya. Tetapi berkali-kali pula ia kembali mengulum bibir pemuda itu, membiarkan lidahnya bermain semakin jauh ke dalam mulutnya, menyentuh langit-langitnya, menimbulkan rasa geli dan hangat.Seperti biasanya, Alma hanya memakai kaos tebal dan jaket, tanpa beha. Dengan leluasa, tangan Kino segera menelusup menelusuri bukit-bukit indah di balik kaos itu. Bukit-bukit yang naik turun, membusung penuh, kenyal-padat, hangat. Tangan Kino langsung gemas meremas, memijat, menekan. Jari-jarinya bermain ringan di atas kedua puting yang telah menegang tegak. Alma pun mengerang merintih merasakan kedua budah dadanya bagai dipenuhi uap panas, bergulung-gulung seakan badai yang sedang melanda bumi. Sambil memeluk leher Kino, gadis itu membusungkan dadanya, memajukan seluruh tubuhnya, menghenyakkan kedua payudaranya di tangan kekasihnya. Ia ingin diremas lebih keras lagi, lebih bergairah lagi.Mulut Kino meninggalkan mulut Alma, kini menciumi lehernya yang jenjang. Menciumi kulit mulus-lembut nan harum di bawah telinganya. Menggigit cuping telinga itu, membuat Alma terkejut, tetapi juga sangat senang. Apalagi kemudian Kino menggigit pula lehernya, pelan-pelan saja. Oh, geli sekaligus nikmat rasanya diperlakukan seperti itu. Seperti disengat-sengat bara kenikmatan yang membangkitkan api birahi semakin besar.Alma memajukan duduknya, mengangkat sedikit tubuhnya, sehingga mulut Kino kini semakin turun. Cepat-cepat Alma mengangkat kedua tangannya, membiarkan Kino menaikkan kaosnya. Segera dua payudara gadis yang kenyal-padat itu terpampang, indah sekali dalam keremangan malam, putih bersih bagai bersinar. Hmmm,... Kino menenggelamkan wajahnya di lembah harum di antara dua bukit indah itu. Hmmm ..., tubuh Alma selalu penuh keharuman sabun wangi, dan juga bedak yang biasa dipakai bayi. Hmmm ...., sungguh menggairahkan rasanya menciumi dada ranum yang agak basah oleh keringat itu. Dengan gemas, digigitnya sedikit daging di pangkal salah satu payudara itu. Alma mengerang. Alma merintih."Uuuh ....," Alma merintih ketika mulut Kino naik dan mengulum puting sebelah kiri. Tubuh gadis itu menggelinjang ke kiri."Aaaah ....," Alma mengerang ketika Kino meremas payudara sebelah kanan. Tubuh gadis itu bergeser ke kanan.Begitulah terus. Ke kiri. Ke kanan. Ke kiri ke kanan. Gerakan-gerakan Alma menimbulkan gesekan nikmat di bawah sana, di tempat selangkangannya yang terhenyak rapat di pangkuan Kino. Ada cairan bening tipis mengalir pelan dari dalam tubuhnya, membasahi celana dalamnya. Ada rasa hangat turun bersama aliran itu. Ada rasa geli-nikmat yang merayap perlahan ke seluruh penjuru tubuh.Dengan satu tangannya yang masih bebas, Kino menyingkap rok Alma lebih ke atas, sehingga antara dia dan gadis itu kini hanya ada seutas kain nilon tipis yang telah basah di sana-sini. Setelah itu, tangan Kino masuk menelusup dari belakang. Alma mengerang merasakan tangan itu membawa kehangatan ke bagian belakang tubuhnya yang penuh-padat itu. Alma merintih ketika Kino meremas-remas bagian itu, seakan-akan sedang memeras buah hendak mengambil airnya. Gadis itu semakin memajukan duduknya, semakin rapat menempelkan bagian bawah tubuhnya ke pangkuan Kino. Malam terasa semakin panas. Keringat muncul di beberapa bagian tubuh keduanya; di ketiak, di punggung, di tengkuk.Lalu celana dalam Alma terlepas sudah, entah oleh tangan Kino atau oleh tangannya sendiri. Tidak jelas lagi, siapa melakukan apa dalam pergumulan bergairah yang tak terkendal ini. Kedua tangan Kino kini ada di bawah. Yang satu meremas-remas di belakang, yang lain menelusup ke depan. Alma mengangkat tubuhnya, tidak lagi duduk di pangkuan Kino, memberikan kebebasan dan keleluasaan kepada kedua tangan pemuda itu. Kino pun segera memanfaatkan keleluasaan itu. Jari-jarinya mengusap-menelusupi kewanitaan Alma yang terasa panas membara. Gadis itu menggelinjang hebat ketika merasakan ujung jari Kino menyentuh-nyentuh bagian-bagian yang sangat sensitif di bawah sana. Rasanya, bagian-bagian itu telah berubah seluruhnya menjadi ujung saraf belaka, tidak dilapisi apa-apa. Sehingga setiap sentuhan, seberapa pun ringannya, sanggup mengirimkan sentakan-sentakan kenikmatan ke seluruh tubuh.Lalu celana panjang Kino juga telah terbuka. Sekali lagi, entah siapa yang melakukannya. Mungkin Kino, mungkin Alma, mungkin keduanya. Kejantanan Kino tahu-tahu juga sudah di luar, tegak berdenyut. Alma meraihnya dengan gemas, tersentak merasakan betapa panasnya otot-kenyal yang menggairahkan itu. Kino mengerang ketika merasakan tangan halus lembut meremasnya di bagian yang sangat sensitif, di ujung yang telah sedikit basah pula. Lalu tangan Alma menuntun kejantanan Kino ke depan kewanitaannya. Oh, Alma menggosok-gosok kewanitaannya dengan otot-kenyal padat panas itu. Oh, rasanya nikmat sekali bagi keduanya. Menggelitik-gelitik, menimbulkan geli nikmat di mana-mana.Dengan kedua tangannya yang kokoh, Kino kini menopang tubuh Alma. Kedua telapak tangannya menjadi tumpuan dari pantat gadis itu, sementara dengan tangannya Alma terus menggosok-gosokkan kejantanan Kino. Pelan-pelan, kewanitaannya terasa semakin menguak, semakin membuka. Apalagi cengkraman tangan Kino juga ikut merentangkan bagian bawah itu, membuatnya semakin terbuka. Kejantanan yang kenyal-tegang itu kini menelusuri permukaan kewanitaan Alma, menimbulkan rasa geli yang sangat nikmat. Membuat liangnya semakin basah dan licin. Berdenyut-denyut pula.Sesekali, ujung kejantanan Kino menelusup sedikit ke dalam. Oh,... Alma terpejam merasakan tusukan-tusukan kecil menyeruak ke dalam tubuhnya. Ahhh ..., Kino juga terpejam merasakan ujung-ujung sarafnya seperti dibelai-belai mesra. Betapa hangat, basah dan licin permukaan liang kewanitaan itu. Betapa halus, bagai sutra. Alma mengerang-merintih, terus memainkan otot-kenyal di tangannya, menggosok ke depan ke belakang, memutar-mutar.Lalu pelan-pelan Kino menurunkan tubuh Alma, ..... cuma sedikit saja, mungkin cuma tiga senti. Tetapi itu sudah cukup membuat Alma tersentak, mengerang "Aaah...", merasakan sebuah benda tumpul hangat menyeruak ke dalam tubuhnya. Rasanya sedikit pedih, tetapi juga geli dan nikmat. Bercampur baur. Mengejutkan."Jangan, Kino....," desah Alma sambil berusaha mengangkat tubuhnya. Tetapi entah kenapa, ia tak sanggup melakukan hal itu. Rasa nikmat di bawah sana menahannya untuk bergerak. Maka akhirnya ia cuma menggeliat-geliat.Kino mengerang pelan. Oh,.. hangat sekali di dalam sana. Ia merasakan ujung kejantanannya dibalut entah oleh apa. Terasa sempit tetapi juga licin, mencekal erat tetapi juga berdenyut-denyut. Dengan kedua tangannya, Kino mempertahankan posisi tubuh Alma yang kini bagai mengambang: antara atas dan bawah, antara kenikmatan dan kekhawatiran.Alma merasakan nikmat luar biasa datang dari liang kewanitaannya yang kini bagai tersumbat sebentuk otot-kenyal. Tak sadar, ia menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan, menyebabkan si sumbat menyeruak dinding-dinding bagian dalam kewanitaannya, menimbulkan kenikmatan tambahan. Kino tetap menahan tubuh Alma agar tidak melesak lebih ke bawah. Diam-diam ia khawatir akan apa yang mereka lakukan. Ia takut jika seluruh kejantanannya masuk dan merusak sesuatu di dalam sana, walau ia sendiri tak tahu, ada apa di dalam sana."Aaaaaah!", tiba-tiba Alma mengerang. Orgasmenya datang bagai banjir bandang. Kedua kakinya mengejang, dan ia ingin merapatkan pahanya, menjepit kejantanan Kino untuk menimbulkan kenikmatan yang lebih lagi. Tetapi tangan pemuda itu sangat kokoh mencengkram tubuhnya, sehingga akhirnya Alma hanya menyerah saja. Membiarkan tubuhnya berguncang-guncang ketika ia mencapai klimaks yang sedap itu. Kedua tangan Alma mencengkram bahu Kino. Tubuhnya meregang. Matanya terpejam erat, mulutnya setengah terbuka, mengeluarkan keluh berkepanjangan, "Nggggggg....".Bersamaan dengan itu, Kino merasakan ujung kejantanannya bagai dipilin-diremas oleh daging kenyal hangat yang bergerak-gerak liar. Sekuat tenaga ditopangnya tubuh Alma yang sedang bergetar hebat. Keringat Kino membasahi badannya, karena tubuh gadis itu tidaklah ringan. Apalagi kalau sedang meregang-mengejang seperti ini.Lalu, Kino merasakan klimaksnya datang, ketika Alma masih mengerang-merintih dengan kedua tangan mencengkram bahunya. Cepat-cepat Kino mengangkat tubuh gadis itu, walaupun Alma terdengar memprotes. Ia masih cukup waras untuk tidak menumpahkan cairan cintanya di dalam. Dengan satu gerakan, ia menggeser duduknya. Kejantanannya lepas dari cengkraman permukaan liang yang sebetulnya sangat menjanjikan kenikmatan itu.Alma pun akhirnya sadar apa yang dihindari Kino. Gadis itu cepat-cepat menggeser ke arah berlawanan. Ia melihat ke bawah, ke arah otot-kenyal yang masih tegak dan seperti bergerak-gerak menggeliat. Oh,.. cepat-cepat diraihnya bagian tubuh Kino yang tadi memberikan kenikmatan di tubuhnya itu. Cepat-cepat ia meremas, ingin berpartisipasi dalam pencapaian klimaksnya."Aaaaah!" Kino mengerang panjang, merasakan tubuhnya bagai disentak-sentak ketika cairan-cairan cinta memancar kuat dari kejantanannya. Tangan Alma yang halus terasa menambah nikmat pancaran itu, sekaligus menampung cairan-cairan kental panas yang berebut keluar. Alma terduduk di samping Kino, dengan tangan tetap mencengkram, merasakan getaran-gejolak klimaks kekasihnya. Kino berkali-kali mengerang, dengan tubuh meregang dan kedua tangan bertelektekan di dipan. Alma merasakan otot-kenyal berdenyut-denyut dalam genggamannya. Menakjubkan sekali!Betapa kuatnya klimaks Kino kali ini, menyebabkan tubuhnya seperti dioyak-oyak, tulang-tulangnya seperti lepas, ototnya seperti meledak. Ia menghempaskan tubuhnya di dipan, diikuti Alma yang berbaring di sebelahnya. Keduanya masih telanjang di bagian bawah, terengah-engah seperti habis berlari sepanjang hari. Tangan Alma tetap menggenggam di bawah sana, senang bisa menampung tumpahan cinta kekasihnya. Hangat dan licin rasanya.******Lamunan Kino buyar ketika mobil yang ditumpanginya membelok tajam, menyebabkan tubuh Paman Tingga membentur tubuhnya. Lelaki setengah baya itu tetap tertidur, cuma menggumam tak jelas, lalu kembali menegakkan tubuhnya di sandaran kursi. Kino menghela nafas panjang. Kota kelahirannya semakin jauh tertinggal. Mobil melesat laju di jalan raya antarkota. Di kiri-kanan jalan, sawah luas terbentang, menghijau bagai hamparan karpet . Langit tampak biru dibercaki awan putih. Puluhan burung bangau tampak terbang ke arah selatan.Kino tiba di kota M menjelang sore. Rumah Paman Tingga cukup besar dan Kino mendapat kamar di belakang, dekat dapur dan gudang. Setelah beristirahat sebentar, Paman Tingga mengajak Kino membicarakan agenda mereka untuk dua bulan mendatang. Mendengar kata dua bulan, Kino mengeluh dalam hati. Lama sekali rasanya dua bulan itu.Lalu, keesokan harinya Kino diantar Paman Tingga ke tempat kursus yang telah ramai oleh pemuda sebayanya. Ruang belajar tampak jauh lebih besar dari kelas di sekolah di kota kelahirannya. Teman-teman barunya juga jauh lebih banyak, dan jauh lebih banyak tingkah. Sebagian dari mereka bahkan sudah bertingkah seperti layaknya remaja kota besar, memakai kaca mata hitam segala. Kino tersenyum simpul melihat salah seorang dari mereka memakai kacamata secara terbalik. Pastilah itu kacamata pinjaman!Demikianlah, hari-hari berikutnya Kino sibuk mengikuti kursus di kota M dan mulai bisa melupakan hal-hal lain. Konsentrasinya penuh ke pelajaran, dan hanya sekali-sekali ia teringat akan Alma dan kota kelahirannya. Hari-hari pun terasa semakin cepat berlalu.Continue...
Selamat Tinggal, Alma! Waktu dan hari berlalu begitu cepatnya. Kalender di dinding kamar Kino, di rumah Paman Tingga, begitu cepat dipenuhi tanda silang yang menandai bergulirnya hari ke minggu, minggu ke bulan. Dua bulan terasa seperti dua minggu. Ayah dan ibunya datang ke M minggu lalu bersama Susi yang sudah kangen kepada kakaknya. Ketiganya merasa bersyukur melihat Kino dalam keadaan sehat, dan bahkan bertambah gemuk. Berkali-kali Ayahanda mengucapkan terimakasih kepada suami-istri Tingga yang sangat baik itu. Ibunda menyerahkan oleh-oleh hasil bumi (setandan pisang mas, sebutir besar nangka setengah matang, sekarung jagung) sambil memuji-muji Bibi Tingga yang pandai menjaga kesehatan Kino. Susi memeluk kaki abangnya penuh kerinduan. Suasana menjadi semarak sekali.Mereka berbicara panjang lebar sepanjang siang: ayah-ibu, suami-istri Tingga, dan Kino. Hanya Susi yang kelihatannya tidak menikmati hari itu, karena sebenarnya ia ingin segera bermain-main dengan abangnya. Lalu, mereka makan siang bersama, menikmati ikan gurame dari empang sendiri yang sudah digoreng Ibunda. Sedap sekali, apalagi dengan sambal terasi buatan Bibi Tingga yang terkenal lezat itu.Seusai makan, sementara ayah-ibu terus berbincang dengan suami-istri Tingga, Kino membawa adiknya berjalan-jalan. Senang sekali Susi menggandeng kembali tangan abangnya. Mulutnya ramai berceloteh tentang betapa sepinya rumah tanpa Kino. Juga tentang dua ekor ayamnya yang mati dimakan musang. Juga tentang sungai yang tidak lagi ramai oleh anak-anak dan remaja: mereka semua sedang sibuk menyiapkan diri menempuh seleksi perguruan tinggi. Ah, begitu bersemangatnya penduduk kota ku untuk menjadi lebih berpendidikan, ucap Kino dalam hati. Semua keluarga berbicara tentang bagaimana mengirim anak-anak mereka ke kota besar untuk bersekolah. Kino tahu, pada umumnya penduduk kota kelahirannya itu adalah petani yang cukup berhasil, dan sebagian besar tak ingin anaknya terus tinggal di kota kecil. Bagus sekali pandangan seperti itu, bukan? Tetapi kadang-kadang Kino juga berpikir: kalau semua orang pergi ke kota besar, siapa yang akan tinggal menjadi petani?"Oh, ya!!" tiba-tiba Susi berseru sambil merogoh kantong bajunya, lalu menyerahkan sebuah amplop merah-muda, "Hampir Susi lupa,... ini ada surat dari Mba Alma!"Sejenak jantung Kino berdegup lebih kencang ketika menerima amplop itu. Sejak tiba di M, hampir tak pernah sempat ia menulis surat. Setiap hari ia belajar dan belajar saja. Pagi hari ke tempat kursus sampai tengah hari, lalu pulang untuk makan siang. Setelah itu pergi lagi ke tempat kursus untuk duduk di ruang baca, membaca apa saja yang ada di sana. Tempat kursus itu sangat modern dibandingkan sekolah Kino, memakai kipas angin segala. Kino betah berlama-lama di sana, dan selalu pulang ketika hari menjelang senja.Lain halnya dengan Alma. Setiap minggu pasti menulis surat, bahkan pernah dua kali dalam seminggu. Di laci meja Kino kini ada sepuluh suratnya, panjang lebar dan selalu penuh kerinduan. Kino baru sempat menulis balasan dua kali. Yang terakhir baru saja dikirimnya seminggu yang lalu.Kino mengajak Susi mampir di sebuah restoran untuk membeli es-krim. Gadis kecil itu melonjak-lonjak gembira. Di kotanya, tidak ada es-krim seperti di M. Kalau pun ada, harganya jarang terjangkau uang sakunya. Di kota M ini, es-krim nya lezat dan lembut. Porsinya pun besar. Susi memilih rasa coklat dan pisang. Kino memesan minuman ringan, lalu mulai membaca surat Alma.Tidak seperti biasanya, surat Alma kali ini cukup pendek (walaupun masih lebih dari dua halaman). Dibuka dengan kata-kata penuh kerinduan (yang sebagiannya sudah dihapal Kino!), surat itu menceritakan rencana Alma pergi ke ibukota untuk ikut seleksi masuk perguruan tinggi. Orangtua Alma sangat mengharapkan gadis itu masuk ke jurusan kedokteran dan mendesaknya agar segera pergi ke ibukota agar persiapannya lebih matang. Menjelang akhir dari suratnya, cukup jelas terbaca betapa Alma gundah membayangkan perpisahan dengan Kino. Bagaimana kita bisa bertemu lagi sebelum aku ke ibukota? Begitu Alma bertanya berkali-kali. Apakah Kino akan pulang dalam waktu dekat ini? Kapan? Bisakah Kino memberi kabar secepatnya, barangkali dengan telepon interlokal? (dan itu berarti harus pergi ke kantor telepon).Kino menghela nafas panjang. Susi melirik sambil terus menyantap es-krimnya. Gadis kecil ini tahu, abangnya sedang risau. Ia juga tahu, abangnya tidak ingin diganggu. Ketika akhirnya Kino mengajak Susi kembali ke rumah Paman Tingga, gadis kecil ini mengurangi celotehnya. Tetapi tangannya menggandeng tangan Kino lebih erat. Ia merasa, abangnya memerlukan bantuan walaupun cuma dari anak kecil. Tetapi, tentu saja Susi tak pernah tahu, bantuan seperti apakah yang dibutuhkan Kino saat itu. Cuma naluri persaudaraannya saja yang bicara, sementara akalnya belum lagi bisa sampai ke persoalan-persoalan remaja yang amat pelik itu.******Sebelum kembali ke kotanya, kedua orang tua Kino sepakat dengan Paman Tingga untuk mengirim pemuda itu langsung ke kota B, tempat institut teknologi yang dicita-citakan. Mereka setuju, kalau Kino bisa tiba di B jauh-jauh hari sebelum masa ujian seleksi, tentu akan lebih baik bagi persiapan mental."Bolehkah saya pulang dulu, Ayah?" tanya Kino ketika berkesempatan berbicara berdua.Ayahnya tersenyum. Lelaki setengah baya ini tahu, kenapa anaknya ingin pulang dahulu. Ia sudah mendengar dari Susi dan dari istrinya, ada seorang gadis yang menjadi pacar Kino. Ia sendiri tak keberatan, karena ia mengenal keluarga gadis itu."Boleh. Tetapi selesaikan dahulu kursusmu. Masih dua minggu lagi. bukan?" kata Ayahnda.Kino berpikir cepat. Kalau ia harus pulang dua minggu lagi, mungkin Alma sudah pergi ke ibukota. Maka segera ia berujar, "Bolehkah pulang Sabtu depan?""Kenapa harus Sabtu depan?" tanya Ayah."Aku...," Kino menelan ludah, "Aku ingin bertemu Alma sebelum ke B..""Ayah tahu," ucap Ayah tertawa kecil, "Tetapi, kenapa harus Sabtu depan?""Alma akan pergi ke ibukota...., aku ingin bertemu sebelum ia pergi," kata Kino sambil berdoa dalam hati agar ayahnya tidak bertanya lebih lanjut."Ooo... begitu," ucap Ayah sambil mengangguk-angguk."Jadi? Bolehkah aku pulang Sabtu depan?" sergah Kino, tidak sabar melihat ayahnya cuma mengangguk-angguk.Ayah tertawa kecil lagi, lalu menepuk kepala Kino dengan sayang sambil berkata, "Tanyakan ke ibumu. Kalau dia setuju, ayah juga setuju."Kino bersorak dalam hati. Mana mungkin ibu tidak setuju! Wanita bermata lembut itu tidak akan pernah menolak permintaan Kino untuk pulang!******Sabtu pagi itu langit cerah, tetapi angin bertiup agak kencang dan basah menjanjikan hujan. Pohon-pohon bagai para penari, meliuk-liuk. Seakan mereka sedang menyiapkan tarian penyambutan bagi sang hujan. Kino tiba di kota kelahirannya pukul delapan pagi, saat pasar sayur masih sibuk menerima pasokan barang dagangan. Beberapa truk pengangkut sayur-mayur masih parkir di halaman pasar, di seberang terminal antar kota tempat Kino turun. Buruh-buruh masih sibuk menurunkan karung dan keranjang besar yang tampak sangat berat itu. Bau sayur dan buah segar bercampur sampah basah memenuhi udara.Kino bergegas turun dari bis yang ditumpanginya. Kepalanya penuh rencana, yang semuanya berpusat pada perjumpaan dengan Alma. Ia akan segera menuju rumah gadis itu setelah menemui kedua orangtuanya. Ia sudah menelpon Alma dari kantor telepon di kota M, mengabarkan kedatangannya hari ini. Alma terdengar gugup di telepon. Ah, tak sabar rasanya Kino ingin bertemu gadis itu! Cepat-cepat ia melangkah keluar dari terminal, setengah berlari, membelok menuju pusat kota.Tetapi baru saja Kino membelok, ia tersentak. Langkahnya terhenti. Di depannya, Alma berdiri dengan rambut berkibaran. Sebuah tas kecil tergantung ringan di bahunya. Kedua tangan bersidekap memeluk dadanya."Alma! Sedang apa kau di sini?""Menunggu kamu," sahut gadis itu. Mukanya cerah, senyumnya lebar, sebagian rambut menutupi muka.Dengan kedua tangan, Kino memegang bahu gadis itu. Mencengkramnya agak keras, membuat Alma meringis. Kino tidak berani memeluknya di tengah keramaian terminal, walaupun ia ingin sekali. Sangat ingin!"Hari masih pagi sekali! Apakah kamu di sini sejak fajar?" tanya Kino sambil menyingkirkan sedikit rambut dari kening Alma. Gadis itu tertawa kecil sambil menggeleng, tentu saja ia di sini sejak tadi. Tetapi tidak sejak fajar yang sudah berlalu 4 jam silam!"Hayo, kita pulang dulu. Aku perlu menaruh tas dan bertemu orangtuaku. Kau juga bisa ikut!" seru Kino sambil merengkuh tangan Alma dan menariknya pergi meninggalkan terminal. Alma membiarkan dirinya ditarik, tetapi ia lalu berkata,"Kenapa harus langsung ke rumah?"Langkah Kino terhenti lagi. Ia memutar tubuh, menghadap Alma. "Apa maksudmu?" tanyanya.Alma melirik ke arah tas Kino, berucap, "Tas mu tidak terlalu besar. Kenapa harus ditaruh di rumah?"Kino memandang tangan yang memegang tas. "Ya, memang tidak besar...", ucapannya tak selesai. Ia merasa Alma hendak mengatakan sesuatu."Aku harus berangkat sore ini," ucap Alma pelan."Hah? Berangkat kemana?" sergah Kino, sungguh kaget karena gadis itu tak pernah bicara tentang hari keberangkatan. Mengapa begitu tiba-tiba?Alma tersenyum melihat kekasihnya terperanjat dengan wajah bagai orang bego. Tetapi senyum itu sungguhlah sendu, karena kedua matanya agak basah, menerawangkan sinar kesedihan. Kino tiba-tiba sadar, Alma akan berangkat dengan bis malam ke kota S, lalu dari sana akan naik kereta api ke ibukota. Tentu saja, bis malam itu akan berangkat pukul 5 dari terminal ini!"Kalau begitu, kita cuma punya waktu setengah hari ini untuk berjumpa....," bisik Kino, nyaris tak terdengar ditelan hiruk pikuk pasar di seberang.Alma mengangguk, masih memandang lekat kekasihnya dengan matanya yang lembut-sendu. Ia sungguh ingin memeluk pemuda itu, membenamkan muka ke dadanya yang bidang. Menangis di sana sepuasnya."Kau bilang apa kepada orangtuamu pagi ini?" tanya Kino. Ia kini punya rencana baru."Aku bilang ingin pergi berjalan-jalan dengan kamu, dan semua pakaian sudah kumasukkan ke tas. Tinggal berangkat saja, nanti sore. Mereka pun sudah tahu aku ke terminal menunggumu," jawab Alma."Kalau begitu, ayolah berjalan-jalan!" ucap Kino cepat. Ia tidak ingin pulang dan menghabiskan waktu. Semua rencananya harus segera diganti."Kemana?" tanya Alma, walaupun ia tak peduli ke mana. Ke bulan pun ia akan ikut.Kino menyebut sebuah kota tempat peristirahatan, tak begitu jauh ke arah selatan. Direngkuhnya tangan Alma, berbelok kembali ke terminal. Mereka harus naik mini bus ke kota itu. Beriringan mereka masuk ke terminal, lalu naik mini bus yang masih menunggu penumpang. Kursi di depan, di sebelah supir, masih kosong. Di situ mereka duduk berdampingan dengan kedua tangan saling menggenggam.Ketika bus akhirnya berjalan, Alma menceritakan alasan kenapa ia harus segera berangkat sore ini. Ayahnya tiba-tiba harus bertugas ke S, sehingga ia memutuskan untuk mengajak serta Alma, sekalian mengantarnya ke ibukota setelah urusan di S selesai.******Kota peristirahatan itu terletak dekat puncak sebuah gunung, terkenal karena pemandangannya yang indah dan pemandian air panasnya yang mengandung belerang. Konon bagus untuk menyembuhkan sakit kulit. Ke kota ini banyak berkunjung turis domestik maupun internasional. Sebuah taman alamiah terdapat di sana, dilengkapi air terjun cukup tinggi dan sebuah danau bening yang cukup luas.Kino dan Alma pernah mendaki gunung ini, maka setelah menitipkan tas di tempat penitipan barang dan membekali diri dengan sedikit makanan-minuman, mereka menuju puncak yang bisa dicapai kurang dari setengah jam berjalan kaki. Untunglah keduanya memakai sepatu olahraga dan membawa jaket hangat yang waterproof.Puncak gunung sangat sepi ketika mereka tiba. Matahari belum lagi tinggi, udara masih sangat dingin. Mereka duduk di dekat sebuah batu besar dan langsung bercumbu. Keduanya telah dilanda kerinduan sejak pertemuan di terminal. Alma sudah tak sabar ingin dipeluk-dilumat-diremas. Sebuah gelegak yang amat kuat telah terhimpun di tubuh kedua remaja ini, sama seperti gelora kawah gunung yang masih aktif di hadapan mereka.Percumbuan kali agak berbeda. Ciuman-pagutan terasa bagai sebuah campuran antara kerinduan birahi dan kesenduan perpisahan. Alma terpejam, merasakan air hangat hampir tumpah dari kelopak matanya, sementara bibirnya sibuk mengulum bibir Kino, bagai tak ingin melepaskannya. Kino pun merasakan getar yang berlainan, tidak melulu birahi melainkan juga kehangatan kasih. Jauh di dalam lubuk hati keduanya juga timbul sebentuk kekhawatiran terhadap perpisahan yang kini telah di ambang mata.Kedua tangan Kino memang meremas-gemas payudara Alma yang langsung mengeras itu. Tetapi kini tidak hanya kenikmatan yang datang dari remasan itu, melainkan juga kecemasan akan masa panjang yang memisahkan mereka. Mereka berdua akan segera kehilangan kontak badan yang selama ini menjadi bumbu bagi jalinan batin dan cinta. Apakah ketiadaan-kontak itu akan melunturkan kasih? Apakah birahi fisik demikian mereka perlukan untuk melanjutkan percintaan? Sungguh pertanyaan yang sulit!Alma, seperti biasa, menikmati duduk dipangkuan Kino, membiarkan kedua payudaranya dipermainkan. Rasa nikmat, seperti biasa, telah menjalar keseluruh tubuhnya, membuatnya mengerang. Tetapi, tidak itu saja yang ia rasakan. Ia juga merasakan betapa tangan-tangan kekasihnya memancarkan getar yang berbeda. Ada kegetiran di setiap remasannya, semacam pernyataan tak rela. Seakan Kino tak ingin melepaskan tangan dari tubuhnya. Apakah pemuda ini akan melupakannya, jika ia tidak lagi bisa meremas-remas dadaku? pikir Alma di tengah gelimang nikmat yang memenuhi benaknya. Apakah aku akan kehilangan tangan-tangan yang bergelora itu, dan lalu akan melupakannya?Bibir Kino menjalari leher kekasihnya. Harum khas Alma memenuhi rongga hidung Kino. Ah, senang sekali menghirup aroma tubuh gadis yang segar itu! Betapa Kino akan kehilangan keharuman-kesedapan wangi Alma yang alamiah. Betapa ia akan merindukan harum lembut pengikat jiwa itu. Bagaimana kah nanti rasanya, tidak bisa lagi mencium leher jenjang yang halus ini? tanya Kino dalam hati. Rasa kehilangan seperti apakah yang akan dialaminya?Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kedua kepala dan hati remaja itu, sehingga perlahan percumbuan mereka menghambar. Perlahan-lahan birahi mereka padam, seperti perapian yang kehabisan bahan bakar. Alma bahkan perlahan-lahan tersedu, membiarkan air mata tumpah menerobos lentik bulu matanya yang berkerejap. Kino melepaskan remasannya, dan kini memeluk tubuh Alma erat-erat, mendekapkan kepala gadis itu ke dadanya.Suara tangis Alma menyelinap ke luar dari dekapan Kino, mengusik keheningan puncak gunung. Tangan pemuda itu mengusap-mengelus rambutnya yang hitam. Sesekali Kino mengecup pula rambut yang harum itu, mencoba menghibur kekasihnya.Lama mereka berpelukan, Alma masih di pangkuan Kino, sesenggukan menumpahkan semua kesedihannya. Dada Kino kini mulai basah oleh airmata Alma, terasa hangat dan menyakitkan. Pada saat-saat seperti ini, Kino menyesal mengapa harus mencintai seseorang yang toh juga akan pergi jauh. Mengapa selalu ada saat di mana engkau harus meninggalkan atau ditinggalkan oleh seseorang yang kau sukai? ******Tak lama kemudian mereka turun dari puncak gunung, lalu duduk-duduk saja di taman dekat air terjun. Ketika siang tiba, mereka makan di sebuah warung murah-meriah. Lalu, tepat pukul 1 siang mereka kembali ke kota. Dalam perjalanan, mereka lebih banyak diam, masing-masing terbenam dalam kerisauan dan kepasrahan. Risau karena banyak sekali pertanyaan yang belum mereka jawab. Pasrah karena mereka tak punya pilihan lain, selain harus berpisah.Dan ketika akhirnya Kino mengantar Alma ke terminal sore itu, seluruh hari terasa kelabu belaka. Tubuhnya terasa letih. Kepalanya terasa pening. Ia juga merasa sangat kesepian, walaupun bus malam belum lagi berangkat dan Alma masih berdiri di sampingnya di pelataran terminal. Orang-orang ramai bercakap, tetapi bagi kedua remaja ini, dunia terasa sungguh sunyi. Kedua orangtua Alma mencoba menghibur, mengajak Kino berdiskusi tentang masa depan, mencoba meyakinkan pemuda itu bahwa kesedihan perpisahan tidaklah seberapa dibandingkan kecerahan masa depan. Dengan sopan, Kino menyetujui semua wejangan orangtua Alma. Ia tidak punya pilihan lain, bukan?Lalu bis malam itu berangkat. Alma duduk di dekat jendela, melambaikan tangan dan tersenyum kepada Kino yang terpaku di pelataran. Selamat tinggal, bisik pemuda itu di dalam hati. Dibalasnya lambaian tangan gadis itu. Dibalasnya pula senyum sendu itu. Selamat tinggal kekasih. Mari kita tutup babak berikutnya dari kehidupan yang masih terasa panjang ini. Mari terus berharap akan ada babak-babak selanjutnya.End of Part One
Rinduwati Suliandara. Mba Rien, begitu ia biasa dipanggil, adalah seorang guru tari di Sanggar Tari Pelangi. Kino tak pernah tahu usia wanita itu yang sesungguhnya, tetapi pokoknya ia tak tampak terlalu tua, walau jelas bukan pula remaja. Wajahnya -jika memakai ukuran normal- tidaklah terlalu cantik. Tidak pula terlalu jelek. Biasa-biasa saja Tetapi Mba Rien memiliki mata yang sangat indah, bening dihiasi bulu mata lentik. Juga memiliki bibir yang -menurut Kino- sangat menarik, karena selalu kelihatan basah.Waktu itu Kino duduk di bangku SMA, kelas dua A. Untuk usianya, waktu itu Kino tergolong "terlambat" dalam soal pacaran. Ia tidak punya teman wanita istimewa, karena baginya semua teman wanitanya sama saja. Konon ada yang naksir, namanya Alma, gadis dari kelas dua B. Tetapi Kino tidak tertarik, walau kata teman-temannya gadis itu tergolong ratu. Bagi Kino, ia memang ratu, tetapi entah kenapa ia tidak tertarik. Berenang di sungai lebih menarik bagi Kino, katimbang jalan-jalan dengan Alma.Tetapi Mba Rien menarik hatinya sejak awal mereka berjumpa. Waktu itu, Kino mengantar adik perempuannya, Susi, ke sanggar untuk latihan menari. Kino sangat sayang kepada adik satu-satunya yang baru berusia 7 tahun itu (jarak dua kakak-beradik ini memang terlalu jauh). Dengan sepeda, diboncengnya Susi ke sanggar, dan diantarnya sampai ke ruang latihan di tengah kompleks sanggar. Saat itulah ia melihat Mba Rien, sedang mengikatkan setagen ke sekeliling pinggangnya."Selamat sore Susi...," ucap Mba Rien menyapa Susi, lalu sekejap melirik Kino. Suara wanita itu lembut tetapi bernada wibawa, pikir Kino sambil melepas gandengan tangan adiknya."Mba Rien, ini kakak saya...," Susi menunjuk ke Kino yang masih berdiri di pintu ruang latihan. Mba Rien mengangkat muka, dan tersenyum kepada Kino. Agak canggung, Kino membalas tersenyum dan berucap serak, "Selamat sore, mbak...".Mba Rien hanya mengangguk tanpa berhenti tersenyum, lalu menerima salam Susi, dan berbalik menuju tempat segerombolan anak-anak yang sedang bersiap belajar menari. Kino masih berdiri, memandang tubuh Mba Rien dari belakang, dan entah kenapa ia merasa jantungnya berdegup lebih keras. Tubuh Mba Rien menyita perhatiannya, terbungkus kain dan baju ketat, menampakkan lika-liku yang menawan. Astaga, pikir Kino, wanita ternyata bisa menarik juga!Untuk beberapa jenak, Kino masih berdiri di depan pintu, menelan ludah berkali-kali dan merasa wajahnya merah karena malu. Kepada siapa? Entahlah. Tetapi perjumpaan pertama dengan Mba Rien berbekas keras di kalbunya. Sambil mengayuh sepedanya pulang, Kino tiba-tiba memiliki pikiran-pikiran seronok. Gila kamu! tukasnya dalam hati, menyalahkan diri sendiri. Mana mungkin kamu bisa meremas-remas tubuh itu! ucap suara lain di kepalanya. Meremas....? Dari mana datangnya ide gila itu? pikir Kino gelisah. Berkali-kali Kino merasa sadel sepedanya terasa lebih kecil dari biasanya, dan selakangannya sering terasa geli. Sial! sergahnya dalam hati.Ketika ayah memintanya menjemput Susi, dengan bersemangat Kino mengatakan ya. Lalu, ia pun tiba di sanggar 15 menit sebelum waktu latihan selesai. Ia duduk di bawah pohon kamboja, tidak jauh dari ruang latihan. Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat Mba Rien melenggak-lenggok mengajarkan gerakan yang diikuti oleh belasan anak-anak kecil. Pandangan Kino tak lekang dari gerakan-gerakan Mba Rien, dan entah kenapa ia kini mengerti apa artinya sebuah tari yang indah! Selama ini, bagi Kino menari adalah kegiatan perempuan yang tak menarik. Menjemukan, bahkan. Tetapi ketika melihat Mba Rien mengangkat tangan, melenggok ke kiri, menggerakkan pinggulnya ...., Kino menelan ludah lagi. Bajingan kamu! ucap sebuah suara di dalam kepalanya. Kino membuang muka, mengalihkan pandangannya ke hamparan rumput. Tetapi, seperti ditarik magnit, muka Kino sesekali kembali lagi memandang ke ruang latihan.Dari ruang tari, Rien juga bisa melihat keluar, walau perbedaan terang menyebabkan matanya agak silau jika harus memandang ke arah tempat Kino duduk. Sambil terus menggerakkan tubuhnya, Rien melirik dan mengernyit heran melihat remaja itu betah duduk sendirian. Biasanya, para penjemput murid-muridnya datang terlambat, dan tidak pernah berlama-lama di sanggar tari. Apalagi yang laki-laki, entah itu kakak atau ayah atau paman. Pada umumnya, di kota kecil ini, menari bukanlah sesuatu yang menarik untuk pria. Makanya, tingkah Kino bagi Rien agak tidak biasa.Ketika akhirnya latihan selesai, Kino bangkit dan mendekat ke arah ruang latihan, tetapi tetap dalam keteduhan pohon kamboja. Entah kenapa, ia tak berani lebih dekat. Sebetulnya ia ingin mendekat, tetapi dadanya berdegup kencang setiap kali ia melangkah. Semakin dekat ke ruang latihan, semakin kencang degupnya. Sebab itu, ia berhenti setelah dua langkah saja. Ia akan menunggu saja sampai Susi keluar dan menghampirinya.Rien, dengan sedikit peluh di lehernya, mengucap salam perpisahan kepada murid-muridnya. Lalu, sambil melepas stagen, ia berjalan ke pintu. Dilihatnya Susi berlari ke arah penjemputnya, remaja yang betah berlama-lama di bawah pohon kamboja menonton latihannya itu. Sambil melepas ikat rambutnya, sehingga rambutnya yang sebahu kini tergerai, Rien berdiri di pintu dan berucap lembut, tetapi juga cukup keras untuk didengar Kino."Kenapa tadi tidak tunggu di dalam saja, Dik...," ujarnya. Kino cuma bisa menyeringai seperti kera sedang makan kacang.Rien tersenyum melihat seringai remaja yang tampak kikuk itu. Kino menelan ludah melihat senyum itu. Entah kenapa, senyum itu tampak menarik sekali. Rasanya, Kino seperti disiram air sejuk. Gila kamu! ucap suara di dalam kepalanya lagi. Dan Kino pun cepat-cepat membungkuk berpamitan, lalu menggandeng tangan Susi menuju sepeda. Rien kembali tersenyum memandang kedua kakak-beradik yang akur itu meninggalkan sanggarnya.*****Sejak pertemuan itu, Kino sering melamunkan Mba Rien. Lebih gila lagi, saat mandi dan menyabuni tubuhnya, Kino merasakan darahnya berdesir membayangkan Mba Rien. Percuma ia mengguyurkan bergayung-gayung air dingin ke tubuhnya, tetap saja kelaki-lakiannya perlahan menegang. Aduh celaka! jeritnya dalam hati, ketika melihat ke bawah. Cepat-cepat ia menyabuni dirinya, lalu membilasnya, membungkus tubuhnya dengan handuk dan lari ke luar kamar mandi menuju kamarnya. Mudah-mudahan tidak ada yang melihat tonjolan di bawah pinggangnya yang terbungkus handuk itu!Malam hari, ketika ia gelisah bergulang-guling di ranjangnya, Kino kembali membayangkan Mba Rien. Lagi-lagi terbayang pinggulnya yang padat berisi, pinggangnya yang ramping, dan dadanya yang membusung walau tidak terlalu besar. Kino juga terkenang lehernya yang agak basah oleh keringat. Juga bibirnya. Ya, bibirnya itu yang paling menawan. Selalu basah, dan tampaknya lembut sekali. Apalagi kalau ia tersenyum, menampakkan sedikit gigi-giginya yang putih. Bagaimana rasanya menggigit bibir itu?Kino makin gelisah, sebab kini kelaki-lakiannya menengang lagi seperti ketika ia sedang mandi. Malam sudah agak larut, dan rumah sudah sepi. Tak ada suara-suara, selain jangkerik. Kino menelungkupkan tubuhnya. Celaka, justru gerakan itu menyebabkan kelaki-lakiannya terjepit di antara tubuhnya dan kasur yang empuk. Tanpa sadar, Kino menggerak-gerakkan badannya, menggesekkan kelaki-lakiannya ke kasur. Matanya terpejam, dan terbayang ia berada di atas tubuh Mba Rien. Terbayang ia mengulum bibir Mba Rien yang basah. Terbayang dadanya yang ceking menempel di dada Mba Rien yang kenyal. Gila! Kino terlonjak ketika merasakan cairan hangat mengalir cepat membasahi celana dalamnya. Untung ia sigap, sehingga seprai tidak ikut basah.Hanya saja, di pagi hari ia harus mencari alasan untuk bisa mencuci sendiri celana dalamnya, tanpa harus mencuci pakaian anggota keluarga yang lain!*****Beberapa hari setelah perjumpaan pertamanya dengan Kino, kembali Rien terheran melihat remaja itu sudah ada setengah jam sebelum latihan usai. Setengah jam! Betapa lamanya ia akan menanti di situ sendirian, ucap Rien dalam hati sambil terus menggerakkan badannya di depan para penari cilik. Berkali-kali Rien melirik ke arah pohon kamboja, dan bertanya-tanya dalam hati, mengapa gerangan remaja itu begitu betah menunggu adiknya. Terlebih-lebih lagi, remaja itu selalu memandang ke dalam dengan seksama. Sialan, mungkin ia tertarik melihat tubuhku, umpat Rien dalam hati. Tetapi, mungkin juga ia tertarik pada tarianku. Siapa tahu? Atau mungkin tertarik pada dua-duanya, ucap Rien dalam hati. Ia tersenyum sendiri ketika mengambil kesimpulan terakhir ini."Satu ... dua...tiga .... empat, putar......," Rien memutar tubuh memberi contoh, diikuti oleh bidadari-bidadari kecil yang tertatih-tatih mencoba meniru sesempurna mungkin."Satu .. dua ... tiga ... empat, putar....," suaranya lembut, tetapi tegas dan cukup nyaring.Kino menyenderkan tubuhnya di batang pohon kamboja. Sayup-sayup suara Mba Rien sampai di telinganya. Terdengar merdu. Gila! semua yang berhubungan dengan wanita itu selalu bagus. Apa-apaan ini? sebuah suara menghardik di kepala Kino, membuatnya tertunduk sendiri. Dicabutnya sebatang rumput, dimain-mainkannya di antara jari-jarinya. Kino merenung, bertanya-tanya, apa gerangan yang terjadi dalam dirinya. Mengapa Mba Rien jadi begitu menarik, padahal ia jauh lebih tua dariku? Mengapa Alma yang seusia dengannya itu tidak semenarik Mba Rien, padahal Alma juga cantik. Kino menarik nafas dalam-dalam, lalu kepalanya terangkat lagi, memandang lagi ke dalam ruang latihan.Cuma kali ini ia tidak melihat Mba Rien di sana. Dipanjang-panjangkannya lehernya, mencari-cari, kemana gerangan wanita itu. Kino bahkan memiringkan tubuhnya, sampai hampir rebah ke kiri, untuk melihat sudut terjauh yang masih terjangkau pandangan. Mba Rien tidak ada, sementara murid-muridnya masih bergerak sesuai irama musik dari tape-recorder. Kemana dia?Hampir copot rasanya jantung Kino, ketika tiba-tiba Mba Rien muncul dari balik tembok rumah di sebelah ruang latihan. Rupanya, ada gang yang menghubungkan rumah itu dengan ruang latihan, yang tidak terlihat dari tempat Kino duduk. Rupanya Mba Rien meninggalkan murid-muridnya untuk masuk ke rumah itu. Dan kini ia berjalan kembali ke ruang latihan, tetapi tidak melalui gang, melainkan lewat pintu depan. Lewat di depan Kino, melenggang santai dengan kainnya yang ketat membungkus tubuhnya yang indah."Hayo.., tunggu di dalam, Dik!" ucap Mba Rien menghentikan langkah sebelum masuk. Senyum yang memikat Kino terhias di bibirnya. Kino menelan ludah, tak bisa menyahut, dan cuma bisa meringis lagi. Betul-betul seperti kera yang sedang kepedasan."Hayo ...," ajak Mba Rien lagi, lembut tetapi tegas.Kino bangkit, dan dengan ragu-ragu melangkah mendekat. Mba Rien tertawa kecil, lalu melanjutkan langkah mendahului masuk. Pelan-pelan Kino menyusulnya. Ketika ia tiba di ruang latihan, Mba Rien sudah berputar-putar lagi memberi contoh gerakan tarinya. Kino mencari-cari bangku untuk duduk, tetapi tak ada satu pun di sana. Ia lalu berdiri saja, menyender di sebuah tiang yang cukup besar.Rien melirik, melihat remaja itu berdiri kikuk. Kasihan, pikirnya. Tetapi biarlah begitu, kalau ia memang tertarik pada tarianku -atau tubuhku!- biar saja ia berdiri sampai pegal. Tersenyum Rien mendengar kata hatinya yang terakhir ini. Ya, biar dia berdiri sampai pegal!Selama 20 menit, Kino berdiri saja melihat adiknya latihan menari. Susi terlihat senang melihat kakaknya sudah hadir. Berkali-kali Susi kelihatan ketinggalan langkah, karena ia tersenyum-senyum kepada kakaknya. Kino mengernyitkan dahinya, meletakkan telunjuk di bibirnya, memperingatkan Susi agar tetap serius. Rien tersenyum melihat tingkah keduanya.Ketika akhirnya latihan selesai, Kino bernafas lega. Bukan saja karena ia sudah pegal berdiri, tetapi juga karena sebenarnya ia agak tersiksa. Betapa tidak? Sejak tadi ia terpesona oleh gerak Mba Rien, tetapi ia harus menyembunyikan perasaan itu. Betapa sulit!Rien berjalan mendekati Kino sambil melepas stagen. Kino berdiri kikuk ketika akhirnya Rien berdiri di hadapannya, cukup dekat untuk mencium bau keringatnya yang ternyata tidak mengganggu Kino."Suka menari?" tanya Rien. Matanya memandang lekat remaja di hadapannya. Senyumnya mengembang halus. Kino menelan ludah lagi.Kino menggeleng kuat. Rien tertawa kecil, "Saya pikir kamu suka. Sebab, kamu betah menunggu adikmu latihan.""Saya ...., sebetulnya saya suka ..," ucap Kino tergagap."Oh, ya???" Rien membelalakan matanya yang indah, senyumnya mengembang lagi. Kino menelan ludah lagi. "Seberapa suka, sebetulnya ...," tanya Rien lagi, ringan."Mmmm ... saya suka menonton saja." jawab Kino sekenanya."Menonton anak-anak kecil menari?" tanya Rien. Wah! Kino tertunduk, mukanya tiba-tiba terasa panas. Sial!Rien tergelak melihat Kino tertunduk malu. Kini ia tahu apa yang sesungguhnya ditonton laki-laki belia ini! Ia ke sini untuk menontonku, melihat tubuhku! Dan kesimpulan ini membuat dirinya senang. Bagi Rien, menyenangkan penonton adalah tujuan utamanya menari, bukan?"Siapa nama kamu?" tanya Rien lembut sambil melepas ikat rambutnya. Kino mengangkat muka, melihat kedua tangan Rien terangkat, dan samar-sama kedua ketiaknya yang mulus terlihat dari lengan bajunya yang agak tersingsing."Kino..," terdengar jawaban pelan. Rien tersenyum lagi, sengaja berlama-lama membuka ikat rambutnya, membiarkan remaja itu melihat apa yang ingin dilihatnya. Nakal sekali kamu, Rien! sebuah suara terdengar di kalbunya. Siksaan bagi Kino baru berhenti ketika Susi menarik tangannya pulang. Sambil menggumamkan selamat sore, ia berbalik dan menggandeng adiknya ke tempat sepeda."Datang lagi, yaaa!" seru Rien ketika Kino sedang bersiap mengayuh. Duh! Kino jadi serba salah. Apakah ia harus menjawab seruan itu? Ah, sudahlah! sergahnya dalam hati dan cepat-cepat mendayung. Dari kejauhan Rien memandang kakak-beradik itu menghilang di balik tikungan. Senyum manis masih di bibirnya.*****Demikianlah seterusnya, Kino semakin terpikat oleh wanita yang pandai menari dan pandai menggoda itu. Sekali waktu ia mencoba menghindar, meminta kepada ayah untuk tidak usah menjemput Susi dengan alasan harus latihan bola kaki. Selama empat kali latihan, ia tidak mampir ke sanggar, dan tidak berjumpa Mba Rien. Dan itu artinya, sudah sebulan ia tidak melihat tubuh molek itu melenggak-lenggok. Lama juga, ya?Sampai suatu hari, ada pertunjukkan dari di balai kota, diselingi permainan band sebuah kelompok amatir yang cukup populer di kota kecil ini. Kino datang bersama teman-temannya, tentu hanya untuk menonton band. Acara tari-tarian di sore hari dilewatkan saja. Rombongan Kino baru tiba di atas pukul 8, saat band mulai naik panggung.Di situlah Kino berjumpa lagi dengan Mba Rien. Saat band memainkan lagu ketiga, Kino pergi ke belakang panggung untuk buang air kecil, karena di sana lah terdapat toilet untuk umum. Saat kembali ke tempat duduknya, sewaktu meliwati pintu yang menuju tempat pemain berganti pakaian, Kino melihat Mba Rien duduk di sebuah bangku. Langkahnya terhenti, lalu ia menyelinap ke balik tembok yang agak gelap. Dari situ, ia bisa melihat Mba Rien, tetapi wanita itu tidak bisa melihatnya.Rien memakai jeans ketat dan sebuah kaos agak longgar berwarna putih.
Rambutnya digelung ke atas, memperlihatkan lehernya yang jenjang dan agak basah oleh keringat. Ia tampak letih, dan sedang menikmati sebotol minuman dingin. Bibirnya menjepit sebuah sedotan, dan matanya tampak melamun. Bagi Kino, Mba Rien tampak menawan malam itu. Ia kemudian melihat wanita itu bangkit menuju ke sebuah kamar di belakang panggung. Kino mengikuti gerak-geriknya dengan seksama, aman dalam lindungan bayang-bayang yang gelap. Tak lama kemudian, tampak Mba Rien membuka sebuah pintu, dan di dalam terlihat terang berderang tetapi sepi. Berjingkat, Kino berpindah tempat sehingga bisa memandang lebih bebas ke dalam ruangan itu.Rien menutup pintu ruang, tetapi rupanya kurang begitu kuat mendorong, sehingga masih tersisa celah untuk melihat ke dalam. Dengan jantung berdegup kencang, Kino melihat ke kiri dan kanan. Tidak ada siapa-siapa. Semua orang berada di depan panggung asyik menonton band. Pelan-pelan ia melangkah mendekati ruang yang ternyata adalah ruang ganti pakaian bagi para artis. Ia tiba di depan pintu ruang itu, dan dari celah yang tersisa, ia bisa melihat ke dalam. Kino menelan ludah, dan menahan kagetnya. Di dalam, Mba Rien tampak sedang membuka kaosnya, membelakangi Kino. Tubuhnya yang putih dan padat terlihat jelas, apalagi kemudian ia berputar menghadap sebuah cermin yang pantulannya terlihat dari tempat Kino berdiri. Ia bisa melihat dua payudara yang indah, terbungkus beha yang tampak terlalu kecil. Lutut Kino terasa bergetar.Kemudian tampak Mba Rien melepas celana jeansnya. Kino merasa kakinya terpaku di tanah. Dengan kuatir ia melihat ke sekeliling, takut kepergok. Tetapi suasana di sekitar ruang ganti itu tetap sepi. Maka ia tetap mengintip ke dalam. Jeans sudah dibuka dan tergeletak di lantai. Mba Rien hanya bercelana dalam dan berbeha, dan tubuhnya indah bukan main. Putih mulus, padat berisi. Kino berkali-kali menelan ludah. Pemandangan indah itu berlangsung tak lebih dari 10 menit, karena kini Mba Rien sudah berganti rok panjang dan baju hem coklat. Tetapi bagi Kino, rasanya lama sekali. Cepat-cepat ia berbalik dan tergopoh kembali ke depan panggung.Rien mendengar suara langkah orang. Terkejut, ia segera lari ke pintu dan melihat pintu belum tertutup sepenuhnya. Celaka, pikirnya, seseorang tadi mengintipku berganti pakaian. Cepat-cepat dikuaknya pintu, dilongokkannya kepala, bersiap berteriak jika memergoki si pengintip. Tetapi di luar sepi, tidak ada siapa-siapa. Ah, mungkin cuma perasaanku saja, pikir Rien.Sementara itu, di depan panggung Kino gelisah mengenang pengalamannya. Lagu-lagu yang dibawakan band di depannya terasa hambar. Teman-temannya terlihat girang, tetapi ia sendiri kurang bergairah. Dengan alasan mengantuk, ia pulang lebih dulu dari teman-temannya yang keheranan. "Ada apa denganmu, Kino?" tanya sobatnya, Dodi. Ia tidak menjawab, dan hanya menggumam sambil melangkah meninggalkan arena pertunjukkan. "Dasar kutu buku ...," gerutu Iwan, temannya yang lain. Kino tak peduli, dan terus melangkah menembus malam.Dan malam itu, Kino menikmati hayalnya di atas ranjang, meremas-remas kelaki-lakiannya yang menegang sambil membayangkan tubuh mulus Mba Rien. Tak berapa lama, ia mengerang tertahan, merasakan cairan hangat memenuhi telapak tangannya. Dengan tissue yang sudah disiapkannya, ia melap tangannnya, lalu tidur nyenyak sambil berharap bertemu Mba Rien di alam mimpi. Namun mimpinya ternyata kosong belaka, tentu karena ia sebetulnya sudah sangat mengantuk malam itu.Continue..Mbak Rien - Ketika Bara Memercik Seminggu setelah peristiwa di belakang panggung itu, Kino mengantar Susi ke sanggar Mba Rien. Sebelum berangkat, ia sudah bersumpah untuk tidak berlama-lama. Begitu sampai, ia akan segera melepas Susi dan kembali kerumah secepatnya. Kepada Susi ia telah pual berpesan agar tidak perlu diantar sampai pintu ruang latihan. Susi mencibir manja, tetapi tidak membantah ucapan kakaknya.Namun semua rencana buyar ketika ternyata Kino berjumpa Mba Rien di gerbang halaman sanggar. Turun dari sepedanya, Kino tergagap menyampaikan salam kepada wanita yang tubuhnya memenuhi hayal Kino seminggu ini."Hai, Kino ... lama sekali kamu tidak kelihatan. Kemana saja?" sambut Mba Rien riang."Sibuk, mbak..," jawab Kino menunduk. Adiknya sudah turun dan berlari masuk."Wah... begitu sibuknya, sampai tidak sempat menonton Mba Rien lagi, ya!?" sergah Mba Rien sambil tersenyum manis. Kino menyahut dengan gumam tak jelas, dan
menunduk seperti seorang pesakitan di hadapan polisi."Eh .. tidakkah kamu ingin melihat adikmu menari lengkap?" ucap Mba Rien lagi, dan tiba-tiba tangannya telah menyentuh tangan Kino. Tergagap, Kino menjawab sekenanya, tetapi entah apa isi jawaban itu, ia sendiri tak ingat!"Hayo masuk, sekali ini kamu bisa melihat anak-anak menari sampai selesai!" kata Mba Rien yang kini sudah memegang erat satu tangan Kino dan menariknya masuk ke halaman sanggar. Kino tak kuasa menolak, dan dengan kikuk ia mengikuti langkah Mba Rien sambil menyeret sepedanya.Mba Rien tidak memakai kain sore ini. Tubuhnya dibungkus rok span hitam dan hem kuning muda dengan leher V yang agak rendah. Ia juga tidak berdiri memberi contoh di depan anak-anak, melainkan duduk bersimpuh di lantai, di sebelah Kino yang bersila. Dari tempat mereka duduk, Kino bisa melihat anak-anak menari lengkap tanpa instruksi Mba Rien. Bagi Kino, anak-anak itu kelihatan seperti daun-daun kering yang berterbangan di tiup angin. Jauh sekali bedanya dibandingkan dengan jika yang menari adalah Mba Rien.Kino melirik ke sebelah kanannya, tempat Mba Rien bersimpuh. Darahnya berdesir cepat melihat rok span wanita itu terangkat sampai setengah pahanya. Aduhai, pahanya mulus sekali, dihiasi bulu-bulu halus yang hampir tak tampak. Betisnya juga indah sekali, tidak terlalu besar, tetapi juga tampak kokoh karena sering berdiri lama ketika menari. Mba Rien sendiri sedang serius memperhatikan anak-anak menari, sehingga tidak menyadari bahwa remaja di sampingnya sedang sibuk menelan ludah!Ketika suatu saat Mba Rien harus berganti posisi bersimpuhnya, Kino mencuri pandang lagi. Sekejap, ia bisa melihat seluruh pangkal paha Mba Rien. Celana dalam berwarna putih, tipis menerawangkan warna kehitaman di selangkangan, membuat Kino terkesiap. Cepat-cepat dialihkannya pandangan kembali ke tempat anak-anak menari.Rien menoleh untuk menanyakan sesuatu, tetapi seketika ia melihat wajah Kino seperti kepiting rebus. Ah, ia tiba-tiba sadar akan posisi duduknya. Remaja yang sekarang sedang pura-pura memperhatikan tarian itu pasti tadi melihat rok ku tersingkap, pikir Rien menahan tawa. Minta ampun, remaja sekarang begitu cepat matang! Rien membatalkan keinginannya untuk menanyakan komentar Kino. Sebaliknya, ia malah bangkit membuat Kino memalingkan muka dengan wajah bersalah. Pikir Kino, jangan-jangan ia tahu aku tadi melihat pahanya."Kamu mau minum, Kino?" tanya Mba Rien setelah berdiri, dan tanpa menunggu jawab ia berkata lagi, "Yuk, ikut saya ambil minum di ruang sebelah."Kino bangkit dan mengikuti wanita pujaannya seperti kerbau dicucuk hidungnya. Entah kenapa, wanita ini tidak bisa kubantah! ucapnya dalam hati.Ruangan itu terletak di sebelah ruangan latihan, berupa sebuah dapur lengkap dengan meja makannya. Ada sebuah lemari es besar, dan Mba Rien tampak sedang membukanya dan mengambil beberapa minuman botol. Kino berdiri tidak jauh di belakangnya, melihat dengan takjub tubuh yang agak membungkuk di depannya. Kepala Mba Rien tersembunyi di balik pintu lemari es, tetapi bagian belakang tubuhnya yang seksi terlihat nyata di mata Kino. Gila! Segalanya terlihat indah! umpat Kino dalam hati.Kemudian mereka minum sambil duduk di kursi makan. Mba Rien menawarkan kue, tetapi Kino menolak halus. Mereka berbincang-bincang, atau lebih tepatnya Mba Rien bercerita tentang segala macam. Kino lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Entah kenapa, Rien sendiri merasa semakin dekat dengan remaja di hadapannya. Rien merasa bahwa Kino adalah adik lelaki yang tak pernah dimilikinya. Saudara kandungnya semua perempuan, dan tinggal di lain kota. Di sini ia hidup sendirian, di sebuah kamar indekos tak jauh dari sanggar.Untuk Rien, Kino adalah remaja yang menyenangkan. Tidak berulah seperti kebanyakan remaja seusianya. Kino juga sopan, walaupun matanya sering nakal. Ah, seusia itu pastilah sedang mengalami kebangkitan gairah seksual. Ia ingat, pada usia seusia Kino dulu, ia juga mengalami "revolusi" yang sama. Saat itu, pikirannya tak lekang dari gairah seks dan lawan jenis. Kino pastilah tak berbeda, cuma ia sangat sopan dan pemalu.Sore itu mereka berpisah karena latihan menari telah usai. Kino mengucapkan terimakasih atas suguhan Mba Rien, dan Rien melambai di gerbang sambil mengucap, "Jangan bosan kemari, ya, Kino!"Ah, bagaimana aku bisa bosan? ujar Kino dalam hati.*****Hubungan Rien dan Kino berkembang cepat bagai api membakar ilalang kering. Susi sudah tidak lagi latihan menari, karena kini ayah dan ibu menyuruh Susi lebih berkonsentrasi ke pelajaran sekolah. Ujian akan berlangsung tiga bulan lagi. Kino tidak lagi mengantar Susi, tetapi justru kunjungannya ke sanggar semakin sering!Ada satu hal yang membuat mereka semakin dekat. Keduanya suka berenang, dan Rien dengan senang hati mengajak Kino ke pantai jika waktu senggang. Seperti kali ini, Kino pulang lebih cepat karena guru-gurunya harus berseminar di luar kota. Dari sekolah, Kino menuju sanggar untuk melihat kalau-kalau Mba Rien ingin berenang. Dan ternyata Rien memang sedang tidak berkegiatan, sedang sendirian membaca-baca majalah di sanggar."Berenang, yuk, Mba Rien..," ajak Kino. Kini ia sudah berani mengajak duluan, setelah berkali-kali mereka berenang bersama di sungai, di kolam renang, maupun di pantai. Selama itu, mereka berenang bersama-sama dengan beberapa orang lainnya. Kadang-kadang bersama Dodi dan Iwan, sahabat Kino. Kadang-kadang bersama Niken, salah seorang penari di sanggar. Teman-teman Kino pun kini tahu, bahwa di antara Mba Rien dan Kino "ada apa-apa". Tetapi mereka cuma bungkam, karena Kino pasti akan berang setiap kali topik itu diangkat dalam pembicaraan.Siang itu mereka berenang berdua saja. Teman-teman Kino memilih memancing di danau di luar kota. Niken tidak ada di sanggar karena harus belanja ke pasar. Rien dengan senang hati menerima ajakan Kino, dan segera mengambil pakaian renang dan sepedanya.Di pantai tidak banyak orang, karena ini memang bukan hari libur. Rien mengajak Kino ke sebuah bukit pasir yang dipenuhi semak, karena tempat itu jauh lebih sejuk di bandingkan tempat di mana orang-orang biasa berenang atau bermain pasir. Kino menurut saja. Mereka pun lalu berenang, bermain-main air dan saling berlomba mencapai batu karang di tengah laut. Mba Rien bukanlah perenang yang dapat diremehkan, begitu selalu kata Kino kepada teman-temannya. Tubuhnya gesit seperti ikan, dan tahan berenang berjam-jam.Setelah puas berenang, mereka kembali berteduh di bawah semak-semak. Kino menggelar dua handuk lebar yang selalu dibawanya jika berenang ke pantai. Rien merebahkan tubuhnya yang penat di sebelah Kino yang juga sudah tergeletak kecapaian. Mereka terdiam mendengarkan debur ombak memecah pantai. Kino memejamkan mata dan merasakan otot-otot tubuhnya pegal dan sedikit linu."Kino..," tiba-tiba Rien berucap, hampir tak terdengar."Hah?..." Kino kaget dan setengah bangkit. Mba Rien masih tergeletak dengan mata tertutup, tetapi bibirnya tersenyum."Ada apa, Mba?" tanya Kino."Aku mau tanya, tetapi kamu musti jawab yang jujur ya!" kata Mba Rien, masih memejamkan mata dan tersenyum. Kino cuma diam."Kino .., kamu senang melihat saya, bukan?" tanya Mba Rien pelan. Kino cuma diam, tak tahu harus menjawab apa. Di hadapannya tergeletak seorang wanita dewasa, dengan tubuh sempurna, basah oleh air laut, dan bertanya seperti itu! Apa jawabannya?"Lho, kenapa diam?" sergah Mba Rien, kini membuka matanya, memandang Kino dengan sinar mata yang menembus kalbu. Kino menelan ludah, lalu menunduk.Rien lalu bangkit, duduk bersila menghadap Kino yang kini juga sudah duduk dengan kepala agak menunduk. Lalu Rien melakukan sesuatu yang selama ini tak pernah terduga oleh Kino. Ia membuka pakaian renangnya, menanggalkan bagian atasnya, memperlihatkan buah dadanya yang ranum, putih mulus dan basah berkilauan! Aduhai indahnya dua bukit kenyal yang turun naik seirama nafas pemiliknya, dengan puncak yang dihiasi dua puting coklat kehitaman, berdiri tegak bagai menantang!Kino mengangkat muka, pandangannya terpaku di kedua payudara indah di hadapannya. Mulutnya terkunci rapat. Rien tersenyum melihatnya, lalu dengan lembut digenggamnya kedua tangan Kino. "Jangan malu, Kino. Katakan kamu memang suka melihat tubuh saya, bukan?" ucapnya setengah berbisik. Kino menangguk pelan."Ingin menyentuhnya?" bisik Mba Rien lagi. Kino tergagap, mengangkat mukanya dan memandang wajah wanita di depannya tak percaya. Tetapi di wajah itu ada sepasang mata yang sangat sejuk, bagai danau di kaki bukit tempat teman-temannya biasa memancing. Sebuah hamparan air yang tampak tenang meneduhkan hatinya yang bergejolak."Apa maksud, Mba Rien?" ucap Kino tersekat."Tidak inginkah kamu menyentuh dadaku?" jawab Mba Rien, genggaman tangannya semakin kuat, dan kini perlahan-lahan mengangkat tangan Kino. Tersenyum lagi, Rien merasa betapa kedua tangan itu bergetar. Cepat-cepat kemudian ia meletakkan kedua tangan Kino di dadanya, di puncak-puncak payudaranya yang membusung. Kino segera menarik kembali tangannya, bagai menyentuh benda bertegangan listrik. Rien tertawa kecil."Hayo, pegang lagi...," ucapnya ringan. Diraihnya lagi kedua tangan Kino dan diletakkannya kembali di atas payudaranya. Kali ini Kino tak menarik tangannya, dan membiarkan kedua telapak tangannya menerima sebuah kelembutan, kehangatan, kekenyalan, dan entah apa lagi .... semuanya serba menakjubkan. Pelan-pelan, Kino mulai memegang lebih erat, menempelkan seluruh telapaknya di puncak-puncak payudara Mba Rien. Baru kali ini, setelah lepas dari susu ibunya 13 tahun yang lalu, Kino memegang kembali payudara seorang wanita!"Senang?" tanya Mba Rien, masih dengan suaranya yang setengah berbisik, setengah menuntut. Kino hanya bisa mengangguk dan menatap lekat mata Mba Rien, seakan-akan hanya dari kedua mata itulah ia bisa memiliki kekuatan untuk hidup saat ini.Lalu Mba Rien menurunkan tangan Kino, mengenakan kembali pakaian renangnya, dan mengusap lembut wajah Kino. "Kamu sekarang sudah dewasa, Kino!" ucapnya riang, sambil bangkit dan menarik tangan Kino untuk ikut berdiri. Lalu ia berlari, menyeret Kino kembali ke laut, terjun sambil berteriak riang, dan melesat meninggalkan Kino menuju batu karang di tengah.Kino merasa tubuhnya yang panas bagai bara dicelupkan ke dalam air dingin, segera memadamkan api yang tadinya sudah hampir membesar. Kino menyelam sedalam-dalamnya, seakan-akan hendak bersembunyi dari rasa malu yang tiba-tiba mengukungnya. Tapi kemudian ia segera timbul kembali, segera bersemangat lagi mengejar wanita yang baru saja memberinya pelajaran sangat berharga dalam hidup ini. Aku telah dewasa! jeritnya dalam hati.*****Pengalaman di pantai segera disusul pengalaman-pengalaman berikutnya. Kino kini sangat dekat dengan Mba Rien-nya, tetapi hubungan mereka menampakkan dimensi yang aneh. Jika ada orang bertemu mereka berdua, niscaya orang-orang itu akan berkata, 'Akur sekali kakak-beradik itu!'. Bahkan kedua orang tua Kino memandang seperti itu, dan karenanya tidak pernah tahu apa yang terjadi antara Rien dan anak mereka.Sebaliknya, bagi Rien dan Kino, hubungan mereka telah memasuki babak yang sangat menentukan. Bagi Rien, kini Kino adalah seorang lelaki sempurna, lengkap dengan segala atributnya, termasuk birahinya terhadap wanita. Kino adalah sebuah kepompong yang sedang berubah menjadi kupu-kupu. Dan Rien adalah seorang peri yang membantu kupu-kupu itu terbang.Minggu sore itu, Rien mengajak Kino mencari kenari di hutan kecil dekat danau. Mereka berangkat setelah pukul 3, saat matahari memulai perjalanan turunnya. Tadinya Niken hendak ikut, demikian pula Dodi teman Kino. Tetapi lalu Niken sakit perut karena datang bulan, dan Dodi harus mengantar ibunya ke dokter gigi. Jadilah akhirnya mereka hanya berdua ke hutan.Rien hanya bercelana pendek, dan memakai t-shirt yang ditutupi jaket parasut. Kino bercelana khaki militer, lengkap dengan sepatu bot, dan t-shirt hijau tua. Berdua mereka menyusuri jalan setapak, masuk semakin jauh ke dalam hutan yang konon dulu menjadi salah satu tempat pertahanan bala tentara Nippon. Di hutan ini banyak pohon kenari, dan dalam waktu kurang dari setengah jam, keranjang mereka berdua sudah dipenuhi kenari. Dengan gesit, Rien berlarian menemukan kenari-kenari yang masih utuh di tanah. Kino selalu kalah gesit, terutama karena ia selalu lebih banyak memandang Mba Rien yang tampak seksi sore itu.Lalu, tiba-tiba saja hujan turun. Pertama cuma rintik-rintik, tetapi lalu berubah sangat lebat. Mereka pun berlarian mencari tempat berteduh, dan beruntung karena tidak jauh dari situ ada sebuah gua kecil bekas persembunyian tentara Jepang. Kino menyeret Mba Rien berlari ke gua itu, dan tiba di sana sedetik sebelum hujan yang sangat deras jatuh ke bumi."Wah, untung ada gua ini!" tukas Mba Rien sambil gemetar menahan dingin yang tiba-tiba menyerbu. Gua kecil ini tidaklah terlalu dalam, tetapi sangat lembab, sehingga dindingnya dipenuhi lumut dan udaranya lebih dingin dari di luar. Apalagi sekarang turun hujan. Kino pun ikut gemetar kedinginan.Mereka berdiri berdekatan, dan entah bagaimana, Rien akhirnya memeluk tubuh Kino dari belakang. Kino tak menolak, dan bahkan merentangkan tangannya ke belakang, balas memeluk kedua lengan Mba Rien. Perlahan-lahan, gemetaran tubuh mereka mereda, sejalan dengan tersebarnya kehangatan dari dua tubuh yang menempel itu. Kino perlahan-lahan mulai merasakan kekenyalan di punggungnya, tempat kedua payudara Mba Rien menempel erat. Rien merebahkan kepalanya di punggung pemuda belia yang harum sabun mandi ini. Sebentuk perasaan sayang tiba-tiba saja menghambur keluar dari dadanya, menyebabkan Rien memejamkan mata.Setelah lebih dari sepuluh menit, hujan tampaknya makin membesar saja. Sementara langit mulai gelap menjelang sore. Rien sedang berpikir-pikir bagaimana caranya pulang, ketika ia mendengar Kino memanggil namanya."Kenapa, Kino?" tanyanya sambil tetap memejamkan mata dan merebahkan kepala di punggung remaja itu."Aku juga ingin memeluk, Mba Rien..." ucap Kino pelan. Rien tersenyum dan berkata pelan, "Seperti aku memeluk kamu?"Kino tidak menyahut. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Seperti apa ia ingin memeluk Mba Rien, ia belum tahu caranya!Rien tersenyum lagi, lalu melepaskan pelukannya. Ia berkata lembut, "Sini..., putar tubuhmu menghadap aku.."Kino memutar tubuhnya, lalu tiba-tiba saja ia sudah memeluk Mba Rien yang tubuhnya agak lebih pendek sedikit darinya. Dagu Kino menyentuh dahi Mba Rien, dan kedua tangan Mba Rien merengkuh erat, bagai hendak meluluhkan tubuh Kino. Oh, begini rupanya rasanya dipeluk seorang wanita dewasa! pikir Kino dalam hati, dan ia merasakan sebuah kehangatan menjalar dari antara kedua kakinya."Begini?" tanya Mba Rien dengan sedikit nada menggoda. Kino cuma mengangguk. Rien tertawa kecil, nafasnya yang hangat menyerbu leher Kino dan menelusup ke dalam t-shirtnya. Kino pun bergidik, membuat Rien tambah tertawa. Lalu tiba-tiba Rien menggigit leher Kino. Tersentak, Kino lalu ikut tertawa kegelian.Rien tidak berhenti menggigit, dan bahkan lalu berubah menciumi leher perjaka ini. Hmm, harum sabun wangi, desahnya dalam hati. Persis seperti wangi bayi kakaknya yang dulu ia sering bantu memandikannya. Dengan gemas, ia menciumi terus leher Kino, membuat remaja ini menggelinjang kegelian. Saat itulah Kino merasakan sebuah desakan kuat untuk membalas tindakan Mba Rien. Tanpa disadari, Kino menunduk dan menempelkan wajahnya ke wajah Rien yang sedang tengadah. Tanpa sengaja pula, kedua bibir mereka telah berpadu. Sejenak Rien tersentak kaget, tapi ia lalu memejamkan mata dan segera melumat bibir Kino. Berdesir cepat darah Kino merasakan bibir basah yang hangat mengulum bibirnya, dan desahan nafas harum menyerbu penciumannya. Astaga, inilah rupanya ciuman pertama itu!Tentu saja Kino tak tahu cara berciuman. Ia diam saja membiarkan Mba Rien mengerjakan segalanya, termasuk memaksanya membuka mulut agar lidahnya bisa masuk ke dalam mulutnya. Dengan nafas tersengal, Kino mencoba melakukan sesuatu dengan lidahnya sendiri, tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa. Maka ia diam saja, membiarkan Mba Rien mengulum-ulum bibirnya, menelusuri rongga mulut dengan lidahnya, dan menghisap-hisap bibir bawahnya dengan rakus.Rien sendiri merasa kaget atas apa yang ia kerjakan. Rupanya, birahi yang selama ini tak pernah ia tampilkan, kini menyeruak keluar dengan kekuatan sendiri tanpa dapat dicegah. Telah lama sekali Rien tidak berciuman, sejak ia memutus hubungan dengan Rian yang sekarang entah di mana. Telah lama tubuhnya tidak merasa gejolak seperti ini, dan kalaupun ia membiarkan Kino memegang payudaranya di pantai, itu hanyalah untuk menghapus penasaran remaja yang menarik simpatinya. Kejadian di pantai dulu, bagi Rien, bukanlah birahi. Tetapi kini, di gua yang gelap dan dingin ini, Rien kaget ketika sadar bahwa ia begitu bersemangat menciumi Kino!Untunglah kesadaran itu cepat datang. Buru-buru ia menghentikan ciumannya, dan dengan satu tangan ia menghapus bekas-bekas ludah di bibir Kino. Sambil tersenyum, ia minta maaf dengan suara lembut, " ... Mba Rien keterlaluan, nih!"Kino mengernyitkan dahi tak mengerti. "Kenapa berhenti, Mba?" tanyanya penuh heran."Tidak. Kamu tidak boleh saya ciumi seperti itu. Kamu bukan pacar saya...," kata Mba Rien, masih dengan suara lembut, meneduhkan hati Kino yang sudah bergejolak."Tapi saya suka, Mba Rien..." Kino bersikeras. Rien tersenyum melihat tuntutan remaja ini."Suka apa?" tanyanya menggoda. "Suka dicium seperti itu," jawab Kino cepat. Ia kini semakin berani berdebat.Sejenak Rien bimbang. Simpatinya kembali datang. Kasihan ia melihat remaja ini terputus di tengah jalan yang sedang dinikmatinya. Tetapi ia tahu, kalau ciuman itu diteruskan, dirinya sendiri akan ikut hanyut. Satu-satunya jalan untuk menghindari kekecewaan Kino adalah dengan menciumnya lagi, tetapi tidak dengan birahi.Maka Rien berkata, "Baiklah ..." lalu ia menarik leher Kino, mendekatkan bibirnya ke bibir Kino dan menciumi remaja ini dengan lembut. Kino memejamkan mata, menikmati ciuman Mba Rien yang terasa sekali dipenuhi kasih sayang. Tubuhnya bagai disiram kehangatan kasih yang tak tergambarkan oleh kata-kata. Tubuhnya bagai melayang tak menginjak bumi. Tubuhnya bagai awan di langit yang biru sejuk.Rien menahan senyum melihat tingkah Kino yang memejamkan mata dan memeluk tubuhnya seperti tak hendak dilepaskan. Tetapi ada satu hal yang tidak diperhitungkannya! Perlahan tapi pasti, ia merasakan sesuatu membesar menempel sedikit di atas perutnya. Karena Kino lebih tinggi, maka bagian depan kelaki-lakiannya menempel di perut Rien, dan Rien segera menyadari apa yang terjadi.Dengan tangan kirinya, Rien meraba bagian itu. Ah, tegang sekali kelaki-lakian Kino, dan panas pula rasanya, seperti dialiri air mendidih. Sejenak Rien bimbang lagi, sementara bibirnya masih sibuk mengulum-ngulum bibir Kino. Apa yang harus ku lakukan? Rien berpikir keras, tetapi tangannya sudah pula mulai meremas. Seakan-akan tangan itu punya pikiran sendiri di luar kepalanya!Akhirnya kepala Rien mengalah kepada tangannya. Ia melanjutkan remasan, dan mulai menyukai pilihannya. Nafas Kino terdengar terengah-engah, dan Rien semakin merasa tak enak jika harus berhenti sekarang. Ia sudah membangkitkan api di tubuh remaja ini, ia pula yang harus memadamkannya. Dengan pikiran begitu, Rien membuka resleting celana Kino yang masih terpejam seakan-akan tak sadar. Pelan-pelan tangan Rien merayap ke dalam celana dalam Kino dan menemukan kelaki-lakiannya sudah tegang dan agak basah di ujungnya. Ah, halus dan kenyal sekali kelaki-lakiannya, desah Rien dalam hati, diam-diam menikmati apa yang dikerjakannya.Kino merasakan tangan Mba Rien merayapi kelaki-lakiannya, membuat dirinya semakin terlena. Ia merasakan desakan aneh yang nikmat, sama dengan desakan-desakan yang selama ini ia rasakan kalau berhayal sendirian di kamarnya. Kini desakan itu semakin kuat, dan apa yang dikerjakan Mba Rien di bawah sana sangat berbeda dengan apa yang biasa ia kerjakan. Kali ini jauh lebih nikmat, jauh lebih menggairahkan.Tangan Rien meremas lebih kuat, lalu menggosok ke atas ke bawah. Ia tahu persis apa yang harus dilakukan. Rian, pacarnya dulu, pernah mengajarkan bagaimana cara terbaik untuk memuaskan laki-laki dengan tangan. Maka dilakukannya apa yang telah lama tidak dilakukannya. Rien kini ikut memejamkan mata, berkonsentrasi pada bagian bawah tubuh Kino tanpa melepaskan ciumannya. Ia merasakan betapa kelaki-lakian itu kini menegang dengan cepat, dan mulai berdenyut-denyut. Rien tahu, sebentar lagi Kino akan mencapai orgasme pertama di tangannya. Sejenak ia menurunkan telapak tangannya sampai ke pangkal kelaki-lakian Kino, lalu dengan gaya mengurut ia membawa naik telapak tangannya, dan sesampai di atas ia meremas-remas dengan kuat.Kino tak tahan lagi. Tangan Mba Rien yang halus dirasakannya bagai sedang menarik lepas sebuah sumbat di bawah sana. Dan dengan lepasnya sumbat itu, sebuah air bah yang dahsyat menyerbu keluar. Kino mengerang pelan, melepaskan bibirnya dari bibir Mba Rien, mendongak seakan berusaha menghisap lebih banyak udara, lalu menjerit tertahan.Rien merasakan betapa kelaki-lakian Kino tiba-tiba membesar dengan cepat, lalu bergetar dan berdenyut-denyut kuat. Telapak tangan Rien meremas untuk terakhir kalinya, lalu mulai menerima semprotan-semprotan cairan kental panas. Ia mengepalkan tangannya, menampung semua itu agar tidak bermuncratan ke mana-mana. Tidak kurang dari tujuh kali rasanya semprotan cairan itu memenuhi kepalannya. Lalu, Kino terkulai lemas, dan memeluk tubuh Mba Rien. Pelan-pelan Rien mengeluarkan tangannya, dan diam-diam mengambil sapu tangan untuk membersihkan tangan itu."Enak?" tanya Mba Rien lembut, seperti seorang ibu menanyakan bagaimana rasanya makan malam yang dihidangkannya. Kino tertawa tertahan, malu bercampur senang. Hujan masih turun, walau tak lagi lebat. Kino tak peduli. Walau harus bertarung melawan macan di hutan ini pun, ia tak peduli. Selama Mba Rien ada di sisinya, ia tak peduli!Continue..Menguak Rahasia Berdua"Peristiwa Kenari", demikian Rien menamakannya, adalah sebuah langkah tak terencana yang sempat membuat wanita lajang ini panik. Ketika mereka berdua akhirnya tiba kembali di kota, menembus rintik hujan dan gelap senja, Rien sempat ingin berbincang dahulu. Ia ingin menjelaskan sesuatu, agar Kino tak salah tangkap. Tetapi mulutnya terkunci, dan otaknya buntu. Lagipula, apa yang bisa ia jelaskan? Misteri apa yang bisa ia ungkap dalam sebuah peristiwa pendek yang begitu bergelora tadi? Dan kenapa ia harus kuatir akan Kino; kesalah-tangkapan apa yang mungkin terbesit di benak pria muda itu?Akhirnya mereka berpisah dengan kikuk. Di perempatan dekat kantor camat, Rien berbelok ke kiri, ke tempat kostnya. Sambil berusaha tersenyum menenangkan diri, ia melambaikan tangan dari atas sepedanya. Kino tampak ragu-ragu, apakah hendak ikut belok kiri atau terus, langsung ke rumahnya. Tetapi dilihatnya Mba Rien hanya melambai, tidak menawarkan mampir. Maka ia pun hanya membalas lambaian dan melanjutkan perjalanan ke rumah.Di tempat kost, Rien memutuskan untuk segera mandi, terburu-buru melepas jaket parasut dan celana pendeknya. Dengan bersaput handuk, ia berlari kecil ke kamar mandi di sebelah kamar tidurnya. Teman satu kostnya, seorang guru SMP bernama Laras yang sebaya dengannya, tak tampak. Mungkin sedang bermain ke tetangga sebelah. Cepat-cepat Rien mengunci pintu kamar mandi dan membuka pakaian-pakaian dalamnya. Lalu ia membasuk kaki-kakinya yang terpercik lumpur, dan mencuci tangan.Sewaktu mencuci tangan itulah, terbayang kembali "peristiwa kenari" yang barusan dialaminya. Sambil tersenyum, dalam hati ia memarahi dirinya sendiri. Rien, kamu telah membuka gerbang ke arah dunia yang tak terduga! Kini, apa yang akan terjadi berikutnya, kamu harus simak dengan seksama. Dan dengan hati-hati. Siapa yang tahu, apa yang kini bergejolak di hati Kino, dan apakah keremajaannya mampu menampung gejolak itu. Rien mengambil sabun dan membasuh kedua tangannya dengan seksama. Tangan itu yang tadi meremas-membelai, menguak sebuah tabir dari babak cerita di panggung kehidupan!Lalu Rien menumpahkan bergayung-gayung air dingin ke tubuhnya. Segera kesegaran menyerbu badannya, membuatnya ingin bernyanyi. Maka tak lama kemudian ia menggumamkan lagu -entah apa- sambil mulai menyabuni tubuhnya. Lehernya yang jenjang ia sabuni. Sepasang bukit indah di dadanya, ia sabuni, sampai dipenuhi busa-busa harum. Pada saat menyabuni bagian bawah tubuhnya, ia terkejut sendiri. Hampir saja sabun lepas dari genggaman. Ternyata kewanitaannya basah oleh cairan bening yang telah lama tak pernah ada di sana. Kekagetannya juga berlanjut, ketika Rien sadar bahwa di bagian itu ada rasa hangat yang berlebihan. Ada sensitifitas yang lebih dari biasanya. Tanpa sabun, tangannya bergerak lebih ke bawah, mengusap-usap seperti sedang menduga apa gerangan yang terjadi. Sebenarnya, Rien tak perlu menduga, karena setiap usapan mendatangkan rasa yang telah lama tak dirasakannya: sebentuk geli yang bercampur nikmat, yang dengan mudah membuat jantungnya berdegup sekian kali lebih kencang. Tanpa bisa dicegah, Rien tiba-tiba mendesah, dan kedua kakinya bagai sedang berseteru, saling memisahkan diri satu sama lainnya.Suara kucuran air cukup keras menyembunyikan desah Rien yang kini memperkuat usapan tangannya. Bahkan itu bukan lagi mengusap namanya. Itu meremas namanya. Menekan-nekan dengan telapak, dan menggaruk-mengurat dengan jari tengah. Lalu pangkal ibu jarinya bertumbu pada bagian atas, bergerak-gerak seperti sedang menarik picu senjata. Rien menggelinjang, dan hampir saja terpeleset di lantai kamar mandi yang licin. Tangan kirinya yang bebas buru-buru berpegangan ke tembok, sementara tangan lainnya tak hendak berhenti. Malah bergerak makin cepat seperti ada sesuatu yang mendesak yang harus dilakukan di bawah sana. Mata Rien sedikit terpejam, dan mulutnya yang berpagar bibir basah itu sedikit terbuka. Nafasnya sedikit memburu. Serbuan-serbuan kenikmatan datang entah dari mana, dan Rien agak terhuyung, sehingga ia akhirnya bersandar di tembok marmer yang dingin dan basah. Suara orang membuka pintu ruang depan membuat Rien tersentak sadar. Buru-buru ia kembali ke dekat bak mandi. Terdengar suara Lara nyaring, "Rieeeen ........ kau kah itu di kamar mandi?"Rien membersihkan tenggorokannya yang tiba-tiba tersekat, sebelum menjawab keras-keras, "Ya, ini aku La ... sedang mandi...", entah apa pula perlunya menambahkan kata "sedang mandi" di ujung kalimat!"Dari mana saja, anak manis?" teriak Lara lagi, terdengar melangkah menuju kamarnya di seberang kamar Rien."Dari hutan mencari kenari .... ", jawab Rien sambil mulai mengguyur. Duh, segera saja api yang berkobar di tubuhnya padam. Dalam hati Rien bersyukur, Lara datang sebelum dirinya betul-betul terlena oleh tangannya sendiri! Tetapi sesungguhnya ia juga kesal, kenapa Lara datang pada saat seperti itu. Sambil tertawa kecil, Rien menghentikan perdebatan di kalbunya. "Peristiwa Kenari" ternyata tidak hanya mengubah hidup Kino!!******Sementara Kino telah pula sampai di rumahnya. Ia telah pula di kamar mandi, dan telah pula menyabuni tubuhnya. Sama dengan Mba Rien, ia telah pula kembali membayangkan apa yang terjadi di hutan tadi. Bedanya, Kino tak berhenti karena terganggu oleh teriakan ayah, atau panggilan ibu, atau ajakan Susi untuk bermain petak umpet. Kino melanjutkan gerakan-gerakan tangannya, mengerang pelan ketika akhirnya ledakan-ledakan orgasme tercapai.******Seminggu setelah "peristiwa kenari", Kino disibukkan oleh ulangan-ulangan di sekolahnya. Dalam kesibukannya itu, Kino tak bertemu Mba Rien. Ia tak mungkin bisa menemui Mba Rien, karena diam-diam Mba Rien pergi ke rumah salah seorang kakaknya di kota B, 6 kilometer di sebelah selatan. Sebuah pesan pendek disampaikan Niken kepada Kino, ketika pria remaja ini lewat di depan sanggar (tentu saja, ia sengaja lewat!). Kata Niken, Mba Rien menyuruh Kino rajin belajar supaya semua ulangannya bernilai bagus. Kata Niken lagi, Mba Rien baru akan pulang bulan depan, karena sanggar akan tutup sementara murid-murid menjalani ulangan.Untuk beberapa saat, Kino merasa ada sesuatu yang tak beres. Kenapa dia tiba-tiba menghindar? sergahnya dalam hati, disertai gundah karena kepergian Mba Rien hanya berjarak seminggu dari peristiwa di gua itu. Apakah ia marah? Tetapi apa yang membuatnya marah? Mba Rien tak tampak marah ketika ia melakukan itu di gua; ia bahkan tampak ceria, dan matanya penuh senyum menggoda. Apakah ia malu menemuiku lagi? Tapi, bukankah aku yang seharusnya malu menemuinya?Pikiran-pikiran itu berkecamuk sepanjang hari, berlanjut sepanjang malam, sehingga Kino baru tertidur pukul 2 pagi. Untung keesokan harinya ulangan belum lagi dimulai karena masih dalam rentang "minggu tenang". Tentu saja Kino tak punya seorang pun yang bisa diajak mendiskusikan pikiran-pikirannya. Tidak Dodi dan Iwan yang baginya cuma akan menambah persoalan. Tidak juga ibu, dan apalagi tentu bukan ayah. Keduanya pasti cuma akan marah dan menuduh yang bukan-bukan.Maka Kino terpaksa mengambil kesimpulan sendiri. Ia pergi ke pantai sendiri, berenang sampai letih, lalu tidur-tiduran di bawah semak-semak tempat ia dulu pertama kali menyentuh dada Mba Rien. Sambil tertidur itu lah ia memutuskan, bahwa tak mungkin Mba Rien bermaksud buruk. Tak mungkin tiba-tiba Mba Rien meninggalkan dirinya penuh dengan tanya yang belum terjawab. Ia adalah seorang wanita bijaksana, pikir Kino dalam hati, dan ia pergi karena aku harus ulangan umum. Karena aku harus berkonsentrasi dengan buku-bukuku. Karena dengan Mba Rien di dekatnya, buku-buku akan dia lempar jauh-jauh!Pikiran itu meneduhkan gejolak hati Kino, walau tak pernah menjadi jawaban sempurna bagi pertanyaan-pertanyaan yang terus berdatangan di kepalanya. Pikiran itu pula yang membantu Kino berkonsentrasi ke pelajaran sekolahnya, sehingga ulangan umum tak terasa begitu menyiksa. Dua minggu ia hanya belajar dan belajar, sehingga ketika ulangan tiba, kepalanya seperti penuh dengan huruf dan angka. Satu demi satu ia menyelesaikan mata ulangan dengan sedikit kesulitan saja. Di akhir masa ulangan, kepalanya terasa kosong sekali. Ringan dan sejuk."Kamu kelihatan riang dan optimis...," tiba-tiba Alma sudah berdiri di dekatnya, memeluk tas dan menuaskan senyum di mukanya yang tampak letih setelah seharian berkutat dengan kertas ulangan.Kino membalas senyum Alma, dan tiba-tiba sadar bahwa cuma gadis ini yang tampaknya peduli akan perasaannya. Kino teringat, Alma pula yang dua minggu lalu -sebelum ulangan dimulai- bertanya kenapa wajahnya keruh. Alma pula yang pernah menawarkan sebotol minuman dingin ketika ia sedang duduk sendirian di pinggir lapangan basket menunggu bel masuk setelah istirahat. Alma yang penuh perhatian!"Lega rasanya setelah semua ulangan selesai," ucap Kino sambil memandang Alma, dan menyadari betapa indah kedua bola mata gadis yang oleh Dodi dan Iwan selalu dipuji-puji setinggi langit. Alma tersenyum lagi, menembakkan seberkas perasaan yang belum jelas tertangkap oleh Kino."Pulang sama-sama?" kata Alma lembut, seperti mengajak, seperti menebak. Ah, Kino tak tega mengatakan "tidak", maka ia cuma mengangguk dan mereka berjalan beriringan pulang. Kino menuntut sepedanya, Alma berjalan sambil tetap mendekap tas sekolahnya. Sayup-sayup Kinomendengar Dodi berteriak "cihuiii.." dan Iwan memperdengarkan suitan nakalnya. Kino mengutuk dalam hati, dua monyet itu sungguh tak punya sopan. Tetapi ia tersenyum juga.Mereka berjalan pelan-pelan, menyusuri jalan yang dipagari pohon-pohon asam rindang, berbincang-bincang ringan tentang sekolah. Alma bertanya tentang rencana liburan, Kino mengatakan ia belum punya rencana. Alma berbicara tentang rencana berkemah anak-anak kelas dua dan kelas tiga, Kino mengatakan dukungannya kepada rencana itu. Alma bertanya apakah Kino akan ikut berkemah, dan Kino menjawab "mungkin". Alma lalu terdiam. Kino juga diam. Pohon-pohon asam juga diam. Angin juga diam.Dalam diam Kino membandingkan Alma dengan Mba Rien. Betapa berbedanya! Alma tampak lembut, mungil, terkadang seperti sedang bersedih. Mba Rien selalu menggairahkan, tegas, dan penuh ide kegiatan. Tetapi Alma sangat cantik, terutama jika mereka sedang berdua, dan jika ia sedang bertanya, "Ada apa?" dengan suaranya yang pelan dan matanya yang menatap bening. Di depan Mba Rien, Kino seperti murid di hadapan maha-guru dunia persilatan, mengikuti segala gerak-geriknya dengan seksama, mematuhi anjuran dan permintaannya. Di depan Alma, sebaliknya, ia merasa perlu melingkarkan tangan di bahu yang tampak ringkih itu. Merasa perlu selalu jalan di sebelah kanan kalau beriringan. Merasa perlu menawarkan membawa alat-alat laboratorium setiap kali mereka selesai praktikum. Mereka tiba di depan bioskop satu-satunya di kota itu. Mereka harus berpisah di sini, kecuali jika Kino ingin mengantar Alma sampai ke rumahnya. Alma memecah kesunyian di antara mereka, "Sampai jumpa lagi sehabis liburan," katanya pelan, lalu mulai berbelok."Alma..," tiba-tiba saja Kino sudah berucap, tapi ia sendiri lupa hendak bicara apa. Alma menghentikan langkah, berputar menghadap Kino yang juga sedang berdiri terpaku. Alma menunggu, wajahnya penuh harap. Ah, mengertikah Kino apa artinya "harap"?"Aku ingin ikut berkemah..., tapi...," Kino berucap penuh keraguan. Cepat sekali wajah Alma berubah mendengar ucapan Kino, dan bibirnya yang mungil susah-payah menyembunyikan senyum yang tiba-tiba menyeruak. Segumpal harapan tersekat di kerongkongnya."..... tapi aku tidak tahu harus mendaftar kepada siapa." lanjut Kino setelah menelan ludah yang terasa pahit."Aku bendahara panitia," sergah Alma cepat sekali, seperti memang sudah dipersiapkan sejak tadi tetapi ditahan-tahan, "Kamu bisa mendaftar kepadaku. Hari ini juga namamu sudah bisa kutulis sebagai peserta. Aku bisa menalangi uang pendaftarannya. Aku....," Alma menghentikan ucapannya, sadar melihat Kino berdiri melongo memandang gadis di depannya bicara penuh semangat, seperti berbicara di depan pertemuan partai politik!Alma merasa mukanya tersiram air hangat, dan ia segera menunduk menyembunyikan rasa malu yang menyerbu. Kino tiba-tiba ingin tertawa keras, tetapi ia bertahan sekuat tenaga, sehingga yang keluar cuma senyuman yang lebar."Kalau begitu," ucap Kino sambil tetap menahan senyum, "Sampai jumpa di alun-alun sekolah Sabtu depan!"Alma mengangkat muka, memperlihatkan wajahnya yang memerah tetapi juga bersinar riang sempurna. Matanya berbinar seperti bintang timur di pagi hari. Mulutnya mengguratkan senyum amat manis, bahkan bagi Kino, bahkan di terik siang yang kering itu. "Sampai jumpa," bisiknya, tetapi tentu Kino tak mendengar karena ia telah mulai melangkah lagi sambil melambaikan tangan. Alma mengangkat tangan kananya, melambai pelan, dan akhirnya berbalik untuk berjalan ke arah rumahnya. Bumi terasa empuk, seperti kasur terbuat dari busa. Alma senang sekali hari itu. Senang-senang-senang sekali!******Bumi perkemahan adalah arena penuh suka-duka remaja. Pak Guru dan Bu Guru adalah sipir-sipir penjara, dan anak-anak kelas dua dan kelas tiga adalah para pesakitan. Tetapi siapa yang peduli! Setelah letih didera ulangan dan ujian, bumi perkemahan adalah penjara yang dirindukan. Di sini mereka bisa berteriak mengalahkan guntur di langit, bernyanyi tanpa not balok dan tanpa dirijen (yaitu Pak Sulih, guru seni yang terlalu tua itu!), serta tidur melewati batas waktu yang selalu ditetapkan secara sepihak oleh orangtua. Di sini pula menyebar cinta remaja, cinta monyet, puppy love, atau apa lah namanya!Di perkemahan itu pula, Kino "menemukan" Alma, setelah sekian lama mereka berteman. Kino kini menyadari, Alma bukan gadis biasa, bukan semata-mata teman sekelas yang duduk di bangku kayu berwarna coklat tua itu. Bukan seperti Tres, atau Sriani, atau Gina, atau Lisa. Karena Alma punya kelebihan dari semua mereka itu: Alma peduli padanya, peduli pada apa yang dirasakannya, dan peduli dengan ketulusan. Karena Alma tidak meminta, tetapi memberi. Alma tidak mengajak, tetapi mendampingi.Pagi itu, dengan alasan menemani Alma mengambil air di sungai, Kino menarik gadis itu ke balik sebuah batu besar. Di situ, di antara gemersik air dingin dan kicauan burung yang terlambat bangun, Kino menciumnya. Lembut dan penuh perasaan, ia mengulum bibir gadis yang kini memeluknya erat sekali. Alma memejamkan mata, merasakan angin seperti sutra menyelimuti tubuh mereka berdua, mendengar nyanyian merdu dari daun-daun yang berjatuhan. Kino merengkuh tubuh yang terasa jauh lebih mungil itu (Alma cuma setinggi hidungnya), melumat bibirnya yang basah dan terasa manis. Ember terguling berkelontangan.Sejak itu, Dodi dan Iwan mengubah sebuah lagu pop dengan teks gubahan mereka sendiri yang sangat gombal. Kino pusing sekali mendengar gubahan yang tidak karuan itu. Bahasanya buruk, tidak puitis, dan jelas-jelas memproklamirkan percintaan Alma dengannya. Pusing sekali Kino dibuatnya, tetapi apa lah dayanya, cuma Dodi dan Iwan yang bisa menghiburnya dengan ketololan-ketololan seperti itu!******Enam hari menjelang masa sekolah, Alma menemani kedua orangtuanya ke ibukota, katanya hendak menjenguk kakek-neneknya. Inilah pertama kalinya Alma merasa perlu melaporkan kepergiaannya kepada Kino, karena sejak perkemahan dan ciuman pertama itu, Kino resmi menjadi kekasihnya. Seorang kekasih harus tahu kemana pasangannya pergi, bukan? Maka Alma menulis surat pendek, di atas kertas merah jambu, dan dikirim lewat kurir istimewa bernama Dodi dengan pesan wanti-wanti, "Jangan dibuka sebelum tiba di tangan Kino!"Kino tersenyum membaca surat itu, sementara Dodi memanjang-manjangkan leher ingin mengintip isinya. Dengan seksama, dilipatnya kertas merah muda itu, dan disimpannya di dompet. Kepada Dodi, ia bilang bahwa Alma pergi ke ibukota untuk menikah dengan pria pilihan orangtua mereka. Dodi mencibir tak percaya, tapi Kino tak peduli apakah temannya percaya atau tidak. Mereka lalu bersiap-siap berenang ke sungai, dan mengajak Iwan ikut serta. Sepanjang sore, mereka berlomba-lomba menyebrangi sungai, dan Kino selalu menang. Kedua temannya terlalu ceking dan terlalu banyak bergadang.Sepulangnya dari berenang, ketika Dodi dan Iwan telah terpisah darinya, Kino bertemu Niken."Hai..., apa kabar!" sergah wanita teman Mba Rien itu."Kabar baik," ucap Kino pendek. Sebetulnya ia ingin melanjutkan dengan pertanyaan tentang Mba Rien, tetapi Kino ragu apakah hal itu patut ditanyakan kepada Mba Niken."Tidak pernah ke sanggar lagi?" tanya Niken, entah kenapa Kino merasa wanita ini sedang menggodanya."Mmmm .... bukankah latihan tari belum dimulai lagi, dan Susi belum perlu datang lagi?" jawab Kino.Niken tertawa kecil, "Maksudku, .... koq tidak pernah ngobrol dengan Mba Rien lagi, dia kan sudah datang!"Kino menelan ludah. Oh, Mba Rien telah pulang. Cepat sekali rasanya waktu berlalu, pikirnya dalam hati. Lalu, entah kenapa ia akhirnya berjalan beriringan dengan Niken ke arah sanggar. Niken berceloteh entah tentang apa, Kino tak begitu memperhatikan, karena kepalanya sibuk menjawab berbagai persoalan yang tiba-tiba muncul.Sesampai di sanggar, Niken berkata bahwa ia hendak ke belakang dulu, dan bahwa Mba Rien ada di ruang latihan. Kino menggumamkan terimakasih, menjawab sekenannya, lalu berjalan ke arah ruang latihan. Langkahnya terasa berat, tetapi kaki-kakinya seperti digerakkan oleh mesin yang tak bisa dikendalikannya sendiri."Hei!!! Kino!...apa kabar?" suara Mba Rien yang lepas-nyaring terdengar begitu Kino muncul di pintu ruang latihan. Kino terpaku sejenak, matanya menyesuaikan diri dengan keremangan ruang latihan. Akhirnya ia melihat Mba Rien, sedang menggelar tikar-tikar bersama seorang wanita lain yang tak dikenal Kino.Rien mendekat dengan cepat. Duh, kenapa ia jadi rindu kepada remaja ini? sergahnya dalam hati, tetapi ia tak mempedulikan perasaannya. Dipeluknya Kino sebelum pemuda ini sepenuhnya sadar apa yang terjadi, lalu dikecupnya cepat pipinya. Kemudian dilepasnya pelukan secepat ia mencium pipinya, dan diberondongnya Kino dengan serentetan pertanyaan.Kino tergagap-gagap menjawab pertanyaan tentang ulangan, tentang liburan, tentang orangtuanya, tentang Susi, tentang .... entah tentang apa lagi. Banyak sekali yang tak bisa dijawabnya. Mba Rien tampak bersemangat sekali, dan Kino baru belakangan menyadari bahwa rambut wanita ini telah berubah pendek. Tetapi perubahan itu justru menambahkan kecantikan baru, karena lehernya yang jenjang dan mulus itu semakin terpampang indah, dan matanya yang bersinar itu semakin tampil. Kino tiba-tiba merasa ingin melingkarkan tangannya di leher yang menggairahkan itu!Setelah mencencar dengan pertanyaan dan menyeret Kino untuk membantunya menggelar tikar-tikar, akhirnya Mba Rien mengajak Kino ke tempat kostnya. Kino hendak membantah, karena hari sudah mulai gelap. Tetapi, sebagaimana biasanya, ia tak pernah bisa menolak inisiatif Mba Rien. Lagipula ini malam Minggu dan sekolah belum lagi mulai. Kino tadi sore telah mengatakan akan bermalam minggu bersama teman-teman, dan ayah-ibu telah mengijinkannya pulang paling lambat pukul 11. Maka akhirnya Kino bertandang ke tempat kost Mba Rien.Di tempat kost Mba Rien, tampak Mbar Laras sedang berbincang dengan seorang pria berwajah tampan dan berpakaian rapi, mungkin pacarnya. Kino mengangguk sopan, dan Mba Laras mencubit pahanya sambil mengomel, mengatakan bahwa Kino tidak adil karena hanya datang kalau ada Mba Rien. Pria yang sedang bersama Mba Laras bertanya, siapa si Kino itu (usil juga dia!) dan segera dijawab bahwa Kino adalah adik bungsu Rien. Pria itu menggumamkan, "Oooo.." yang entah mengandung curiga atau percaya. Kino tiba-tiba sebal kepada pria yang -harus diakuinya- berwajah tampan dan berbaju cukup bagus untuk ukuran kota kecil.Mba Rien mengajak Kino masuk ke kamarnya, dan Kino tentu menurut saja karena Mba Laras juga mengusirnya dari ruang tamu ("mengganggu pembicaraaan," katanya). Di kamar, Mba Rien mengeluarkan sebungkus kue bolu oleh-oleh dari kakaknya, dan Kino bersuka-cita melahap pengganan lezat kegemarannya itu. Mba Rien terus bercerita tentang kakaknya, tentang anak kakaknya, tentang kota yang terkenal dengan bolunya, dan sebagainya, dan seterusnya. Kino, seperti biasa, cuma mendengar dengan seksama. Tetapi mata Kino tak lekang dari Mba Rien yang bergerak lincah mengimbangi keramaian ceritanya. Ia seperti burung gelatik di pagi hari, pikir Kino. Menggairahkan pula, dengan dada yang terlonjak-lonjak seperti itu, dengan mulut yang basah seperti itu, dengan pinggul yang bergoyang seperti itu.Lalu terdengar Laras berteriak dari kamar tamu, mengatakan bahwa ia dan teman prianya akan keluar untuk menonton. Mba Rien keluar sebentar dan berbicara dengan pria teman Laras itu, lalu terdengar pintu depan ditutup, dan Mba Rien kembali ke kamar. Kino sedang berdiri membuka-buka album foto di meja kerja Mba Rien yang dipenuhi majalah-majalah dan buku tentang tari-menari. Cantik sekali Mba Rien dalam foto-foto penampilannya. Ia memang penari yang kata orang penuh bakat, dan sudah pernah diajak tur keliling Indonesia oleh seorang sutradara tari dari ibukota. Kino juga pernah mendengar bahwa Mba Rien diajak tur ke luar negeri, tetapi entah kapan realisasinya.Kino tersentak ketika merasakan nafas Mba Rien di tengkuknya. Tanpa terdengar, Mba Rien telah berdiri di belakang Kino, dekat sekali. Dengan ringan ia menjelaskan foto-foto di album itu, tetapi Kino tak bisa sepenuhnya mengerti. Betapa tidak! Tubuh Mba Rien menempel di tubuhnya. Nafasnya harum memenuhi udara. Dadanya yang kenyal menekan punggung Kino, membuat pemuda ini tiba-tiba bersyukur bahwa Mba Laras dan teman prianya pergi ke luar rumah!Lalu, entah kekuatan apa yang datang ke Kino, tiba-tiba ia sudah berbalik dan memeluk Mba Rien. Bukan itu saja, Kino bahkan tiba-tiba sudah mengulum bibir basah yang bernafas harum menggairahkan itu. Rien tergagap, kedua tangannya siap mendorong dada Kino. Tetapi dengan tiba-tiba pula tangan itu kehilangan daya, dan berhenti di dada Kino, bukan mendorong melainkan menempel saja. Lalu, ketika Kino terus melumat bibirnya, Rien tak kuasa mencegah kedua tangannya merengkuh tubuh pemuda itu. Kedua payudaranya terhenyak di dada Kino, membuat Kino semakin bergairah menciumi wanita yang selalu menggairahkan birahinya ini.Rien mengerang mendapat perlakuan Kino yang penuh nafsu itu. Matanya terpejam penuh penyerahan, juga ketika pelan-pelan mereka bergeser ke arah dipan. Tangan Rien meremas punggung Kino, dan bahkan lalu menekan tengkuk pemuda itu, mendorong Kino untuk berbuat lebih bergairah lagi. Dan Kino pun menyambut ajakan seperti itu dengan sepenuh hati. Entah bagaimana awalnya, kedua tangannya kini meremas-remas payudara Rien, menyebabkan wanita itu terengah-engah. Puting-puting susunya terasa menegang mendapat perlakuan Kino yang sebetulnya agak kasar itu. Terasa gatal pula, karena Rien tergesek-gesek beha nilonnya. Kehangatan tiba-tiba menjalari tubuhnya, ke arah bawah, ke antara dua pahanya yang kini menempel erat di paha Kino.Keduanya lalu terjerembab di dipan yang berderit menahan beban yang lebih berat dari biasanya. Kino menindih Rien dan masih menghujaninya dengan ciuman. Rok Rien yang pendek telah tersingkap, memperlihatkan seluruh pahanya, dan celana dalam krem tipis yang berenda-renda. Sejenak Kino melihat pemandangan itu, menyebabkan ia semakin bergairah menciumi Mba Rien-nya. Tetapi cuma itulah yang bisa dikerjakan Kino selama ini, meremas payudara (sebagaimana Mba Rien mengajarinya di pantai) dan menciumi bibirnya (seperti "peristiwa kenari" sore itu). Tidak lebih dari itu yang bisa dikerjakan pemuda tak berpengalaman ini!Adalah Rien yang kemudian tak merasa cukup diciumi dan diremas-remas seperti itu. Tubuhnya minta lebih dari itu, dan Rien ingin mendapatkannya dari Kino, pemuda yang semakin lama semakin disukainya ini. Ia tahu, ini adalah sebuah permintaan yang berbahaya dan harus diperlakukan hati-hati. Tetapi pancaran birahi dari pemuda yang sekarang mendekapnya ini begitu kuat, mengundang Rien untuk hanyut lebih jauh lagi, berenang lebih dalam lagi. Sanggupkah ia menolaknya?Dengan tangan kanannya yang bebas, Rien tiba-tiba sudah menuntun tangan kanan Kino, membawanya ke bawah. Tangan pemuda itu tampak lemas tak berdaya, mengikuti saja. Sambil mengerangkan sesuatu yang tak jelas, Rien menelusupkan tangan Kino dan tangannya ke balik celana dalamnya. Kino merasakan telapak tangannya mengusap rambut-rambut halus dan bukit kecil yang hangat di balik nilon tipis itu. Ah, apa yang harus kulakukan? pikirnya risau. Tetapi Kino diam saja, karena tangan Mba Rien kini mengajak tangannya berputar-putar mengusap. Hangat sekali di bawah sana, jauh lebih hangat daripada kedua payudaranya, ucap Kino dalam hati. Apalagi kemudian tangannya didorong lebih ke bawah. Tidak hanya ada hangat di sana, tetapi juga agak basah. Gerakannya masih mengusap-usap, menuruti saja gerakan tangan Mba Rien yang kini tampak semakin terengah-engah.Tiba-tiba Mba Rien melepaskan bibirnya dari pagutan Kino, membuat pemuda ini agak terperanjat. Apalagi kemudian Mba Rien bangkit, membuat Kino khawatir telah melakukan suatu kesalahan fatal. Tetapi ternyata tidak. Ternyata Mba Rien bangkit untuk melepas celana dalamnya, dengan sebuah gerakan cepat yang menakjubkan. Kino terkesima melihat Mba Rien kini menggeletak di sampingnya, dengan rok tersingkap sepenuhnya, dan dengan kewanitaan yang terpampang jelas, menampakkan segitiga hitam rambut-rambut halus yang sedikit membukit, dan sepasang bibir yang membasah. Kino menelan ludah berkali-kali. Pemandangan itu sungguh berada di luar batas khayalnya selama ini. Jauh di luar batas!Wajah Mba Rien tampak serius dengan sinar yang menggairahkan, pikir Kino sambil mencari jawab di mata wanita itu. Ia sungguh bingung, tak tahu harus berbuat apa. Mba Rien tersenyum, lalu berbisik, "Kino.. Mba ingin kamu melakukan sesuatu malam ini. Mau?"Kino mengangguk bisu. Apa lagi yang bisa dilakukannya selain itu? Ia melihat Mba Rien tersenyum seperti biasanya, penuh dengan bujukan agar ia percaya saja kepadanya. Ia diam saja, ketika tangan Mba Rien menuntun tangannya kembali ke bawah, ke segitiga yang tampak menggoda dan mengundang itu. Ia diam saja ketika dengan sabar Mba Rien memintanya menjulurkan jari tengahnya. Ia diam saja ketika Mba Rien, dengan tangan kirinya, menguak bibir-bibir di bawah sana, memperlihatkan dinding halus yang tampak licin-basah dan agak berdenyut berwarna merah muda itu."Oh, Kino... tolong gosok-gosokkan jari tengahmu di sana....," tiba-tiba Mba Rien mendesah penuh dengan permohonan. Kino terenyuh mendengar baru kali ini Mba Rien memohon. Cepat-cepat ia memenuhi permintaannya, dan dengan rasa kagum mulai menelusuri celah bibir dan dinding halus yang basah itu dengan jari tengahnya. Perlahan ia menelusur ke bawah, ujung jarinya terasa menyentuh sebuah liang liat yang agak sempit. Perlahan ia naik kembali, terus ke atas karena tangan Mba Rien menariknya sampai hampir keluar dari lepitan bibir-bibir yang tampaknya menebal itu. Ujung jari Kino kini merasakan sebuah tonjolan kecil di balik selaput kulit yang agak tebal. Mba Rien tampak memejamkan mata erat-erat ketika Kino mengurut-urut tonjolan itu seperti yang diminta Mba Rien."Terus, Kino... teruskan, ohhhhhh..," Mba Rien seperti merengek-rengek dengan wajah yang semakin memerah dan mulut membuka menghembuskan nafas memburu. Kino memenuhi permintaannya, menggosok dan mengurut dengan jari tengahnya lebih cepat lagi. Mudah sekali melakukannya, karena jarinya licin dipenuhi cairan kental bening yang ia tak tahu apa namanya. Mudah sekali jari tangannya melesak ke liang kenyal kecil di bawah sana, karena liang itu seperti membuka dengan sendirinya, dan seperti hendak menyedot masuk jarinya. Gerakan-gerakan tangan Kino semakin teratur; naik..., turun.... berputar,... naik ... turun .... melesak sedikit. Demikan seterusnya, sementara Mba Rien kini menggelinjang, mengerang-erang seperti orang mengejan, dan melentingkan badannya seakan punggungnya tertusuk duri."Oooooh, Kino... lebih cepat lagi .... Kino, ahhhh...," Mba Rien kini seperti orang mau menangis dan memohon-dengan-sangat kepada Kino. Sungguh membuat iba Kino, tetapi sungguh menggairahkan pula permintaan itu. Maka Kino bergerak secepat mungkin, sekeras mungkin, sekuat mungkin. Tangannya terasa pegal, tetapi ia tak peduli, ia harus lebih cepat lagi dan lebih kuat lagi menggosok. Harus lebih kuat lagi memutar sambil menekan kalau perlu, karena setiap putaran dan tekanan tampaknya membuat Mba Rien semakin keenakan. Rasanya seperti sedang menimba sumur dengan satu tangan, peluh telah membasahi dahi Kino, tetapi untuk wanita ini rasanya masuk sumur pun rela!Tiba-tiba Mba Rien mengejang, dan untuk beberapa detik Kino menyangka perempuan ini sedang menghadapi maut. Kaget, ia tarik tangannya, tetapi Mba Rien memprotes..."Ah, jangan Kino....jangan berhenti!" sambil menarik tangan Kino untuk kembali ke bawah sana. Cepat-cepat Kino memenuhi permintaan itu, dan menggosok-mengurut kembali sekuat tenaga. Satu kali, dua kali, tiga kali .... lima kali... akhirnya Mba Rien seperti berteriak tertahan. Tubuhnya menggeliat lalu melenting seperti busur panah, lalu terjerembab kembali ke kasur dan berguncang-guncang seperti sedang diserang batuk hebat. Tetapi bukan batuk yang keluar dari mulutnya, melainkan erangan-erangan dan rintihan-rintihan. Kino takut sekali melihatnya!"Ohhhhhh..., Kino!" ucap Mba Rien seperti orang menahan tangis, memeluk leher pemuda itu, meraihnya ke pelukan tubuhnya yang masih turun-naik dengan nafas memburu. Kino terdiam menempelkan kepalanya di dada Mba Rien, mendengar jantungnya bagai berdentum-dentum, keras sekali."Kino .... maafkan Mba Rien !" tiba-tiba terdengar wanita itu berucap. Kino hendak mengangkat kepalanya, tetapi tertahan oleh tangan yang memeluk erat lehernya.Lalu ia merasakan air hangat mengalir di dahinya. Mba Rien menangis! Ada apa gerangan? Apa yang salah? Cepat-cepat Kino melepaskan diri dari pelukan, dan memandang heran. Mba Rien memang menangis, matanya penuh air mata, tetapi mulutnya tersenyum manis. "Kenapa?" tanya Kino dengan sejuta keheranan.Mba Rien menggelengkan kepalanya pelan-pelan, tangannya lembut mengusap wajah Kino, lalu juga mengusap rambutnya yang agak menutupi dahi. Dia berbisik, "Aku telah menguak sebuah rahasia penting untukmu .... ."Kino diam dan masih mengernyitkan dahi. Mba Rien berkata lagi, masih dengan berbisik, "Itu tadi orgasme pertamaku di tangan kamu, Kino..."Orgasme. Rahasia penting. Kino menghela nafas panjang. Ia menguakkan kepadaku rahasia terpenting seorang wanita. Mba Rien membawakan kepadaku dunia yang kini justru penuh misteri untuk dikuakkan, pikir Kino dengan dada dipenuhi aneka perasaan: bangga bahwa ia dipilih oleh wanita menggairahkan ini, takjub karena ternyata orgasme itu begitu indah sekaligus menakutkan, terharu karena melihat wanita ini harus berjuang melawan dirinya sendiri sampai menangis!Dengan cepat dipeluknya Mba Rien, diciuminya leher wanita yang harum itu. Oh, terimakasih untuk kunci rahasia itu Mba Rien. Terimakasih banyak!!continue...
Menutup LayarKino terus menciumi leher jenjang yang harum dan kini agak basah oleh keringat. Ia mengecup-mengembus, menggigit kecil, menghela nafas menghirup semerbak tubuh wanita yang menggairahkan ini. Rasa terimakasih memicu semangat dan birahinya, ingin rasanya ia mendekap dan melumat tubuh hangat yang ditindihnya ini. Mba Rien tertawa kecil menerima perlakuan Kino, "Stop ....," ucapnya, tetapi kata itu seperti kehilangan makna. Dan Kino tak mau berhenti, malah semakin bersemangat menelusuri urat samar kebiruan di leher yang bak pualam itu. Kino naik menciumi dagu Mba Rien, menyusur bawah rahangnya, lalu turun lagi sampai ke pangkal leher. Tangannya dengan cepat menyibak kaos wanita itu, sekaligus membuka beha coklat di bawahnya, menampakkan dada ranum yang bergerak naik-turun dengan cepatnya."Ah, Kino .... Ohhh," akhirnya Mba Rien hanya bisa mendesah, dan perlahan tangannya yang tenggelam di rambut Kino kini justru menekan kepala pemuda itu. Justru mendorongnya agak lebih ke bawah, sehingga bibir Kino kini menelusuri lembah indah di antara kedua payudara yang membusung-mengembung-menggairahkan. Harum sekali lembah itu, lembut dan bergetar menyembunyikan jantung yang berdebar kencang. Kino semakin berani, mengangkat mukanya menggigit daging yang membola halus-licin itu sehingga Mba Rien menggelinjang dan menjerit kecil, "Oh, .... jangan Kino..." tapi tangannya tak juga sanggup mendorong kepala Kino lepas dari dadanya. Mba Rien hanya bisa berkata tak bisa berbuat. Sebuah penolakan yang tak punya daya, sebuah penyerahan yang tak terelakkan. Apalagi ketika mulut pemuda yang menghembus-hembuskan nafas panas itu kini tiba di satu puncak payudaranya. "Oh ... jangan itu,... Kino, jangan itu... ", erang Mba Rien, tetapi terlambat sudah! Dengan cepat Kino menyedot puting kenyal yang berdiri menantang itu. Mba Rien menggeliat, melepaskan tangannya dari kepala Kino, meremas-remas seprai seperti hendak mencari kekuatan dari situ. Dunia nyata seperti menghilang dari pandangan Rien yang kini terpejam menahan nikmat tak terperi yang menyerbu tubuhnya. Satu tangannya bergerak ke atas, menggenggam tiang ranjang seakan kini seluruh hidupnya bergantung di sana. Tak ada lagi pikiran bimbang, atau takut, atau kuatir di kepalanya. Semuanya hilang berganti kenikmatan belaka, menjalar-jalar seperti api keluar dari mulut Kino yang kini mengemut-emut puting susunya. Kino pun semakin bersemangat, menyedot kuat-kuat dan mengulum-ulum daging kecil kenyal yang terasa aneh di mulutnya itu. Beginikah seorang bayi merasakan susu ibunya? pikir Kino sambil membayangkan betapa rakusnya dulu ketika ia masih bayi!Rien merasakan kewanitaannya berdenyut lagi, bagai bangkit dari istirahat, setelah tak lebih dari 10 menit lalu bergeletar terlanda orgasme. Kini kedua kakinya membuka lebih lebar lagi, dan tak sadar ia menarik satu tangan Kino untuk kembali ke bawah sana. Kino pun tak perlu mendapat tuntunan lagi sekarang. Tiba-tiba saja ia sudah menjadi piawai. Tangannya dengan cepat melakukan lagi apa yang baru saja ia pelajari dalam permainan serba menggairahkan ini. Tangan itu tahu harus berbuat apa di ladang subur yang selalu menjanjikan kehangatan itu. Penuh kepastian, tangan pemuda itu kini mengusap-usap, menerobos-menelusup, meraih-raih. Rien membuka pahanya semakin lebar, semakin menguak, menyediakan keleluasaan kepada Kino."Ohhh, Kino.... Ohhh, aku mau .... Aaah, aku ingin ....," Mba Rien seperti kehabisan kata-kata, "Kino,... aku,... ahhh.." Apa yang hendak disampaikannya? tanya Kino dalam hati, tetapi ia tidak berani bertanya. Mulutnya tak hendak lepas dari mainan baru di puncak payudara yang menggelorakan itu!Dengan satu jari tengahnya, Kino membuka-menguak sepasang bibir di bawah sana. Telah menebal, bibir-bibir itu. Basah dan licin pula. Hangat dan berdenyut juga. Jari Kino seperti menari-nari, melenggak-lenggok di taman sutera yang halus menggelincirkan. Terkadang, jari itu menelusup jauh ke bawah dan sampai di sebuah liang sempit yang berdenyut-denyut. Rien tersentak ketika disentuh ujung jari Kino di bagian yang sangat peka itu. Tubuh bagian bawahnya tiba-tiba terangkat meninggalkan kasur, dan akibat gerakan itu jari Kino akhirnya melesak masuk, tergelincir cepat sampai tenggelam sepanjang satu buku jari. Ada sedikit lengket dan panas dan basah terasa oleh Kino di ujung jari yang dilingkari sebentuk otot liat-kenyal yang bergerak-gerak seperti mulut kecil. Dan Rien pun merintih pelan, ".... teruskan ... masukkan .... Oh, Kino... teruskan...". Dan Kino mendorong lebih dalam, merasakan jarinya kini menelusuri dinding licin bak sutra yang basah. Dan Rien semakin keras mengerang lalu memutar pinggulnya dalam gerakan asal-asalan. Kino menarik sedikit jarinya, tapi tangan Mba Rien mendorongnya kembali. Kino menarik lagi, tetapi didorong lagi. Ditarik-didorong. Ditarik-didorong. Berkali-kali, semakin lama semakin cepat, seperti kereta api sedang mengambil ancang untuk melaju. Rien menutup mulut dengan punggung tangannya, menahan sebuah teriakan-teriakan kecil yang terputus-putus... ah ... ah ... ah. Lalu ia menggelepar kuat sekali, dan tangan Kino lepas dari selangkangannya, seperti dilemparkan oleh kekuatan gaib. Kino sendiri terkejut sekali dibuatnya. Dan Mba Rien tidak bisa diajak bicara, karena wanita itu menggeliat, mengguling ke samping, lalu tertelungkup dengan tubuh berguncang-guncang. Ranjang berderit-derit. Kino terpana. Astaga, apa yang telah kulakukan?Kino hendak bangkit meninggalkan tempat tidur, tetapi tiba-tiba Mba Rien telah berbalik. Wajahnya agak memerah dan bibirnya yang menggairahkan itu seperti tomat matang. Matanya setengah tertutup, memandang sayu, tetapi penuh dengan sinar yang tak bisa digambarkan oleh kata-kata. Kino setengah terduduk di pinggir ranjang, tak pasti apa yang harus dilakukannya. Lagipula, kini ia kuatir ada orang yang mendengar kegaduhan di kamar ini, walaupun ia juga tahu paviliun tempat Mba Rien indekos terpisah oleh halaman cukup luas dari rumah utama.Mba Rien tiba-tiba tertawa kecil, "Aduh, Kino... lihat apa yang telah kamu lakukan," ucapnya masih agak terengah. Pakaiannya semrawut, behanya sudah terlepas sama sekali, dan roknya tersingkap lebar."Maaf, Mba ...," ucap Kino pelan. Ia sungguh-sungguh bermaksud minta maaf. "Hei... kenapa harus minta maaf?", ucap Mba Rien ringan, lalu ia bangkit dan merapikan pakaiannya, tetapi tidak memakai kembali beha maupun celana dalamnya yang kini entah di mana. "Kamu memberikan lebih dari yang aku minta, dan tak perlu minta maaf untuk itu ..." lanjut Mba Rien lagi dengan suara lembut, hampir berbisik.Mereka duduk berdua di pinggir ranjang. Mba Rien memeluk bahu Kino, lalu mencium leher Kino sedikit di bawah kuping. Kino menggeliat kegelian, lalu balas memeluk pinggang Mba Rien. Kemudian ia mendengar wanita itu berbisik dengan nafasnya yang hangat menyentuh tengkuk Kino, "..sekarang giliran kamu, yaa..."Tangan Mba Rien cepat sekali telah membuka resleting celana Kino yang diam saja tak tahu harus berbuat apa. Lalu dengan lembut tetapi agak memaksa, Mba Rien mendorong tubuh pemuda itu sehingga telentang di kasur, sementara ia sendiri tetap duduk dan terus membuka resleting sampai lepas sama sekali. Lalu jari-jarinya yang letik mulai mengelus-elus di atas celana dalam Kino yang telah menggembung dan agak basah di sana-sini. Ah, Kino pun hanya bisa memejamkan mata, membiarkan apa pun yang akan terjadi berikutnya. Ia pasrah saja.Dengan tangan yang lain Mba Rien membuka kancing baju Kino, satu-persatu dengan ketrampilan dan ketenangannya. Tak lama kemudian, dada Kino yang bidang telah terbuka sama sekali. Lalu Mba Rien membungkukan badannya sedikit, dan .... Kino menggeliat kegelian ketika bibir basah wanita itu tiba di putingnya yang kecil. Rasanya seperti disengat kenikmatan dan Kino mengerang pelan. Mba Rien bahkan lalu mengulum dan menyedot, sehingga Kino tak lagi hanya mengerang tetapi juga merintih. Enak sekali, ternyata jika seseorang bermain-main dengan puting susumu! pikirnya dalam hati.Sementara itu jemari-jemari Mba Rien yang lain telah masuk menyelinap ke balik celana dalam Kino, dan menemukan kejantanan pemuda itu tegak-keras-panas. Jemari itu lalu meremas pelan, mengelus dan menelusur ke atas ke bawah. Kino memejamkan matanya erat-erat, seakan memastikan bahwa ini adalah sebuah mimpi yang nyata, sebuah kenyataan yang dimimpikannya. Tubuhnya meregang merasakan jemari itu melakukan sesuatu yang menakjubkan, membuat seluruh daerah di bawah perutnya terasa tiga kali lebih besar dari biasanya.Mulut Rien terus mengulum puting Kino yang kecil, tangannya terus menggosok-meremas. Dua sumber kenikmatan saling bertumbukan di tubuh Kino, menyebabkan pemuda ini bergetar hebat. Sebuah desakan gairah mulai terkumpul di tubuh bagian bawahnya, membuat kedua pahanya terasa berat. Seluruh otot tubuhnya seperti sedang bersiap-siap meledak, seperti seorang lifter bersiap-siap mengangkat barbel, seperti kuda yang berancang-ancang melompat, seperti burung garuda yang bersiap mengudara.Gerakan Rien makin cepat, dan sedotan mulutnya makin kuat memilin-milin puting Kino yang tentu saja tak pernah lebih besar dari semula. Tidak seperti puting payudaranya Mba Rien. Tangan Mba Rien naik-turun dengan bergairah, begitu cepat sehingga hanya tampak dalam bayang-bayang. Kino mengerang panjang ketika akhirnya ia tak bisa lagi menahan serbuan puncak birahi menerjang mencari jalan keluar. Apalagi kemudian satu tangan Mba Rien yang masih bebas, ikut bermain di bawah sana, memegangi kantong di bawah kelaki-lakian Kino yang seperti mengeras-membatu. Tangan Mba Rien meremas pelan kantong kenyal itu. Pelan saja, tetapi sudah cukup membuat Kino menggeramkan penyerahannya, mengerangkan kepasrahannya, ketika dengan deras cairan hangat kental lepas dari tempat persembunyiannya, menghambur keluar.Langit-langit kamar Mba Rien memudar di mata Kino. Ranjang Mba Rien terasa seperti awan yang membumbung membawa tubuhnya melayang. Jemari dan tangan Mba Rien masih meremas menggosok. Mulutnya yang basah masih mengulum-menyedot. Dunia nyata seakan berkeping-keping. Meledak mengamburkan pijar-pijar pelangi di kepala Kino. Sungguh menakjubkan!Lalu sepi bagai turun dari langit. Kino tergeletak lemas. Mba Rien tertelungkup di sebelahnya, dengan kepala tersandar ke dadanya. Nafas mereka berdua masih memburu. Samar-samar terdengar detik jam dinding. Malam minggu sedang menuju titik kulminasi.Setelah segalanya tenang, Kino bangkit dan merapikan pakaiannya. Mba Rien keluar menuju kamar mandi. Segalanya seperti sediakala, kecuali ranjang yang berantakan tak keruan. Dengan cekatan Kino membereskan seprai dan mengembalikan bantal ke tempatnya. Ia menemukan beha dan celana dalam Mba Rien, yang segera dilipatnya baik-baik dan diletakkan di kursi meja rias. Setelah menghela nafas dalam-dalam, ia melangkah keluar, ke ruang tamu. Kosong tak ada siapa-siapa. Lalu Mba Rien muncul dari kamar mandi. Wajahnya penuh senyum seperti biasanya. Lalu mereka duduk berhadap-hadapan. Lama tidak berkata-kata, cuma saling menukar senyum. Ketika akhirnya Mba Rien membuka percakapan, bahan pembicaraan terasa hambar, dan wanita yang wajahnya bersinar tetapi kelihatan letih itu pun berkali-kali menguap tak mampu mengusir kantuk.Pukul 10 lewat seperempat, Kino akhirnya berpamit. Mba Rien berdiri di pintu depan memandangnya pergi. Kino tak bisa melihat wajahnya, karena terlindung bayangan pintu, tetapi ia tahu Mba Rien tersenyum. Maka ia pun tersenyum sekali lagi, lalu berbalik menuntun sepedanya ke jalan raya. Gelap malam segera menyambutnya, merangkulnya dengan embun basah yang segar. Entah kenapa, Kino merasa seperti seorang ksatria pulang dari medan pertempuran!*******Itulah malam paling bergelora yang pernah dijalani Kino bersama Mba Rien. Seminggu setelah itu, sekolah dimulai dan pertemuan keduanya tak pernah lagi terjadi malam hari. Kino juga tak lagi bisa sering mengantar-jemput Susi ke tempat latihan menari, karena kini ia punya aktifitas baru: mengantar Alma pulang. Mengerjakan PR bersama. Latihan vocal group untuk acara-acara sekolah. Kegiatan ekstrakulikuler selepas sekolah. Dan sebagainya.Mba Rien masih sering mengajak berenang bersama (tetapi Alma tidak pernah ikut karena ia tidak bisa berenang), mereka masih dengan riang saling berlomba mencapai batu karang, mengalahkan Dodi dan Iwan dan Niken yang selalu terlalu banyak tertawa. Mereka juga masih mencari kenari ke hutan, tetapi anehnya tak lagi ada hujan yang menyebabkan mereka terpaksa berteduh di gua. Tak sekali pun mereka pernah membicarakan adegan-adegan bergelora yang sering diputar-ulang oleh Kino di atas ranjangnya sendirian. Mba Rien seperti lupa tentang apa pun yang terjadi malam itu, seperti halnya ketika ia melupakan kejadian di pantai dan di gua. Segalanya normal-normal saja. Dan hari-hari pun berlalu dengan cepat, musim berganti dari hujan ke panas, dari basah ke kering. Ada suatu masa kemarau yang agak panjang, membuat daun-daun menguning dan suasana gerah di mana-mana. Pada masa seperti itu, kota kecil tempat mereka tinggal pun seperti kehilangan energi. Orang-orang jarang mau ke luar rumah, lebih sering duduk-duduk di beranda, atau berteduh di bawah pohon di halaman sendiri. Toko-toko yang jumlahnya memang tidak banyak, juga sepi pengunjung. Babah Ong, pemilik toko kelontong di ujung jalan semakin sering mengomel-mengeluh.******Kemarau kali ini membawa cerita lain bagi Kino. Ia semakin dekat berhubungan dengan Alma dan semakin jarang bertemu dengan Mba Rien. Bukan apa-apa, tetapi memang suasana panas menghalangi keinginan pergi ke pantai, sementara sungai juga menipis airnya, dan kenari tidak berbuah. Lagipula, setiap kali mengantar Alma pulang, Kino dipaksa mampir. Ibunda Alma, Nyonya Tuti, seorang bidan satu-satunya di kota itu, menyukai pemuda ini. Ia selalu mempunyai alasan tepat untuk menyuruh Kino berlama-lama menemani Alma. Misalnya, hari itu ibu yang bertubuh gemuk bulat itu sudah menyediakan es cendol segar. Siapa bisa menolak itu di siang yang begini terik? Tetapi Kino bersopan-santun, mencoba menolak tawaran menggiurkan itu."Ayooo...," sergah Alma manja, menarik kelingking Kino, menyeretnya masuk ke beranda seperti menyeret anak kambing, "Kamu tadi bilang haus...""Sudah siang, Alma," kata Kino mencoba berdalih.Ibu Tuti tertawa mendengar alasan Kino, "Setiap hari kalian pulang pukul 1, apa bedanya hari ini?""Ayooo...," Alma menarik-narik lagi, kali ini pergelangan Kino yang dicekalnya erat-erat. Terpaksa Kino melangkah masuk, menunduk menghindari tatapan Ibu Tuti yang seperti mau menggodanya sambil berkata, "Kino malu sama Ibu, ya? Baiklah kalau begitu Ibu masuk, kalian berdua saja minum cendol itu."Begitulah, akhirnya Kino minum cendol yang memang segar. Berdua saja di beranda yang sepi. Ibunda sudah pergi ke paviluan sebelah, tempatnya membuka praktek KB. Rumah besar yang menghadap jalan kecil menuju pasar ini tampak lengang. Berhadapan, diam-diam, Alma dan Kino menghabiskan minuman mereka. Sejuk sekali rasanya leher menelan cendol-cendol yang dingin itu.Kino menyukai suasana seperti ini, di mana ia bisa berlama-lama berhadapan dengan Alma tanpa siapa-siapa di sekeliling mereka. Wajah Alma yang selalu tampak segar itu (Kino kadang-kadang membandingkannya dengan buah jeruk manis yang baru dikelupas) selalu sedap dipandang. Apalagi kalau kedua matanya yang bening menatap kepadanya, dengan bulu mata lentik yang jarang berkerejap. Di suasana panas seperti ini, Kino senang sekali berteduh di sinar mata yang lembut itu. Senang sekali mereguk nada rindu yang mengalun pula dari sana."Apa, sih, yang kamu lihat?" sergah Alma sambil menggigit-gigit sendok plastiknya."Kamu." jawab Kino pendek, bertopang dagu dengan satu tangan."Setiap hari kamu lihat saya. Tidak bosan?"Kino menggeleng. Pertanyaan kuno, ucapnya dalam hati sambil menahan tawa. Itu pertanyaan yang mengundang tanggapan lebih lanjut, mengundang kata-kata seperti, "tak kan pernah bosan" atau "mana mungkin aku bosan memandangmu" dan yang semacam itu. Kino mengunci mulutnya, tetapi tidak menyembunyikan senyum di matanya."Tidak bosan?" tanya Alma lagi, sudah berhenti menggigit-gigit sendoknya. Bibirnya yang semakin basah oleh minuman terlihat indah agak berkilauan.Kino menggeleng lagi. Ia tahu Alma ingin mendengar serentetan kata-kata berbunga tentang ketidak-bosanan, tentang kerinduan yang menerus, tentang keinginan untuk selalu berdua. Tetapi Kino menguatkan hati. Kadang-kadang ia ingin menyampaikan segala sesuatu yang indah dalam diam. Tanpa kata-kata."Betul?" kali ini Alma terdengar penasaran, gemas diperlakukan seperti ini oleh pemuda yang tak pernah berhenti membuatnya terpesona."Kenapa tidak bosan?" tanya Alma.Kino menahan senyum. Mengangkat bahu dan tetap mengunci mulutnya. Alma semakin gemas, dan karena tidak tahan lagi, ia bangkit berpindah tempat ke sebelah Kino. Jemarinya yang halus tiba-tiba saja sudah hinggap di pangkal lengan Kino, mengancamkan sebuah cubitan."Ayo jawab. Atau Alma cubit!" ucapnya sengit. Kino pura-pura tidak mendengar, memandang ke luar beranda dan melihat sekeliling. Sepi sekali siang ini.Alma mencubit pelan. Mana tega ia mencubit keras. Kino meringis pura-pura kesakitan, lalu menoleh memandangi wajah Alma yang kini dekat sekali di sisinya. Aku ingin mencium bibir ranum yang basah itu, ucap Kino dalam hati. Pasti manis seperti es cendol yang diminumnya."Jawab...atau...," bisik Alma lirih, tak meneruskan kalimatnya melihat kedua mata Kino memandangnya dengan penuh rindu. Dekat sekali.Kino semakin mendekatkan wajahnya sampai bibirnya hampir bersentuhan dengan bibir Alma. Gadis itu terdiam, jemarinya berhenti mencubit, berubah menjadi cengkraman lemah. Kino menghela nafas menikmati harum nafas Alma yang hangat menghambur dari mulutnya yang setengah terbuka. Perlahan-lahan wajah mereka semakin mendekat. Kino mencium gadis itu, merasakan manis gula jawa yang tersisa di bibirnya yang basah, mengulum lembut seperti khawatir tindakannya akan menimbulkan gempa bumi.Alma menyambut ciuman Kino dengan mata terpejam dan dengan kehangatan yang justru mengusir terik kemarau hari itu.*******Suatu Sabtu di penghujung musim panas, Kino menerima sepucuk surat dari Mba Rien yang disampaikan lewat Susi. Ketika itu Kino baru saja tiba dari bermain voli di lapangan di depan kantor Pak Camat. Dengan tangan masih berpeluh, buru-buru disobeknya sampul putih yang cuma bertuliskan "untuk Kino di rumah" itu. Di dalamnya, ada sehelai kertas surat biru muda tipis, dan potongan sebuah brosur. Apa ini? tanya Kino dalam hati, lalu ia mulai membaca:Adikku Kino yang cakep... (Kino tersenyum membaca sapaan ini. Ada rasa rindu menjalar tiba-tiba. Telah lama ia tak berjumpa Mba Rien).Hari Minggu besok, Mba Rien akan pergi ke ibukota. Ada seorang sutradara tari menawarkan peran untuk sebuah pertunjukan besar. Mba Rien tidak tahu berapa lama akan berada di ibukota. Kalau peran itu jadi diberikan kepada Mba Rien, mungkin Mba Rien akan berada di sana lebih dari setahun .. (Kino menelan ludah, merasakan mulutnya kering. Lama sekali, setahun itu!)Mba Rien ingin mengucapkan selamat tinggal. Rajin-rajinlah belajar agar nanti bisa bersekolah ke institut teknologi yang dulu pernah kamu ceritakan itu ... (Jantung Kino berdegup kencang. Mengapa tiba-tiba ia merasa dirinya akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga?).Mba Rien tidak akan pernah melupakan kamu. Mba Rien juga tahu kamu akan tetap mengingat Mba Rien. Tetapi jangan lupa mengingat hal-hal lain yang penting dalam hidupmu. Terutama, jangan pernah melupakan cita-citamu, keinginan mu yang tertinggi... (Sampai di sini, Kino menghela nafas panjang, merasakan segumpal kesedihan menyumbat kerongkongannya. Apakah ini ucapan perpisahan?).Mudah-mudahan kita akan berjumpa lagi. Sampaikan salam Mba Rien kepada orang tuamu. Jaga Susi baik-baik, ia seorang yang berbakat tari.Peluk-cium, Mba RienNB : Mba Rien lampirkan potongan brosur pertunjukan tari di ibukota dan alamat sanggarnya. Kalau kamu berkesempatan, tengoklah Mba Rien di sana.Kino melihat jam di dinding. Jarum menunjukkan pukul tiga sore. Masih ada waktu sebelum bertandang ke rumah Alma. Cepat-cepat Kino berlari ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya yang berkeringat dan berdebu. Seperempat jam kemudian ia sudah mengayuh sepedanya dengan kecepatan maksimum menuju rumah kost Mba Rien. Ia ingin menemui wanita istimewa itu untuk mengucapkan selamat jalan.********"Baru saja Mbak Rien pergi, dijemput oleh kakaknya naik mobil." kata Mbak Laras di depan pintu. Kino lemas mendengar penjelasan itu."Tapi, bukankah ia baru akan berangkat ke ibukota hari Minggu besok?" tanya Kino, seperti hendak mempersoalkan benar-tidaknya Mbak Rien telah pergi."Betul," jawab Mbak Laras, "Tetapi kakaknya ingin Mbak Rien menginap di rumahnya, sebelum berangkat ke ibukota. Di rumah kakaknya itu telah berkumpul kedua orang tua mereka dan anggota keluarga yang lain. Semacam pesta perpisahan.""Rumah kakaknya tidak jauh, bukan?" tanya Kino, teringat tentang kepergian Mbak Rien sewaktu masa ujian dulu. Kalau tidak salah, jaraknya hanya 6 kilometer."Bukan kakaknya yang di dekat sini," kata Mbak Laras, "Yang menjemputnya tadi adalah kakak yang satu lagi, yang tinggal di kota L."Kino merasakan bumi tempatnya berpijak bergoyang-goyang. Kota itu jauhnya 100 km dari sini. Ia menunduk lesu, bersandar ke pintu rumah kost, membuat Laras iba. Kasihan pemuda ini, pikir Laras dalam hati, ia pasti sangat kecewa tidak berjumpa "kakak kesayangan"-nya. Laras bisa membaca hubungan istimewa yang terjalin antara teman kostnya dengan pemuda ini, walau tak pernah tahu seberapa jauh mereka berhubungan. Ia hanya tahu, Rien sangat menyayangi pemuda ini, dan memberlakukannya seperti adik sendiri. Tapi ia tidak pernah tahu bahwa keduanya pernah bergumul di kamar ketika ia pergi menonton beberapa waktu yang silam.Setelah mengucapkan permisi, Kino meninggalkan rumah kost itu dengan tubuh tanpa daya. Ia tidak menaiki sepedanya, melainkan berjalan saja perlahan-lahan. Hari telah menjelang senja, matahari dipenuhi semburat merah-jingga. Angin semilir seperti mencoba memberikan sedikit saja kesejukan di hari yang panas ini. Baju Kino basah oleh keringat, karena tadi ia mengeluarkan semua tenaganya untuk cepat-cepat sampai ke rumah kost. Kini ia mengutuk-utuk ajakan Dodi dan Iwan untuk main voli, dan menyesali diri karena menampik permintaan Susi untuk menjemputnya di sanggar. Seandainya tadi aku menjemput Susi, pastilah aku masih sempat bertemu Mbak Rien! umpatnya dalam hati. Sebuah batu agak besar di pinggir jalan ditendangnya. Tentu saja, jempolnya sakit bukan main, sedangkan batu itu tak bergeming.******Malamnya, malam minggu yang seharusnya indah, terasa kelabu bagi Kino. Ia berusaha menyembunyikan galau di hatinya sekuat tenaga. Tetapi percuma saja menyembunyikan perasaan di depan Alma. Gadis itu punya indra kesepuluh, khusus untuk menembus dinding kalbu Kino! Akhirnya Kino mengaku dan menceritakan kepergian Mbak Rien. Tidak itu saja, Kino juga menceritakan hubungannya dengan Mbak Rien, setelah memberlakukan sensor ketat di sana-sini. Alma terdiam mendengarkan cerita itu. Gadis ini memang telah lama menduga bahwa antara Kino dan wanita itu terjadi sesuatu yang lebih dari sekedar persahabatan. Tetapi ia tidak pernah punya bukti, dan kalau ia bertemu Mbak Rien (dan ini sering terjadi), ia selalu menaruh hormat kepada wanita yang tampak selalu ceria tetapi juga penuh wibawa itu. Kini, melihat dan mendengar Kino bercerita tentangnya, Alma merasa dadanya bergemuruh. Cemburu. Iri. Curiga."Kenapa kamu baru cerita sekarang?" tanyanya ketus."Karena kamu tidak pernah bertanya," jawab Kino, berusaha menyembunyikan kagetnya mendengar Alma berucap dengan nada ketus. Baru kali ini ia mendengar nada itu di suara Alma."Kenapa tidak kamu susul ke kota L," ujar Alma, kini dengan nada sinis.Kino mengangkat mukanya, memandang Alma lekat-lekat. Benarkah ia berucap seperti itu, sinis begitu? Kino menemukan sebuah wajah dingin, dengan bibir terkatup rapat membentuk garis tipis yang tegas. Jelas sekali, Alma yang manis dan lembut itu kini sedang meradang. Marah.Pukul 8 malam, hanya setengah jam dari waktu kedatangannya, Kino berpamitan. Alma tidak mengantar ke gerbang seperti biasa. Tidak membiarkan bibirnya dikecup. Tidak melambai. Kino berjalan gontai pulang ke rumah. Ia merasa, sebuah babak dalam kehidupannya usai sudah. Panggung sudah kembali diterangi lampu-lampu. Penonton sudah bertepuk tangan. Pemain telah berganti pakaian dan pulang ke rumah masing-masing.Di langit banyak sekali ada bintang. Kino menengadah. Ia menyerah pada Sang Sutradara di atas sana. Babak pertama telah selesai. Mari menutup layar.to be continue...
Musim Berderap Berlalu (1) Kemarau akhirnya berlalu. Rintik hujan pertama jatuh di senja hari Rabu itu, saat orang-orang pada umumnya berada di rumah. Awan yang menjanjikan hujan sebenarnya telah sering bergantung-gantung di langit selama seminggu terakhir ini. Tetapi baru sekarang hujan benar-benar turun. Mulanya hanya menetes-netes seperti tidak sungguh-sungguh hendak turun ke bumi, tetapi lalu dengan cepat membesar. Tanah yang telah lama kering, segera menghisap air dengan cepat, dan bau bumi yang basah segera memenuhi udara. Pohon-pohon seperti jejingkrakan, selayaknya anak-anak yang ramai mandi hujan di halaman rumah masing-masing.Kino berada di beranda rumah Alma ketika hujan turun. Patut kiranya diketahui, hubungan mereka telah membaik kembali, setelah sempat "perang dingin" selama seminggu. Kepergian Mba Rien dan rasa sedih yang menelungkupi Kino telah menjadi picu dari ketegangan itu. Tetapi kemudian segalanya kembali seperti semula, dan Kino kembali mengantar Alma pulang setiap hari, atau membuat PR bersama seperti hari ini."Akhirnya hujan turun juga....," Kino menggumam, berdiri di beranda memandang halaman rumah Alma dengan cepat tergenang air. Alma berdiri di sampingnya, menggigit-gigit pensil, merengkuh tangan kekasihnya."Seperti dicurahkan dari langit," ucap Alma perlahan, mendongak memandang garis-garis air turun seperti jarum-jarum raksasa dari langit yang gelap kehitaman."Aku suka air hujan," kata Kino, "Aku tidak suka terik berkepanjangan. Rasanya badanku mengering di saat kemarau, dan segala sesuatu bisa berubah menjadi bencana,""Mmm...," Alma cuma bergumam. Ia juga tidak suka kemarau, terutama kemarau yang baru saja lalu. Ia tidak suka pertengkaran terjadi antara mereka berdua, dan sekarang bersyukur karena hujan telah datang. Mungkin benar kata Kino, kemarau lah yang menyebabkan mereka berdua bertengkar.Kino memeluk bahu Alma, dan gadis itu menyandarkan kepalanya manja ke dada kekasihnya. Berdua mereka memandangi hujan, hampir lupa mengerjakan PR matematika yang tertinggal di atas meja. Kalau tidak terdengar Ibunda mendehem dari ruang tamu di dalam, pastilah PR itu tak kan pernah selesai.*****Musim hujan juga mengiringi hari-hari akhir dari sekolah Kino dan Alma. Mereka kini telah duduk di kelas tiga, dan telah memasuki masa akhir. Ujian akan segera tiba, lalu mereka harus menempuh perguruan tinggi. Segalanya berjalan dengan cepat, seakan-akan air hujan ikut memperlancar roda kehidupan di kota kecil itu. Tanpa terasa, Kino dan Alma kini tenggelam lagi dalam kesibukan mempersiapkan diri menghadapi kertas-kertas ujian.Mereka belajar dengan intensif, dalam kelompok yang semakin besar, karena melibatkan pula Dodi dan Iwan dan dua teman putri yang konon adalah pasangan mereka: Sita (pacar Dodi) dan Wiwik (pacar Iwan). Enam orang ini sering berkumpul, terutama di rumah Alma yang adalah rumah terbesar di antara rumah-rumah mereka, dan karena hanya Alma yang rumahnya tidak ramai oleh anak-anak kecil. (Alma adalah putri bungsu. Kedua kakaknya sudah tinggal di luar rumah).Sesekali, mereka juga belajar di rumah Iwan yang punya kebun jambu di halaman belakangnya. Tetapi belajar di rumah Iwan adalah kesia-siaan belaka. Mereka lebih sering berada di atas pohon jambu, masing-masing berbekal sekantong garam-cabai-terasi. Sedap sekali makan rujak di atas pohon!Belajar bersama dalam kelompok besar juga sering menimbulkan pertengkaran. Maklumlah, ada enam kepala remaja yang keras, masing-masing tidak mau mengalah kecuali kepada pasangannya. Dan kalau ada tiga pasang remaja bertengkar, pastilah tidak ada penyelesaian. Alma paling sering mengeluhkan hal ini kepada Kino, dan mengusulkan agar mereka kembali belajar berdua saja. Apaboleh buat, Kino pun setuju, dan Dodi maupun Iwan cuma menggerendeng tak berani menyatakan penolakan.Tetapi belajar berdua --sebagai sepasang kekasih-- juga ada kelemahannya bukan?*****Siang itu, ketika Kino dan Alma tiba dari sekolah, ibu Alma terlihat sedang berkemas-kemas dibantu asistennya. Sebuah tas hitam besar berisi alat-alat kebidanan tampak telah siap. Sebuah mobil milik BKKBN menunggu di jalan."Ibu harus ke kota R, Alma," ucap Ibunda, tampak terengah-engah karena harus berjalan bulak-balik. Ibu ini terlalu gemuk, pikir Kino dalam hati. Cepat-cepat ia menolongnya membawa tas ke mobil."Kino,.. tolong temani Alma hari ini. Ayahnya juga sedang rapat sampai malam di kantor Bupati," kata Ibunda sambil menutup pintu mobil. Lalu, sebelum mobil berjalan, ia melongokkan kepala dari jendela dan berucap, "Kamu makan siang di sini saja, Kino. Lalu belajarlah,.... jangan nakal!" Kata-kata yang terakhir itu diucapkan sambil melirik ke Alma, yang masih menggendong tas sekolah dan berdiri mematung di sebelah Kino."Baik, tante.." kata Kino."Ya, bu..." kata Alma.Mobil pun lalu pergi diiringi lambaian tangan kedua remaja itu. Setelah mobil hilang dari pandangan, barulah keduanya berjalan masuk ke dalam rumah yang sepi. Alma berjalan di depan sambil mengayun-ayunkan tasnya. Kino mengikuti dengan langkah ringan."Makan dulu, yuk..." ajak Alma yang tentu segera di-iya-kan oleh Kino. Perutnya selalu lapar di hari-hari yang penuh hujan seperti ini. Apalagi jam memang telah menunjukkan waktu untuk makan siang, dan Ibunda Alma telah menyiapkan satu ayam panggang utuh.Lahap sekali mereka berdua makan hari itu. Walau pada awalnya kikuk juga, makan berduaan di rumah yang sepi. Alma dengan canggung menyiapkan piring dan menyendoki nasi untuk Kino. Ia tiba-tiba merasa gugup, karena rasanya mereka berdua sudah suami-istri, makan siang bersama seperti ini. Kino juga canggung, karena ia sebenarnya tidak biasa dilayani. Di rumah, ia mengambil nasi sendiri, sesuka hati.Alma tertawa kecil pada suapan pertamanya. Kino mengernyitkan dahi, "Kenapa?""Ah, tidak... aku cuma merasa lucu saja," jawab Alma."Apanya yang lucu?""Kita. Makan berduaan, seperti..." Alma tidak meneruskan kata-katanya."Seperti apa?" desak Kino.Alma terus mengunyah, lalu menjawab, "Sudahlah. Tidak boleh terlalu banyak bicara jika sedang makan!"Kino tersenyum mendengar "perintah" itu. Mereka pun makan diam-diam, dan memang makanannya juga sedap untuk dinikmati tanpa banyak bicara. Tak berapa lama, ayam hanya tersisa sepertiganya. Kino merasa sangat kenyang, dan Alma pun takjub sendiri. Belum pernah ia makan begitu banyak, padahal ayam panggang sudah sering jadi menu di rumah ini.Lalu Kino membantu Alma mencuci piring di dapur, berdiri bersisian di bak cuci piring sambil mengobrol. Sesekali tangan mereka yang dipenuhi sabun bersentuhan, dan Alma dengan manja minta Kino membersihkan sabun yang menciprat ke ujung hidungnya."Tanganku juga penuh sabun, bagaimana bisa membersihkan hidungmu," protes Kino."Gunakan pipimu!" sergah Alma sambil tersenyum manis.Nakal juga pacarku ini, pikir Kino sambil mulai menyeka sabun dari hidung Alma dengan pipinya. Tetapi tentu saja Kino tidak cuma menyekakan pipinya ke hidung yang agak berkeringat itu. Dengan cepat ia mengecup hidung itu setelah tak bersabun. Dengan cepat pula ia turun agak ke bawah, mengecup bibir yang masih tersenyum itu. Alma menarik kepalanya, tapi kurang ke belakang, tak mampu menghindar sepenuhnya.Lalu tiba-tiba saja mereka lupa piring-piring yang belum dibilas. Lupa tangan mereka yang berleleran sabun. Bibir mereka tiba-tiba saja sudah saling melumat dan tangan Alma sudah memeluk leher Kino. Kedua kaki Alma berjinjit, agar ia bisa leluasa mengulum bibir kekasihnya, dan agar Kino leluasa pula melumat bibirnya. Tangan Kino pun kini merangkul pinggang Alma, menekan tubuhnya agar lebih rapat lagi. Sedap sekali mencium bibir gadis yang kau sayangi, yang wajahnya selalu kau rindukan. Alma pun terpejam membiarkan tubuhnya terhenyak ke depan. Lembut sekali rasanya dicium pria pujaan mu, pria yang tahu bagaimana memanjakanmu.Hujan tiba-tiba turun, keras menerpa jendela dapur, menimbulkan suara berisik bertalu-talu. Tetapi Kino dan Alma tidak mendengar apa-apa. Di telinga mereka cuma ada debur jantung yang semakin mengencang, dan nafas yang mendesah-desah. Cuma ada musik romantis yang mengiringi tarian kerinduan di atas awan-awan cinta. Perlahan-lahan tubuh Kino dan Alma semakin merapat, dan kedua mulut mereka semakin sibuk mengulum, menghisap dan terkadang menggigit. Alma mengerang pelan ketika kekasihnya mengulum perlahan bibir bawahnya, membuatnya membuka mulut agak lebih lebar. Lalu terasa lidah Kino menyerbu masuk, menyentuh-nyentuh lidahnya sendiri. Rasanya hangat dan geli, tetapi juga mesra dan memanjakan.Perasaan nikmat yang lain juga kini muncul di dada Alma, yang terhenyak rapat di dada Kino. Dengan tangan semakin erat merangkul leher pemuda pujaannya, gadis belia ini merasakan kegelian memenuhi puncak-puncak payudaranya yang ranum. Apalagi gerakan tubuhnya menyebabkan gesekan-gesekan kecil. Ia menggelinjang dan semakin merapatkan dadanya. Oh, jangan biarkan semua ini berlalu! jeritnya dalam hati. Matanya terpejam rapat, dan nafasnya yang hangat semakin menderu. Alma terhanyut dalam gelora baru yang telah lama terpendam sejak ia memacari Kino. Ia menggeliat merasakan tubuhnya bagai dipenuhi rasa geli yang aneh, yang menyebar perlahan ke segala penjuru, dan yang menyebabkan jantungnya berpacu. Terengah-engah, Alma mencoba memahami semua ini, tetapi kepalanya terasa kosong tak bisa berpikir. Segalanya terasa tak masuk akal, karena cuma ada rasa dan emosi. Cuma ada gairah dan birahi.Kino pun terpejam merasakan hangat menerpa dari tubuh gadis yang dipeluknya. Selama ini, tubuh itu lah yang ia peluk dengan sayang, yang ia terima ketika bersandar. Kini tubuh itu begitu dekat, begitu hangat, dan begitu ranum seperti baru pertama kali disentuhnya. Sambil mengulum bibir Alma yang semakin terasa panas dan basah, Kino mengusap-usap punggung gadis itu. Ia tak peduli, sabun menodai seragam putihnya. Ia tak bisa berpikir lain, selain ingin mengusap-usap tubuh gadis yang dirindukannya ini. Tangannya lembut menjalar ke sana ke mari. Juga ke bawah pinggang Alma, ke bagian belakang yang kenyal dan menonjol seksi itu. Kino meremas gemas bagian itu.Alma menjerit tertahan, menggeliat kaget merasakan remasan tangan Kino. Sebuah aliran panas yang menggelisahkan menyerbu dari bagian yang diremas itu, menerobos ke mana-mana, mendatangkan sebuah demam tanpa sakit. Ini bukan flu, pikir Alma, ini bukan demam biasa. Ini demam cinta. Alma mengerang, melepaskan ciumannya, dan menyembunyikan wajahnya di leher Kino. Tangannya lebih erat merangkul, dan kini tubuh bagian bawahnya ia tempelkan lebih keras lagi ke tubuh Kino. Remasan tangan pemuda itu di bagian belakang telah memicu sebuah gemuruh di dalam tubuh Alma."Jangan di sini, Kino...," desah Alma, repot sekali berucap di tengah nafas yang memburu. Ia melepaskan diri dari pelukan kekasihnya, lalu mengajak Kino ke ruang tengah. Kino membiarkan tangannya dituntun. Mereka berdua sudah lupa sama sekali, ada beberapa piring dan sendok masih menggeletak di bak cucian. Tangan mereka masih agak basah, walau busa sabun telah lama hilang.Di ruang tengah, Alma menarik Kino untuk duduk bersama di sebuah sofa empuk. Dengan segera mereka melanjutkan apa yang tadi terputus di dapur. Kino menindih tubuh kekasihnya, menciumi lehernya yang lembab oleh keringat walaupun udara sebenarnya agak sejuk. Alma menggeliat kegelian dan merebahkan tubuhnya pasrah. Ia ingin Kino melakukan sesuatu hari ini, tapi ia tak pasti apakah "sesuatu" itu. Ia ingin membiarkannya saja sebagai misteri yang menegangkan. Dan ketegangan adalah bumbu dari percumbuan, bukan?Dengan satu tangannya, Kino membuka kancing-kancing baju Alma. Oh, ia dengan mudah bisa melakukannya, teringat pengalamannya dengan Mba Rien yang kini sedang ia coba lupakan sekuat hati. Satu demi satu kancing itu lolos dari lubangnya, sehingga akhirnya baju Alma di bagian depan terkuak sudah. Sebuah beha putih membungkus sepasang bukit ranum, jauh lebih kecil daripada payudara Mba Rien yang padat membusung itu. Tetapi tak kalah menggemaskan pula, dada Alma yang terlihat turun naik dengan cepat itu. Jemari Kino tak tertahankan, menelusup masuk ke bawah beha, merayapi salah satu bukit ranum itu. Alma menggeliat-geliat kegelian, merasakan kenikmatan baru yang belum pernah diterimanya dari siapa pun. Ia memang senang menempelkan dadanya di pangkal lengan Kino jika bergandengan, tetapi sungguh-sungguh disentuh langsung seperti ini..... wow, berbeda sekali rasanya!Kino merasakan puting Alma langsung mengeras ketika tersentuh ujung jarinya. Ia putar-putarkan ujung jari itu dengan ringan di sana. Ah, puting itu terasa panas seperti menyimpan air mendidih. Kenyal pula, seperti terbuat dari karet berkualitas tinggi. Bukit kecil di bawahnya terasa padat dan halus-licin. Berkali-kali telapak tangan Kino seperti tergelincir di sana, seperti seorang pemain ski yang meluncur gembira di bukit bersalju.Alma kini mengerang di sela desahan-desahan nafasnya. Sebuah aliran kehangatan, kecil saja bagai sebuah parit, terasa mulai terbentuk di pangkal pahanya. Dengan gelisah, Alma merapatkan kedua pahanya, kuatir aliran itu menerobos keluar membasahi celananya, atau bahkan membasahi sofa. Tetapi berbarengan dengan itu, juga ada rasa nikmat yang makin lama makin kuat terasa. Semakin ia merapatkan pahanya, justru semakin nikmat rasanya. Membingungkan sekali, segalanya terasa penuh paradoks. Segalanya terasa janggal sekaligus memikat. Alma akhirnya menyerah saja, membiarkan apa pun yang terjadi. Ia cuma bisa mengerang ketika sebuah tangan Kino mengelus-elus pahanya, perlahan-lahan mengangkat rok seragamnya semakin tinggi.Kino mengelus perlahan, menikmati paha yang lembut-hangat-mulus itu. Telapak tangannya seperti sedang menjalani pualam yang hangat, membuat ujung-ujung saraf di sana bergairah. Sesekali ia tak tahan meremas, merasakan tubuh Alma bereaksi cepat terhadap setiap ramasan itu. Kino merasa seperti seorang konduktor orkestra, yang dengan gerakan tangannya mampu mengatur musik, kapan mengalun perlahan dan kapan menggelora penuh semangat. Dengan mata terpejam, Alma mencari-cari mulut Kino. Ketika ditemukannya, ia mengulum bibir pemuda itu, sambil mendesah. Kino pun menyambut pagutan bergairah itu, sementara tangannya kini telah sampai di pinggir celana dalam Alma, di bagian berkaret yang ketat memagari apa pun yang ada di baliknya. Mulanya, Kino ingin menerobos barikade itu, tetapi sebuah suara kecil di hatinya segera melarang. Jemarinya pun menghindari pinggiran itu, melainkan naik mengusap ke arah atas. Kain nilon terasa halus di telapak tangannya, juga terasa hangat karena tak mampu mencegah panas yang muncul dari tubuh yang diselaputinya. Dengan lembut dan mesra, Kino mengelus-elus kewanitaan Alma yang masih diselimuti celana dalamnya.Alma meregang, diusap-dielus di bagian itu, ia merasa seakan-akan sebuah ledakan sedang bersiap-siap meletus di dalam tubuhnya. Geli sekali rasanya. Nikmat sekali rasanya. Tangan Kino bagai sedang mengirimkan berjuta-juta rasa, dan semua rasa itu berpangkal pada kenikmatan belaka. Alma tanpa sadar merenggangkan kedua pahanya, membiarkan tangan Kino menjelajah lebih ke bawah lagi, ke bagian yang kini lembab oleh cairan hangat itu. Alma kini tak lagi kuatir, apakah lembab itu akan berubah menjadi basah, menjadi banjir, menjadi apa pun. Ia sungguh tak peduli.Dengan jari tengahnya, Kino mulai menelusuri celah yang terbentuk di antara dua punuk kecil di bawah sana yang masih terlindung nilon tipis. Perlahan-lahan jarinnya menelusur ke bawah, lancar karena nilon memang adalah kain yang licin. Terutama juga karena kain itu telah basah. Ujung jari Kino melesak sedikit, menyentuh bagian terbawah yang terhenyak di sofa. Alma mengerang merasakan kegelian-kenikmatan menyerbu tubuh bagian bawahnya. Ia mengangkat sedikit tubuhnya, sehingga tangan Kino bisa menelusup lebih ke bawah. Lalu, jari itu naik lagi perlahan, menelusuri jalur yang sama yang ditempunya ketika turun. Tubuh Alma pun terhenyak kembali, dan bergeletar pelan ketika ujung jari itu menyentuh sebuah tonjolan kecil di bagian atas. Apalagi kemudian Kino berlama-lama di sana, memutar dan menekan tonjolan itu.Tanpa dapat ditahan oleh Alma, tubuhnya meregang. Sebuah gemuruh bagai banjir bandang memenuhi tubuhnya. Banjir itu menerjang segala yang menghalanginya, menyerbu seperti hendak membuat tubuh Alma meledak. Kino mempercepat usapan dan gosokan jari tangannya; ia tahu sebentar lagi kekasihnya akan tiba di puncak kenikmatan yang telah didakinya dengan sabar ini. Kino tahu, dari pengalamannya dengan Mba Rien, sebentar lagi tubuh mungil ini akan menggelepar dilanda orgasme. Maka ia mempercepat gerakan tangannya, dan menekan tubuh kekasihnya lebih dalam ke sofa.Walaupun sudah mengantisipasinya, Kino tak urung terkejut juga ketika akhirnya Alma mencapai klimaks. Terkejut karena gadis yang lembut dan manja itu berteriak cukup keras, seperti seorang yang disengat listrik. Cepat-cepat Kino membungkamnya dengan mencium mulut Alma. Agak sulit melakukan hal ini, karena Alma seperti menghindar, menggelepar dan menggelengkan kepalanya dengan mulut terpejam. Ketika akhirnya Kino berhasil mengulum bibirnya, Alma pun masih mengerang keras, walau kali ini ia hanya mengeluarkan suara "Ngggg....".Tak kurang dari 3 menit lamanya diperlukan oleh Alma untuk melepaskan semua desakan birahi yang menggumuruh di tubuhnya. Setelah itu, ia merasa lunglai dan tak bertulang. Ia merengkuh leher Kino, mencoba mencari kekuatan dari kekasihnya. Matanya seakan tak bisa membuka, karena kepalanya masih berenang-renang di danau kenikmatan. Untuk sejenak, Alma khawatir ia sudah tidak ada di dunia ini lagi. Ia sudah berada di dunia lain, ia sudah tewas! Hanya kemudian sebuah gigitan kecil dari Kino di cuping telinganya yang membuat ia sadar, bahwa tadi itu bukanlah kematian. Tadi itu adalah orgasme pertamanya bersama pemuda yang dicintainya.Kino menciumi leher Alma dengan mesra. Ia seakan sedang mensyukuri kejadian barusan. Ia pun merasa bangga telah berhasil membawa Alma ke puncak birahi. Terlebih-lebih lagi, ia merasakan perbedaan yang besar dengan percumbuan sebelumnya bersama Mba Rien. Dengan wanita itu, Kino hanya dipenuhi birahi, dan ia hanyalah sebuah perahu yang dinakodai Mba Rien. Dengan Alma, Kino dipenuhi rasa sayang, dan ia adalah nakodanya.Siang itu, Kino berhasil pula memendam keinginannya untuk melanjutkan percumbuan. Alma sebetulnya menawarkan kelanjutan, dengan caranya yang lugu (dia bilang, "Lagi?" dengan ragu-ragu). Tetapi Kino tersenyum saja, perlahan-lahan melepaskan pelukannya, mencium pipi gadis yang tampak makin cantik dengan muka bersinar. Ia berbisik, "Jangan, Alma .. kita cuma berdua di sini. Nanti kita terlena terlalu jauh.."Alma terharu mendengar ucapan pemuda ini. Dipeluknya leher Kino erat-erat. My hero, you are my hero! jeritnya dalam hati, penuh suka cita.*****Masa ujian pun tiba, membuat semua murid di kota kecil itu menghilang dari pantai atau sungai atau danau tempat mereka biasanya bermain. Semua anak-anak usia sekolah tampak berwajah serius, bahkan tak sedikit yang terlalu serius sehingga kehilangan warna kanak-kanaknya. Kino dan Alma tampak penuh percaya diri, begitu pula Dodi, Iwan dan kedua pacar-pacar mereka. Dengan tenang -walaupun kadang-kadang agak gentar- mereka menghadapi setiap kertas ujian, dan selalu menyelesaikan soal-soal sebelum bel akhir berdentang.Hari-hari yang sibuk selalu terasa lebih pendek dari hari biasa. Secepat datangnya, secepat itu pula masa ujian berlalu. Anak-anak sekolah berhamburan ke luar dari kelas pada hari terakhir, berteriak-teriak seakan perjuangan mereka telah usai dengan kemenangan. Padahal, tentu saja perjuangan itu justru baru dimulai. Jalan masih panjang, walau sekarang mereka tak punya pikiran lain selain liburan sebulan penuh. Anak-anak SMA sudah pula mempersiapkan acara perkemahan, sebelum mereka bersiap-siap ikut testing masuk perguruan tinggi.Alma terpilih sebagai ketua regu kelas 3, sementara Kino bertanggungjawab pada keamanan bumi perkemahan bersama beberapa "jagoan" yang selama ini menguasai dunia anak-anak SMA. Kino sendiri bukan termasuk jagoan, ia belum pernah berkelahi sepanjang sekolah menengah atas. Terakhir berkelahi, ia masih kelas dua SMP, dan lawan berkelahinya kini adalah salah satu jagoan itu. Tetapi, walau tak suka berkelahi, Kino dikenal tegas dan dihormati, terutama karena dua sahabatnya, Dodi dan Iwan, sering bercerita membual tentang kehebatan Kino bermain pencak-silat. Nah,.. itulah gunanya memiliki dua sahabat tukang bual!Perkemahan dilaksanakan di kaki sebuah bukit, kira-kira 10 kilometer dari kota. Mereka naik truk pinjaman dari kesatuan zeni Angkatan Darat, yang juga meminjamkan dua tenda raksasa untuk ruang P3K dan dapur umum. Selebihnya, masing-masing regu membawa sendiri atau meminjam tenda-tenda parasut. Ramai sekali bumi perkemahan yang bersebelahan dengan hutan karet itu dihuni anak-anak SMA. Berbagai acara berlangsung semarak, termasuk beramai-ramai mendaki bukit dan berenang-renang di bawah air terjun.Kino sibuk mengatur keamanan, termasuk membantu beberapa anak-anak kelas dua yang jatuh sakit akibat terlalu bersemangat. Ruang P3K ramai oleh suara batuk dan orang muntah. Para "perawat" amatir tampak sigap melayani si sakit, dan Ibu Murni, ibu guru olahraga dan kesehatan, tampak letih memimpin mereka. Untunglah, beberapa di antara perawat amatir itu sudah terlatih sebagai anggota regu palang merah remaja.Di tengah kesibukan dan keceriaan bumi perkemahan, tentu saja cinta remaja berkembang tak kalah meriah. Kino dan Alma mendapat begitu banyak kesempatan untuk berduaan, terutama ketika acara api unggun, di mana semua anak duduk melingkar menyaksikan berbagai pertujukan oleh masing-masing wakil regu. Pada umumnya adalah menyanyi dengan iringan gitar yang tentu saja lebih banyak false-nya.Percumbuan antar remaja juga tak terelakkan, walaupun para guru sudah memperingatkan anak-anak gadis agar berhati-hati dengan "milik" mereka. Kino adalah anggota keamanan yang juga ditugasi mengawasi kemah-kemah peserta, agar setiap malam tidak ada "pelarian" atau "penyebrangan" dari wilayah anak laki ke wilayah perempuan (atau sebaliknya!). Tetapi, siapa yang mengawasi Kino? ... Ha! .. tidak ada. Bahkan "jagoan-jagoan" pun pura-pura tidak tahu, ketika suatu malam Alma minta Kino menemaninya ke sungai untuk "sebuah urusan"."Kamu membuat saya serba-salah...," bisik Kino sambil mengiringi langkah Alma menuju sungai. Beberapa anggota keamanan tersenyum saja ketika Kino melambai minta ijin.Alma menahan tawa, lalu balas berbisik, "Tetapi saya memang perlu ke sungai!""Untuk apa?""Pipis!"Kino menggeleng-gelengkan kepalanya. Apakah ia nanti minta diceboki pula? gerutunya dalam hati. Walaupun tentunya menarik, kalau Alma nanti sungguh-sungguh minta itu!"Saya juga ingin berdua dengan kamu..." bisik Alma lagi ketika mereka sudah melewati pintu gerbang bumi perkemahan yang dijaga dua "jagoan" berjaket parasut hijau. Kepada kedua penjaga itu, Kino cuma tersenyum, dan keduanya cuma mengangkat muka sebentar lalu kembali menekuni sebuah majalah. Kino tahu, itu majalah untuk orang dewasa yang diam-diam diselundupkan oleh salah seorang peserta untuk menyogok para penjaga!Akhirnya mereka tiba di sungai, dan Alma memang benar ingin buang air. Kino menunggu di pinggir, membelakangi sungai dan Alma yang sedang berjongkok. Sepi sekali malam itu, hanya terdengar gemercik air dan desiran angin.Selesai buang air kecil dan membersihkan diri, Alma merengkuh tangan Kino untuk mengajaknya pulang. Berdua mereka menyusuri sungai kembali ke bumi perkemahan. Tetapi, pada sebuah pohon besar di tikungan pertama, Kino menghentikan langkah mereka. Ditariknya Alma minggir, ke bawah bayang-bayang gelap pohon, lalu dilumatnya bibir gadis itu dengan gemas. Alma segera membalas, dan nafasnya segera mendesah-desah cepat, karena ia memang sudah menunggu-nunggu inisiatif kekasihnya ini sejak tadi!Cepat sekali ciuman mereka berubah menjadi pagutan-kecupan yang menggelora. Alma merengkuh leher Kino dan menyambut setiap serbuan penuh gairah dari pemuda itu. Gadis ini telah pula membuka resleting depan jaketnya, mengundang Kino untuk melakukan remasan-remasan yang sangat disukainya itu. Kino pun tak hendak mengecewakan Alma. Cepat-cepat ia menelusupkan tangannya ke balik jaket, lalu ke bawah kaos. Ah, Alma tidak mengenakan beha! Kino menemukan dua bukit kenyal di dada gadis itu telah siap diremas-remas gemas. Hangat sekali rasanya kedua gumpalan yang hanya sedikit lebih besar dari telapak tangan Kino itu. Kenyal dan lentur dan halus. Kedua tangan Kino meremas-menekan, menyebabkan Alma mengerang, semakin mempererat rengkuhannya di leher pemuda itu dan semakin bernafsu menciumi bibirnya. Untunglah suara air sungai masih cukup keras, dan gesekan daun-daun yang ditiup angin menyembunyikan desah nafas mereka.Sejak percumbuan pertama mereka di ruang tengah di rumah Alma, gadis ini sudah dua kali mencapai orgasme di tangan Kino. Sekali, sewaktu pulang dari rumah Dodi dan hari telah malam, Kino mengajak Alma masuk ke sebuah gang kosong dan gelap di dekat bioskop. Di sana, sambil berdiri seperti malam ini, Kino meremas-mengurut kekasihnya sampai mencapai klimaks. Kedua, di belakang rumah Alma, ketika untuk kesekian-kalinya ibunda harus keluar kota untuk membantu orang melahirkan, gadis ini juga mengalami orgasme yang melenakan. Bahkan di belakang rumah itu pula Alma pertama kali membantu Kino mencapai klimaks dengan tangannya.Kini, di bawah pohon yang gelap, di malam yang dingin, Alma dengan cepat terbakar birahi. Tubuhnya sangat sensitif terhadap setiap sentuhan Kino. Sepertinya, apa pun yang dilakukan Kino dengan tangannya, pasti menyebabkan getaran-getaran nikmat yang menjalar ke seluruh tubuh. Tak bedanya kali ini, walau sambil berdiri di bawah pohon yang sebenarnya berkesan angker, Alma dengan mudah merasakan orgasmenya terpicu oleh usapan dan remasan jari Kino di payudaranya. Apalagi Kino melepaskan ciumannya, kemudian agak menurunkan tubuhnya, menunduk dan membenamkan kepalanya di balik jaket Alma. Oh, nafas Kino yang hangat segera mengalahkan dingin malam, menyerbu dada Alma yang kini terbuka karena kaosnya telah terangkat setengahnya. Kedua payudaranya yang putih mulus tampak tegak-terpampang-menantang, dengan dua puting hitam yang terasa berdenyut bergairah. Alma menjerit tertahan ketika salah satu putingnya tertangkap mulut Kino. Tak kuasa ia mencegah suara erangan parau keluar dari kerongkongannya ketika Kino mulai menghisap sambil menjilati putingnya dengan ujung lidah. Sementara telapak tangan Kino telah pula menutupi dan meremas payudara yang satu lagi, membuat Alma menggelinjang kekiri-kekanan dengan gelisah.Inilah kali pertama Alma merasakan perlakuan seperti itu dari seorang pemuda terhadap dadanya yang ranum dan yang rasanya semakin membesar saja. Kenikmatan tiada tara segera memenuhi dadanya, dan sebentuk orgasme segera meletup menggetarkan badannya. Alma mengerang-erang merasakan kewanitaannya tiba-tiba sangat basah dan berdenyut liar disertai geli dan nikmat yang berkepanjangan. Ia melingkarkan satu kakinya ke kaki Kino, menambah rapat menempelkan bagian bawah tubuhnya ke tubuh pemuda itu. Ia juga tak sadar menggerak-gerakan pinggulnya, menggesek-gesekkan selangkangannya yang terlindung jeans ke paha Kino. Bahkan gesekan itu semakin lama semakin cepat dan liar, sejalan dengan semakin gemas dan bernafsunya Kino mengulum puting payudara Alma. Di tengah angin yang mendesir dan suara air sungai yang begemercik keras, gadis ini menikmati kilmaksnya yang sangat kuat mendera tubuh. Kino terpaksa melepaskan pagutannya pada dada Alma, kembali menegakkan tubuh dan merengkuh gadis itu erat dalam dekapan, karena tubuh gadis itu berguncang hebat sambil merapat sangat erat di pahanya. Kino juga harus membungkam mulut Alma yang mengerang semakin kencang, karena ia khawatir ada orang yang mendengarnya.Insting Kino ternyata juga benar. Ketika Alma tengah menikmati klimaksnya, terdengar suara langkah-langkah orang di kejauhan, dari arah bumi perkemahan. Cepat-cepat Kino mendorong Alma yang masih menggeliatt-geliat itu, menyenderkan tubuhnya ke pohon, sehingga mereka berdua semakin terlindung gelap malam. "Sst.. ada orang..." bisik Kino ke telinga gadis itu, lalu ia melumat bibirnya yang hangat dan basah, membungkam erangannya. Alma berdiri tegang, menahan geli-nikmat yang memenuhi pangkal pahanya, memeluk leher Kino erat-erat. Berdua mereka berdiri saling merapat, menunggu siapa yang akan lewat.Suara orang berbincang sambil berjalan terdengar semakin mendekat. Lalu lampu senter tampak diarahkan ke tanah, dan sebentar kemudian tampak dua orang "jagoan" berjalan ke arah Kino dan Alma bersembunyi. Tetapi, karena mereka mengarahkan senter ke bawah, kedua pasangan itu tak terlihat. Ah, ternyata mereka adalah "patroli" malam yang tampaknya sedang mengecek wilayah sungai, atau mungkin juga sambil mengambil air, karena salah seorang dari mereka tampak menenteng jeriken (tempat air).Setelah patroli berlalu, sambil menahan tawa, Alma dan Kino keluar dari persembunyian dan setengah berlari kembali ke bumi perkemahan. Tak lupa Alma mengancingkan kembali jaketnya dan merapikan rambutnya yang berantakan. Ia sebenarnya menyesal harus berhenti "di tengah jalan" seperti ini, tetapi ia tahu Kino tak akan mengambil risiko lebih jauh. Berdua mereka masuk ke bumi perkemahan dengan wajah tak bersalah. Kino melambai ke para penjaga gerbang, yang masih asik dengan majalah mereka. Alma kembali ke kemahnya, sementara Kino menuju posko keamanan.Continue...
Musim Berderap Berlalu (2) Pengumuman kelulusan 100% membuat anak-anak SMA di kota kelahiran Kino bersuka-cita. Walaupun sebenarnya SMA ini sudah sejak tiga tahun silam selalu meluluskan semua siswanya, tetap saja berita tersebut ditanggapi agak berlebihan. Anak-anak kelas tiga saling menandatangani baju mereka, melakukan arak-arakan di sekitar sekolah, atau menceburkan diri ke sungai kecil di belakang lapangan voli. Suasana serba ceria ini menular ke adik-adik mereka di SMP dan SD, lalu juga merembet ke seluruh penduduk kota yang jumlahnya memang tidak banyak.Pak Camat bahkan membuat hajatan khusus, mengundang sebuah band dari sebuah kota besar untuk manggung di depan kantornya. Pasar malam segera digelar di sekitar panggung, dan para pedagang berlomba-lomba memberikan potongan harga. Semarak sekali suasana kota, nyaris menyerupai suasana hari raya.Malam itu, Kino duduk bersebelahan dengan Alma menonton berbagai acara di atas panggung. Dodi dan Iwan entah kemana, masing-masing dengan pacar mereka. Kino mengajak pula Susi, adiknya. Tetapi, gadis kecil ini kemudian lebih suka ikut Ayah dan Ibu yang berkeliling pasar malam."Mau sekolah ke mana?" tiba-tiba Alma bertanya di tengah acara tarian daerah."Aku ingin jadi arsitek,.... mungkin di institut teknologi di kota B atau kota S," jawab Kino, tersadar bahwa keceriaan lulus sekolah ternyata akan segera disusul dengan ketegangan baru: masuk perguruan tinggi."Aku ingin jadi dokter,.. mungkin ke ibukota," ucap Alma sambil memainkan dompet di pangkuannya.Kino terdiam. Kalau mereka diterima di masing-masing perguruan tinggi yang mereka lamar, berarti keduanya akan berpisah. Cukup jauh jarak antara kota-kota tujuan Kino dengan ibukota."Kenapa kamu tidak ke ibukota juga?" tanya Alma dengan suara pelan, nyaris tenggelam oleh suara gamelan di panggung."Ayah dan Ibu mengatakan, biaya hidup di ibukota terlalu mahal," jawab Kino.Alma menghela nafas panjang dan menghembuskannya dalam desah, "Yaaah..., aku beruntung punya paman yang tinggal di ibukota dan bersedia menampungku. Setidaknya, Ayah dan Ibu tidak perlu membiayai indekos."Kino juga punya seseorang di ibukota. Seorang penari yang sedang meniti karir. Tetapi saat ini, menyebut namanya pun ia tak berani. Ia takut menyinggung perasaan Alma."Bagaimana kabarnya Mba Rien?" Kino tersentak. Justru Alma yang memulai menyebut nama itu. "Tidak tahu," jawab Kino cepat. Ia memang tidak pernah mendengar kabar dari wanita itu.Keduanya terdiam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Acara silih berganti dengan cepat dan lancar. Lalu, band pop dari kota M naik ke panggung disambut tepuk tangan riuh dari anak-anak muda yang sudah tak sabar menunggu. Kino dan Alma pun tenggelam kembali dalam keceriaan, mengikuti lagu demi lagu dengan bersemangat. Sejenak, mereka lupa akan perguruan tinggi dan perpisahan.*******Seusai pertunjukan band, masih ada satu pertunjukan lagi, yaitu wayang kulit sampai pagi. Tetapi kebanyakan anak-anak muda tidak lagi menyukai medium tradisional ini. Apalagi timing-nya juga kurang tepat. Sehabis jejingkrakan menikmati musik rock, mana mungkin mereka mau duduk-diam mendengar tutur-cerita dalang dalam bahasa daerah!Kino mengajak Alma pulang, terpisah dari teman-teman yang lain dan dari kedua orangtua mereka yang masih ingin menonton wayang. Berdua, pasangan ini berjalan pelan-pelan sambil mengobrol kiri-kanan. Perbincangan menyerempet pula masalah masa depan dan kemungkinan perpisahan. Mereka sama-sama mulai menyadari bahwa hidup ternyata masih sangat panjang di depan sana, masih berliku dan mendaki. Alma banyak menunduk mencoba memikirkan skenario apa yang akan mereka berdua mainkan di masa mendatang. Apakah mereka akan tetap bisa berhubungan walau terpisah ribuan kilometer?Kino mengusulkan mengambil jalan pintas, menyusuri pematang sawah. Bulan hampir purnama, awam hujan tidak tampak, sehingga malam tak terlalu gelap. Pematang bahkan jelas terlihat, seperti lintasan-lintasan bersinar membentuk aneka kotak hitam yang adalah sawah-sawah tanpa padi. Ini baru musim tanam, padi belum lagi muncul dari air yang tergenang. Bayangan bulan dan bintang-bintang tampak di permukaan sawah, bagai lampu-lampu penunjuk jalan.Berdua mereka berjalan beriringan, lalu masuk ke perkebunan kopi yang memisahkan persawahan dan areal perumahan kota. Pohon-pohon kopi tidaklah terlalu lebat berdaun, sehingga sinar benda-benda langit malam tetap bisa menerobos menerangi tanah. Bagai lampu-lampu sorot, membentuk beraneka tuas sinar, seperti pilar-pilar putih yang menjulur ke bawah dari langit. Indah sekali malam ini.Kini Alma bisa berjalan sambil memeluk lengan kekasihnya, terbebas dari kekhawatiran dilihat orang banyak. Berjalan di tengah kota, tak mungkin bisa bergandengan mesra begini. Biar bagaimana pun, kota kecil belumlah siap menerima sepasang kekasih yang saling memperlihatkan perasaan di tengah orang ramai.Tampaknya tidak ada orang lain melintas di kebun kopi. Mereka pun bisa berciuman sambil berjalan pelan, terutama jika jalan sedang lurus. Alma tinggal memalingkan dan mengangkat muka, membiarkan Kino mengecup ringan bibirnya. Nafas mereka yang hangat berpadu-satu, terkadang menimbulkan uap tipis yang segera bergabung dengan embun malam. Semakin jauh mereka masuk ke dalam kebun kopi, semakin romantis suasananya. Lalu mereka tiba di sebuah pondok yang agak terpencil, dan bagai sudah bersepakat, mereka berhenti di halamannya. Di sini keadaan jauh lebih gelap, karena ada pohon-pohon lain yang berdaun lebat. Kino mendorong Alma ke arah beranda pondok yang tak berpenghuni, yang kalau pagi hari digunakan untuk istirahat para petani. Di beranda itu Kino melumat bibir kekasihnya lebih bergairah lagi. Alma menerima pagutan kekasihnya dengan tak kalah bergairah. Ia senang sekali dicium Kino yang bisa menggabungkan gairah dan kemesraan dalam takaran yang tepat. Ciuman pria ini tidak terburu-buru, tetapi tidak pula terlalu perlahan. Tidak memaksa-maksa, tetapi justru mengundang. Alma terutama senang sekali merasakan bibir bawahnya dihisap-dikulum perlahan, ditelusuri oleh lidah Kino yang hangat. Sebentar saja, nafas gadis ini sudah terengah-engah.Sejak mengenal percumbuan yang menggairahkan ini, Alma berani pergi dengan Kino tanpa beha. Ia cuma mengenakan kaos, dan untuk menyembunyikan puting-putingnya, ia selalu memakai jaket. Dengan begitu, Alma memberikan keleluasaan kepada kekasihnya untuk bermain-main dengan payudaranya yang ranum. Kino tak perlu repot membuka beha, yang kadang-kadang seperti tidak mau dibuka itu!Malam ini pun Kino segera menelusupkan kedua tangannya ke bawah kaos Alma, meremas-remas kedua bukit menggairahkan itu, perlahan membangkitkan bara birahi di antara mereka berdua. Dengan kedua ibu jarinya, Kino mengusap-usap kedua puting Alma yang menegang-mengenyal. Halus-lembut rasanya kedua puncak payudara itu di jari-jari Kino. Nafas Alma semakin menderu, menyebabkan dadanya turun-naik semakin cepat, dan puting-putingnya bagai meronta-ronta di bawah telapak tangan Kino.Di beranda pondok ada sebuah bangku panjang dari kayu. Ke sana lah Alma perlahan-lahan mendorong kekasihnya agar duduk. Kino pun menurut, membiarkan dirinya terduduk. Alma cepat-cepat mengangkat tubuhnya, duduk di pangkuan pemuda itu dengan kedua kaki direntangkan. Oh, ini lah posisi yang sejak dulu diimpikan Alma! Ia senang sekali dipangku seperti ini, dengan rok tersingkap sampai ke pangkal pahanya, dan dengan selangkangan yang terhenyak lekat di pangkuan Kino. Ia merasa terkuak-terbuka bebas, siap menerima sentuhan-sentuhan kenikmatan dari setiap gerakan Kino. Ia mengerang perlahan, merasakan serbuan gairah tiba-tiba muncul dengan cepat dari dalam tubuhnya yang semakin hangat.Kino melepaskan ciumannya, menelusuri leher Alma yang harum sabun wangi (dia belum mengenal parfum, tentu saja!). Kedua tangannya tetap meremas-remas payudara gadis itu, yang kini terasa semakin kenyal dan keras saja. Puting-putingnya semakin tegak dan panas pula, seperti menyimpan arang-bara yang masih menyala. Alma mengangkat kedua tangannya agak ke atas, memeluk kepala kekasihnya. Jaketnya terpampang-terbuka, dan kaosnya sudah terangkat setengahnya, menampakkan dua bukit putih-mulus menggairahkan. Dalam suasana remang-remang, tubuh Alma tampak indah sekali, bagai lukisan seorang maestro.Bibir Kino kini menelusuri pangkal leher Alma, dan gadis itu mengerang pelan merasakan geli yang menimbulkan nikmat menjalar-jalar sepanjang perjalanan bibir pemuda itu. Dengan tak sabar, ditunggunya bibir Kino menuju ke bawah, semakin mendekati dadanya yang dipenuhi debur jantungnya yang bergelora. Oh,.. cepatlah sedikit sayangku! jeritnya dalam hati, menanti akhir perjalanan bibir yang terasa terlalu pelan itu. Alma merasa jaketnya telalu menganggu, maka ia melepaskannya, sehingga kini ia tinggal berkaos, itu pun sudah setengah terbuka. Lalu, ia lebih berani lagi, meloloskan kaosnya dari atas kepalanya, sehingga kini gadis itu bertelanjang dada, di keremangan malam yang mempesona.Kino sebenarnya agak kuatir mereka berdua dipergoki dalam keadaan seperti ini. Tetapi jangkerik ramai berbunyi di sekitar mereka, menandakan bahwa serangga-serangga itu tidak terganggu. Jika mereka tidak terganggu, berarti tidak ada mahluk lain di sekitar mereka. Itu lah antara lain pelajaran dasar seorang pencinta alam!Bbir Kino kini telah tiba di celah di antara dua bukit yang membusung mempesona itu. Oh,.. harum sekali dada Alma yang mulus dan lembut. Kino berkali-kali menghela nafas, memasukkan keharuman tubuh gadis itu ke dalam tubuhnya, menjadikan keharuman itu sebagai pembangkit gairah yang memang sudah sejak tadi bergelora. Kedua tangannya semakin gemas-meremas, membuat Alma merintih pelan. Lalu, Kino pun melakukan sesuatu yang sudah ditunggu-tunggu gadis itu sejak tadi: ia menghisap salah satu puting Alma, perlahan-lahan saja. Alma seperti tersedak, tubuhnya terangkat sedikit dari pangkuan Kino, menggeliat-geliat seperti di ulat ditusuk duri. Sebuah kenikmatan tak terkira memenuhi tubuh gadis belia ini, bagai sebuah siraman air surgawi, membuatnya berenang-renang melayang-layang mengapung-apung.Satu tangan Kino meninggalkan payudara yang kini dihisap-hisap oleh mulutnya. Tangan itu meluncur cepat ke bawah, menelusup ke balik rok, mengusap-usap bagian belakang tubuh Alma yang agak terangkat dari pangkuannya. Telapak tangan Kino terasa nyaman mengusap-usap bagian itu, yang saat ini masih terbungkus celana dalam nilon tipis dan halus. Kino senang sekali mengusap-usapnya, terasa penuh dan padat, dan hangat pula. Sesekali ia gemas meremas, membuat Alma tersentak lagi, menghenyakkan tubuhnya ke pangkuan Kino. Akibatnya, bagian depan kewanitaannya membentur keras bagian depan kejantanan Kino yang tentu saja masih tersembunyi di balik celananya. Itu pun sudah lah mampu membuat keduanya merasakan serbuan kenikmatan.Alma kini bahkan tanpa sadar menggesek-gesekkan selangkangannya ke pangkuan Kino yang menonjol keras menyembunyikan kejantanannya yang telah tegak-tegang. Oh,.. nikmat sekali rasanya gesekan-gesekan itu, walaupun masih diperantarai kain nilon dan jeans. Alma merintih-rintih pelan merasakan kewanitaannya terkuak dan terhenyak di sebuah tonjolan keras yang panas membara itu. Tonjolan itu tepat terhimpit di antara dua bibir menebal di bawah sana, menimbulkan rasa geli-gatal yang nikmat. Kino pun mendorong tubuh bagian bawahnya lebih ke depan, mempererat penyatuan mereka, sementara tangannya menekan bokong Alma ke bawah."Aaah,... Kino, geli sekali rasanya....," Alma mendesah, seakan-akan ingin minta penegasan, apakah yang dirasakannya itu sudah betul, sudah nyata? Gadis ini sungguh tak punya pengetahuan, dan tak bisa menamakan, apa yang sedang dialaminya bersama pemuda ini? Gerangan misteri kehidupan apa yang kini sedang dijalaninya?Kino berhenti mengulum puting kekasihnya, lalu berbisik dengan nafas memburu, "Pindah ke dalam, yuk?"Alma tak bisa lain selain mengangguk cepat. Ia pasrah saja ketika Kino dengan perkasa mengangkat tubuhnya, seperti seorang kakak menggendong adiknya. Alma memeluk leher kekasihnya erat-erat, melingkarkan kedua kakinya di pinggangnya, memejamkan mata merasakan tubuhnya seperti dibawa terbang. Mungkin begitulah rasanya dibawa terbang burung garuda raksasa!Sambil tak lupa meraih jaket Alma yang tertinggal di bangku, Kino membopong tubuh kekasihnya masuk ke dalam pondok. Di dalam ada dipan kayu, agak ke belakang dari ruangan yang gelap pekat. Dengan cekatan Kino meletakkan jaket Alma di dipan, lalu perlahan-lahan menurunkan tubuh gadis itu di atasnya. Alma kini terlentang dengan kaki tetap melingkari pinggang kekasihnya. Kino menindih tubuhnya, kembali menciumi leher dan lalu segera mengulum puting payudaranya. Alma mengerang-menggeliat, kini menyerahkan tubuhnya diperlakukan apa-saja. Ia merasakan celana dalamnya perlahan ditarik, merasakan salah satu kakinya diangkat sehingga celana dalam itu kini lolos terbuka, merasakan kewanitaannya terpampang-telanjang, dibelai angin malam yang menerobos masuk dinding pondok. Darahnya mendesir cepat, menunggu dengan tegang, apa yang akan dilakukan Kino?Sambil tetap mengulum puting Alma dan menindih tubuhnya, Kino mengusap-usap kewanitaan Alma yang telah terbuka bebas. Ah,.. hangat dan sedikit basah bagian itu. Jari tengah Kino dengan leluasa bisa meluncur licin di antara kedua bibirnya. Alma menggelinjang merasakan jari itu menelusup menimbulkan rasa nikmat di seluruh selangkangannya. Tanpa sadar, ia membuka kedua pahanya semakin lebar, dengan kedua kaki kini bertelektekan di atas dipan. Lalu tangan Kino sejenak meninggalkan kewanitaannya, Alma agak kecewa: kenapa berhenti?Sebelum bisa memprotes, Alma tiba-tiba tersentak, merasakan sebentuk otot-kenyal menyentuh permukaan kewanitaannya. Bukan,... itu bukan jari tengah Kino,.. terlalu besar untuk sebuah jari. Terlalu kenyal dan padat dan panas pula. Oh,... Alma tiba-tiba sadar bahwa yang dirasakannya di bawah sana adalah kejantanan Kino. Ia belum pernah melihat kejantanan seorang pria, tetapi ia bisa membayangkannya setelah merasakan benda itu menyentuh kewanitaannya. Ia mengerang merasakan betapa sentuhan kejantanan itu jauh lebih nikmat dibandingkan sentuhan jari. Lebih penuh-padat-kenyal, terjepit di antara bibir-bibir kewanitaannya, membentur-bentur bagian atasnya. Alma menggeliat kegelian ketika ujung kejantanan yang basah-hangat itu membentur sesuatu yang terletak di celah atas kewanitaannya. Oh,... bagian itu terasa sangat geli, dibentur-bentur benda halus-kenyal-tumpul. Oh,... rasanya seperti gatal yang minta digaruk-garuk. Terus..., terus..., terus...., Alma menjerit dalam hati, merasakan tubuhnya seperti dipenuhi geli-gatal yang bersumber-utama di selangkangannya.Kino mengerang pula, merasakan kenikmatan dari kejantanannya yang menelusur celah basah-panas di bawah sana. Setiap kali ujung kejantanannya membentur tonjolan kecil di antara lepitan bibir kewanitaan Alma, serbuan kenikmatan memenuhi tubuhnya. Gerakan menggesek-menekan menyebabkan kejantanannya seperti diurut-urut, enak dan nikmat sekali. Apalagi kemudian Alma mengangkat kakinya, kembali memeluk pinggang Kino, menyebabkan kewanitaaanya semakin terkuak. Kejantanan Kino kini sempurna terjepit melintang di atas kewanitaan yang semakin lama semakin dipenuhi cairan licin. Kino pun menggerak-gerakkan pinggulnya, maju-mundur sambil tetap menekan. Alma mengerang-merintih dengan kedua tangan semakin erat memeluk leher kekasihnya, nyaris membuat Kino tak bisa bernafas.Dari bagian bawah perutnya, Alma merasakan seperti ada gumpalan yang semakin lama semakin membesar, hendak meledak. Gumpalan itu seperti dipenuhi kenikmatan, siap menyebarkan isinya ke seluruh tubuhnya. Alma semakin mengangkangkan kakinya, meletakkan keduanya semakin tinggi di punggung Kino. Bagian belakang tubuhnya bahkan kini sudah terangkat dari dipan. Oh,.... tiba-tiba ia merasakan gemuruh birahi memenuhi tubuhnya, bergulung-gulung seperti ombak besar menuju pantai. Dengan punggung tangannya, Alma menutup mulut, mencegah teriakan yang kini memenuhi kerongkongannya. Kino semakin cepat memaju-mundurkan pinggulnya, menyebabkan kejantanannya semakin cepat menggeleser-geleser membentur-bentur. Alma menjerit tertahan ..... tubuhnya terasa meledak berkeping-keping, kepalanya dipenuhi sensasi kenikmatan, pandangannya hilang melayang walau matanya masih terbuka.Kino mendorong keras untuk terakhir kalinya. Kejantanannya tergelincir lepas dari jepitan bibir kewanitaan Alma, terus ke atas, ke bagian yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Di sana, di atas rambut-rambut itu, kejantanan Kino seperti bergelegak sebelum akhirnya meregang dan menumpahkan cairan-cairan kental putih. Alma tersentak, merasakan perut bagian bawahnya dipenuhi rasa panas dan lengket. Oh,... apa yang terjadi?Kino pun terkaget ketika merasakan cairan-cairan panas keluar dari tubuhnya tanpa bisa dicegah. Alma mengangkat tubuhnya, bertelektekan di kedua sikunya. Nafasnya masih memburu."Kino! ... apa yang terjadi?" sergahnya dengan suara mengandung nada kuatir."Aku ... aku...," Kino tergagap, cepat-cepat menegakkan tubuhnya sambil menjauhkan kejantanannya dari tubuh Alma.Tangan Alma mengusap bagian yang dipenuhi cairan lengket itu. Oh,... tiba-tiba ia teringat pelajaran informal dari Ibunda. Bukankah ini air mani seorang pria? Bukankah ini yang dapat membuat seorang wanita hamil? Astaga!"Kino! ... tadi kamu tidak memasukkannya, bukan?" bisik Alma yang kini sudah sepenuhnya terduduk di dipan. Kekhawatiran telah memusnahkan rasa nikmat yang barusan diterimanya."Memasukkan?..... Memasukkan apa?" Kino masih tergagap, sambil memakai kembali celana dalam yang tadi tersangkut melingkar di pahanya."Oooh, Kino!... kita tadi melakukan hubungan suami-istri!" nada suara Alma kini seperti hendak menangis.Kino tersadar, berpikir cepat. Tidak. Tadi ia tidak memasukkan kejantanannya ke dalam kewanitaan Alma. "Tetapi, aku tidak memasukkannya, Alma. Hanya menggesek-gesekkannya di bagian luar!" ucapnya, berusaha tenang, walau tak sepenuhnya berhasil. Sebuah perasaan bersalah memenuhi dadanya.Alma mengambil saputangan dari kantong jaketnya, menghapus sisa-sisa cairan cinta di bawah perutnya. Cepat-cepat ia merapikan pakaiannya. Kino duduk di sampingnya, nafasnya masih agak memburu. Alma tak tega melihat kekasihnya tertegun dengan perasaan bersalah. Setelah selesai merapikan diri, ia memeluk Kino erat-erat, menyembunyikan wajahnya di pundak kekasihnya, sambil berbisik, "Ooh.., aku yang bersalah, kenapa membiarkan kamu melakukannya!"Kino mengusap rambut Alma penuh kelembutan, "Kita berdua yang bersalah.." bisiknya."Ya..., tempat ini berbahaya," ucap Alma, nada khawatir telah hilang, berganti nada waspada."Sebaiknya kita segera pergi," balas Kino sambil bangkit dan menarik kekasihnya keluar.Dingin malam menyambut keduanya di luar. Orkes malam dari para jangkerik masih menguasai suasana. Dengan langkah cepat, sepasang kekasih itu meninggalkan pondok, kembali menembus kebun kopi, menuju areal perumahan. Mereka bahkan lalu berlari sambil tertawa kecil, lega karena merasa telah terhindar dari peristiwa yang masih penuh misteri bagi mereka berdua. Alma sendiri kini merasa mendapatkan pengalaman sangat berharga tentang cinta dan birahi. Entah bagaimana ia bisa menggambarkannya, karena semuanya masih samar-samar. Semuanya masih penuh misteri, menegangkan sekaligus mengasyikkan.Bagi Kino, ini pengalaman baru pula. Tetapi ia masih kuatir, terutama karena kini ia berhubungan dengan wanita yang sama-sama belia. Kembali pikirannya menerawang ke Mba Rien. Dengan wanita itu, Kino merasa segalanya terkendali. Segalanya serba pasti. Sementara dengan Alma, setiap percumbuan adalah petualangan baru, sebuah perjalanan menembus wilayah asing yang penuh misteri tak terungkapkan.Mereka tiba di rumah Alma tepat pukul 12.00. Kedua orang tua Alma rupanya masih menonton wayang. Kino mengecup pipi kekasihnya, menyuruh gadis itu cepat-cepat masuk rumah lewat pintu samping. Lalu ia sendiri juga cepat-cepat kembali pulang. Ia ingin segera berbasuh dan berganti pakaian dalam!*******Pada suatu hari, Ayah memanggil Kino dan mengajaknya berbincang serius."Bagaimana persiapan mu masuk perguruan tinggi?" ucap Ayah membuka percakapan. Kino menguraikan secara singkat rencananya masuk jurusan arsitektur. Ia menjelaskan kepada Ayah bahwa perhatiannya kini difokuskan pada matematika dan pengetahuan alam."Bagaimana dengan bahasa Inggris?"Kino tersenyum kecut dan menunduk. Ia memang lemah di mata ajaran yang satu ini."Ayah dengar, mata ajaran itu diperhatikan pula dalam seleksi. Kalau kamu cuma pintar di matematika dan ilmu alam, tetapi gagal di bahasa, ya.... kesempatan kamu berkurang."Kino diam saja. Sebetulnya, ia ingin mengatakan bahwa kelemahannya disebabkan oleh guru yang kurang pandai mengajar. Juga oleh kurangnya fasilitas di kota kecil ini. Di mana bisa membeli buku untuk latihan bahasa Inggris di sini? pikirnya."Bagaimana kalau kamu kursus di luar kota?" usul Ayah."Di mana?" Kino balik bertanya, "Lagipula bagaimana dengan biayanya?Ayah tersenyum. "Jangan kuatir soal biaya. Ayah dan Ibu ada sedikit tabungan yang memang kami siapkan untuk membantu kamu mempersiapkan diri.""Tetapi di mana Kino bisa kursus? Apakah harus pulang-pergi?""Ayah punya teman di kota M, kamu bisa tinggal di sana sambil mempersiapkan diri."Kino memandang lantai rumah. Kota M adalah kota yang cukup besar dan sering diperbincangkan oleh anak-anak sekolah. Pada umumnya, kota itu memang menjadi tujuan bagi mereka yang ingin melangkah lebih jauh. Katakanlah, kota itu semacam tempat mengasah kemampuan, sebelum bersaing di kota-kota besar. Di situ ada berbagai fasilitas pendidikan yang jauh lebih baik daripada di kota kelahiran Kino, termasuk kursus-kursus yang diselenggarakan sarjana-sarjana baru."Minggu depan, teman Ayah itu akan kemari. Nanti, kamu bisa ikut dia kembali ke M dan tinggal di sana 2 atau 3 bulan. Lalu, baru ikut ujian saringan perguruan tinggi. Setuju?" ucap Ayah.Kino mengangkat muka, tersenyum lebar. Tentu saja ia setuju. Ia ingin sekali masuk ke perguruan tinggi, dan segala dukungan orangtua kepadanya sungguh membesarkan hati. Dengan cepat dan kuat, Kino menganggukkan kepala. Ayah tertawa sambil mengusap-usap kepala Kino.******"Kapan kamu berangkat?" tanya Alma mendengar kabar dari Kino. Pemuda itu sengaja datang ke rumah pacarnya untuk memberi kabar tentang rencananya. Alma ikut senang, tetapi ia juga tiba-tiba menyadari bahwa akan ada perpisahan."Minggu depan. Ah,.. aku tak sabar menunggu hari itu!" jawab Kino riang, tak memperhatikan wajah Alma yang agak tersaput kekhawatiran."Lama sekali di sana...," potong Alma. Tiga bulan bukan waktu yang sedikit. Sekarang, setelah menjadi pacar Kino, gadis ini merasa satu hari tak bertemu saja sudah menggelisahkan. Bagaimana harus menghadapi 90 hari tanpa Kino? Dengan siapa aku belajar?"Aku memerlukan persiapan sungguh-sungguh Alma. Aku ingin sekali masuk perguruan tinggi, menjadi arsitek," celoteh Kino bersemangat. Ia sungguh tak melihat reaksi Alma. Ia lalu menceritakan impiannya, ingin merancang bangunan-bangunan yang indah sekaligus kokoh. Bangunan modern tetapi bernafaskan tradisi. Gedung tinggi, tetapi tidak kaku. Banyak sekali yang diinginkannya!Alma terdiam mendengar celoteh pacarnya. Kini semakin jelas baginya, perpisahan dengan Kino tak akan bisa dihindari. Pemuda itu penuh ambisi. Kalau ia belajar dengan tekun di M, Alma pun yakin pemuda itu akan berhasil masuk jurusan yang diimpikannya. Ia tahu, Kino bukan anak yang menganggap enteng masa depan. Pastilah pemuda ini akan mencurahkan seluruh perhatiannya. Lalu, apakah ia akan melupakanku?Continue...
Musim Berderap Berlalu (2) Pengumuman kelulusan 100% membuat anak-anak SMA di kota kelahiran Kino bersuka-cita. Walaupun sebenarnya SMA ini sudah sejak tiga tahun silam selalu meluluskan semua siswanya, tetap saja berita tersebut ditanggapi agak berlebihan. Anak-anak kelas tiga saling menandatangani baju mereka, melakukan arak-arakan di sekitar sekolah, atau menceburkan diri ke sungai kecil di belakang lapangan voli. Suasana serba ceria ini menular ke adik-adik mereka di SMP dan SD, lalu juga merembet ke seluruh penduduk kota yang jumlahnya memang tidak banyak.Pak Camat bahkan membuat hajatan khusus, mengundang sebuah band dari sebuah kota besar untuk manggung di depan kantornya. Pasar malam segera digelar di sekitar panggung, dan para pedagang berlomba-lomba memberikan potongan harga. Semarak sekali suasana kota, nyaris menyerupai suasana hari raya.Malam itu, Kino duduk bersebelahan dengan Alma menonton berbagai acara di atas panggung. Dodi dan Iwan entah kemana, masing-masing dengan pacar mereka. Kino mengajak pula Susi, adiknya. Tetapi, gadis kecil ini kemudian lebih suka ikut Ayah dan Ibu yang berkeliling pasar malam."Mau sekolah ke mana?" tiba-tiba Alma bertanya di tengah acara tarian daerah."Aku ingin jadi arsitek,.... mungkin di institut teknologi di kota B atau kota S," jawab Kino, tersadar bahwa keceriaan lulus sekolah ternyata akan segera disusul dengan ketegangan baru: masuk perguruan tinggi."Aku ingin jadi dokter,.. mungkin ke ibukota," ucap Alma sambil memainkan dompet di pangkuannya.Kino terdiam. Kalau mereka diterima di masing-masing perguruan tinggi yang mereka lamar, berarti keduanya akan berpisah. Cukup jauh jarak antara kota-kota tujuan Kino dengan ibukota."Kenapa kamu tidak ke ibukota juga?" tanya Alma dengan suara pelan, nyaris tenggelam oleh suara gamelan di panggung."Ayah dan Ibu mengatakan, biaya hidup di ibukota terlalu mahal," jawab Kino.Alma menghela nafas panjang dan menghembuskannya dalam desah, "Yaaah..., aku beruntung punya paman yang tinggal di ibukota dan bersedia menampungku. Setidaknya, Ayah dan Ibu tidak perlu membiayai indekos."Kino juga punya seseorang di ibukota. Seorang penari yang sedang meniti karir. Tetapi saat ini, menyebut namanya pun ia tak berani. Ia takut menyinggung perasaan Alma."Bagaimana kabarnya Mba Rien?" Kino tersentak. Justru Alma yang memulai menyebut nama itu. "Tidak tahu," jawab Kino cepat. Ia memang tidak pernah mendengar kabar dari wanita itu.Keduanya terdiam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Acara silih berganti dengan cepat dan lancar. Lalu, band pop dari kota M naik ke panggung disambut tepuk tangan riuh dari anak-anak muda yang sudah tak sabar menunggu. Kino dan Alma pun tenggelam kembali dalam keceriaan, mengikuti lagu demi lagu dengan bersemangat. Sejenak, mereka lupa akan perguruan tinggi dan perpisahan.*******Seusai pertunjukan band, masih ada satu pertunjukan lagi, yaitu wayang kulit sampai pagi. Tetapi kebanyakan anak-anak muda tidak lagi menyukai medium tradisional ini. Apalagi timing-nya juga kurang tepat. Sehabis jejingkrakan menikmati musik rock, mana mungkin mereka mau duduk-diam mendengar tutur-cerita dalang dalam bahasa daerah!Kino mengajak Alma pulang, terpisah dari teman-teman yang lain dan dari kedua orangtua mereka yang masih ingin menonton wayang. Berdua, pasangan ini berjalan pelan-pelan sambil mengobrol kiri-kanan. Perbincangan menyerempet pula masalah masa depan dan kemungkinan perpisahan. Mereka sama-sama mulai menyadari bahwa hidup ternyata masih sangat panjang di depan sana, masih berliku dan mendaki. Alma banyak menunduk mencoba memikirkan skenario apa yang akan mereka berdua mainkan di masa mendatang. Apakah mereka akan tetap bisa berhubungan walau terpisah ribuan kilometer?Kino mengusulkan mengambil jalan pintas, menyusuri pematang sawah. Bulan hampir purnama, awam hujan tidak tampak, sehingga malam tak terlalu gelap. Pematang bahkan jelas terlihat, seperti lintasan-lintasan bersinar membentuk aneka kotak hitam yang adalah sawah-sawah tanpa padi. Ini baru musim tanam, padi belum lagi muncul dari air yang tergenang. Bayangan bulan dan bintang-bintang tampak di permukaan sawah, bagai lampu-lampu penunjuk jalan.Berdua mereka berjalan beriringan, lalu masuk ke perkebunan kopi yang memisahkan persawahan dan areal perumahan kota. Pohon-pohon kopi tidaklah terlalu lebat berdaun, sehingga sinar benda-benda langit malam tetap bisa menerobos menerangi tanah. Bagai lampu-lampu sorot, membentuk beraneka tuas sinar, seperti pilar-pilar putih yang menjulur ke bawah dari langit. Indah sekali malam ini.Kini Alma bisa berjalan sambil memeluk lengan kekasihnya, terbebas dari kekhawatiran dilihat orang banyak. Berjalan di tengah kota, tak mungkin bisa bergandengan mesra begini. Biar bagaimana pun, kota kecil belumlah siap menerima sepasang kekasih yang saling memperlihatkan perasaan di tengah orang ramai.Tampaknya tidak ada orang lain melintas di kebun kopi. Mereka pun bisa berciuman sambil berjalan pelan, terutama jika jalan sedang lurus. Alma tinggal memalingkan dan mengangkat muka, membiarkan Kino mengecup ringan bibirnya. Nafas mereka yang hangat berpadu-satu, terkadang menimbulkan uap tipis yang segera bergabung dengan embun malam. Semakin jauh mereka masuk ke dalam kebun kopi, semakin romantis suasananya. Lalu mereka tiba di sebuah pondok yang agak terpencil, dan bagai sudah bersepakat, mereka berhenti di halamannya. Di sini keadaan jauh lebih gelap, karena ada pohon-pohon lain yang berdaun lebat. Kino mendorong Alma ke arah beranda pondok yang tak berpenghuni, yang kalau pagi hari digunakan untuk istirahat para petani. Di beranda itu Kino melumat bibir kekasihnya lebih bergairah lagi. Alma menerima pagutan kekasihnya dengan tak kalah bergairah. Ia senang sekali dicium Kino yang bisa menggabungkan gairah dan kemesraan dalam takaran yang tepat. Ciuman pria ini tidak terburu-buru, tetapi tidak pula terlalu perlahan. Tidak memaksa-maksa, tetapi justru mengundang. Alma terutama senang sekali merasakan bibir bawahnya dihisap-dikulum perlahan, ditelusuri oleh lidah Kino yang hangat. Sebentar saja, nafas gadis ini sudah terengah-engah.Sejak mengenal percumbuan yang menggairahkan ini, Alma berani pergi dengan Kino tanpa beha. Ia cuma mengenakan kaos, dan untuk menyembunyikan puting-putingnya, ia selalu memakai jaket. Dengan begitu, Alma memberikan keleluasaan kepada kekasihnya untuk bermain-main dengan payudaranya yang ranum. Kino tak perlu repot membuka beha, yang kadang-kadang seperti tidak mau dibuka itu!Malam ini pun Kino segera menelusupkan kedua tangannya ke bawah kaos Alma, meremas-remas kedua bukit menggairahkan itu, perlahan membangkitkan bara birahi di antara mereka berdua. Dengan kedua ibu jarinya, Kino mengusap-usap kedua puting Alma yang menegang-mengenyal. Halus-lembut rasanya kedua puncak payudara itu di jari-jari Kino. Nafas Alma semakin menderu, menyebabkan dadanya turun-naik semakin cepat, dan puting-putingnya bagai meronta-ronta di bawah telapak tangan Kino.Di beranda pondok ada sebuah bangku panjang dari kayu. Ke sana lah Alma perlahan-lahan mendorong kekasihnya agar duduk. Kino pun menurut, membiarkan dirinya terduduk. Alma cepat-cepat mengangkat tubuhnya, duduk di pangkuan pemuda itu dengan kedua kaki direntangkan. Oh, ini lah posisi yang sejak dulu diimpikan Alma! Ia senang sekali dipangku seperti ini, dengan rok tersingkap sampai ke pangkal pahanya, dan dengan selangkangan yang terhenyak lekat di pangkuan Kino. Ia merasa terkuak-terbuka bebas, siap menerima sentuhan-sentuhan kenikmatan dari setiap gerakan Kino. Ia mengerang perlahan, merasakan serbuan gairah tiba-tiba muncul dengan cepat dari dalam tubuhnya yang semakin hangat.Kino melepaskan ciumannya, menelusuri leher Alma yang harum sabun wangi (dia belum mengenal parfum, tentu saja!). Kedua tangannya tetap meremas-remas payudara gadis itu, yang kini terasa semakin kenyal dan keras saja. Puting-putingnya semakin tegak dan panas pula, seperti menyimpan arang-bara yang masih menyala. Alma mengangkat kedua tangannya agak ke atas, memeluk kepala kekasihnya. Jaketnya terpampang-terbuka, dan kaosnya sudah terangkat setengahnya, menampakkan dua bukit putih-mulus menggairahkan. Dalam suasana remang-remang, tubuh Alma tampak indah sekali, bagai lukisan seorang maestro.Bibir Kino kini menelusuri pangkal leher Alma, dan gadis itu mengerang pelan merasakan geli yang menimbulkan nikmat menjalar-jalar sepanjang perjalanan bibir pemuda itu. Dengan tak sabar, ditunggunya bibir Kino menuju ke bawah, semakin mendekati dadanya yang dipenuhi debur jantungnya yang bergelora. Oh,.. cepatlah sedikit sayangku! jeritnya dalam hati, menanti akhir perjalanan bibir yang terasa terlalu pelan itu. Alma merasa jaketnya telalu menganggu, maka ia melepaskannya, sehingga kini ia tinggal berkaos, itu pun sudah setengah terbuka. Lalu, ia lebih berani lagi, meloloskan kaosnya dari atas kepalanya, sehingga kini gadis itu bertelanjang dada, di keremangan malam yang mempesona.Kino sebenarnya agak kuatir mereka berdua dipergoki dalam keadaan seperti ini. Tetapi jangkerik ramai berbunyi di sekitar mereka, menandakan bahwa serangga-serangga itu tidak terganggu. Jika mereka tidak terganggu, berarti tidak ada mahluk lain di sekitar mereka. Itu lah antara lain pelajaran dasar seorang pencinta alam!Bbir Kino kini telah tiba di celah di antara dua bukit yang membusung mempesona itu. Oh,.. harum sekali dada Alma yang mulus dan lembut. Kino berkali-kali menghela nafas, memasukkan keharuman tubuh gadis itu ke dalam tubuhnya, menjadikan keharuman itu sebagai pembangkit gairah yang memang sudah sejak tadi bergelora. Kedua tangannya semakin gemas-meremas, membuat Alma merintih pelan. Lalu, Kino pun melakukan sesuatu yang sudah ditunggu-tunggu gadis itu sejak tadi: ia menghisap salah satu puting Alma, perlahan-lahan saja. Alma seperti tersedak, tubuhnya terangkat sedikit dari pangkuan Kino, menggeliat-geliat seperti di ulat ditusuk duri. Sebuah kenikmatan tak terkira memenuhi tubuh gadis belia ini, bagai sebuah siraman air surgawi, membuatnya berenang-renang melayang-layang mengapung-apung.Satu tangan Kino meninggalkan payudara yang kini dihisap-hisap oleh mulutnya. Tangan itu meluncur cepat ke bawah, menelusup ke balik rok, mengusap-usap bagian belakang tubuh Alma yang agak terangkat dari pangkuannya. Telapak tangan Kino terasa nyaman mengusap-usap bagian itu, yang saat ini masih terbungkus celana dalam nilon tipis dan halus. Kino senang sekali mengusap-usapnya, terasa penuh dan padat, dan hangat pula. Sesekali ia gemas meremas, membuat Alma tersentak lagi, menghenyakkan tubuhnya ke pangkuan Kino. Akibatnya, bagian depan kewanitaannya membentur keras bagian depan kejantanan Kino yang tentu saja masih tersembunyi di balik celananya. Itu pun sudah lah mampu membuat keduanya merasakan serbuan kenikmatan.Alma kini bahkan tanpa sadar menggesek-gesekkan selangkangannya ke pangkuan Kino yang menonjol keras menyembunyikan kejantanannya yang telah tegak-tegang. Oh,.. nikmat sekali rasanya gesekan-gesekan itu, walaupun masih diperantarai kain nilon dan jeans. Alma merintih-rintih pelan merasakan kewanitaannya terkuak dan terhenyak di sebuah tonjolan keras yang panas membara itu. Tonjolan itu tepat terhimpit di antara dua bibir menebal di bawah sana, menimbulkan rasa geli-gatal yang nikmat. Kino pun mendorong tubuh bagian bawahnya lebih ke depan, mempererat penyatuan mereka, sementara tangannya menekan bokong Alma ke bawah."Aaah,... Kino, geli sekali rasanya....," Alma mendesah, seakan-akan ingin minta penegasan, apakah yang dirasakannya itu sudah betul, sudah nyata? Gadis ini sungguh tak punya pengetahuan, dan tak bisa menamakan, apa yang sedang dialaminya bersama pemuda ini? Gerangan misteri kehidupan apa yang kini sedang dijalaninya?Kino berhenti mengulum puting kekasihnya, lalu berbisik dengan nafas memburu, "Pindah ke dalam, yuk?"Alma tak bisa lain selain mengangguk cepat. Ia pasrah saja ketika Kino dengan perkasa mengangkat tubuhnya, seperti seorang kakak menggendong adiknya. Alma memeluk leher kekasihnya erat-erat, melingkarkan kedua kakinya di pinggangnya, memejamkan mata merasakan tubuhnya seperti dibawa terbang. Mungkin begitulah rasanya dibawa terbang burung garuda raksasa!Sambil tak lupa meraih jaket Alma yang tertinggal di bangku, Kino membopong tubuh kekasihnya masuk ke dalam pondok. Di dalam ada dipan kayu, agak ke belakang dari ruangan yang gelap pekat. Dengan cekatan Kino meletakkan jaket Alma di dipan, lalu perlahan-lahan menurunkan tubuh gadis itu di atasnya. Alma kini terlentang dengan kaki tetap melingkari pinggang kekasihnya. Kino menindih tubuhnya, kembali menciumi leher dan lalu segera mengulum puting payudaranya. Alma mengerang-menggeliat, kini menyerahkan tubuhnya diperlakukan apa-saja. Ia merasakan celana dalamnya perlahan ditarik, merasakan salah satu kakinya diangkat sehingga celana dalam itu kini lolos terbuka, merasakan kewanitaannya terpampang-telanjang, dibelai angin malam yang menerobos masuk dinding pondok. Darahnya mendesir cepat, menunggu dengan tegang, apa yang akan dilakukan Kino?Sambil tetap mengulum puting Alma dan menindih tubuhnya, Kino mengusap-usap kewanitaan Alma yang telah terbuka bebas. Ah,.. hangat dan sedikit basah bagian itu. Jari tengah Kino dengan leluasa bisa meluncur licin di antara kedua bibirnya. Alma menggelinjang merasakan jari itu menelusup menimbulkan rasa nikmat di seluruh selangkangannya. Tanpa sadar, ia membuka kedua pahanya semakin lebar, dengan kedua kaki kini bertelektekan di atas dipan. Lalu tangan Kino sejenak meninggalkan kewanitaannya, Alma agak kecewa: kenapa berhenti?Sebelum bisa memprotes, Alma tiba-tiba tersentak, merasakan sebentuk otot-kenyal menyentuh permukaan kewanitaannya. Bukan,... itu bukan jari tengah Kino,.. terlalu besar untuk sebuah jari. Terlalu kenyal dan padat dan panas pula. Oh,... Alma tiba-tiba sadar bahwa yang dirasakannya di bawah sana adalah kejantanan Kino. Ia belum pernah melihat kejantanan seorang pria, tetapi ia bisa membayangkannya setelah merasakan benda itu menyentuh kewanitaannya. Ia mengerang merasakan betapa sentuhan kejantanan itu jauh lebih nikmat dibandingkan sentuhan jari. Lebih penuh-padat-kenyal, terjepit di antara bibir-bibir kewanitaannya, membentur-bentur bagian atasnya. Alma menggeliat kegelian ketika ujung kejantanan yang basah-hangat itu membentur sesuatu yang terletak di celah atas kewanitaannya. Oh,... bagian itu terasa sangat geli, dibentur-bentur benda halus-kenyal-tumpul. Oh,... rasanya seperti gatal yang minta digaruk-garuk. Terus..., terus..., terus...., Alma menjerit dalam hati, merasakan tubuhnya seperti dipenuhi geli-gatal yang bersumber-utama di selangkangannya.Kino mengerang pula, merasakan kenikmatan dari kejantanannya yang menelusur celah basah-panas di bawah sana. Setiap kali ujung kejantanannya membentur tonjolan kecil di antara lepitan bibir kewanitaan Alma, serbuan kenikmatan memenuhi tubuhnya. Gerakan menggesek-menekan menyebabkan kejantanannya seperti diurut-urut, enak dan nikmat sekali. Apalagi kemudian Alma mengangkat kakinya, kembali memeluk pinggang Kino, menyebabkan kewanitaaanya semakin terkuak. Kejantanan Kino kini sempurna terjepit melintang di atas kewanitaan yang semakin lama semakin dipenuhi cairan licin. Kino pun menggerak-gerakkan pinggulnya, maju-mundur sambil tetap menekan. Alma mengerang-merintih dengan kedua tangan semakin erat memeluk leher kekasihnya, nyaris membuat Kino tak bisa bernafas.Dari bagian bawah perutnya, Alma merasakan seperti ada gumpalan yang semakin lama semakin membesar, hendak meledak. Gumpalan itu seperti dipenuhi kenikmatan, siap menyebarkan isinya ke seluruh tubuhnya. Alma semakin mengangkangkan kakinya, meletakkan keduanya semakin tinggi di punggung Kino. Bagian belakang tubuhnya bahkan kini sudah terangkat dari dipan. Oh,.... tiba-tiba ia merasakan gemuruh birahi memenuhi tubuhnya, bergulung-gulung seperti ombak besar menuju pantai. Dengan punggung tangannya, Alma menutup mulut, mencegah teriakan yang kini memenuhi kerongkongannya. Kino semakin cepat memaju-mundurkan pinggulnya, menyebabkan kejantanannya semakin cepat menggeleser-geleser membentur-bentur. Alma menjerit tertahan ..... tubuhnya terasa meledak berkeping-keping, kepalanya dipenuhi sensasi kenikmatan, pandangannya hilang melayang walau matanya masih terbuka.Kino mendorong keras untuk terakhir kalinya. Kejantanannya tergelincir lepas dari jepitan bibir kewanitaan Alma, terus ke atas, ke bagian yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Di sana, di atas rambut-rambut itu, kejantanan Kino seperti bergelegak sebelum akhirnya meregang dan menumpahkan cairan-cairan kental putih. Alma tersentak, merasakan perut bagian bawahnya dipenuhi rasa panas dan lengket. Oh,... apa yang terjadi?Kino pun terkaget ketika merasakan cairan-cairan panas keluar dari tubuhnya tanpa bisa dicegah. Alma mengangkat tubuhnya, bertelektekan di kedua sikunya. Nafasnya masih memburu."Kino! ... apa yang terjadi?" sergahnya dengan suara mengandung nada kuatir."Aku ... aku...," Kino tergagap, cepat-cepat menegakkan tubuhnya sambil menjauhkan kejantanannya dari tubuh Alma.Tangan Alma mengusap bagian yang dipenuhi cairan lengket itu. Oh,... tiba-tiba ia teringat pelajaran informal dari Ibunda. Bukankah ini air mani seorang pria? Bukankah ini yang dapat membuat seorang wanita hamil? Astaga!"Kino! ... tadi kamu tidak memasukkannya, bukan?" bisik Alma yang kini sudah sepenuhnya terduduk di dipan. Kekhawatiran telah memusnahkan rasa nikmat yang barusan diterimanya."Memasukkan?..... Memasukkan apa?" Kino masih tergagap, sambil memakai kembali celana dalam yang tadi tersangkut melingkar di pahanya."Oooh, Kino!... kita tadi melakukan hubungan suami-istri!" nada suara Alma kini seperti hendak menangis.Kino tersadar, berpikir cepat. Tidak. Tadi ia tidak memasukkan kejantanannya ke dalam kewanitaan Alma. "Tetapi, aku tidak memasukkannya, Alma. Hanya menggesek-gesekkannya di bagian luar!" ucapnya, berusaha tenang, walau tak sepenuhnya berhasil. Sebuah perasaan bersalah memenuhi dadanya.Alma mengambil saputangan dari kantong jaketnya, menghapus sisa-sisa cairan cinta di bawah perutnya. Cepat-cepat ia merapikan pakaiannya. Kino duduk di sampingnya, nafasnya masih agak memburu. Alma tak tega melihat kekasihnya tertegun dengan perasaan bersalah. Setelah selesai merapikan diri, ia memeluk Kino erat-erat, menyembunyikan wajahnya di pundak kekasihnya, sambil berbisik, "Ooh.., aku yang bersalah, kenapa membiarkan kamu melakukannya!"Kino mengusap rambut Alma penuh kelembutan, "Kita berdua yang bersalah.." bisiknya."Ya..., tempat ini berbahaya," ucap Alma, nada khawatir telah hilang, berganti nada waspada."Sebaiknya kita segera pergi," balas Kino sambil bangkit dan menarik kekasihnya keluar.Dingin malam menyambut keduanya di luar. Orkes malam dari para jangkerik masih menguasai suasana. Dengan langkah cepat, sepasang kekasih itu meninggalkan pondok, kembali menembus kebun kopi, menuju areal perumahan. Mereka bahkan lalu berlari sambil tertawa kecil, lega karena merasa telah terhindar dari peristiwa yang masih penuh misteri bagi mereka berdua. Alma sendiri kini merasa mendapatkan pengalaman sangat berharga tentang cinta dan birahi. Entah bagaimana ia bisa menggambarkannya, karena semuanya masih samar-samar. Semuanya masih penuh misteri, menegangkan sekaligus mengasyikkan.Bagi Kino, ini pengalaman baru pula. Tetapi ia masih kuatir, terutama karena kini ia berhubungan dengan wanita yang sama-sama belia. Kembali pikirannya menerawang ke Mba Rien. Dengan wanita itu, Kino merasa segalanya terkendali. Segalanya serba pasti. Sementara dengan Alma, setiap percumbuan adalah petualangan baru, sebuah perjalanan menembus wilayah asing yang penuh misteri tak terungkapkan.Mereka tiba di rumah Alma tepat pukul 12.00. Kedua orang tua Alma rupanya masih menonton wayang. Kino mengecup pipi kekasihnya, menyuruh gadis itu cepat-cepat masuk rumah lewat pintu samping. Lalu ia sendiri juga cepat-cepat kembali pulang. Ia ingin segera berbasuh dan berganti pakaian dalam!*******Pada suatu hari, Ayah memanggil Kino dan mengajaknya berbincang serius."Bagaimana persiapan mu masuk perguruan tinggi?" ucap Ayah membuka percakapan. Kino menguraikan secara singkat rencananya masuk jurusan arsitektur. Ia menjelaskan kepada Ayah bahwa perhatiannya kini difokuskan pada matematika dan pengetahuan alam."Bagaimana dengan bahasa Inggris?"Kino tersenyum kecut dan menunduk. Ia memang lemah di mata ajaran yang satu ini."Ayah dengar, mata ajaran itu diperhatikan pula dalam seleksi. Kalau kamu cuma pintar di matematika dan ilmu alam, tetapi gagal di bahasa, ya.... kesempatan kamu berkurang."Kino diam saja. Sebetulnya, ia ingin mengatakan bahwa kelemahannya disebabkan oleh guru yang kurang pandai mengajar. Juga oleh kurangnya fasilitas di kota kecil ini. Di mana bisa membeli buku untuk latihan bahasa Inggris di sini? pikirnya."Bagaimana kalau kamu kursus di luar kota?" usul Ayah."Di mana?" Kino balik bertanya, "Lagipula bagaimana dengan biayanya?Ayah tersenyum. "Jangan kuatir soal biaya. Ayah dan Ibu ada sedikit tabungan yang memang kami siapkan untuk membantu kamu mempersiapkan diri.""Tetapi di mana Kino bisa kursus? Apakah harus pulang-pergi?""Ayah punya teman di kota M, kamu bisa tinggal di sana sambil mempersiapkan diri."Kino memandang lantai rumah. Kota M adalah kota yang cukup besar dan sering diperbincangkan oleh anak-anak sekolah. Pada umumnya, kota itu memang menjadi tujuan bagi mereka yang ingin melangkah lebih jauh. Katakanlah, kota itu semacam tempat mengasah kemampuan, sebelum bersaing di kota-kota besar. Di situ ada berbagai fasilitas pendidikan yang jauh lebih baik daripada di kota kelahiran Kino, termasuk kursus-kursus yang diselenggarakan sarjana-sarjana baru."Minggu depan, teman Ayah itu akan kemari. Nanti, kamu bisa ikut dia kembali ke M dan tinggal di sana 2 atau 3 bulan. Lalu, baru ikut ujian saringan perguruan tinggi. Setuju?" ucap Ayah.Kino mengangkat muka, tersenyum lebar. Tentu saja ia setuju. Ia ingin sekali masuk ke perguruan tinggi, dan segala dukungan orangtua kepadanya sungguh membesarkan hati. Dengan cepat dan kuat, Kino menganggukkan kepala. Ayah tertawa sambil mengusap-usap kepala Kino.******"Kapan kamu berangkat?" tanya Alma mendengar kabar dari Kino. Pemuda itu sengaja datang ke rumah pacarnya untuk memberi kabar tentang rencananya. Alma ikut senang, tetapi ia juga tiba-tiba menyadari bahwa akan ada perpisahan."Minggu depan. Ah,.. aku tak sabar menunggu hari itu!" jawab Kino riang, tak memperhatikan wajah Alma yang agak tersaput kekhawatiran."Lama sekali di sana...," potong Alma. Tiga bulan bukan waktu yang sedikit. Sekarang, setelah menjadi pacar Kino, gadis ini merasa satu hari tak bertemu saja sudah menggelisahkan. Bagaimana harus menghadapi 90 hari tanpa Kino? Dengan siapa aku belajar?"Aku memerlukan persiapan sungguh-sungguh Alma. Aku ingin sekali masuk perguruan tinggi, menjadi arsitek," celoteh Kino bersemangat. Ia sungguh tak melihat reaksi Alma. Ia lalu menceritakan impiannya, ingin merancang bangunan-bangunan yang indah sekaligus kokoh. Bangunan modern tetapi bernafaskan tradisi. Gedung tinggi, tetapi tidak kaku. Banyak sekali yang diinginkannya!Alma terdiam mendengar celoteh pacarnya. Kini semakin jelas baginya, perpisahan dengan Kino tak akan bisa dihindari. Pemuda itu penuh ambisi. Kalau ia belajar dengan tekun di M, Alma pun yakin pemuda itu akan berhasil masuk jurusan yang diimpikannya. Ia tahu, Kino bukan anak yang menganggap enteng masa depan. Pastilah pemuda ini akan mencurahkan seluruh perhatiannya. Lalu, apakah ia akan melupakanku?Continue...
Saatnya Untuk Berpisah Kota M terletak sekitar 100-an kilometer dari kota kelahiran Kino. Ke sanalah kini pemuda itu menuju, naik kendaraan umum bersama teman ayahnya, Paman Tingga namanya, yang bersedia menampung Kino selama ia mempersiapkan diri untuk seleksi perguruan tinggi. Pagi masih basah dan agak berembun ketika keduanya berangkat ke terminal berjalan kaki.Sambil melangkah, Kino mengenang perpisahannya tadi malam dengan Alma. Ada kesenduan di raut muka gadis manis itu, walaupun Kino berusaha menghiburnya dengan bercanda. Lagipula, apa yang dirisaukannya? Toh, mereka hanya akan berpisah dua bulan. Bagi Kino, tak apa lah berpisah dari Alma, karena ia merasa memerlukan konsentrasi penuh untuk persiapan masa depannya. Tetapi bagi Alma rupanya agak lain. Gadis itu merasa inilah awal dari sebuah perpisahan panjang yang tak terelakkan.Malam itu mereka meminta ijin untuk menonton. Kedua orangtua Alma mengijinkan, dengan perjanjian agar mereka pulang sebelum pukul 11. Tetapi, mereka membatalkan acara menonton, karena ternyata film yang tadinya mereka akan tonton telah diganti dengan sebuah film silat. Akhirnya mereka duduk saja di pinggir alun-alun dekat pantai. Ada sebuah tembok pendek pembatas alun-alun dengan jalan. Di sana lah keduanya duduk berayun-ayun kaki, menghadap ke selatan ke arah laut yang menghitam nun di sana. Awan hujan tak tampak di langit, tetapi angin terasa mulai dingin. Kino memeluk pundak kekasihnya."Apa rencana kamu setelah kursus?" tanya Alma sambi memainkan kancing bawah jaketnya."Mmmm ..., belum tahu. Mungkin langsung ikut test seleksi," jawab Kino. Ia memang membicarakan kemungkinan ini dengan ayahnya beberapa waktu yang lalu. Ayah dan ibu juga setuju jika Kino ingin ikut test langsung di lokasi perguruan tinggi yang ditujunya, di kota B. Tetapi, menurut kedua orangtuanya, keputusan ada di tangan Kino setelah ikut kursus."Berarti kamu langsung ke B...," ucap Alma sambil mengibaskan rambut yang menutupi mukanya."Ya,.. senang sekali kalau bisa ikut test di sana. Aku ingin sekali melihat kampusnya. Kata orang, kampus itu besar sekali, berkali-kali lebih besar dari alun-alun ini!" jawab Kino bersemangat. Ia merasa, ikut ujian seleksi di kampus itu akan menambah motivasi dan kemungkinan lulus."Tetapi, itu berarti kita tak akan bertemu lagi," bisik Alma.Kino menoleh. Memandang kekasihnya yang kini menunduk. Rambutnya yang legam tergerai menutup wajahnya. Dengan lembut, Kino mencoba menyibak rambut itu. Alma mengelak. Kino mencoba lagi, Alma tetap mengelak, bahkan melepaskan diri dari pelukan kekasihnya."Apa maksudmu?" tanya Kino.Alma menggeser duduknya menjauh, lalu menghadapkan tubuhnya ke Kino. Wajahnya serius, "Maksudku,... kita akan berpisah semakin lama. Lalu, kalau diterima di perguruan tinggi,... kamu dan aku akan sama-sama sibuk kuliah. Kemungkinan, kita tak akan bertemu lagi dalam waktu satu atau dua tahun. Atau mungkin lebih.""Ya,... agaknya begitu," ucap Kino pelan. Ia memang juga punya dugaan yang sama, tetapi apa yang bisa dilakukannya? Bukankah sekolah tinggi-tinggi adalah keinginan mereka berdua? Kalau mereka terpaksa berpisah karena keinginan itu, apa yang bisa mereka lakukan?"Lalu kita akan saling melupakan...," bisik Alma, matanya berkaca-kaca."Kenapa saling melupakan?" sergah Kino."Karena kita akan sama-sama sibuk kuliah...""Tetapi kita bisa saling menyurati. Kita bisa ... ""Tetap saja....," Alma memotong dengan cepat, "Kita tetap akan saling menjauh tanpa kita sengaja.""Kita masih bisa bertemu lagi, Alma. Aku pasti itu!" ucap Kino mencoba tegas, walau ia sendiri tak tahu apakah suaranya betul-betul kedengaran tegas. Ia sendiri ragu, apakah memang ada kepastian di masa depan? Bukankah masa depan selalu samar-samar?Alma menghela nafas panjang, lalu menghempaskannya dalam desah yang keras. "Yah .. pasti kita bertemu lagi, tetapi mungkin sebagai dua orang yang berbeda..." ucapnya pelan.Kino terdiam. Tiba-tiba ia sadar, betapa ia tak kuasa mengatur aliran kehidupan. Betapa kecilnya ia menghadapi dunia yang begitu luas, yang berada di luar batas kendalinya. Ia ingin sekolah dan menjadi arsitek ulung, tetapi untuk itu ia harus meninggalkan banyak sekali kenangan manis. Tidak hanya Alma, tetapi juga Susi adik satu-satunya, ayah dan ibunya, teman-temannya, sungai tempatnya berenang, pantai yang menyimpan jutaan memori, hutan kenari, kota kecil yang damai ..... banyak sekali!"Melamun apa?" teguran Paman Tingga di sampingnya membuat Kino tersentak. Tak terasa, mereka sudah sampai di terminal. Kino tersipu sambil berbohong, mengatakan bahwa ia sedang membayangkan kota M.Paman Tingga tersenyum, lalu menepuk pundaknya. "Jangan bohong. Kamu pasti sedang melamunkan pacarmu," ucapnya sambil tertawa pelan."Yah,.. yang itu juga kulamunkan, sambil membayangkan kota M," jawab Kino tak mau kalah. Paman Tingga tertawa lebih keras.Mereka naik ke kendaraan umum yang sudah menunggu. Kino duduk dekat jendela, sementara teman ayahnya turun lagi untuk membeli makanan kecil dan minuman. Kino tinggal di atas mobil, melanjutkan lamunannya.*****Setelah bosan duduk di alun-alun, Alma dan Kino berjalan-jalan menyusur pantai. Pada malam hari, terutama di saat libur sekolah seperti ini, dan jika hujan tidak turun, pantai selalu ramai oleh warung-warung dan orang yang berjalan-jalan. Anak-anak tampak berlarian main kejar-kejaran. Sekelompok orang tampak duduk mengelilingi sepasang lelaki bermain catur diterangi lampu petromaks. Di tempat lain, sekelompok remaja bernyanyi-nyanyi diiringi gitar. Berpasang-pasang kekasih tampak juga berjalan-jalan seperti halnya Kino dan Alma. Sekali-kali mereka berpapasan dengan orang yang dikenal, saling bertegur sapa, atau sejenak berhenti untuk bercakap berbasa-basi.Alma dan Kino lebih banyak diam sambil berjalan. Masing-masing tenggelam dalam lamunan, terutama tentang telah tibanya saat perpisahan. Masing-masing mencoba mencari apa saja kah makna perpisahan itu? Tetapi mereka berdua hanya menemukan satu: perpisahan itu menyakitkan. Memedihkan. Membuatmu tak berdaya.Alma menggamit tekan kekasihnya, meremas pelan, lalu bertanya memecah keheningan, "Apakah kamu mencintai ku?""Ya," jawab Kino pendek. Sial! Mengapa pendek sekali jawaban itu? umpat Kino dalam hati. Tetapi, lalu seberapa panjang kah seharusnya? Satu kalimat? Dua kalimat? Satu halaman surat? Seberapa kah?"Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya?" tanya Alma lagi."Kenapa?" malah Kino balik bertanya."Aku yang bertanya duluan. Kamu, koq, malah bertanya kembali," sergah Alma."Ya. Aku juga bertanya sendiri, kenapa aku tak pernah mengatakannya,""Lalu, apa jawabnya?" desak Alma."Aku tak tahu. Tetapi kenapa itu jadi persoalan, Alma? Aku memang tak pernah mengucapkannya. Aku tak bisa. Tak pandai," jawab Kino agak kesal.Alma menghentikan langkah. Kino terpaksa juga ikut berhenti. Mereka telah berada agak jauh dari keramaian. Suara ombak berdebur keras. Semakin terdengar keras di tengah keheningan.Alma memegang kedua tangan Kino, menghadapnya dengan muka tengadah, memandang dengan mata beningnya. Sebagian rambut menutupi mukanya, melintang di hidungnya yang bangir, di bibirnya yang ranum, di pipi berlesung-pipitnya. Ah, Kino melihat kecantikan semata di tengah samar-samar malam. Melihat sinar kerinduan di mata itu, bagai bintang-bintang berpijar lembut. Melihat seraut wajah tempat ia melabuhkan impian-impiannya. Mengapa semuanya tampak begitu mengesankan saat engkau harus berpisah?Alma terpejam merasakan nafas kekasihnya dekat sekali menerpa wajahnya. Bibir Kino perlahan menyentuh bibirnya. Kedua tangan mereka saling meremas. Angin keras mengibarkan jaket-jaket mereka. Ciuman kali ini terasa sangat lembut, selembut awan putih di langit biru. Sangat hangat, sehangat mentari di pagi yang cerah. Mesra dan manja mengalunkan kerinduan. Alma membuka mulutnya, mengundang kekasihnya datang merasuki seluruh jiwa-raganya. Datang lah kekasih, reguk habis rinduku, bawa daku terbang setinggi mungkin.Keduanya berdiri rapat. Kino mengulum mesra bibir kekasihnya, menghirup harum-sedap nafasnya, menggigit manja lidahnya yang nakal. Alma membuka sedikit matanya, memandang wajah Kino yang dekat sekali di depannya. Sebentar lagi ia akan pergi jauh, gumam Alma dalam hati. Sebentar lagi wajah itu hanya akan ada di dompet ku, menjadi sebuah potret kekasih yang mungkin juga akan segera lusuh karena terlalu sering disentuh. Sambil membalas ciuman kekasihnya, diam-diam Alma merekam wajah itu sedetil mungkin. Mematrinya di benak. Ah, Kino ..... dahinya yang selalu serius. Matanya yang tajam-tegas. Tulang pipinya yang mengguratkan ketakmenyerahan. Hidungnya yang menggemaskan (aku senang sekali mencubit hidung itu!). Bibirnya yang selalu bergairah. Selalu!Kino melepaskan ciumannya, membuka mata dan menemukan sepasang mata kekasihnya memandang mesra. Ia berbisik, "Alma, aku ingin bercumbu malam ini. Mari kita pergi dari sini..."Alma tertawa pelan, "Kemana kamu hendak membawa ku?" tanyanya sambil memeluk leher Kino.Kino melihat sekeliling. Pantai tampak sepi, tetapi juga terlalu menakutkan di tengah malam seperti ini. Tidak di sini. Kino memutuskan untuk mengajak Alma ke sebuah tempat yang selama ini menjadi "persembunyian" mereka: sebuah pondok di tengah kebun kopi. Tetapi lokasinya ada di sisi lain dari kota, sehingga untuk ke sana mereka perlu berjalan cepat."Ke sana?" Alma bertanya ketika melihat Kino diam saja. Ah, gadis ini memang bisa membaca pikiran ku, ucap Kino dalam hati."Ayo, kita ke sana...," kata Kino bergairah, menggulung kaki celananya dan menarik tangan Alma untuk meninggalkan pantai. Alma tertawa kecil, mengikuti tarikan tangan ke kasihnya. Sebentar kemudian mereka telah berlari-lari menyebrang jalan, menelusuri alun-alun menuju tengah kota. Lalu, di depan kantor camat mereka berbelok, melintasi persawahan, berjalan beriringan sambil sekali-sekali bercanda. Malam semakin larut.... "Waahhh... melamun lagi!" Paman Tingga telah naik kembali ke mobil. Kino terperanjat dan tersipu lagi. Sialan! Lamunannya terpotong di tengah jalan."Nih,... makan kacang goreng supaya tidak terlalu banyak melamun," ujar Paman Tingga sambil menyodorkan sebungkus kacang. Kino mengucapkan terimakasih dan mulai memasukkan beberapa butir ke mulutnya.Paman Tingga lalu mengajak mengobrol, bertanya-tanya tentang sekolah Kino. Terpaksa lah Kino menimpalinya, menjawab semua pertanyaannya dengan lengkap. Paman Tingga lalu juga bercerita tentang dirinya dan anak-anaknya yang masih kecil. Tentang kota M yang katanya tumbuh pesat karena menjadi pusat perdagangan bagi kota-kota kecil sekitarnya. Paman Tingga ini seorang pedagang yang konon sedang naik daun. Ia sering mundar-mandir ke ibukota mengurus bisnisnya. Kino senang juga mendengar ulasannya tentang lika-liku bisnis, walaupun dunia itu sangat asing baginya.Tetapi ketika mobil mulai bergerak, Paman Tingga berhenti bercerita. Bahkan tak lama kemudian ia terlihat terkantuk-kantuk. Baru 10 menit mobil melaju, Paman Tingga telah menyandarkan kepalanya di jok dan tertidur nyenyak. Kino masih mengunyah kacang, memandang ke luar jendela, melihat betapa kotanya dengan cepat tertinggal di belakang.Tanpa sadar, ia melamunkan lagi peristiwa semalam .....****** Pondok itu tetap sepi dan tetap bagai magnit, menarik kedua remaja itu untuk datang berkunjung, walau setiap kali pula mereka ingin menghindar. Mungkin juga bagai lampu yang menarik laron-laron terbang mendekat. Kalau terlalu dekat, pastilah mereka akan hangus terbakar, bukan? Tetapi bagaimana jika laron-laron itu sudah terbakar api asmara sebelum menghampiri sang lampu?Alma dan Kino mengendap-endap mendekat, sambil melihat sekeliling, kalau-kalau ada orang melintas. Tampaknya tidak ada seorang pun di sekitar. Kino menggenggam erat tangan kekasihnya, perlahan-lahan mendekati pondok. Serangga malam menghentikan musik mereka setiap kali sepasang remaja ini melangkah. Tetapi setelah mereka berlalu, serangga itu kembali ramai memperdengarkan musik mereka.Kino langsung mengajak Alma masuk. Pondok itu tentu saja gelap gulita. Setelah beberapa saat, barulah mata mereka bisa menyesuaikan diri, bisa melihat ruang kosong dengan dipan kayu itu. Kino segera duduk, dan Alma segera naik ke pangkuannya. Mereka langsung berciuman, tanpa bertukar kata lagi. Nafas Alma sudah memburu sejak tadi, bukan hanya karena harus berjalan cepat dan setengah berlari, tetapi juga karena ia memang selalu bergairah jika berduaan dengan Kino.Ciuman mereka tak lagi lembut-mesra seperti ketika di pantai tadi, melainkan bergelora, saling pagut dan saling mengulum. Nafas mereka berdua berdesahan, saling menyerobot seperti hendak saling mengalahkan. Kedua pasang bibir mereka saling menekan memilin, bergantian menghisap-hisap. Kedua lidah mereka bergelut bergelung seperti dua naga kecil yang bermain-main di taman basah dan hangat yang adalah mulut mereka. Berkali-kali Alma seperti tersedak, tak tahan diperlakukan begitu bergairah oleh kekasihnya. Tetapi berkali-kali pula ia kembali mengulum bibir pemuda itu, membiarkan lidahnya bermain semakin jauh ke dalam mulutnya, menyentuh langit-langitnya, menimbulkan rasa geli dan hangat.Seperti biasanya, Alma hanya memakai kaos tebal dan jaket, tanpa beha. Dengan leluasa, tangan Kino segera menelusup menelusuri bukit-bukit indah di balik kaos itu. Bukit-bukit yang naik turun, membusung penuh, kenyal-padat, hangat. Tangan Kino langsung gemas meremas, memijat, menekan. Jari-jarinya bermain ringan di atas kedua puting yang telah menegang tegak. Alma pun mengerang merintih merasakan kedua budah dadanya bagai dipenuhi uap panas, bergulung-gulung seakan badai yang sedang melanda bumi. Sambil memeluk leher Kino, gadis itu membusungkan dadanya, memajukan seluruh tubuhnya, menghenyakkan kedua payudaranya di tangan kekasihnya. Ia ingin diremas lebih keras lagi, lebih bergairah lagi.Mulut Kino meninggalkan mulut Alma, kini menciumi lehernya yang jenjang. Menciumi kulit mulus-lembut nan harum di bawah telinganya. Menggigit cuping telinga itu, membuat Alma terkejut, tetapi juga sangat senang. Apalagi kemudian Kino menggigit pula lehernya, pelan-pelan saja. Oh, geli sekaligus nikmat rasanya diperlakukan seperti itu. Seperti disengat-sengat bara kenikmatan yang membangkitkan api birahi semakin besar.Alma memajukan duduknya, mengangkat sedikit tubuhnya, sehingga mulut Kino kini semakin turun. Cepat-cepat Alma mengangkat kedua tangannya, membiarkan Kino menaikkan kaosnya. Segera dua payudara gadis yang kenyal-padat itu terpampang, indah sekali dalam keremangan malam, putih bersih bagai bersinar. Hmmm,... Kino menenggelamkan wajahnya di lembah harum di antara dua bukit indah itu. Hmmm ..., tubuh Alma selalu penuh keharuman sabun wangi, dan juga bedak yang biasa dipakai bayi. Hmmm ...., sungguh menggairahkan rasanya menciumi dada ranum yang agak basah oleh keringat itu. Dengan gemas, digigitnya sedikit daging di pangkal salah satu payudara itu. Alma mengerang. Alma merintih."Uuuh ....," Alma merintih ketika mulut Kino naik dan mengulum puting sebelah kiri. Tubuh gadis itu menggelinjang ke kiri."Aaaah ....," Alma mengerang ketika Kino meremas payudara sebelah kanan. Tubuh gadis itu bergeser ke kanan.Begitulah terus. Ke kiri. Ke kanan. Ke kiri ke kanan. Gerakan-gerakan Alma menimbulkan gesekan nikmat di bawah sana, di tempat selangkangannya yang terhenyak rapat di pangkuan Kino. Ada cairan bening tipis mengalir pelan dari dalam tubuhnya, membasahi celana dalamnya. Ada rasa hangat turun bersama aliran itu. Ada rasa geli-nikmat yang merayap perlahan ke seluruh penjuru tubuh.Dengan satu tangannya yang masih bebas, Kino menyingkap rok Alma lebih ke atas, sehingga antara dia dan gadis itu kini hanya ada seutas kain nilon tipis yang telah basah di sana-sini. Setelah itu, tangan Kino masuk menelusup dari belakang. Alma mengerang merasakan tangan itu membawa kehangatan ke bagian belakang tubuhnya yang penuh-padat itu. Alma merintih ketika Kino meremas-remas bagian itu, seakan-akan sedang memeras buah hendak mengambil airnya. Gadis itu semakin memajukan duduknya, semakin rapat menempelkan bagian bawah tubuhnya ke pangkuan Kino. Malam terasa semakin panas. Keringat muncul di beberapa bagian tubuh keduanya; di ketiak, di punggung, di tengkuk.Lalu celana dalam Alma terlepas sudah, entah oleh tangan Kino atau oleh tangannya sendiri. Tidak jelas lagi, siapa melakukan apa dalam pergumulan bergairah yang tak terkendal ini. Kedua tangan Kino kini ada di bawah. Yang satu meremas-remas di belakang, yang lain menelusup ke depan. Alma mengangkat tubuhnya, tidak lagi duduk di pangkuan Kino, memberikan kebebasan dan keleluasaan kepada kedua tangan pemuda itu. Kino pun segera memanfaatkan keleluasaan itu. Jari-jarinya mengusap-menelusupi kewanitaan Alma yang terasa panas membara. Gadis itu menggelinjang hebat ketika merasakan ujung jari Kino menyentuh-nyentuh bagian-bagian yang sangat sensitif di bawah sana. Rasanya, bagian-bagian itu telah berubah seluruhnya menjadi ujung saraf belaka, tidak dilapisi apa-apa. Sehingga setiap sentuhan, seberapa pun ringannya, sanggup mengirimkan sentakan-sentakan kenikmatan ke seluruh tubuh.Lalu celana panjang Kino juga telah terbuka. Sekali lagi, entah siapa yang melakukannya. Mungkin Kino, mungkin Alma, mungkin keduanya. Kejantanan Kino tahu-tahu juga sudah di luar, tegak berdenyut. Alma meraihnya dengan gemas, tersentak merasakan betapa panasnya otot-kenyal yang menggairahkan itu. Kino mengerang ketika merasakan tangan halus lembut meremasnya di bagian yang sangat sensitif, di ujung yang telah sedikit basah pula. Lalu tangan Alma menuntun kejantanan Kino ke depan kewanitaannya. Oh, Alma menggosok-gosok kewanitaannya dengan otot-kenyal padat panas itu. Oh, rasanya nikmat sekali bagi keduanya. Menggelitik-gelitik, menimbulkan geli nikmat di mana-mana.Dengan kedua tangannya yang kokoh, Kino kini menopang tubuh Alma. Kedua telapak tangannya menjadi tumpuan dari pantat gadis itu, sementara dengan tangannya Alma terus menggosok-gosokkan kejantanan Kino. Pelan-pelan, kewanitaannya terasa semakin menguak, semakin membuka. Apalagi cengkraman tangan Kino juga ikut merentangkan bagian bawah itu, membuatnya semakin terbuka. Kejantanan yang kenyal-tegang itu kini menelusuri permukaan kewanitaan Alma, menimbulkan rasa geli yang sangat nikmat. Membuat liangnya semakin basah dan licin. Berdenyut-denyut pula.Sesekali, ujung kejantanan Kino menelusup sedikit ke dalam. Oh,... Alma terpejam merasakan tusukan-tusukan kecil menyeruak ke dalam tubuhnya. Ahhh ..., Kino juga terpejam merasakan ujung-ujung sarafnya seperti dibelai-belai mesra. Betapa hangat, basah dan licin permukaan liang kewanitaan itu. Betapa halus, bagai sutra. Alma mengerang-merintih, terus memainkan otot-kenyal di tangannya, menggosok ke depan ke belakang, memutar-mutar.Lalu pelan-pelan Kino menurunkan tubuh Alma, ..... cuma sedikit saja, mungkin cuma tiga senti. Tetapi itu sudah cukup membuat Alma tersentak, mengerang "Aaah...", merasakan sebuah benda tumpul hangat menyeruak ke dalam tubuhnya. Rasanya sedikit pedih, tetapi juga geli dan nikmat. Bercampur baur. Mengejutkan."Jangan, Kino....," desah Alma sambil berusaha mengangkat tubuhnya. Tetapi entah kenapa, ia tak sanggup melakukan hal itu. Rasa nikmat di bawah sana menahannya untuk bergerak. Maka akhirnya ia cuma menggeliat-geliat.Kino mengerang pelan. Oh,.. hangat sekali di dalam sana. Ia merasakan ujung kejantanannya dibalut entah oleh apa. Terasa sempit tetapi juga licin, mencekal erat tetapi juga berdenyut-denyut. Dengan kedua tangannya, Kino mempertahankan posisi tubuh Alma yang kini bagai mengambang: antara atas dan bawah, antara kenikmatan dan kekhawatiran.Alma merasakan nikmat luar biasa datang dari liang kewanitaannya yang kini bagai tersumbat sebentuk otot-kenyal. Tak sadar, ia menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan, menyebabkan si sumbat menyeruak dinding-dinding bagian dalam kewanitaannya, menimbulkan kenikmatan tambahan. Kino tetap menahan tubuh Alma agar tidak melesak lebih ke bawah. Diam-diam ia khawatir akan apa yang mereka lakukan. Ia takut jika seluruh kejantanannya masuk dan merusak sesuatu di dalam sana, walau ia sendiri tak tahu, ada apa di dalam sana."Aaaaaah!", tiba-tiba Alma mengerang. Orgasmenya datang bagai banjir bandang. Kedua kakinya mengejang, dan ia ingin merapatkan pahanya, menjepit kejantanan Kino untuk menimbulkan kenikmatan yang lebih lagi. Tetapi tangan pemuda itu sangat kokoh mencengkram tubuhnya, sehingga akhirnya Alma hanya menyerah saja. Membiarkan tubuhnya berguncang-guncang ketika ia mencapai klimaks yang sedap itu. Kedua tangan Alma mencengkram bahu Kino. Tubuhnya meregang. Matanya terpejam erat, mulutnya setengah terbuka, mengeluarkan keluh berkepanjangan, "Nggggggg....".Bersamaan dengan itu, Kino merasakan ujung kejantanannya bagai dipilin-diremas oleh daging kenyal hangat yang bergerak-gerak liar. Sekuat tenaga ditopangnya tubuh Alma yang sedang bergetar hebat. Keringat Kino membasahi badannya, karena tubuh gadis itu tidaklah ringan. Apalagi kalau sedang meregang-mengejang seperti ini.Lalu, Kino merasakan klimaksnya datang, ketika Alma masih mengerang-merintih dengan kedua tangan mencengkram bahunya. Cepat-cepat Kino mengangkat tubuh gadis itu, walaupun Alma terdengar memprotes. Ia masih cukup waras untuk tidak menumpahkan cairan cintanya di dalam. Dengan satu gerakan, ia menggeser duduknya. Kejantanannya lepas dari cengkraman permukaan liang yang sebetulnya sangat menjanjikan kenikmatan itu.Alma pun akhirnya sadar apa yang dihindari Kino. Gadis itu cepat-cepat menggeser ke arah berlawanan. Ia melihat ke bawah, ke arah otot-kenyal yang masih tegak dan seperti bergerak-gerak menggeliat. Oh,.. cepat-cepat diraihnya bagian tubuh Kino yang tadi memberikan kenikmatan di tubuhnya itu. Cepat-cepat ia meremas, ingin berpartisipasi dalam pencapaian klimaksnya."Aaaaah!" Kino mengerang panjang, merasakan tubuhnya bagai disentak-sentak ketika cairan-cairan cinta memancar kuat dari kejantanannya. Tangan Alma yang halus terasa menambah nikmat pancaran itu, sekaligus menampung cairan-cairan kental panas yang berebut keluar. Alma terduduk di samping Kino, dengan tangan tetap mencengkram, merasakan getaran-gejolak klimaks kekasihnya. Kino berkali-kali mengerang, dengan tubuh meregang dan kedua tangan bertelektekan di dipan. Alma merasakan otot-kenyal berdenyut-denyut dalam genggamannya. Menakjubkan sekali!Betapa kuatnya klimaks Kino kali ini, menyebabkan tubuhnya seperti dioyak-oyak, tulang-tulangnya seperti lepas, ototnya seperti meledak. Ia menghempaskan tubuhnya di dipan, diikuti Alma yang berbaring di sebelahnya. Keduanya masih telanjang di bagian bawah, terengah-engah seperti habis berlari sepanjang hari. Tangan Alma tetap menggenggam di bawah sana, senang bisa menampung tumpahan cinta kekasihnya. Hangat dan licin rasanya.******Lamunan Kino buyar ketika mobil yang ditumpanginya membelok tajam, menyebabkan tubuh Paman Tingga membentur tubuhnya. Lelaki setengah baya itu tetap tertidur, cuma menggumam tak jelas, lalu kembali menegakkan tubuhnya di sandaran kursi. Kino menghela nafas panjang. Kota kelahirannya semakin jauh tertinggal. Mobil melesat laju di jalan raya antarkota. Di kiri-kanan jalan, sawah luas terbentang, menghijau bagai hamparan karpet . Langit tampak biru dibercaki awan putih. Puluhan burung bangau tampak terbang ke arah selatan.Kino tiba di kota M menjelang sore. Rumah Paman Tingga cukup besar dan Kino mendapat kamar di belakang, dekat dapur dan gudang. Setelah beristirahat sebentar, Paman Tingga mengajak Kino membicarakan agenda mereka untuk dua bulan mendatang. Mendengar kata dua bulan, Kino mengeluh dalam hati. Lama sekali rasanya dua bulan itu.Lalu, keesokan harinya Kino diantar Paman Tingga ke tempat kursus yang telah ramai oleh pemuda sebayanya. Ruang belajar tampak jauh lebih besar dari kelas di sekolah di kota kelahirannya. Teman-teman barunya juga jauh lebih banyak, dan jauh lebih banyak tingkah. Sebagian dari mereka bahkan sudah bertingkah seperti layaknya remaja kota besar, memakai kaca mata hitam segala. Kino tersenyum simpul melihat salah seorang dari mereka memakai kacamata secara terbalik. Pastilah itu kacamata pinjaman!Demikianlah, hari-hari berikutnya Kino sibuk mengikuti kursus di kota M dan mulai bisa melupakan hal-hal lain. Konsentrasinya penuh ke pelajaran, dan hanya sekali-sekali ia teringat akan Alma dan kota kelahirannya. Hari-hari pun terasa semakin cepat berlalu.Continue...
Selamat Tinggal, Alma! Waktu dan hari berlalu begitu cepatnya. Kalender di dinding kamar Kino, di rumah Paman Tingga, begitu cepat dipenuhi tanda silang yang menandai bergulirnya hari ke minggu, minggu ke bulan. Dua bulan terasa seperti dua minggu. Ayah dan ibunya datang ke M minggu lalu bersama Susi yang sudah kangen kepada kakaknya. Ketiganya merasa bersyukur melihat Kino dalam keadaan sehat, dan bahkan bertambah gemuk. Berkali-kali Ayahanda mengucapkan terimakasih kepada suami-istri Tingga yang sangat baik itu. Ibunda menyerahkan oleh-oleh hasil bumi (setandan pisang mas, sebutir besar nangka setengah matang, sekarung jagung) sambil memuji-muji Bibi Tingga yang pandai menjaga kesehatan Kino. Susi memeluk kaki abangnya penuh kerinduan. Suasana menjadi semarak sekali.Mereka berbicara panjang lebar sepanjang siang: ayah-ibu, suami-istri Tingga, dan Kino. Hanya Susi yang kelihatannya tidak menikmati hari itu, karena sebenarnya ia ingin segera bermain-main dengan abangnya. Lalu, mereka makan siang bersama, menikmati ikan gurame dari empang sendiri yang sudah digoreng Ibunda. Sedap sekali, apalagi dengan sambal terasi buatan Bibi Tingga yang terkenal lezat itu.Seusai makan, sementara ayah-ibu terus berbincang dengan suami-istri Tingga, Kino membawa adiknya berjalan-jalan. Senang sekali Susi menggandeng kembali tangan abangnya. Mulutnya ramai berceloteh tentang betapa sepinya rumah tanpa Kino. Juga tentang dua ekor ayamnya yang mati dimakan musang. Juga tentang sungai yang tidak lagi ramai oleh anak-anak dan remaja: mereka semua sedang sibuk menyiapkan diri menempuh seleksi perguruan tinggi. Ah, begitu bersemangatnya penduduk kota ku untuk menjadi lebih berpendidikan, ucap Kino dalam hati. Semua keluarga berbicara tentang bagaimana mengirim anak-anak mereka ke kota besar untuk bersekolah. Kino tahu, pada umumnya penduduk kota kelahirannya itu adalah petani yang cukup berhasil, dan sebagian besar tak ingin anaknya terus tinggal di kota kecil. Bagus sekali pandangan seperti itu, bukan? Tetapi kadang-kadang Kino juga berpikir: kalau semua orang pergi ke kota besar, siapa yang akan tinggal menjadi petani?"Oh, ya!!" tiba-tiba Susi berseru sambil merogoh kantong bajunya, lalu menyerahkan sebuah amplop merah-muda, "Hampir Susi lupa,... ini ada surat dari Mba Alma!"Sejenak jantung Kino berdegup lebih kencang ketika menerima amplop itu. Sejak tiba di M, hampir tak pernah sempat ia menulis surat. Setiap hari ia belajar dan belajar saja. Pagi hari ke tempat kursus sampai tengah hari, lalu pulang untuk makan siang. Setelah itu pergi lagi ke tempat kursus untuk duduk di ruang baca, membaca apa saja yang ada di sana. Tempat kursus itu sangat modern dibandingkan sekolah Kino, memakai kipas angin segala. Kino betah berlama-lama di sana, dan selalu pulang ketika hari menjelang senja.Lain halnya dengan Alma. Setiap minggu pasti menulis surat, bahkan pernah dua kali dalam seminggu. Di laci meja Kino kini ada sepuluh suratnya, panjang lebar dan selalu penuh kerinduan. Kino baru sempat menulis balasan dua kali. Yang terakhir baru saja dikirimnya seminggu yang lalu.Kino mengajak Susi mampir di sebuah restoran untuk membeli es-krim. Gadis kecil itu melonjak-lonjak gembira. Di kotanya, tidak ada es-krim seperti di M. Kalau pun ada, harganya jarang terjangkau uang sakunya. Di kota M ini, es-krim nya lezat dan lembut. Porsinya pun besar. Susi memilih rasa coklat dan pisang. Kino memesan minuman ringan, lalu mulai membaca surat Alma.Tidak seperti biasanya, surat Alma kali ini cukup pendek (walaupun masih lebih dari dua halaman). Dibuka dengan kata-kata penuh kerinduan (yang sebagiannya sudah dihapal Kino!), surat itu menceritakan rencana Alma pergi ke ibukota untuk ikut seleksi masuk perguruan tinggi. Orangtua Alma sangat mengharapkan gadis itu masuk ke jurusan kedokteran dan mendesaknya agar segera pergi ke ibukota agar persiapannya lebih matang. Menjelang akhir dari suratnya, cukup jelas terbaca betapa Alma gundah membayangkan perpisahan dengan Kino. Bagaimana kita bisa bertemu lagi sebelum aku ke ibukota? Begitu Alma bertanya berkali-kali. Apakah Kino akan pulang dalam waktu dekat ini? Kapan? Bisakah Kino memberi kabar secepatnya, barangkali dengan telepon interlokal? (dan itu berarti harus pergi ke kantor telepon).Kino menghela nafas panjang. Susi melirik sambil terus menyantap es-krimnya. Gadis kecil ini tahu, abangnya sedang risau. Ia juga tahu, abangnya tidak ingin diganggu. Ketika akhirnya Kino mengajak Susi kembali ke rumah Paman Tingga, gadis kecil ini mengurangi celotehnya. Tetapi tangannya menggandeng tangan Kino lebih erat. Ia merasa, abangnya memerlukan bantuan walaupun cuma dari anak kecil. Tetapi, tentu saja Susi tak pernah tahu, bantuan seperti apakah yang dibutuhkan Kino saat itu. Cuma naluri persaudaraannya saja yang bicara, sementara akalnya belum lagi bisa sampai ke persoalan-persoalan remaja yang amat pelik itu.******Sebelum kembali ke kotanya, kedua orang tua Kino sepakat dengan Paman Tingga untuk mengirim pemuda itu langsung ke kota B, tempat institut teknologi yang dicita-citakan. Mereka setuju, kalau Kino bisa tiba di B jauh-jauh hari sebelum masa ujian seleksi, tentu akan lebih baik bagi persiapan mental."Bolehkah saya pulang dulu, Ayah?" tanya Kino ketika berkesempatan berbicara berdua.Ayahnya tersenyum. Lelaki setengah baya ini tahu, kenapa anaknya ingin pulang dahulu. Ia sudah mendengar dari Susi dan dari istrinya, ada seorang gadis yang menjadi pacar Kino. Ia sendiri tak keberatan, karena ia mengenal keluarga gadis itu."Boleh. Tetapi selesaikan dahulu kursusmu. Masih dua minggu lagi. bukan?" kata Ayahnda.Kino berpikir cepat. Kalau ia harus pulang dua minggu lagi, mungkin Alma sudah pergi ke ibukota. Maka segera ia berujar, "Bolehkah pulang Sabtu depan?""Kenapa harus Sabtu depan?" tanya Ayah."Aku...," Kino menelan ludah, "Aku ingin bertemu Alma sebelum ke B..""Ayah tahu," ucap Ayah tertawa kecil, "Tetapi, kenapa harus Sabtu depan?""Alma akan pergi ke ibukota...., aku ingin bertemu sebelum ia pergi," kata Kino sambil berdoa dalam hati agar ayahnya tidak bertanya lebih lanjut."Ooo... begitu," ucap Ayah sambil mengangguk-angguk."Jadi? Bolehkah aku pulang Sabtu depan?" sergah Kino, tidak sabar melihat ayahnya cuma mengangguk-angguk.Ayah tertawa kecil lagi, lalu menepuk kepala Kino dengan sayang sambil berkata, "Tanyakan ke ibumu. Kalau dia setuju, ayah juga setuju."Kino bersorak dalam hati. Mana mungkin ibu tidak setuju! Wanita bermata lembut itu tidak akan pernah menolak permintaan Kino untuk pulang!******Sabtu pagi itu langit cerah, tetapi angin bertiup agak kencang dan basah menjanjikan hujan. Pohon-pohon bagai para penari, meliuk-liuk. Seakan mereka sedang menyiapkan tarian penyambutan bagi sang hujan. Kino tiba di kota kelahirannya pukul delapan pagi, saat pasar sayur masih sibuk menerima pasokan barang dagangan. Beberapa truk pengangkut sayur-mayur masih parkir di halaman pasar, di seberang terminal antar kota tempat Kino turun. Buruh-buruh masih sibuk menurunkan karung dan keranjang besar yang tampak sangat berat itu. Bau sayur dan buah segar bercampur sampah basah memenuhi udara.Kino bergegas turun dari bis yang ditumpanginya. Kepalanya penuh rencana, yang semuanya berpusat pada perjumpaan dengan Alma. Ia akan segera menuju rumah gadis itu setelah menemui kedua orangtuanya. Ia sudah menelpon Alma dari kantor telepon di kota M, mengabarkan kedatangannya hari ini. Alma terdengar gugup di telepon. Ah, tak sabar rasanya Kino ingin bertemu gadis itu! Cepat-cepat ia melangkah keluar dari terminal, setengah berlari, membelok menuju pusat kota.Tetapi baru saja Kino membelok, ia tersentak. Langkahnya terhenti. Di depannya, Alma berdiri dengan rambut berkibaran. Sebuah tas kecil tergantung ringan di bahunya. Kedua tangan bersidekap memeluk dadanya."Alma! Sedang apa kau di sini?""Menunggu kamu," sahut gadis itu. Mukanya cerah, senyumnya lebar, sebagian rambut menutupi muka.Dengan kedua tangan, Kino memegang bahu gadis itu. Mencengkramnya agak keras, membuat Alma meringis. Kino tidak berani memeluknya di tengah keramaian terminal, walaupun ia ingin sekali. Sangat ingin!"Hari masih pagi sekali! Apakah kamu di sini sejak fajar?" tanya Kino sambil menyingkirkan sedikit rambut dari kening Alma. Gadis itu tertawa kecil sambil menggeleng, tentu saja ia di sini sejak tadi. Tetapi tidak sejak fajar yang sudah berlalu 4 jam silam!"Hayo, kita pulang dulu. Aku perlu menaruh tas dan bertemu orangtuaku. Kau juga bisa ikut!" seru Kino sambil merengkuh tangan Alma dan menariknya pergi meninggalkan terminal. Alma membiarkan dirinya ditarik, tetapi ia lalu berkata,"Kenapa harus langsung ke rumah?"Langkah Kino terhenti lagi. Ia memutar tubuh, menghadap Alma. "Apa maksudmu?" tanyanya.Alma melirik ke arah tas Kino, berucap, "Tas mu tidak terlalu besar. Kenapa harus ditaruh di rumah?"Kino memandang tangan yang memegang tas. "Ya, memang tidak besar...", ucapannya tak selesai. Ia merasa Alma hendak mengatakan sesuatu."Aku harus berangkat sore ini," ucap Alma pelan."Hah? Berangkat kemana?" sergah Kino, sungguh kaget karena gadis itu tak pernah bicara tentang hari keberangkatan. Mengapa begitu tiba-tiba?Alma tersenyum melihat kekasihnya terperanjat dengan wajah bagai orang bego. Tetapi senyum itu sungguhlah sendu, karena kedua matanya agak basah, menerawangkan sinar kesedihan. Kino tiba-tiba sadar, Alma akan berangkat dengan bis malam ke kota S, lalu dari sana akan naik kereta api ke ibukota. Tentu saja, bis malam itu akan berangkat pukul 5 dari terminal ini!"Kalau begitu, kita cuma punya waktu setengah hari ini untuk berjumpa....," bisik Kino, nyaris tak terdengar ditelan hiruk pikuk pasar di seberang.Alma mengangguk, masih memandang lekat kekasihnya dengan matanya yang lembut-sendu. Ia sungguh ingin memeluk pemuda itu, membenamkan muka ke dadanya yang bidang. Menangis di sana sepuasnya."Kau bilang apa kepada orangtuamu pagi ini?" tanya Kino. Ia kini punya rencana baru."Aku bilang ingin pergi berjalan-jalan dengan kamu, dan semua pakaian sudah kumasukkan ke tas. Tinggal berangkat saja, nanti sore. Mereka pun sudah tahu aku ke terminal menunggumu," jawab Alma."Kalau begitu, ayolah berjalan-jalan!" ucap Kino cepat. Ia tidak ingin pulang dan menghabiskan waktu. Semua rencananya harus segera diganti."Kemana?" tanya Alma, walaupun ia tak peduli ke mana. Ke bulan pun ia akan ikut.Kino menyebut sebuah kota tempat peristirahatan, tak begitu jauh ke arah selatan. Direngkuhnya tangan Alma, berbelok kembali ke terminal. Mereka harus naik mini bus ke kota itu. Beriringan mereka masuk ke terminal, lalu naik mini bus yang masih menunggu penumpang. Kursi di depan, di sebelah supir, masih kosong. Di situ mereka duduk berdampingan dengan kedua tangan saling menggenggam.Ketika bus akhirnya berjalan, Alma menceritakan alasan kenapa ia harus segera berangkat sore ini. Ayahnya tiba-tiba harus bertugas ke S, sehingga ia memutuskan untuk mengajak serta Alma, sekalian mengantarnya ke ibukota setelah urusan di S selesai.******Kota peristirahatan itu terletak dekat puncak sebuah gunung, terkenal karena pemandangannya yang indah dan pemandian air panasnya yang mengandung belerang. Konon bagus untuk menyembuhkan sakit kulit. Ke kota ini banyak berkunjung turis domestik maupun internasional. Sebuah taman alamiah terdapat di sana, dilengkapi air terjun cukup tinggi dan sebuah danau bening yang cukup luas.Kino dan Alma pernah mendaki gunung ini, maka setelah menitipkan tas di tempat penitipan barang dan membekali diri dengan sedikit makanan-minuman, mereka menuju puncak yang bisa dicapai kurang dari setengah jam berjalan kaki. Untunglah keduanya memakai sepatu olahraga dan membawa jaket hangat yang waterproof.Puncak gunung sangat sepi ketika mereka tiba. Matahari belum lagi tinggi, udara masih sangat dingin. Mereka duduk di dekat sebuah batu besar dan langsung bercumbu. Keduanya telah dilanda kerinduan sejak pertemuan di terminal. Alma sudah tak sabar ingin dipeluk-dilumat-diremas. Sebuah gelegak yang amat kuat telah terhimpun di tubuh kedua remaja ini, sama seperti gelora kawah gunung yang masih aktif di hadapan mereka.Percumbuan kali agak berbeda. Ciuman-pagutan terasa bagai sebuah campuran antara kerinduan birahi dan kesenduan perpisahan. Alma terpejam, merasakan air hangat hampir tumpah dari kelopak matanya, sementara bibirnya sibuk mengulum bibir Kino, bagai tak ingin melepaskannya. Kino pun merasakan getar yang berlainan, tidak melulu birahi melainkan juga kehangatan kasih. Jauh di dalam lubuk hati keduanya juga timbul sebentuk kekhawatiran terhadap perpisahan yang kini telah di ambang mata.Kedua tangan Kino memang meremas-gemas payudara Alma yang langsung mengeras itu. Tetapi kini tidak hanya kenikmatan yang datang dari remasan itu, melainkan juga kecemasan akan masa panjang yang memisahkan mereka. Mereka berdua akan segera kehilangan kontak badan yang selama ini menjadi bumbu bagi jalinan batin dan cinta. Apakah ketiadaan-kontak itu akan melunturkan kasih? Apakah birahi fisik demikian mereka perlukan untuk melanjutkan percintaan? Sungguh pertanyaan yang sulit!Alma, seperti biasa, menikmati duduk dipangkuan Kino, membiarkan kedua payudaranya dipermainkan. Rasa nikmat, seperti biasa, telah menjalar keseluruh tubuhnya, membuatnya mengerang. Tetapi, tidak itu saja yang ia rasakan. Ia juga merasakan betapa tangan-tangan kekasihnya memancarkan getar yang berbeda. Ada kegetiran di setiap remasannya, semacam pernyataan tak rela. Seakan Kino tak ingin melepaskan tangan dari tubuhnya. Apakah pemuda ini akan melupakannya, jika ia tidak lagi bisa meremas-remas dadaku? pikir Alma di tengah gelimang nikmat yang memenuhi benaknya. Apakah aku akan kehilangan tangan-tangan yang bergelora itu, dan lalu akan melupakannya?Bibir Kino menjalari leher kekasihnya. Harum khas Alma memenuhi rongga hidung Kino. Ah, senang sekali menghirup aroma tubuh gadis yang segar itu! Betapa Kino akan kehilangan keharuman-kesedapan wangi Alma yang alamiah. Betapa ia akan merindukan harum lembut pengikat jiwa itu. Bagaimana kah nanti rasanya, tidak bisa lagi mencium leher jenjang yang halus ini? tanya Kino dalam hati. Rasa kehilangan seperti apakah yang akan dialaminya?Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kedua kepala dan hati remaja itu, sehingga perlahan percumbuan mereka menghambar. Perlahan-lahan birahi mereka padam, seperti perapian yang kehabisan bahan bakar. Alma bahkan perlahan-lahan tersedu, membiarkan air mata tumpah menerobos lentik bulu matanya yang berkerejap. Kino melepaskan remasannya, dan kini memeluk tubuh Alma erat-erat, mendekapkan kepala gadis itu ke dadanya.Suara tangis Alma menyelinap ke luar dari dekapan Kino, mengusik keheningan puncak gunung. Tangan pemuda itu mengusap-mengelus rambutnya yang hitam. Sesekali Kino mengecup pula rambut yang harum itu, mencoba menghibur kekasihnya.Lama mereka berpelukan, Alma masih di pangkuan Kino, sesenggukan menumpahkan semua kesedihannya. Dada Kino kini mulai basah oleh airmata Alma, terasa hangat dan menyakitkan. Pada saat-saat seperti ini, Kino menyesal mengapa harus mencintai seseorang yang toh juga akan pergi jauh. Mengapa selalu ada saat di mana engkau harus meninggalkan atau ditinggalkan oleh seseorang yang kau sukai? ******Tak lama kemudian mereka turun dari puncak gunung, lalu duduk-duduk saja di taman dekat air terjun. Ketika siang tiba, mereka makan di sebuah warung murah-meriah. Lalu, tepat pukul 1 siang mereka kembali ke kota. Dalam perjalanan, mereka lebih banyak diam, masing-masing terbenam dalam kerisauan dan kepasrahan. Risau karena banyak sekali pertanyaan yang belum mereka jawab. Pasrah karena mereka tak punya pilihan lain, selain harus berpisah.Dan ketika akhirnya Kino mengantar Alma ke terminal sore itu, seluruh hari terasa kelabu belaka. Tubuhnya terasa letih. Kepalanya terasa pening. Ia juga merasa sangat kesepian, walaupun bus malam belum lagi berangkat dan Alma masih berdiri di sampingnya di pelataran terminal. Orang-orang ramai bercakap, tetapi bagi kedua remaja ini, dunia terasa sungguh sunyi. Kedua orangtua Alma mencoba menghibur, mengajak Kino berdiskusi tentang masa depan, mencoba meyakinkan pemuda itu bahwa kesedihan perpisahan tidaklah seberapa dibandingkan kecerahan masa depan. Dengan sopan, Kino menyetujui semua wejangan orangtua Alma. Ia tidak punya pilihan lain, bukan?Lalu bis malam itu berangkat. Alma duduk di dekat jendela, melambaikan tangan dan tersenyum kepada Kino yang terpaku di pelataran. Selamat tinggal, bisik pemuda itu di dalam hati. Dibalasnya lambaian tangan gadis itu. Dibalasnya pula senyum sendu itu. Selamat tinggal kekasih. Mari kita tutup babak berikutnya dari kehidupan yang masih terasa panjang ini. Mari terus berharap akan ada babak-babak selanjutnya.End of Part One

